*𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘼𝙡𝙠𝙚𝙢𝙞𝙨 𝙎𝙚𝙢𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣 𝘽𝙚𝙣𝙪𝙖 𝙎𝙚𝙖𝙨𝙤𝙣 𝘿𝙪𝙖*
Ini adalah kisah Lin Xuan Sang Dewa Alkemis yang tidak sengaja bertemu dengan musuh terkuatnya Mo Xie, dua orang dari alam bawah yang tanpa sengaja terjerumus ke alam semesta yang jauh lebih tinggi.
Namun, mereka segera menyadari bahwa gelar agung, bahkan kekuasaan yang dianugerahkan oleh para Dewa dan Iblis Kuno bukanlah berkah, melainkan umpan untuk memelihara tubuh mereka hingga matang sebelum akhirnya dijadikan santapan.
Alih-alih terus saling membunuh, dua anomali ini akhirnya mengesampingkan permusuhan mereka untuk sementara.
Sebab sebelum menentukan siapa yang akan mati di tangan siapa, mereka sepakat melakukan satu hal terlebih dahulu...
Membantai para dewa serta iblis munafik dan membuat seluruh Alam Tinggi berlumuran darah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Deklarasi Perang
Langit di atas Kota Suci Tianyu yang sebelumnya dipenuhi armada perang kini kembali kosong.
Ratusan kapal tulang naga dan puluhan ribu prajurit elit faksi pendukung telah lenyap hanya dalam satu lambaian tangan Lin Xuan.
Di tengah langit yang sunyi, Tiga Jenderal Dewa Leluhur—Gu Zhan, Feng Lie, dan Kuang Sha—masih tergantung dengan tubuh gemetar. Zirah emas mereka bergetar mengikuti detak jantung yang dipenuhi ketakutan.
Mereka tidak mampu memahami apa yang baru saja terjadi.
Manusia misterius yang selama ini mereka anggap hanya menumpang pada kekuasaan Putri Mahkota kini telah berubah menjadi keberadaan yang sama sekali di luar pemahaman mereka.
Lin Xuan berdiri di balkon Menara Penguasa dan menatap mereka dengan mata yang dingin.
"Turun."
Hanya satu kata.
Namun Hukum Tolak di dalam Tungku Daging Tahap ke-11 segera berubah. Kali ini bukan lagi sekadar mendorong, melainkan menekan ketiga jenderal itu dari segala arah hingga tubuh mereka jatuh menuju tanah.
Wussshh!
Mereka meluncur dari langit seperti meteor.
Braam!
Ketiganya menghantam lantai.
Kraaak!
Lutut mereka langsung remuk dan tubuh mereka dipaksa berlutut di hadapan Shen Ziyue.
Sang putri yang bersandar pada sisa pilar menatap mereka dengan senyum dingin.
"A-Aaargh!"
Gu Zhan berusaha melawan. Daya Dewa Leluhurnya meledak dari tubuhnya, tetapi setiap kekuatan yang mendekati Lin Xuan langsung terpental tanpa mampu menyentuhnya.
"Kalian tidak berhak berdiri di hadapan Tuan Putri tanpa izinku."
Lin Xuan berjalan mendekat.
Setiap langkahnya menggema di antara reruntuhan.
Feng Lie menggertakkan gigi dan menatapnya dengan ketakutan.
"Kau... sebenarnya siapa?" Ia menarik napas berat. "Kekuatan apa yang kau gunakan untuk menghancurkan seluruh armada kami?"
Lin Xuan berhenti di hadapannya.
"Kekuatan?" Senyum tipis muncul di wajahnya. "Kalian terlalu terbiasa meminjam kekuatan langit dan bumi."
Tatapannya menjadi dingin.
Ia kemudian mencengkeram rahang Gu Zhan dan mengangkat wajah jenderal itu.
"Jawab."
Gu Zhan menahan rasa sakit.
"Di mana Kaisar Taichu saat kalian menyerang Tianyu? Apakah dia yang mengeluarkan titah?"
Kuang Sha segera menjawab dengan suara gemetar.
"K-Kaisar sedang berkultivasi tertutup. Majelis Tetua yang memerintahkan penghancuran Tianyu. Kaisar tidak ikut campur... mereka bertindak demi kehormatan Naga Emas."
Lin Xuan terdiam. Senyum tipis perlahan muncul di wajahnya.
Jika Kaisar benar-benar tidak mengetahui kekuatannya, mustahil ia membiarkan armada ini datang tanpa turun tangan.
Bagi Lin Xuan, semua itu hanya berarti satu hal.
Kaisar Taichu sedang menunggu.
Menunggu tubuhnya mencapai tingkat yang lebih tinggi sebelum mengambil hasil akhirnya.
"Begitu rupanya."
Lin Xuan melepaskan Gu Zhan.
"Kalau begitu, aku harus memberikan hadiah yang layak untuk Majelis Tetua dan Taichu."
Feng Lie tiba-tiba merasa ngeri.
"Apa yang akan kau lakukan?"
Lin Xuan mengangkat kedua tangannya. Hukum Tolak menyebar tanpa suara.
Kali ini kekuatannya tidak meledak keluar, melainkan membentuk kurungan tak kasatmata di sekeliling Gu Zhan dan Feng Lie. Kurungan itu kemudian perlahan menyusut.
Krrak!
Tubuh kedua jenderal mulai tertekan.
