"tolong....."
"tolong kami..."
"lepaskan rantai inii..."
"toloongg!!!!"
Nadira Slavina, merupakan seorang gadis kota yang baru pindah ke kampung halaman sang nenek dengan ditemani sahabatnya Elsa. ia menempati rumah tua yang sudah turun temurun sejak nenek buyutnya dulu.
Nadira sendiri memiliki keistimewaan dapat melihat makhluk tak kasat mata yang ada di sekitarnya. dan bisakah mereka memecahkan misteri yang ada di rumah itu atau malah semakin terjebak dalam labirin misteri?
yuk, kepoin karya pertamaku dan bantu support ya teman-teman!✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhinaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. hutan larangan
"Rehan bukanlah putra kandungku" ucap pak Hamdan lirih
Wijaya dan pak rusdi terkejut mendengar pernyataan itu. Bukankah isteri pak Hamdan yang melahirkan rehan? Bagaimana mungkin dia bukan anak kandung pak hamdan?
"bagaimana mungkin? Aku dan isteriku juga menemanimu waktu itu saat Heni lahiran kan? Dan Mutia sendiri yang membersihkan bayi kalian" ucap pak Rusdi
"ya, waktu itu memang bayiku yang lahir, tapi setelah seminggu ia meninggal entah karena apa. Dan setelah meninggalnya bayi kami. Isteriku slalu menangis dan mengurung dirinya hingga ia sering sakit-sakitan" ucap pak Hamdan dengan menarik nafasnya sebelum melanjutkan ceritanya
"saat itu, aku sedang pergi membeli obat untuk Heni, dan dia kutinggal sendiri karena masih tidur. Setelah aku pulang, ia sudah menggendong seorang bayi laki-laki yang diperkirakan usianya baru satu bulan. Dan hingga saat ini aku tidak tahu dari Mana asal usul datangnya bayi itu hingga kami memutuskan untuk merawatnya sebagai pengganti bayi kami yang meninggal" ucap pak Hamdan
"lah emangnya Heni nggak tahu bayi itu darimana? Siapa yang bawa? Nemu dimana?" tanya Wijaya
"nah itu permasalahannya, Heni sama sekali tidak mengingat bagaimana ia bisa menggendong bayi itu" jawab pak Hamdan
"aneh, siapa sebenarnya rehan? Dan auranya memang sangat kuat" ucap Wijaya
"apa mungkin sebenarnya Rehan lah yang ditakdirkan sebagai pelindung?" tanya Rusdi
"tapi Aura mereka sama-sama kuat" ucap Wijaya
"entah siapa pelindung, yang pasti kita berharap mereka dapat menyelesaikan iblis itu dalam keadaan selamat tanpa kurang satupun" ucap pak Hamdan
"setuju" ucap rusdi dan Wijaya serempak
.
"Ini kita ngapain kesini? Kan kata warga ini tempat larangan" ucap Elsa
mereka bertiga berdiri didepan hutan larangan yang katanya tempat disegelnya iblis gunung Kawi.
Nadira penasaran dengan tempatnya dan ingin masuk kedalamnya. namun, ia sadar jika sekarang belum punya kemampuan yang cukup jika nanti mendadak mendapat gangguan dari iblis lain.
Nadira sendiri merasakan jika Aura hutan larangan ini sangat kental aura mistisnya. Ia merasa jika didalam sana sangatlah berbahaya
"Ak, berapa lama hutan ini tidak di masuki warga?" tanya Nadira pada aksara
"sekitar sepuluh tahun mungkin, tapi entah kenapa disaat-saat tertentu akan ada korban dihutan ini" ucap Aksara
"korban? Maksudmu orang hilang?" tanya Nadira
"hilang jantungnya!" tukas Aksara
"hah?!!" Nadira dan Elsa terkejut mendengar perkataan Aksara, mereka mengira Aksara bercanda namun, wajah pria itu nampak serius
"maksudnya gimana sih? Orangnya mati dalam keadaan ngga ada jantung gitu?" tanya Elsa
"iya, bahkan katanya jika yang menghilang seorang gadis, maka gadis itu ditemukan dalam keadaan kering kerontang seperti dihisap d*arahnya" jelas Aksara
"ih kok ngeri sih, mana aku juga masih gadis lagi. nanti kalo aku dihisap gimana? Belum nikah lagi huhu" ucap Elsa dengan wajah yang mewek
"heh Elsa! iblis itu mungkin nggak doyan kalo ngisep kamu. pait yang ada nanti iblisnya jadi sableng" ucap Nadira yang membuat Elsa cemberut
"kamu kira d*arahku mengandung virus rabies" sungut Elsa dan Nadira hanya terkekeh melihat sahabatnya kesal
"kenapa kalian disini?" suara seorang pria mengagetkan mereka bertiga
"kamu nih Re, ngagetin aja tau nggak" omel Aksara
"lagian kalian, udah tau ini tempat larangan masih aja usil" ucap Rehan
"lah terus kamu ngapain kesini juga?" tanya Nadira
"aku cuma lewat nggak sengaja liat kalian" balas Rehan yang tak sedingin awal-awal dulu
"eh kata Aksara tadi kalo yang korbannya gadis, maka akan dihisap darahnya. Kalo bujang kayak kalian gimana?" tanya Elsa yang membuat mereka melongo
"gimana ya? Selama ini belum ada korban bujang" ucap Aksara
"wah wah nggak bener ini" ucap Elsa menggelengkan kepalanya
"apanya yang nggak bener Sa?" tanya Nadira heran
"berarti iblisnya nggak adil dong, masa yang bujang nggak diculik. Jangan-jangan ini iblisnya masih Bujang" ucap Elsa dengan wajah serius
Plakkk
"sembarangan aja! Iblis bujang kali dia anaknya udah seribuan gimana?" Nadira menepuk lengan temannya itu. Bisa-bisanya menggosipkan sang iblis didepan rumahnya sendiri
"yaelah goceng sepuluh ribulah" balas Elsa
"alah udahlah mending kita pulang dan pancking barang yang diperlukan buat besok" ucap Aksara
"kalian mau kemana besok?" tanya Rehan penasaran
"kami mau ke pondok pesantrennya kiyai Syafiq yang dulu berhasil menyegel iblis itu" ucap Aksara
"kamu mau ikut? Kalo mau kita bisa barengan besok" ajak Nadira
Rehan menatap Nadira yang juga sedang menatapnya. pandangan mereka bertemu dan saling mengernyitkan dahi
"kenapa wajahnya familiar ya?" batin Nadira
"kenapa...mata itu..mata hazel yang sangat familiar. Tapi dimana aku pernah melihatnya" batin Rehan
"Ehemm!" Aksara berdehem karena melihat temannya memandang Nadira tanpa berkedip. ia mengira jika Rehan menyukai Nadira
"kalian kenapa? Kok kayak gitu banget mandangnya?" tanya Aksara yang agak cemburu
"oh nggak, itu dimata Nadira ada beleknya" ucap Rehan sambil berjalan duluan
"ha? Mana? Bersih kok" Nadira menyentuh area matanya mengira jika perkataan Rehan benar, maka ia akan sangat malu
"sembarangan aja ya kamu!" teriak Nadira kesal
Mereka berempat pergi dari kawasan terlarang itu. Tanpa menyadari jika ada sosok mengerikan yang menatap tajam mereka dengan seringai menakutkan
"sebentar lagi, sudah waktunya. Yang terpilih akan menjadi sesembahan sempurna hahaha" suara dari sosok itu bergema dihutan larangan hingga membuat semua binatang yang dihutan pun hening seakan tau jika ada sesuatu yang berbahaya di hutan itu.