NovelToon NovelToon
DARK RONIN

DARK RONIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action / Perperangan
Popularitas:91
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

DARK RONIN

Kode namanya Kakashi. Selama sepuluh tahun, ia adalah bayangan tak terlihat, pengawal setia pemimpin dagang yang disegani seantero wilayah timur. Dianggap keluarga, dipercaya sepenuhnya—hingga satu momen kelalaian mengubah segalanya. Musuh menyerang, tuannya tewas, dan Kakashi gagal melindunginya.

Ditinggal tanpa majikan, ia menjadi ronin. Namun alih-alih mengembara tanpa tujuan seperti aturan yang berlaku, ia melanggar sumpah para ronin: tak akan diam membiarkan kematian tuannya berlalu begitu saja. Ia menentang ketetapan, membuang masa depan, dan menapaki jalan balas dendam yang gelap. Sendiri, tanpa nama, tanpa tuan, Kakashi menyusup ke bayang-bayang musuh. Bukan lagi pengawal, melainkan pedang pembalas yang tak akan berhenti sampai keadilan—atau kebinasaan—tercapai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 — Amarah 2

"Pergilah, Aoi. Sekarang."

Suara Kakashi rendah, tegas, tak membiarkan sanggahan sedikit pun. Matanya yang tadi berkilau keraguan kini menatap lurus ke arah gadis itu, memohon sekaligus memerintah. Di sekelilingnya, enam pembunuh bayaran itu kembali mengatur formasi, siap menerkam begitu ia lengah sedetik saja.

"Tapi Kakashi... aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian!" isak Aoi, tangannya masih mencengkeram ujung pakaian sepupunya yang telah dingin.

"Kau justru membuatku lemah jika tetap di sini!" potong Kakashi, sedikit meninggikan suaranya. Ia menangkis serangan yang menyambar dari sisi, lalu menoleh sejenak, tatapannya tajam namun penuh perhatian. "Setiap detik aku terbagi antara bertarung dan memastikan kau selamat, aku kehilangan kesempatan untuk mengakhiri ini. Pergilah. Tunggu di tempat aman. Kumohon."

Aoi menatapnya, lalu menatap wajah Shizuka yang tenang untuk terakhir kalinya. Ia mengerti. Jika ia tetap di sini, pengorbanan sepupunya akan sia-sia. Dengan napas yang terisak, ia mengangguk pelan, lalu perlahan bangkit, menyusuri dinding menuju pintu yang sedikit terbuka—celah kecil yang tadi tertutup bayangan.

"Aku akan menunggumu," bisiknya pelan sebelum melangkah keluar. "Pulanglah padaku, Kakashi."

Pintu tertutup pelan di belakangnya. Kini hanya ada mereka berdua—Kakashi dan enam musuhnya, ditambah Garo Takemaki yang berdiri di sudut ruangan, menyaksikan dengan tatapan waspada.

Kesunyian kembali menyelimuti ruangan itu, namun kini kesunyian yang berbeda. Beban di pundak Kakashi tak lagi terbagi. Ia tidak perlu lagi memikirkan ke mana Aoi melangkah atau apakah serangan meleset akan menyentuhnya. Fokusnya kini utuh—hanya pada mereka yang berdiri di hadapannya.

Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Di dalam hatinya, ia menyebut nama-nama itu, satu per satu, seakan berjanji kepada mereka yang telah pergi.

"Demi Shizuka..." bisiknya pelan, suaranya bergetar namun teguh. "...demi Tuan Kenzaburo."

Saat ia membuka matanya kembali, secercah cahaya merah samar berkilat di pelupuk matanya. Bukan merah karena amarah yang buta, melainkan merah seperti bara api yang tak padam—panas, terfokus, dan tak terelakkan.

