NovelToon NovelToon
Sistem Kuliner Absolute Sang Raja Dapur

Sistem Kuliner Absolute Sang Raja Dapur

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Isekai
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Arka kehilangan segalanya dalam satu malam ketika warung makan peninggalan almarhum orang tuanya dihancurkan oleh lintah darat dan kekasihnya meninggalkannya demi pria kaya yang sombong. Di ambang keputusasaan saat mencoba memasak seporsi nasi goreng terakhir di tengah puing-puing warungnya, sebuah suara mekanis misterius tiba-tiba bergema di dalam kepalanya. Berbekal Sistem Kuliner Sakti yang memberinya hadiah uang tunai dan keterampilan tingkat dewa setiap kali pelanggannya merasa puas, Arka memulai langkah balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Wushhh!

Api biru menyala dengan stabil di bawah panci besar milik Arka.

Arka memejamkan matanya sejenak untuk merasakan suhu panas yang merambat dari dasar wajan ke telapak tangannya.

Berkat Keterampilan Pengendalian Api tingkat menengah, ia tahu persis kapan waktu yang tepat untuk memasukkan bahan utama.

Bluk bluk bluk.

Suara kaldu sapi yang mendidih berpadu dengan irama pisau Arka yang sedang memotong sayuran pelengkap.

Tak tak tak.

Setiap gerakan Arka terlihat sangat ritmis dan elegan, seolah ia sedang melakukan sebuah tarian yang indah di dapur.

Bagas Kusuma yang berdiri di depan konter melipat tangannya di dada dengan tatapan yang sangat meremehkan.

Namun, begitu Arka membuka tutup panci penyimpanan rahasianya, sebuah ledakan aroma yang dahsyat terjadi.

Srenggg!

Aroma cengkeh, kayu manis, dan kaldu daging premium menyebar dengan sangat cepat menembus udara pujasera.

Wangi itu seolah memiliki nyawanya sendiri, merayap masuk secara paksa ke dalam rongga hidung setiap orang yang ada di sana.

Arka bisa melihat dengan jelas bagaimana jakun Bagas Kusuma naik turun menelan ludah dengan kasar.

Wajah arogan kritikus itu sedikit memucat saat hidungnya tanpa sadar mengendus udara berkali-kali seolah mencari sumber kebahagiaan.

"Wanginya memang lumayan, tapi biasanya itu cuma trik murahan untuk menutupi tekstur daging yang keras." Ucap Bagas mencoba mempertahankan egonya di depan kamera televisi.

Arka sama sekali tidak membalas komentar pedas itu dan terus fokus pada mangkuk keramik putih di depannya.

Ia mengambil beberapa potong daging buntut sapi dari dalam panci menggunakan penjepit besi pelan-pelan.

Daging itu terlihat sangat montok, mengkilap, dan warna kecokelatannya sungguh menggoda selera siapa pun yang melihatnya.

Nisa dengan cekatan langsung menaburkan irisan daun bawang segar dan bawang merah goreng yang renyah di atas mangkuk tersebut.

"Sop Buntut Rempah Magis, silakan dinikmati selagi panas Tuan Kritikus." Arka meletakkan mangkuk itu tepat di hadapan Bagas.

Kameramen langsung mendekatkan lensa kameranya untuk menyorot detail hidangan tersebut dari jarak yang sangat dekat.

Bagas mendengus pelan dan mengambil sendok perak yang sudah disediakan oleh Nisa di atas nampan.

Ia mengaduk kuah kaldu itu perlahan, matanya mencari-cari kesalahan sekecil apa pun untuk dijadikan bahan hinaan di siaran langsungnya.

"Kuahnya terlihat terlalu bening, pasti rasanya hambar dan bumbunya tidak meresap." Bagas memberikan komentar negatif palsu ke arah kamera.

Padahal di dalam hati, Arka bisa melihat dengan jelas bahwa tangan Bagas sedikit bergetar karena tidak sabar ingin segera mencicipinya.

Bagas menyendok sedikit kuah kaldu itu dan meniupnya pelan sebelum memasukkannya ke dalam mulutnya yang sudah penuh air liur.

Slurpp.

Waktu seolah berhenti berdetak di seluruh area pujasera saat jutaan pasang mata menatap layar siaran langsung itu dengan tegang.

