JANGAN DIBACA!!!
ASLI, BUKAN TIME TRAVEL, YA!
HANYA KISAH ASAL PENUH PERKETYPOAN!
KALAU UDAH BACA, YA JANGAN NYESEL! BISA MENYEBABKAN MUAL DADAKAN, GANGGUAN SUSAH TIDUR, DIABETES BERLEBIHAN, DAN BUCIN DADAKAN.
(Gejala di atas berdasarkan survey dari zaman kuno hingga saat ini).
Bagai bulan yang tertutup awan, aku harus membuang semua hal tentangku, semua jati diriku, dan melanjutkan hidup sebagai kembaranku sendiri.
Terasa susah. Namun, itulah yang harus kulakukan. Hanya karena paksaan sang ayah dan juga kesalahan yang sepenuhnya bukan milikku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggrek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumit.
Semakin hari mengenal Rian yang sekarang, aku semakin memahami tentang dirinya. Dia mulai kembali memanggilku dengan sebutan El seperti dulu, meski terdengar sedikit canggung tapi dia sudah berusaha dan aku harus menghargai itu.
Dia terlalu sering memasang wajah datar bak aspal. Bukan aspal menurutku, lebih tepat kalau dikatakan itu tembok karena terlalu kaku dan rata. Sangat jarang aku melihat sahabat lamaku itu berekspresi lain, dia tersenyum sesekali, tapi hanya saat diperlukan saja. Terlalu jarang senyum dan tawa tulus terlihat darinya.
Padahal yang kutahu, Rian dulu orang yang ceria, ramah, dan murah senyum. Dia berubah, tapi tak mengapa, bukan. Bukankah semua bisa berubah suatu saat nanti, mungkin Rian berubah karena kehilangan adiknya. Itu alasan yang tepat menurutku.
"Sedang apa?" tanyaku melirik Rian yang sejak tadi duduk diam di pojokan sambil membolak-balik halaman buku di tangannya. Kulihat dia balas menatapku dengan sebelah alis terangkat. Oke, aku tahu arti tatapannya itu, dia pasti bertanya melalui tatapannya, apa aku tak bisa melihat apa yang dia lakukan. Pasti itu yang dia pikirkan dengan wajah datarnya itu.
"Membaca!" astaga, lihat itu, baik sekali dia menyembunyikan apa yang dia pikirkan dan malah menjawab pertanyaanku barusan. Sungguh teman yang sangat baik. Kalau begini, aku jadi semakin ingin menjahilinya. Membuat dia berbicara lebih banyak, siapa yang tahu Rian akan melepas wajah datarnya dan berubah menjadi kesal kepadaku.
"Buku apa? Seru kayaknya," aku kembali bertanya pada dirinya yang mulai fokus lagi.
"Hanya buku pelajaran saja. Mau lihat?" katanya menutup buku itu lalu menyodorkannya padaku. Oh, ayolah kawan. Aku dan buku tak terlalu cocok bersama, baru melihat beberapa baris tulisan saja sudah membuat kepalaku sakit dan mataku lelah. Jangan suruh aku membaca apalagi berniat meminjamkan buku itu. Sungguh, itu percuma.
"Ha-ha-ha, tak usah, terimakasih!" tolakku tak lagi mengganggu Rian. Aku tak mau berakhir dengan harus membaca buku yang sama sekali tak kusukai. Daripada buku, aku lebih menyukai komik. Lebih seru dan mengasikan menurutku.
Kulihat dia tersenyum simpul meski sedikit tak kentara. Sialan, aku yang ingin menjahilinya malah dijahili balik. Sahabatku yang satu ini memang sangat pandai, entah aku harus bersyukur atau menangis karenanya. Aku tak pernah bisa menang melawan dirinya, baik dulu maupun sekarang.
"Ian, bagaimana jika adikmu tak meninggal? Pasti gue juga bisa berteman dengan dia, kan?" kataku secara tak sadar, aku langsung menutup rapat mulutku saat melihat dia terdiam tanpa bergerak setelah aku menanyakan hal lancang barusan. Aku baru sadar sekarang, kalau aku terlalu konyol untuk berandai-andai dengan orang yang pasti lebih terluka.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Aku yang sedang membaca buku ditanya sedang melakukan apa, bukankah sudah jelas dia hanya ingin memulai percakapan saja. Dia juga terlihat ingin menjahili diriku lagi, aku harus balas. Sebelum dijahili, lebih baik aku yang menjahilinya duluan.