Di tangannya, pedang hitam itu seakan hidup. Ukiran wajah iblis di gagangnya tampak berubah—sudut bibirnya terangkat, seakan tersenyum lebar, seakan menyambut keinginan yang kini menyatu sepenuhnya dengan pemegangnya. Angin dingin berputar pelan di sekeliling bilah pedang, mengeluarkan suara dengungan rendah, seperti nyanyian kuno yang memanggil kematian.

"Sekarang..." ucap Kakashi, melangkah maju satu langkah. "Kita selesaikan ini."

Enam ronin itu saling bertukar pandang. Sesuatu telah berubah. Aura yang memancar dari pemuda itu kini jauh lebih berat, jauh lebih mengancam daripada sebelumnya. Namun mereka adalah pembunuh bayaran yang tak kenal mundur. Dengan isyarat tangan samar dari pemimpin mereka, mereka bergerak serentak—tiga dari sisi kanan, tiga dari sisi kiri, memotong segala kemungkinan untuk lari.

Kakashi tidak lari.

Ia melesat maju begitu cepat hingga bayangannya seakan tertinggal di tempat ia berdiri sedetik sebelumnya. Angin menderit tajam saat ia membelah ruangan, dan pedang hitam itu menyambar ke arah ronin pertama yang tak sempat bereaksi.

Klang!

Bilah pedang lawan terbelah dua sebelum sempat menyentuhnya. Ayunan Kakashi tak terhalang, meluncur bersih di leher pria itu—cepat, tepat, tanpa keraguan. Tubuh pria itu tegak sejenak, lalu perlahan terkulai jatuh ke lantai tanpa suara.

Belum berhenti, Kakashi berputar, menangkis serangan kedua dengan punggung bilah, lalu menyayat ke arah rusuk orang berikutnya. Darah memancar, dan pria itu jatuh berlutut, napasnya terhenti seketika.

"Tidak mungkin..." gumam salah satu dari mereka, mundur terdesak. "Kecepatan ini..."

Kakashi tidak memberi jeda. Ia bergerak bagaikan bayangan yang tak bisa ditangkap mata. Setiap ayunan membawa akhir bagi satu nyawa. Ia tidak mengamuk secara membabi-buta—setiap gerakan terukur, efisien, mengarah tepat pada titik yang mengakhiri pertarungan dalam satu sentuhan. Seakan ia telah menghafal kelemahan mereka semua, seakan ia telah bertarung melawan mereka selama berpuluh-puluh tahun.

Yang ketiga mencoba menyerang dari belakang. Kakashi tidak menoleh—ia hanya memiringkan tubuh sedikit, membiarkan pedang lawan melintas sejengkal dari bahunya, lalu membalas dengan tusukan yang melesat ke belakang, tepat menembus dada orang itu.

Yang keempat melompat tinggi, menghantam dari atas dengan kekuatan penuh. Kakashi menatapnya tenang, lalu melompat lebih tinggi, pedang hitamnya menyambar mendatar—sekilas, dan pria itu terbelah di udara sebelum jatuh ke lantai.

Tersisa dua orang. Mereka mundur beriringan, punggung saling membelakangi, tangan gemetar memegang pedang yang kini terasa begitu ringkih. Wajah mereka yang tadi dingin dan tanpa ekspresi kini penuh ketakutan. Mereka adalah pembunuh yang tak pernah mengenal kekalahan, namun di hadapan sosok ini, mereka merasa seperti anak-anak yang memegang senjata untuk pertama kalinya.

"Siapa kau..." bisik salah satu dari mereka, suaranya pecah.

Kakashi melangkah maju, tidak menjawab. Matanya yang memerah menatap mereka tanpa ampun, namun juga tanpa kebencian yang meluap—hanya keteguhan yang dingin dan tak tergoyahkan.

Yang kelima menerjang nekat, berharap setidaknya bisa melukai sedikit pun. Kakashi menangkis dengan satu tangan, memutar pergelangan tangannya hingga terdengar bunyi patah, lalu menyayat lehernya dengan gerakan sekilas.

