Di balik kemegahan dan keagungan Kerajaan Veldora, tersimpan rahasia busuk yang menjijikkan. Kalyca, sang putri kandung yang sah, dibuang sejak bayi ke sebuah gubuk reot di pinggiran kota dan hidup dalam penderitaan. Sementara itu, gadis licik, Edelyn putri palsu yang merampas takhtanya, menikmati kemewahan istana.
Rasa sakit dan ketidakadilan, membuat jiwa lemah itu membangkitkan jiwa gelap dari seorang alkemis genius, berdarah dingin, yang sudah mati ribuan tahun yang lalu.
Di tengah misi balas dendam dan intrik berdarah di istana, takdir mempertemukannya dengan Grand Duke Erik Klaus, pria bermata tajam yang dijuluki sebagai dewa perang yang terkenal kejam pada musuh, namun menyimpan rahasia kelam.
“Ribuan tahun lalu, aku gagal melindungi mu. Kali ini, biarkan aku merobek dunia ini untuk membawamu pulang...”
~Grand Duke Erik Klaus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KONDISI MEMBURUK
Edelyn menatap batu kecil berwarna hitam pekat yang kini berada di telapak tangannya.
"Batu ini..." gumam Edelyn pelan, menelan ludah kelat saat merasakan sensasi dingin menjalar hingga ke ujung jarinya.
"Apakah ini akan langsung merenggut nyawanya, Ibu?" tanya Edelyn, menatap ibunya.
"Bukan merenggut nyawanya seketika, Edelyn. Batu itu bekerja secara perlahan, menggerogoti sisa-sisa organ tubuhnya yang sudah lemah, tanpa meninggalkan jejak racun, bahkan tabib istana paling hebat sekalipun hanya akan mengira kesehatannya drop karena racun lamanya," jawab Sang Ibu, tersenyum miring.
Edelyn mengepalkan tangannya erat, keraguan yang sempat hinggap di hatinya seketika lenyap, digantikan oleh ambisi gelap yang menguasai hati nya.
"Bagus..." bisik Edelyn, tersenyum kecil.
"Jika Raja tua bangka itu keras kepala dan tidak mau menyerahkan stempelnya secara baik-baik, maka kematian adalah satu-satunya jalan agar stempel itu jatuh ke tanganku," ucap Edelyn, sinis.
"Ingat, jangan sampai ada orang yang melihatmu, terutama Panglima Joel," pesan sang ibu dengan nada penuh peringatan.
"Kembalilah ke istana sebelum hilangnya dirimu disadari oleh para pengawal," lanjut sang ibu, mengibaskan tangannya.
"Baik, Ibu. Aku mengerti," jawab Edelyn mantap.
Edelyn kembali mengenakan jubah hitamnya untuk menutupi identitas, lalu berbalik dan melangkah keluar dari gubuk tersembunyi itu, menyusuri jalur rahasia kembali ke dalam istana.
Wanita paruh baya yang merupakan ibu kandung Edelyn itu, menatap kepergian Putri nya dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Delapan belas tahun, aku sudah menunggu ini selama itu, akan aku pastikan, kerajaan itu akan jatuh ke tangan Putri ku, hanya Edelyn satu-satu nya Putri Mahkota kerajaan Veldora, dan hanya dia yang pantas, duduk di singgasana Ratu," batin Ibu Edelyn, tersenyum licik.
Wanita itu duduk dengan menyilangkan kedua kaki nya, ingatan nya kembali ke belasan tahun yang lalu, dimana dia berhasil membawa Putri kandung nya masuk ke istana, menukar nya dengan putri yang asli.
"Sebentar lagi, sebentar lagi kerajaan akan menjadi milik ku, dan semua orang akan tunduk di bawah kaki ku," gumam nya, tertawa jahat.
Edelyn sudah sampai di istana, dengan hati-hati dia meletakkan batu kecil berwarna hitam pekat pemberian sang ibu di depan pintu kamar Raja.
"Selamat menikmati, Ayahanda tercinta," batin Edelyn, tersenyum miring, buru-buru pergi dari sana.
Di dalam kamar, Panglima Joel masih berdiri setia di dekat ranjang sang Raja yang sedang beristirahat.
"Ukh... khhh...!"
Raja Veldora yang tadinya terlelap tiba-tiba tersentak kejang, dengan napas yang mendadak tersengal-sengal.
Uhuk
Uhuk
Uhuk
Darah segar, kaluar dari muka Raja Veldora, membuat Joel terperanjat kaget.
"Yang Mulia!" seru Joel, panik.
"Ada apa? Apa dada Anda sesak lagi? Saya panggilkan tabib sekarang!" ucap Joel, memegang tangan Raja yang terasa sangat dingin.
"S-sakit..." erang Raja Veldora tertahan, mencengkeram dadanya sendiri sekuat tenaga.
Uhuk
Uhuk
Uhuk
Darah segar tidak berhenti mengalir dari mulut Raja Veldora, membuat wajahnya semakin memucat, dan keringat dingin bercucuran deras di pelipisnya.
