"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."
Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.
Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.
Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.
Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.
Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?
Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?
Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
"Selamat datang kembali di titik balik yang menghangatkan hati. Mereka bilang, kecantikan sejati seorang wanita terpancar saat ia mulai mencintai dirinya sendiri dan berjuang demi darah dagingnya. Di episode ini, kita akan melihat bagaimana 'sampah' yang dibuang Bima mulai berubah menjadi emas. Mari saksikan bagaimana aroma tepung dan keringat justru membuat Hana jauh lebih bersinar daripada berlian mana pun di Jakarta."
.
.
Aroma harum pandan dan santan kental yang dimasak perlahan mulai memenuhi udara di sekitar rumah panggung tua itu sejak pukul tiga pagi. Di dapur yang diterangi lampu kuning temaram, Hana bergerak dengan gesit.
Rambutnya diikat rapi, wajahnya polos tanpa polesan kosmetik mahal, namun ada semburat merah alami di pipinya yang kini tak lagi sepucat saat ia pertama kali menginjakkan kaki di desa ini.
Di atas meja kayu yang sudah ia gosok bersih, berjajar puluhan loyang kue talam, bolu kukus mekar, dan kue lumpur yang teksturnya begitu lembut. Resep rahasia sang nenek yang ia modifikasi sedikit ternyata menjadi primadona di kota kecil ini.
"Sedikit lagi, Saka. Setelah ini Ibu akan memandikanmu," bisik Hana ke arah ayunan kain yang bergerak-gerak pelan di sudut dapur.
Aditya Saka sudah mulai bisa memberikan respons. Bayi itu akan mengeluarkan suara kecil atau sekadar menendang-nendang setiap kali mendengar suara ibunya.
Saka adalah mesin penggerak Hana, setiap kali Hana merasa lelah, cukup dengan menatap binar mata Saka, semangatnya kembali membara.
~~
Beberapa jam kemudian, Hana sudah berada di depan ruko kecil miliknya yang baru ia sewa selama sebulan. Ruko itu sangat sederhana, terletak di pinggir jalan utama menuju alun-alun kota. Ia tidak lagi menjajakan dagangannya di emperan parkir pasar yang becek.
Sebuah papan kayu sederhana digantung di depan pintu, bertuliskan - "***Kue Tradisional Saka - Manisnya Ketulusan***."
Seorang ibu pelanggan tetap, Bu RT, datang menghampiri. "Mbak Hana, kue talamnya pesan tiga puluh kotak ya untuk pengajian besok. Oh ya, Mbak Hana kok saya perhatikan makin hari makin cantik saja? Pakai perawatan apa, sih? Segar sekali kelihatannya."
Hana tersenyum tulus, jenis senyuman yang dulu jarang terlihat saat ia masih terkungkung di apartemen mewah Bima. "Ah, Bu RT bisa saja. Saya tidak pakai apa-apa, Bu. Mungkin karena udara desa yang bersih dan hati yang tenang."
Hana memang terlihat berbeda. Meski ia hanya mengenakan daster katun murah bermotif bunga dan celemek, aura wanita kota yang anggun tidak hilang, malah kini ditambah dengan pancaran ketegaran.
Tanpa riasan mata yang tebal, matanya justru terlihat lebih bercahaya. Tanpa lipstick merek ternama, bibirnya tampak lebih sehat karena sering menyunggingkan syukur.
Ia bukan lagi Hana yang rapuh dan bergantung pada belas kasihan Bima. Ia adalah Hana yang mandiri, seorang pengusaha kecil yang mulai memiliki martabat di mata warga lokal.
Siang itu, sebuah mobil dinas berhenti di depan ruko Hana. Seorang pria berseragam safari turun dan masuk ke dalam.
"Selamat siang. Apakah ini benar tempat pembuatan kue yang viral di media sosial warga lokal?" tanya pria itu.
Hana sedikit terkejut. "Selamat siang, Pak. Benar, saya Hana. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya dari bagian protokol kantor Bupati. Minggu depan akan ada kunjungan tamu dari provinsi, dan Bapak Bupati ingin menyajikan kudapan lokal yang istimewa. Kami sudah mencoba beberapa tempat, tapi rasa kue buatan Mbak Hana yang paling pas. Kami ingin memesan lima ratus paket kue kotak untuk acara tersebut."
Jantung Hana berdegup kencang. Lima ratus paket? Itu adalah pesanan terbesar yang pernah ia terima. Uang mukanya saja sudah cukup untuk membayar sewa ruko selama enam bulan ke depan dan menambah stok perlengkapan Saka.
"Bisa, Pak. Saya akan siapkan yang terbaik," jawab Hana mantap.
Setelah pria itu pergi, Hana terduduk lemas di kursinya. Air mata haru mengalir di pipinya. Ia menggendong Saka yang baru saja terbangun, mencium kening bayinya berkali-kali.