Kini tinggal satu orang.

Pria itu mundur hingga punggungnya membentur dinding. Ia mengangkat pedangnya, namun tangannya gemetar hebat hingga senjatanya bergetar. Ia tahu ia tidak punya kesempatan. Ia tahu ia akan jatuh. Namun ia tetap berdiri—karena itulah yang ia ajarkan, itulah yang ia lakukan seumur hidupnya.

"Kami... hanya menjalankan perintah..." suaranya terdengar pasrah.

"Aku tahu," jawab Kakashi pelan, dan nada suaranya begitu tenang hingga justru terasa mengerikan. "Tapi kalian memilih jalan ini. Kalian memilih menjadi alat pembunuh."

Ia melangkah maju, dan dalam sekejap, pedang itu melesat satu kali lagi. Pria itu terjatuh, diam.

Keheningan kembali menguasai ruangan itu. Di lantai batu yang dingin, keenam pembunuh bayaran itu telah tumbang, masing-masing di tempat yang berbeda, tak ada yang terluka sia-sia—setiap tebasan adalah akhir yang cepat, tanpa penderitaan yang berkepanjangan. Kakashi berdiri di tengah-tengah mereka, napasnya teratur, keringat menetes di pelipisnya, namun ia tidak tampak lelah. Ia memegang pedang hitam itu erat, lalu perlahan menoleh ke arah satu-satunya sosok yang masih berdiri di sudut ruangan.

Garo Takemaki.

Pria itu kini tidak lagi tersenyum. Wajahnya pucat, matanya melebar menatap kekacauan di lantai, lalu perlahan menatap pemuda yang berdiri di hadapannya—pemuda yang ia anggap mudah dikalahkan, yang kini berdiri tegak bagaikan pedang yang tak patah.

"Kau..." suara Garo tercekat di tenggorokannya. "Kau tidak mungkin..."

Kakashi melangkah maju, satu langkah demi satu langkah, mendekati pria yang menjadi sumber segala penderitaan ini. Pedang di tangannya masih meneteskan darah, namun tidak setetes pun jatuh ke lantai—seakan menahan diri, menunggu saat terakhir.

"Semuanya sudah berakhir, Garo," ucap Kakashi, suaranya tenang namun menggetarkan seluruh ruangan. "Tuan Kenzaburo. Shizuka. Mereka semua sudah pergi. Dan sekarang... giliranmu."

Garo mundur, punggungnya menabrak dinding. Ia meraba pinggangnya, mencari senjata, namun tangannya kosong. Ia sendirian. Tidak ada lagi pelindung. Tidak ada lagi perantara. Hanya ia dan pemuda yang kini berdiri di hadapannya, membawa keadilan yang telah tertunda terlalu lama.

"Tunggu..." Garo mengangkat tangan, matanya berputar mencari jalan keluar. "Kita bisa bernegosiasi! Uang, tanah, apa pun yang kau mau—"

"Aku tidak menginginkan hartamu," potong Kakashi dingin. "Aku hanya menginginkan apa yang menjadi hak mereka."

Ia mengangkat pedang hitam itu perlahan, ujungnya menunjuk tepat ke arah dada Garo. Cahaya merah di matanya masih menyala, namun di kedalaman tatapan itu, ada kesedihan yang tak terucap—ia tidak menikmati ini. Ia hanya menyelesaikan apa yang harus diselesaikan.

"Berlututlah," bisiknya. "Dan mohon ampun kepada mereka yang telah kau sakiti."

Garo menatapnya, menyadari bahwa tak ada jalan keluar. Wajahnya yang tadi penuh kesombongan kini runtuh, digantikan oleh ketakutan yang murni. Di hadapannya bukan lagi sekadar pengawal yang setia—melainkan bayangan dari semua kesalahan yang ia perbuat, datang untuk menagih utang yang tak bisa dibayar dengan apa pun selain nyawa.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!