Perjodohan antara CEO kaya dan tampan dengan wanita bertubuh tambun. Semua itu adalah keinginan dari kakek kedua pasangan tersebut sewaktu mereka masih sama-sama muda.
Karya ini hanyalah fiksi semata. Jadi jika terdapat hal yang tidak sesuai dengan kenyataan atau dengan keinginan para readers. Mohon dimaafkan. Karena semua cerita ini hanyalah khayalan author semata.
Terima kasih, terus dukung author ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena_Senja🧚♀️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 34
"Papa akan memaafkan kamu, jika kamu mau kembali menggoda Alfarezi!" perintah Erik yang disampaikan oleh Rizky, salah satu anak angkat Erik.
Ines terdiam mendengar pesan dari ayah angkatnya. Dia tidak mau lagi membohongi perasaannya. Tapi juga tidak mau dimusuhi oleh ayah angkatnya. Biar bagaimanapun, Ines sudah dirawat selama lebih dari sepuluh tahun oleh Erik, ayah angkatnya.
Ines ingin menunjukan baktinya sebagai anak. Akhirnya setelah memikirkannya. Ines mau kembali menggoda Alfarezi dan menjalani rencananya lagi.
Tapi tentunya, Ines harus memberitahu Shaka masalah tersebut. Ines tidak mau Shaka akan salah paham kepadanya.
Selama beberapa hari ini. Ines selalu merasa Shaka memberinya perhatian yang lebih. Ines merasa jika Shaka mulai tertarik kepadanya, selama beberapa hari tinggal dibawah atap yang sama.
"Tapi ingat! Jangan kasih tahu kak Shaka masalah ini!" Rizky seperti bisa menebak apa yang Ines pikirkan.
"Papa bilang, kita atur rencana ini tanpa kak Shaka, karena kak Shaka pasti akan menentang rencana yang melibatkan istri Alfarezi." jelas Rizky tidak membuat Ines berpikiran terlalu berlebih.
Karena memang rencana itu dibuat tanpa berdiskusi dengan Shaka. Erik tahu jika pasti Shaka akan menentang idenya untuk menggunakan istrinya Alfarezi, sebagai alat untuk mengancam Alfarezi.
Erik telah menyiapkan rencana untuk menyiksa Alfarezi. Dia akan membuat Alfarezi memilih antara istrinya atau wanita yang dia cintai. Rencana itu diyakini Erik, bisa membuat Alfarezi depresi. Dan akibat terburuknya, Alfarezi bisa bunuh diri.
Mengingat betapa Shaka bersikeras melindungi Kimora. Ines menjadi sangat kesal. Mungkin ini kesempatan untuk menyingkirkan Kimora selamanya. Supaya Shaka tidak lagi memikirkan perempuan gendut itu.
"Lagipula apa kurangnya aku? Kenapa kak Shaka selalu ingin melindungi wanita itu? Apa kak Shaka mengira dia gajah yang harus dilindungi?" gumam Ines seorang diri.
Begitu Rizky pergi. Ines berdiri di depan cermin. Dia mengagumi kemolekan tubuhnya sendiri. "Dibanding dengan Kimora, aku jauh lebih segalanya dari dia." gumam Ines sembari tersenyum sinis.
Bahkan kali ini. Ines merasa lebih bersemangat menggoda Alfarezi. Dia yakin Alfarezi tidak akan bisa menolak kecantikannya. "Bisa menakhlukkan kamu lagi, itu sebuah terlalu gampang bagi aku." Ines memandang dirinya sendiri di cermin dengan bangga.
Ines benar-benar seorang wanita cantik. Tubuhnya yang ideal, juga kulitnya yang sawo matang, senyumannya yang manis. Sungguh membuat lelaki tergila-gila.
Apalagi ketika dia berbicara. Suaranya yang lembut, penuh kemanjaan. Membuat lelaki manapun tidak akan kuat untuk tidak mencintainya. Kecuali mereka yang suka dengan kelembutan dan kepolosan.
Setelah mandi dan berias. Ines segera bergegas ke perusahaan milik Alfarezi. Ines bekerja di perusahaan milik Erik. Tapi Erik selalu menyembunyikan identitasnya sebagai pemilik oerusahaan tersebut. Dan karena Erik sedang marah sama Ines. Erik memecatnya dari kantor.
Sementara Shaka, dia memiliki perusahaan sendiri yang berdiri di bidang pasar modal. Perusahaan yang dia bangun sendiri, sudah berdiri selama dua tahun.
