Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.
Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.
Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.
Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Hati Seorang Papa
#7
Di kota lain.
Ketegangan sedang memuncak, seorang wanita mengalami pendarahan hebat pasca persalinannya beberapa jam yang lalu.
Sementara Dokter dan para asistennya berjuang menghentikan pendarahan, Azam, suami pasien mondar-mandir gelisah di depan ruangan tempat istrinya sedang mendapatkan penanganan.
Wajah pria itu pucat seperti kehabisan darah, penampilannya jauh dari kata rapi, karena ia tak sempat memikirkan penampilan sementara istrinya berjuang antara hidup dan mati.
“Bertahanlah, Sayang, kumohon,” isak Azam. “Ghazi membutuhkanmu, aku juga.”
Sepanjang kehamilan, Nayla terlihat sangat sehat, tak pernah memakan makanan yang tak menunjang tumbuh kembang janin mereka, tak pernah juga jajan sembarangan. Bahkan sayuran yang masuk ke dalam mulutnya selalu organik, karena sang mertua memiliki lahan pertanian organik. Jadi suplay sayur mereka berasal dari sana.
Karena itulah, musibah semacam ini tak pernah Azam duga sebelumnya.
Di ujung penantian yang seharusnya diwarnai kebahagiaan, ia justru akan mendapatkan kejutan, kini hatinya diliputi perasaan tegang, cemas, dan takut berlebihan.
Detak jarum jam serasa bagai pukulan menyakitkan bagi Azam yang masih diliputi kecemasan.
Dari kejauhan sepasang suami istri menghampiri Azam. Setelah dekat, Azam langsung memeluk ibundanya. “Bunda— Nay— Nay— dia akan selamat, kan?”
Wanita berhijab rapi, yang dipanggil bunda oleh Azam, nampak mengangguk menguatkan, walau sebenarnya hatinya pun diliputi kecemasan. “Iya, Nak, kita berdoa, tetap berserah diri, serahkan semua pada sang pemilik kehidupan. Hanya Dia yang mampu menggenggam hidup dan mati setiap hambanya. Semoga Allah memberikan ketentuan terbaiknya.”
Suami wanita itu pun tak berkata apa-apa, namun nampak jelas bahwa pria itu juga menyimpan kegelisahan yang teramat sangat. Ia ikut mengusap, kadang memeluk pelan punggung Azam yang menangis sesenggukan di pelukan bundanya. “Sabar, Nak. Tetap tawakal pada Allah atas semua ketentuan-Nya.”
Beberapa saat kemudian, lampu berwarna merah menyala di ruang tindakan, kini berganti menjadi warna hijau lembut menyejukkan mata, Azam semakin tegang menantikan. Pintu ruangan terbuka, dan dokter keluar dari dalam sana, wajahnya letih, dan lesu, membuat Azam merasa semakin ketakutan.
“Dok, bagaimana istri saya.”
Dokter wanita itu menatap Azam dengan raut wajah muram penuh rasa bersalah.
“Pasien berhasil kami stabilkan kondisinya, tapi tubuh pasien sudah terlalu lemah, hingga tak mampu bertahan. Kami— turut berduka cita, Pak, Bu,” ucap dokter itu pelan dan raut wajah sendu, yang terdengar seperti gelegar petir di telinga Azam.
“Tidak, Anda pasti bohong, kan, Dok? Katakan semuanya bohong! Istriku wanita kuat, dan tak mungkin pergi begitu saja meninggalkanku dan anak kami!” teriak Azam histeris. Namun, dokter tetap menunduk diam tak bergeming.
Hari itu menjadi hari penuh tangis duka bagi seorang Azam Rifqi El-Amin, bayangan harus membesarkan putranya seorang diri kini mulai menghantui. Tak masalah bila hanya membesarkan, toh Ghazi juga putra kandungnya. Tapi Ghazi butuh makanan utama yang berasal dari ASI ibunya. Dan Nayla sudah memenuhi takdir hidupnya kembali kepelukan pemiliknya.
“Innalillahi wa innalillahi rooji'un,” ucap Bunda Hilda dan Ayah Irfan bersamaan, mereka berdua pun sama hancur dan sedihnya dengan putra kedua mereka.
•••
Dini hari, Pak Hermanto tiba kembali di rumahnya. Pria itu disambut Bu Rara istrinya.
“Kok sepertinya ada bau yang tak asing?” tanya Pak Hermanto pada sang istri.
Bu Rara tersenyum walau terpaksa. “Iya, Pa. Dina disini, katanya ingin melahirkan ditemani Mama.”
Kening Pak Hermanto mengkerut, heran dengan jawaban istrinya, “Tapi, di depan tak terlihat mobilnya Farhan?”
Lagi-lagi, Bu Rara tersenyum pahit. “Dina sendirian, semalam diantar sopir.”
