kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang ratu di tengah dunia yang penuh dengan intrik politik dan kekuatan sihir serta makhluk mitologi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Gaib Sang Penculik
Suasana alun-alun istana Atlas masih dipenuhi asap dan bau asam yang menyengat. Panglima Delta berlutut di tepi lubang besar yang menganga, tinjunya menghantam tanah dengan amarah yang meluap-luap.
Di tengah kekacauan itu, Penyihir Petir melangkah maju dengan jubah yang sedikit terbakar. Wajahnya yang keriput terlihat sangat tegang
Penyihir Petir mengangkat tongkat peraknya tinggi-tinggi ke udara. Ia mulai merapal mantra . Listrik statis mulai menari-nari di ujung tongkatnya, menciptakan bola cahaya biru yang berpijar terang. Cahaya itu tidak hanya menerangi kegelapan lubang, tetapi juga mulai membentuk partikel-partikel emas yang melayang, menempel pada sisa-sisa lendir dan jejak kaki kalajengking raksasa yang tertinggal. "Energi gelap ini meninggalkan residu yang sangat kuat," gumam sang penasihat. Partikel emas itu kemudian terbang membentuk jalur cahaya yang memanjang ke dalam kegelapan bawah tanah, memberikan kompas mistis bagi pencarian mereka.
Panglima Delta segera bangkit dan mengeluarkan perintah dengan suara menggelegar. "Bangkitkan seluruh kekuatan Atlas! Kita tidak akan membiarkan satu pun dari makhluk-makhluk itu hidup!" Tanpa menunggu waktu lama, pasukan besar Atlas mulai berkumpul. Barisan Minotaur dengan kapak raksasa mereka berbaris di depan, diikuti oleh legiun Centaur yang telah menyiapkan busur dan tombak mereka. Di angkasa, kepakan sayap dari puluhan Griffon dan naga api menciptakan angin kencang yang menderu. Penyihir Petir memimpin di garis depan, memegang kendali atas mantra pelacak nya, sementara Delta memacu kudanya dengan penuh dendam, memimpin ribuan prajurit masuk ke dalam perut bumi mengikuti jejak cahaya tersebut.
Perjalanan di bawah tanah terasa seperti memasuki rahim kematian. Dinding-dinding terowongan alami itu lembap dan dipenuhi oleh serat-serat putih yang lengket. Penyihir Petir tiba-tiba menghentikan langkahnya, membuat seluruh pasukan di belakangnya bersiaga. Dari kegelapan di depan mereka, muncul sosok yang mengerikan—Arkhne,Di belakangnya, ratusan siluman lain, mulai dari manusia berkepala serangga hingga bayangan-bayangan tanpa wajah, mulai merayap keluar dari celah dinding.
"Kalian tidak akan melangkah lebih jauh, wahai manusia-manusia sombong dari Atlas," desis Arkhne Penyihir Petir tidak membalas dengan kata-kata, ia langsung melepaskan gelombang petir yang menghantam barisan depan siluman tersebut. Namun, Arkhne sangat lincah; ia melompat ke langit-langit terowongan dan menembakkan jaring-jaring beracun yang sangat kuat. Pertempuran pecah seketika. Pasukan Centaur mencoba melepaskan anak panah, tetapi jaring-jaring yang tersebar di udara menangkap serangan mereka sebelum sampai ke sasaran.
Para Minotaur merangsek maju, mengayunkan kapak mereka untuk membelah siluman-siluman yang menerjang. Namun, jumlah musuh seolah tidak ada habisnya. Arkhne memimpin serangan dengan kecerdikan yang mematikan, menyasar titik-titik lemah dalam formasi pasukan Atlas.
Penyihir Petir harus bekerja keras menciptakan perisai energi untuk melindungi Panglima Delta dari serangan mendadak yang muncul dari kegelapan di setiap sudut terowongan.
Pertempuran di dalam terowongan berubah menjadi pembantaian yang mengerikan. Ruangan yang sempit membuat naga api kesulitan untuk bermanuver. Salah satu naga api mencoba menyemburkan api besar untuk membakar jaring-jaring Arkhne, namun hal itu justru membuat oksigen di dalam terowongan menipis dengan cepat. Dalam kondisi yang kacau itu, Arkhne berhasil melompat ke punggung naga tersebut dan menancapkan kaki pedangnya tepat di leher sang naga. Naga api itu melengking kesakitan sebelum akhirnya jatuh berdebam, menghimpit belasan prajurit Centaur di bawah tubuh besarnya yang tak lagi bernyawa.