Saat itu Shaka sudah pergi ke kantor. Jadi Rizky bisa dengan mudah datang menemui Ines. Selama ini ternyata Erik sudah tahu dimana Shaka tinggal. Tentu saja dengan koneksinya. Erik bisa dengan mudah menemukan dimana Shaka tinggal. Dia juga terus mengawasi Shaka selama ini. Karena Shaka adalah kunci untuknya balas dendam.
Ines datang ke perusahaan Alfarezi saat jam makan siang. Tidak sulit untuk Ines bisa masuk ke kantor Alfarezi. Karena karyawan Alfarezi masih banyak yang belum tahu, jika mereka berdua sudah putus.
"Pak Alfa ada?" tanya ke Ardila. Dia juga sudah kenal dengan sekertaris Alfarezi tersebut.
"Bu Ines???" Ardila membulatkan matanya. Ardila tahu dari Ivan jika bos-nya sudah putus dengan wanita itu. Tapi kenapa Ines datang lagi ke kantor Alfarezi.
"Ardila!" ucap Ines mengagetkan lamunan Ardila.
"Pak Alfa.. a..da di dalam bu. Saya-" Ardila hendak menelepon kantor Alfarezi. Memberitahu jika ada tamu.
Tapi, belum sempat Ardila menekan nomer telepon ruangan Alfarezi. Ines sudah menyelonong masuk. Membuat Ardila kaget, tapi terlambat menahannya.
Ines masuk ke ruangan Alfarezi tanpa permisi. Dia melihat Alfarezi yang masih fokus dengan pekerjaannya. Ines tersenyum, harus diakui. Jika Alfarezi memang sangatlah tampan saat sedang serius bekerja.
Andai saja dia tidak kenal Shaka. Mungkin Ines akan beneran jatuh cinta kepada lelaki itu. Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar.
"Ehem.." Ines mencoba mencari perhatian Alfarezi.
Mendengar suara yang tidak asing. Alfarezi mulai menoleh. Dia melihat sosok wanita yang tidak asing lagi buat dia. Wanita itu tersenyum kepadanya. Dengan mengenakan dress pendek tanpa lengan, tubuh mulus Ines terekspose dengan sangat indah.
"Ngapain kamu kesini?" Alfarezi mengalihkan pandangannya. Dia bertanya dengan sangat dingin.
"Kangen sama kamu." jawab Ines melangkahkan kakinya mendekati meja kerja Alfarezi. Dia berkata dengan santai. Seolah tidak pernah terjadi sesuatu sebelumnya.
Alfarezi menghentikan tangannya yang sedang mengetik. Dengan tersenyum sinis dia memandang Ines. "Kangen?" tanyanya.
"Bukankah kamu tidak pernah mencintai aku? Mana mungkin bisa kangen." Alfarezi kembali melanjutkan pekerjaannya. Dia tidak mau menghiraukan Ines. Menurutnya, antara dirinya dengan Ines, sudah tidak ada lagi hubungan.
"Maafin aku!" Ines tiba-tiba memeluk Alfarezi.
"Pergi!" Alfarezi mendorong Ines menjauh.
"Jangan pernah sentuh aku!!" seru Alfarezi dengan marah.
Alfarezi berdiri dari tempat duduknya. Tapi Ines dengan cepat bangkit dan mendorong Alfarezi. Ines memeluk dan menciumi Alfarezi. Sama seperti yang pernah dia lakukan dulu.
Akan tetapi, Alfarezi berusaha keras mendorong Ines. Bahkan saat itu Ines sudah membuka bajunya.
"Jangan tidak tahu malu!" ucap Alfarezi marah dan berusaha mendorong Ines.
"Aku tahu kamu masih mencintai aku." ucap Ines masih melanjutkan gerakannya menggoda Alfarezi.
Ines bahkan melakukan tindakan konyol. Dia dengan sengaja merobek bajunya sendiri. Hanya menyisakan pakaian dalam yang ia kenakan.
Disaat Alfarezi berjuang melepaskan diri. Tiba-tiba Ivan membuka pintu ruangannya. Dengan cepat Alfarezi berseru,"jangan masuk!"
Alfarezi tidak ingin Ivan melihatnya dikurung oleh Ines. Lebih tidak ingin, Ivan melihat Ines yang hanya memakai pakaian dalam saja.
Ivan sangat patuh. Dia buru-buru menutup pintu ruangan Alfarezi lagi. Setelah itu, Alfarezi menggunakan kekuatannya menggendong Ines dan membawanya ke kamar kecil, tempat untuk dia istirahat.