“Hanya sopir!?” pekik Pak Hermanto. Putrinya sekarang menjadi istri penerus Permana Group, tapi kenapa ia tak diberi kehormatan sebagai istri yang diratukan oleh suaminya?
“Iya, Pa.”
“Benar-benar si Farhan, istrinya sedang hamil tua, bukannya diantar, malah dibiarkan pergi sendiri dengan sopir. Apa dia tak takut terjadi apa-apa pada istrinya?!” geram Pak Hermanto.
Bu Rara menyuguhkan segelas air madu hangat untuk sang suami. “Awalnya Mama juga heran, Pa. Tapi kemudian—”
“Apa?” tanya Pak Hermanto, tak sabar mendengar lanjutan ucapan istrinya.
“Semalam Mama mendengar Dina bicara di telepon dengan Farhan, dan Dina meminta cerai dari suaminya.” Bu Rara menyampaikan berita tersebut dengan perasaan yang sulit untuk dijelaskan, bibirnya pun bergetar menahan tangis kesedihan.
Tanpa sadar tangan Pak Hermanto terkepal marah, “Apa yang sebenarnya terjadi?!” tanyanya pelan, sambil menahan rasa geram.
Bu Rara menggeleng, “Mama belum tanya, Pa. Mama lebih khawatir dengan kondisi kehamilan anak kita. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat dan tirus, tak seperti wanita yang sedang hamil tua pada umumnya. Sepertinya Dina sedang memendam masalah yang amat sangat berat.”
Bruk!
Tangan Pak Hermanto yang terkepal menggebrak meja tanpa sadar, pria berusia hampir 60 tahun itu penasaran, seperti apakah beban hidup yang Ardina alami di rumah mertuanya, hingga ia meminta berpisah?
Hingga sisa waktu menjelang subuh yang seharusnya dimanfaatkan Pak Hermanto untuk istirahat sambil menanti adzan subuh, justru ia manfaatkan untuk diam dan merenungi banyak hal.
Dulu, ia pernah berbuat baik pada salah satu temannya, setidaknya itulah yang dipikirkan Pak Hermanto. Ia meminjamkan harta terakhir perusahaannya untuk menyokong Permana Group, semua dilakukan Pak Hermanto, karena melihat Farhan yang bersungguh-sungguh ingin menikahi Dina.
Dengan harapan semoga Permana Group akan kembali sehat, hingga Farhan bisa menafkahi serta memuliakan kehidupan Ardina sebagai istri dengan cara yang ma'ruf (baik).
Tapi hari ini, Pak Hermanto mulai bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi.
•••
Pukul 8 pagi mereka selesai sarapan, meski tetap berusaha tegar dan terus tersenyum. Namun, hal itu tak bisa serta merta menutupi kesedihannya dari pengawasan kedua orang tuanya.
“Sebenarnya ada apa, Nak?” tanya Pak Hermanto. “Papa tak mau berprasangka apa-apa, tapi, karena kamu pulang ke rumah Papa, selain itu kamu juga anak Papa. Maka Papa berhak bertanya, dong.”
Pak Hermanto menggenggam tangan Dina, “Papa akan selalu percaya padamu, dan Papa juga yakin kamu tak akan melakukan hal yang bisa mempermalukan Papa dan Mama. Jadi, bicaralah, ceritakan pada kami apa yang sebenarnya terjadi, agar kami bisa mencarikan solusi.”
Dengan bijak Pak Hermanto bertanya, serta memberikan sugesti yang baik, agar Dina tidak semakin tertekan.
Benar ucapan istrinya, sekarang Dina jadi lebih kurus, padahal perutnya membuncit karena kehamilannya sudah menginjak usia 8 bulan.
Ruangan itu begitu tenang, tak ada suara berisik, karena rumah mereka tidak berada di tengah perkotaan yang ramai. Dina menatap kedua orang tuanya, dengan perasaan yang gugup. Meski rasa takutnya sudah berkurang karena semalam Bu Rara sudah mendengar keinginannya.
Tapi, Pak Hermanto? Dina tak bisa membayangkan reaksi pria itu, terutama karena Pak Hermanto telah mengorbankan harta mereka.
“Sebenarnya, Mas Farhan telah menikah lagi, Ma, Pa—”
Dhuaar!
Ucapan Dina, laksana petir kedua di telinga Bu Rara.
Sementara Pak Hermanto, benar-benar merasa hancur, harga dirinya sebagai seorang papa benar-benar telah terluka oleh sikap Farhan dan keluarganya. Terutama Pak Jatmiko yang notabene adalah teman Pak Hermanto. Bisa-bisanya mereka tega memperlakukan Dinda dengan semena-mena, setelah semua yang telah dikorbankan Pak Hermanto di masa lalu.