"Tidak!"
Jeritan mereka menggema di seluruh kota.
Tubuh raksasa mereka terus menyusut. Zirah emas retak, tulang Dewa Leluhur hancur, sementara darah emas bersama esensi jiwa mereka dipaksa kembali ke dalam tubuh.
Tidak ada yang mampu melawan.
Kekuatan Lin Xuan terlalu mutlak.
Tubuh setinggi tiga meter itu menyusut menjadi sebesar manusia biasa, lalu sebesar kepala. Setelah itu, ukurannya terus mengecil hingga akhirnya hanya tersisa dua benda bulat.
Lima tarikan napas kemudian, semuanya berhenti. Kurungan Hukum Tolak menghilang.
Tuk! Tuk!
Dua benda bulat jatuh ke lantai.
Dua kelereng merah kehitaman.
Namun di dalam kelereng itu terkandung darah, tulang, tubuh, dan jiwa Gu Zhan serta Feng Lie yang telah dipadatkan hingga batas tertinggi.
Lin Xuan mengambil keduanya.
Bagi orang biasa, beratnya mungkin sebanding dengan gunung kecil. Namun di tangannya, kedua benda itu tak lebih dari dua butir batu.
Kuang Sha menatap kelereng tersebut dengan tubuh gemetar.
Dua rekannya telah lenyap tepat di depan matanya.
Lin Xuan berjalan mendekat lalu melemparkan kedua kelereng itu ke hadapannya.
Tuk! Tuk!
Keduanya berhenti tepat di depan lutut Kuang Sha.
"Aku membiarkanmu hidup bukan karena belas kasihan." Suara Lin Xuan tetap tenang. "Kau akan menjadi pembawa pesan."
Kuang Sha buru-buru menundukkan kepala.
"Ya... ya, Tuan."
"Ambil mereka. Pulang ke Ibu Kota Suci Taichu."
Lin Xuan menatapnya tajam.
"Masuklah ke ruang takhta dan letakkan kedua kelereng itu di hadapan Kaisar dan Majelis Tetua."
Kuang Sha menelan ludah.
"Apa yang harus saya sampaikan?"
"Deklarasi Perang..."
Wajah Kuang Sha seketika memucat.
"B-Baik! Saya akan menyampaikannya!"
Ia buru-buru meraup kedua kelereng tersebut dan memeluknya erat. Tanpa berani menoleh lagi, Kuang Sha merobek kehampaan dan melarikan diri.
Dalam sekejap, sosoknya menghilang dari langit Tianyu.
Keheningan kembali menyelimuti kota.
Lalu terdengar tepuk tangan.
Shen Ziyue berjalan mendekat.
Luka-lukanya telah pulih sepenuhnya. Gaunnya memang masih dipenuhi noda darah, tetapi sikapnya telah kembali anggun seperti seorang Putri Mahkota.
Ia memandang punggung Lin Xuan dengan mata penuh kekaguman.
Pria ini telah kembali.
Dan hanya dengan satu gerakan, ia membuat seluruh armada Taichu menjadi debu.
Ziyue berjalan ke tepi Menara Penguasa lalu mengangkat tangan.
Cahaya Pemusnah menyala di sekeliling tubuhnya dan menerangi langit yang gelap.
Puluhan ribu prajurit Tianyu yang selamat mulai keluar dari persembunyian. Jutaan warga pun mengangkat kepala dari tempat perlindungan mereka.
Semua mata tertuju kepada Putri Mahkota.
"Dengarkan aku, rakyat Tianyu!" Suara Ziyue menggema ke seluruh kota. "Hari ini, Majelis Tetua Taichu datang untuk menghancurkan rumah kita."
Ia menunjuk ke langit yang kini kosong.
"Mereka mengira Tianyu lemah. Mereka mengira kita hanyalah perbatasan yang bisa dikorbankan."
Suara Ziyue semakin tegas.
"Tapi kalian sudah melihat sendiri hasilnya! Armada mereka telah menjadi debu!"
"Jenderal mereka telah berlutut! Dan mereka tidak lagi mampu menginjakkan kaki di tanah Tianyu!"
Sorak-sorai mulai terdengar dari berbagai penjuru.
Semakin banyak suara bergabung hingga seluruh kota bergemuruh.
Ziyue menghunus pedang cahayanya dan mengarahkannya ke cakrawala, tepat ke arah Ibu Kota Suci Taichu.
"Mulai hari ini, Tianyu tidak akan lagi bertahan! Kita akan mengumpulkan seluruh pasukan yang tersisa!"
"Kita akan menembus langit dan menghancurkan gerbang Taichu!"
"Kita akan menuntut kembali apa yang telah mereka rampas dari kita!"
Suara jutaan rakyat mengguncang langit.
"Hidup Putri Mahkota!"
"Hidup Komandan Bintang!"
Sorak-sorai membubung tinggi.
Deklarasi perang telah dikumandangkan.
Pemberontakan Tianyu yang kelak mengguncang seluruh Alam Primordial telah dimulai.
Di belakang Shen Ziyue, Lin Xuan berdiri dengan tangan terlipat. Ia memandang pasukan yang bersorak tanpa menunjukkan banyak emosi.
Bagi Lin Xuan, pasukan Tianyu hanyalah awal. Tujuan sebenarnya berada jauh di Ibu Kota Suci Taichu.
Di sana, Kaisar Taichu telah menunggu.