Sihir hitam dari Ibu Edelyn sudah masuk ke dalam tubuh nya, membuat dada nya terasa sangat sakit dan panas.
"Tabib! Cepat datang!" teriak Joel cemas ke arah luar pintu, memanggil pengawal untuk segera mendatangkan tabib istana.
"A-anda harus bertahan Yang Mulia," ucap Joel, gemeteran.
Brak
Beberapa menit kemudian, Tabib Agung datang tergopoh-gopoh membawa kotak obatnya.
"Cepat periksa Yang Mulia Raja!" bentak Joel, dengan nafas memburu.
Tabib agung istana, langsung bergerak cepat, memeriksa kondisi sang Raja, tapi, setelah memeriksa denyut nadi, memeriksa suhu tubuh, dan meraba dada sang Raja dengan cemas, Tabib Agung hanya menggelengkan kepala dengan wajah pias penuh keputusasaan.
"Panglima Joel... saya tidak mengerti," lapor Tabib Agung dengan suara bergetar gemetar.
"Racun di tubuh Yang Mulia Raja semakin menyebar ke seluruh organ tubuh nya," ucap tabib itu, tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi dengan sang Raja.
"Tabib! Tolong lakukan sesuatu! Cari cara lain!"
Ratu Alice menerobos masuk ke dalam kamar, dengan wajah begitu putus asa di antara isak tangisnya yang tertahan, dia menatap Tabib Agung dengan mata penuh permohonan.
Tabib Agung hanya bisa menggelengkan kepala lemah, wajahnya pucat pasi
"Ampuni Saya, Yang Mulia Ratu, kami sudah memberikan ramuan penenang terbaik, tetapi tubuh Yang Mulia Raja sudah tidak merespons obat apa pun lagi," jawab tabib agung, pelan.
Mendengar keputusasaan itu, Ratu Alice semakin mengeratkan genggamannya pada tangan suaminya, air matanya terus menetes deras membasahi selimut beludru.
Panglima Joel yang sedari tadi mengepalkan tangan di sampingnya akhirnya melangkah maju, suaranya terdengar berat dan serak saat dia mencoba menenangkan sang Ratu.
"Yang Mulia Ratu... mohon tenangkan diri Anda," ucap Joel dengan nada bergetar, berusaha menahan emosi yang bergejolak di dadanya.
"Saja berjanji akan mencari kan tabib dari luar kerajaan Veldora, Saya yakin, Yang Mulia Raja akan sembuh!" lanjut Joel, mengepalkan tangannya kuat.
"Lakukan Joel, lakukan apapun yang membuat Raja sembuh..." ucap Ratu Alice, lirih.
Di ambang pintu, di, senyuman di wajah Edelyn seketika meluntur mendengar ucapan Panglima Joel.
"Sadar pengawal rendahan, coba saja kalau bisa, tidak akan ada satupun tabib yang bisa menyelamatkan pria tua bangka itu," batin Edelyn sinis.
Edelyn tidak bisa tinggal diam dan membiarkan Joel mengambil tindakan lebih jauh, dengan cepat, dia merapikan ekspresinya, memasang wajah sedih dan berlinang air mata, lalu melangkah masuk ke dalam kamar seolah-olah ia baru saja tiba dan sangat terpukul.
"Ibu...Ayah... apa yang terjadi pada Ayah?!" jerit Edelyn dramatis, berlari menerobos masuk dan langsung menjatuhkan diri ke pelukan Ratu Alice.
Ratu Alice yang terkejut dengan kedatangan putrinya langsung memeluk Edelyn erat-erat, melampiaskan rasa ketakutannya pada sang putri.
"Edelyn... ayahmu..."ucap Ratu Alice terisak di bahu putrinya, mengusap punggung Edelyn dengan tangan yang gemetar hebat.
"Kondisi ayahmu tiba-tiba memburuk... Ibu tidak tahu harus berbuat apa..." ucap Ratu Alice, pilu.
Edelyn membalas pelukan Ratu Alice, namun di balik pundak sang Ratu, matanya melirik tajam ke arah Panglima Joel dengan sorot penuh kebencian.
Joel yang menangkap tatapan itu balas menatap tajam, membuat suasana di antara mereka mendadak terasa semakin panas dan penuh kecurigaan.
"Ibu aku sangat khawatir dengan keadaan Ayah, dan juga keadaan istana. Bagiamana kalau pihak musuh mendengar kondisi Ayah yang sedang memburuk, mereka pasti menggunakan kesempatan itu untuk menjatuhkan kerajaan Veldora," ucap Edelyn, memprovokasi Ratu, saat duka seperti ini.
"Itu tidak akan pernah terjadi putri! Karena selama aku masih berdiri di sini, dan bernafas, aku sendiri yang akan memastikan istana dan kerajaan Veldora akan aman, baik dari pihak musuh dari luar ataupun musuh dari dalam!" ucap Joel tegas dan penuh penekanan.
makaci crazy up nya 😍👍