Alfarezi melempar Ines ke kasur. Juga melempar baju yang dia ambil dari lemari yang ada di dalam kamar itu. Itu adalah baju gantinya.
"Pakai ini! Setelah itu keluar dari sini!" ucap Alfarezi dengan dingin.
"Aku nggak mau!" Ines kembali bangkit dan memeluk Alfarezi. Tapi Alfarezi selalu tidak memiliki kesabaran yang baik. Dia menampar Ines sampai Ines terjatuh di kasur.
Tanpa menoleh kembali, Alfarezi meninggalkan kamar itu. Dia tidak habis pikir dengan apa yang baru saja terjadi. Kenapa Ines datang lagi dan menggodanya lagi. Untungnya, kebenciannya ke Ines jauh lebih besar daripada cintanya yang dulu.
Alfarezi juga sempat memarahi Ivan dan Ardila karena membiarkan Ines masuk ke ruangannya. Ivan tidak tahu menahu soal kedatangan Ines. Tapi dia juga kena omel bos-nya.
"Kamu yang biarin bu Ines masuk?" tanya Ivan ke Ardila setelah Alfarezi meninggalkan kantornya.
"Bu Ines sendiri yang maksa masuk." jawab Ardila tidak mau disalahkan oleh Ivan.
"Bos kayaknya bener-bener sudah tidak peduli lagi dengan bu Ines." gumam Ivan.
"Bos mau kemana tuh? Kamu nggak ikuti dia?" tanya Ardila. Seketika Ivan berlari mengikuti bos-nya yang sudah masuk ke dalam lift.
Belum ada lima menit, Alfarezi masuk lift. Kimora sudah berada di depan ruangannya. Kimora tidak melihat Ardila juga di depan. Kayaknya dia juga pergi makan siang.
Kimora membuka pintu ruangan suaminya. Dia ingin memberi kejutan untuk suaminya. Dengan datang tiba-tiba dan membawakan makan siang untuknya.
"Kak.. Kak Alfa!!" panggil Kimora karena tidak melihat suaminya ada di ruangannya. Tapi ponsel Alfarezi ada di meja kerjanya.
Karena saking kesal dan buru-buru, Alfarezi tidak sengaja meninggalkan ponselnya di meja kerja.
Tiba-tiba Ines keluar dari kamar kecil itu menggunakan kemeja Alfarezi. Tentu saja munculnya Ines membuat Kimora jadi kaget. Apalagi dia melihat baju yang robek di bawah meja kerja suaminya. Hati Kimora menjadi sakit. Dia berpikir jika Alfarezi dan Ines bercinta di kantor Alfarezi.
"Ngapain kamu kesini?" tanya Kimora mencoba tetap tenang.
"Apalagi kalau bukan layani suami kamu. Dia bilang tidak puas dengan kamu, jadi dia minta aku kesini buat layani dia." jawab Ines sengaja memprovokasi Kimora.
"Oh gitu, bagus deh kalau kamu bisa puasin dia. Jadi aku bisa tidur nyenyak tiap malam." ucap Kimora masih berusaha tenang. Meskipun sebenarnya hatinya sangat sakit.
"Terus kenapa masih disini? Suami aku belum kasih bayaran ke kamu?" mendengar perkataan Kimora itu, membuat Ines menjadi murka. Dia merasa seolah dirinya adalah seorang pelac*r.
Tapi Ines masih tetap tenang. Dia memakai kemeja Alfarezi dan juga jas milik Alfarezi. Lalu berjalan keluar dari ruangan Alfarezi. Tapi sebelum dia keluar, Ines sempat mengatakan hal yang membuat Kimora menjadi marah.
"Kamu harus tahu. Mungkin kamu bisa memiliki tubuh Alfarezi, tapi kamu tidak akan pernah bisa memiliki hatinya. Kamu bukan tipe idaman dia. Yang dia suka adalah wanita yang memiliki bentuk tubuh indah, bukan gumpalan lemak seperti kamu. Dia mau sama kamu karena tidak mau mengecewakan kakeknya."
"Pergi!!!" raung Kimora mengusir Ines pergi dari ruangan suaminya.
Lalu, Ines pergi dengan senyuman sinis mengembang diwajah cantiknya.
big no
JENGKEL DGN TOKOH SUAMI LO SI ALFA, TPI KDG2 LBH JENGKEL DGN KARAKTER TOKOH LOO..