"Saka, lihat... Tuhan tidak tidur. Kita tidak butuh uang haram atau uang hinaan untuk hidup. Kita bisa, Nak. Kita bisa."
Di saat Hana merayakan keberhasilan kecilnya, di Jakarta, Bima Erlangga sedang menghadapi kenyataan pahit. Bisnisnya yang selama ini ia banggakan mulai goyah karena keputusannya yang gegabah.
Ia baru saja menandatangani kontrak pinjaman bank yang besar hanya untuk menutupi biaya operasional perusahaan, dan secara rahasia, sebagian digunakan untuk membayar uang muka pesta pernikahan mewah yang dituntut Clarissa.
Bima sedang duduk di sebuah kafe mahal, menunggu Clarissa. Namun, yang datang justru seorang teman lama yang juga seorang pengusaha.
"Bim, aku dengar bisnis propertimu sedang ada masalah ya? Beberapa sub-kontraktor mengeluh pembayarannya macet," tanya temannya itu dengan nada prihatin.
Bima mencoba tertawa, menyembunyikan kegugupannya. "Ah, biasa. Hanya masalah administrasi sedikit. Semua aman."
"Syukurlah. Oh ya, aku sempat lihat foto mantan istrimu di grup komunitas kuliner daerah Jawa Tengah. Ada yang memposting foto penjual kue yang katanya sangat cantik dan kuenya enak sekali di kota kecil dekat kaki gunung. Wajahnya mirip sekali dengan Hana. Tapi kupikir tidak mungkin itu dia, kan? Kamu bilang dia pasti hancur tanpa kamu."
Bima tertegun. Gelas kopi di tangannya bergetar sedikit. "Hana? Jualan kue? Kau pasti salah lihat. Dia itu manja, memegang sapu saja jarang, mana mungkin bisa berbisnis kue di desa."
"Mungkin juga. Tapi kalau itu benar-benar dia, hebat juga ya. Dia terlihat sangat bahagia di foto itu, menggendong bayi kecil sambil melayani pelanggan."
Bayi kecil. Kata-kata itu menghantam Bima seperti godam. Hana melahirkan? Dan dia terlihat bahagia?
Setelah temannya pergi, Bima segera mencari ponselnya. Ia mencoba mencari grup kuliner yang dimaksud, namun karena ia tidak tahu nama kota atau desanya, ia menemui jalan buntu. Rasa penasaran itu kini bercampur dengan rasa sakit yang tak terlukiskan.
Ia melihat ke arah pintu kafe saat Clarissa masuk dengan wajah cemberut.
"Bim! Kenapa pesanku tidak dibalas? Aku sudah di butik dan mereka bilang kamu belum mentransfer sisa pembayaran gaun pengantinku! Aku malu sekali ditagih di depan banyak orang!" Clarissa mengomel tanpa peduli sekitar.
Bima menatap Clarissa. Dulu, kemarahan Clarissa terasa seperti tantangan yang menarik baginya. Tapi sekarang, melihat Clarissa yang hanya tahu menuntut di tengah krisis yang ia hadapi, Bima merasa muak.
Ia teringat Hana yang selalu menenangkan, Hana yang selalu mendukungnya dalam kesulitan, Hana yang kini, jika berita itu benar, sedang berjuang membangun hidupnya sendiri dengan senyuman.
"Nanti aku transfer, Clar. Berhenti berteriak," sahut Bima dingin.
"Nanti kapan? Kamu berubah ya semenjak Hana pergi! Kamu jadi pelit!"
Bima tidak menjawab. Ia justru membayangkan wajah Hana yang sedang tersenyum di balik meja dagangannya. Hana yang cantik tanpa riasan. Hana yang segar karena terlepas dari racun hidupnya.
~~
Malam itu, Hana lembur bersama dua orang tetangga desa yang ia pekerjakan untuk membantunya. Mereka tertawa sambil membungkus kue. Saka tertidur pulas di dalam keranjang bayi yang diletakkan di dekat Hana agar ia tetap bisa mengawasinya.
Hana menatap ke arah cermin kecil di sudut dapur. Ia melihat dirinya. Kulitnya mungkin sedikit lebih gelap karena sering terkena sinar matahari, tangannya mungkin sedikit kasar karena adonan kue, tapi matanya... matanya tak pernah sedamai ini.
"Terima kasih, Bima," bisik Hana lirih pada kegelapan. "Terima kasih sudah membuangku. Karena tanpamu, aku akhirnya menemukan diriku sendiri."
Hana kini adalah pemilik 'Bisnis Kecil Hana' yang mulai besar. Dan baginya, ini barulah permulaan dari balasan yang jauh lebih elegan daripada sekadar makian.
Akankah Bima nekat menyisir kota-kota kecil hanya demi membuktikan bahwa berita tentang kesuksesan Hana adalah salah?
Ikuti terus babak baru kejayaan Hana!
...----------------...
**To Be Continue** ....