Begitu kuah ajaib itu menyentuh lidahnya, mata Bagas seketika membelalak lebar hingga hampir melompat keluar dari sarangnya.

Ledakan rasa gurih yang luar biasa kompleks langsung menghancurkan seluruh rencana jahat yang telah ia susun di dalam kepalanya.

Rasa manis dari sumsum tulang, gurihnya kaldu sapi murni, dan hangatnya rempah ajaib menyatu dengan sangat sempurna membelai indera pengecapnya.

Bagas terdiam mematung selama beberapa detik tanpa mengedipkan matanya sama sekali layaknya patung bernyawa.

Arka tersenyum miring melihat reaksi tubuh kritikus arogan itu yang sedang berjuang keras melawan kenikmatan mutlak dari masakan sistem.

"Bagaimana rasanya Tuan Bagas? Apakah seperti kotoran yang Anda bilang tadi?" Tanya Arka dengan nada tenang namun sangat menusuk kesombongan pria itu.

Bagas sama sekali tidak menjawab pertanyaan Arka, ia justru mengambil garpunya dengan gerakan yang sangat tergesa-gesa dan panik.

Ia menusuk sepotong daging buntut sapi yang berukuran cukup besar dan langsung menggigitnya tanpa mempedulikan citranya.

Nyam nyam.

Tidak perlu tenaga ekstra untuk mengunyah, daging itu langsung terlepas dari tulangnya dan lumer di dalam mulut Bagas seperti mentega yang dipanaskan.

Seketika itu juga, pertahanan mental Bagas Kusuma sebagai kritikus bayaran runtuh tidak bersisa menjadi debu.

Air mata perlahan menggenang di pelupuk matanya dan mengalir turun membasahi pipinya yang mulai berkerut karena faktor usia.

"I-ini tidak mungkin, bagaimana bisa ada masakan sesempurna ini di tempat pinggir jalan seperti ini?" Bagas bergumam dengan suara yang sangat bergetar menahan haru.

Ia mengabaikan puluhan pengunjung mal yang sedang menontonnya dengan raut wajah kebingungan melihat sang kritikus kejam malah menangis tersedu-sedu.

Bagas mulai menyuapkan kuah dan daging sop buntut itu secara bergantian dengan kecepatan orang kesetanan yang belum makan berhari-hari.

Trak trak trak.

Suara sendok dan garpu yang beradu dengan mangkuk keramik bergema nyaring di tengah keheningan pujasera yang mencekam.

Citra Bagas sebagai kritikus anggun dan kejam hancur lebur melihatnya makan dengan sangat rakus, mengabaikan noda kuah yang menetes di jas merah mahalnya.

Kameramen yang meliput acara itu sampai kebingungan apakah ia harus terus merekam atau menghentikan siarannya karena melenceng dari naskah awal.

"Terus rekam, jangan dihentikan, ini momen emas yang langka!" Bisik sang sutradara acara dari balik telinga kameramen tersebut.

Hanya butuh waktu tiga menit bagi Bagas untuk menghabiskan seluruh isi mangkuk itu tanpa menyisakan sedikit pun ampas.

Bahkan ia mengangkat mangkuk keramik itu tinggi-tinggi dan meminum sisa kuahnya langsung dari bibir mangkuk dengan sangat beringas.

Gluk gluk gluk.

Setelah mangkuk itu benar-benar bersih mengkilap, Bagas meletakkannya kembali ke atas meja dengan napas yang terengah-engah karena kekenyangan.

Wajahnya memerah karena suhu panas dari sop itu, namun ekspresinya memancarkan kebahagiaan surgawi yang tiada tara.

Bagas menatap Arka dengan pandangan yang benar-benar berbeda dari saat pertama kali ia datang membuat keributan tadi.

Tidak ada lagi tatapan merendahkan, yang ada hanyalah rasa hormat dan kekaguman yang luar biasa besar untuk koki muda di depannya.

"Anak muda, siapa nama lengkapmu?" Bagas bertanya dengan nada suara yang melembut dan penuh rasa segan.

"Nama saya Arka Tuan, saya hanyalah pemilik kios kecil yang sedang mencoba bertahan hidup ini." Jawab Arka sambil menyandarkan punggungnya di etalase konter.