Dia terdiam sebentar sebelum menanyakan pertanyaan aneh, apa dia bilang, Rafael mengatakan seandainya adikku masih hidup. Pertanyaanmu saja sudah salah, Rafael. Bukan adikku yang meninggal, tapi kakakku dan kamu tak akan pernah tahu itu. Aku masuk ke dalam labirin yang rumit dan tak bisa keluar dari sana, sekeras apapun aku mencoba.
Seorang putri yang dibenci karena hampir merenggut nyawa ibunya sendiri, aku semakin dibenci karena kakak mengorbankan nyawanya demi diriku. Alhasil sebagai hukuman telah melakukan dosa yang teramat besar, aku harus menggantikan tempat kakakku selama sisa hidupku. Mengubur rapat semua hal tentangku, membuang jauh impian untuk hidup sederhana dan bahagia. Aku harus jadi anak yang paling sempurna, paling dibanggakan, paling baik dan memasang topeng ramah saat diperlukan.
Kamu bertanya jika aku hidup apa kita bisa menjadi teman. Mungkin, jika kakakku membawamu ke rumah dan kita bertemu. Namun, itu hanya pemikiran konyol yang tak pernah terwujud. Aku tak boleh ketahuan, hatiku harus kuat dan tak merasakan apa-apa lagi sekarang.
"Maaf, maaf, aku tak bermaksud membuat lo sedih, Ian!" kamu meminta maaf untuk hal yang tak perlu, sungguh. Aku hanya berpikir apa yang akan kakak katakan kalau misalnya dia yang berada di sini dan bukannya aku, sang pengganti.
"Tak apa, kawan. Tak usah dipikirkan!" balasku mencoba untuk memberikan senyum terbaik agar kamu tahu kalau aku sungguh tak apa-apa. Sayangnya, aku hampir lupa bagaimana caranya tersenyum dengan tulus sekarang, aku hanya tahu senyum formal yang penuh kepalsuan. Kuharap kamu tak semakin salah paham dengan senyumku, Rafael.
"Gue tahu lo sedih, Ian. Jadi, jangan tersenyum seperti itu!" lihat, kamu salah paham. Aku hanya tak tahu bagaimana tersenyum untuk mengatakan aku baik-baik saja dan tak mengapa jika kamu membahas soal Adriana.
"Ya ...," ucapku sengaja, aku menundukkan wajahku agar terlihat sedikit menyedihkan. Bukankah kalau membicarakan tentang keluarga yang telah tiada harus terlihat sedih, aku mencoba untuk melakukan itu.
"Maaf, ya! Gue janji gak akan asal nanya lagi!" aku bisa mendengar penyesalan yang sangat dari nada suaramu. Maaf kawan, kamu tertipu untuk kesekian kalinya. Aku tak bersedih dan aku juga bukan teman masa kecilmu yang asli. Aku hanya pengganti yang bisa menghilang suatu waktu, jika diriku sudah dianggap tak berguna lagi nantinya.
"Hmm, akan kumaafkan untuk kali ini, El!" jawabku pelan. Ah, aku bersikap layaknya seorang sahabat yang bijak dan murah hati, padahal aku hanya penipu ulung yang terjerat hutang dan dosa.
"Kita masih tetap berteman, bukan?" itukah yang kamu khawatirkan, jangan khawatir aku tak berniat untuk mengakhiri pertemanan kita. Malah aku yang takut kalau kamu tak mau lagi berteman denganku, sepertinya aku sedikit berubah dengan kehadiranmu. Dulu aku tak peduli dengan kata teman, kini aku malah takut kehilangan hal yang kuanggap sepele selama ini. Cukup aneh, tapi tak buruk juga.
"Tentu!" balasku sembari mendongak menatapmu.
"Sebentar lagi kelas dimulai, duduk gih sebelum guru masuk!" lanjutku, kamu mengangguk dan duduk di bangkumu. Sungguh manis senyum yang kamu berikan padaku, aku tak mungkin rela kehilangan senyum tulus seperti itu. Apa aku belajar cara tersenyum dengan melihat cara kamu tersenyum saja, ya. Bukan ide buruk.
Kamu menatapku lagi, sambil tersenyum. Jelas sekali kamu terlihat lega aku sudah memaafkanmu. Kalau kamu tahu rahasiaku, apa kamu juga bisa memaafkanmu. Pastinya tidak, bukan. Situasiku rumit dan karena diriku juga kamu kehilangan sahabat kecilmu yang asli alias kakakku. Kamu pasti akan menyalahkan diriku seperti ayah dan juga ibuku, bukan. Kamu akan menatapku dengan tatapan benci dan mengataiku pembunuh. Ironisnya, aku tak sanggup untuk jujur saat ini.
ayang bebeb disuruh jd tukang parkir 😝😝😝😝