Melihat naga mereka tumbang, moral pasukan Atlas mulai goyah. Dua ekor Griffon yang mencoba mencabik Arkhne juga mengalami nasib sial; mereka terjebak dalam jaring perangkap yang disembunyikan di langit-langit dan ditarik jatuh oleh puluhan siluman kecil yang langsung mengerumuni dan mencabik-cabik sayap mereka. Darah mengalir membanjiri lantai terowongan, mencampuri lendir dan debu. Panglima Delta bertarung dengan membabi buta, pedangnya telah tumpul karena terlalu banyak membelah cangkang siluman, namun ia sendiri mulai menderita luka-luka robek di lengan dan bahunya.
Penyihir Petir menyadari bahwa mereka akan musnah jika terus bertarung di tempat itu. Dengan sisa energinya, ia merapalkan mantra ledakan besar yang meruntuhkan sebagian langit-langit terowongan di depan mereka, menciptakan pembatas antara pasukan Atlas dan gerombolan siluman Arkhne. Meskipun mereka berhasil memaksa musuh mundur,Sebagian besar pasukan inti mereka tewas, dan kebanggaan Atlas berupa naga dan Griffon kini berkurang drastis.
Setelah berhasil meloloskan diri dari kejaran Arkhne, sisa-sisa pasukan Atlas menemukan sebuah ruang terbuka di bawah tanah yang cukup luas untuk beristirahat. Tempat itu berupa gua kristal yang memancarkan cahaya redup, memberikan sedikit ketenangan di tengah duka. Panglima Delta terduduk lesu di sebuah bongkahan batu, napasnya tersengal-sengal, dan darah terus merembes dari luka-lukanya. Ia menatap ke arah terowongan gelap yang baru saja mereka lalui, memikirkan Ratu Layla yang mungkin mengalami penderitaan lebih buruk.
Penyihir Petir mendekati Delta. Tangannya yang gemetar mulai bercahaya dengan aura hijau kebiruan—sihir penyembuhan yang jarang ia gunakan karena menguras banyak energi vitalnya. "Tetaplah diam, Panglima. Kita tidak bisa kehilangan pemimpin lapangan sekarang," ujar sang penasihat. Saat energi sihir itu menyentuh luka Delta, daging yang robek mulai menutup perlahan, meskipun rasa perihnya tetap membekas. Delta mengerang kecil, namun ia memaksakan diri untuk tetap sadar.
Pasukan yang tersisa—beberapa Minotaur yang kelelahan dan Centaur yang terluka—mulai membersihkan senjata mereka dalam diam. Tidak ada percakapan, hanya suara tetesan air dari langit-langit gua. Mereka beristirahat di tempat terbuka itu, mencoba memulihkan tenaga seadanya. Penyihir Petir duduk bersila, berusaha memulihkan mana-nya dengan bermeditasi. Namun, kegelisahan terus menghantuinya. Ia merasa bahwa kekuatan yang menculik Ratu Layla jauh lebih besar daripada sekadar gerombolan siluman, dan mereka sedang berjalan menuju jebakan yang lebih dalam.
Keesokan paginya, suasana gua kristal itu terasa dingin dan kaku. Penyihir Petir segera berdiri dan kembali merapal kan mantra pelacak untuk melanjutkan pencarian. Ia menggerakkan tongkatnya, mencoba memanggil kembali partikel emas yang sebelumnya menuntun mereka. Namun, kali ini sesuatu yang aneh terjadi. Partikel cahaya itu muncul sebentar, lalu buyar dan menghilang seperti debu yang tertiup angin. Penyihir Petir mencoba berulang kali, dahinya berkeringat karena konsentrasi penuh, tetapi hasilnya tetap sama. "Sial! Jejaknya telah dihapus oleh sihir penangkal yang sangat kuat," serunya dengan nada frustrasi.
Panglima Delta berdiri dengan cemas. "Apa maksudmu kita kehilangan jejak? Ratu ada di luar sana, dan kita hanya berdiri di sini?" Delta tampak hampir meledak karena amarah. Penyihir Petir terdiam sejenak, memutar otaknya mencari solusi di tengah kebuntuan ini. Tiba-tiba, sebuah kilasan ingatan muncul di benaknya. Ia teringat pada seorang tahanan di sel terdalam istana Atlas—seorang penyihir hutan yang memiliki kemampuan unik untuk berkomunikasi dengan alam dan mendeteksi kehidupan di mana pun ia berada
"Ada satu cara," kata Penyihir Petir tiba-tiba. "Penyihir hutan yang kita tahan di istana. Dia memiliki indra yang jauh lebih tajam daripada sihir pelacak ku. Dia bisa merasakan keberadaan makhluk hidup bahkan jika jejak sihirnya telah dihapus. Hanya dia yang bisa menuntun kita sekarang." Delta mendengus tidak percaya, namun ia tahu mereka tidak punya pilihan lain.