Bagas tiba-tiba membalikkan badannya menghadap langsung ke arah kamera utama yang sedang menyiarkan acara tersebut ke seluruh pelosok negeri.

"Pemirsa di seluruh tanah air, hari ini saya, Bagas Kusuma, secara resmi menarik semua ucapan sombong saya tentang kios ini." Bagas berbicara dengan suara yang lantang dan tegas.

"Sop Buntut Rempah Magis buatan Chef Arka ini bukanlah makanan manusia biasa, ini adalah sebuah mahakarya seni yang diturunkan langsung dari surga!"

Para pengunjung mal yang menonton kejadian itu secara langsung akhirnya bersorak sorai dan bertepuk tangan dengan sangat meriah.

Prok prok prok!

"Dagingnya selembut kapas, kuahnya sedalam samudra, dan keseimbangan rasanya akan membuat koki bintang lima manapun menangis malu dan berhenti memasak!" Bagas melanjutkan pujiannya tanpa henti.

"Jika kalian mengaku sebagai pecinta kuliner sejati, kalian harus datang ke Grand Malika City dan mencicipi masakan dewa ini sebelum kalian mati menyesal!"

Pernyataan luar biasa dari seorang kritikus sekejam Bagas Kusuma itu bagaikan bom nuklir yang meledak hebat di dunia kuliner nasional.

Siaran langsung itu sedang ditonton oleh lebih dari lima ratus ribu orang pada saat yang bersamaan dari seluruh kota.

Arka bisa melihat dari layar ponsel Nisa bahwa nama Dapur Arka Absolute langsung melesat menjadi topik pembicaraan nomor satu di semua media sosial.

Nisa menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata haru kembali menetes melihat bosnya mendapatkan pengakuan publik sebesar itu.

Tiba-tiba, rentetan suara mekanis sistem berbunyi secara beruntun di dalam kepala Arka tanpa henti.

[Ding! Pelanggan Bagas Kusuma merasa Sangat Puas dengan level tertinggi!]

[Host mendapatkan 10 Poin Kepuasan khusus dari evaluasi kritikus tingkat nasional.]

[Ding!]

[Efek Ledakan Reputasi Terdeteksi!]

[Host mendapatkan bonus uang tunai sebesar Rp. 100.000.000,- atas pencapaian ketenaran publik secara masif dalam satu malam.]

Arka tersenyum tipis merasakan getaran dari ponsel di sakunya yang menandakan masuknya uang ratusan juta tersebut ke rekeningnya.

Rencana jahat Kevin untuk menghancurkannya malah berbalik memukul dirinya sendiri, menjadi kampanye pemasaran gratis yang nilainya tidak terhingga harganya.

"Terima kasih banyak atas pujiannya yang berlebihan Tuan Bagas, itu adalah sebuah kehormatan besar bagi kios kecil kami." Arka menundukkan badannya sedikit dengan gaya yang sangat elegan.

"Tidak, akulah yang harus berterima kasih karena kau telah menyelamatkan lidahku dari makanan-makanan restoran yang sangat membosankan selama ini." Bagas membalas dengan membungkuk lebih rendah dari Arka.

Bagas mengeluarkan dompet kulit tebalnya dan meletakkan selembar uang pecahan seratus dolar Amerika di atas etalase kaca Arka.

"Simpan kembaliannya Chef Arka, aku pastikan aku akan kembali lagi ke sini setiap minggu untuk membersihkan lidahku." Bagas tersenyum puas sebelum berbalik dan berjalan pergi diikuti oleh rombongan krunya yang masih kebingungan.

Setelah kepergian sang kritikus dari area pujasera, suasana perlahan menjadi sangat tidak terkendali.

Ratusan pengunjung mal yang tadinya hanya menonton dari pinggir kini berdesak-desakan maju berlari ke arah konter Arka.

"Mas Arka, tolong saya pesan sepuluh porsi sekarang juga sebelum kehabisan!"

"Saya mau dua puluh porsi dibungkus Mas, tolong layani saya duluan!"

Teriakan pesanan yang saling bersahutan membuat area pujasera lantai tiga itu berubah wujud menjadi seperti pasar saham yang sedang kacau balau.

Di saat yang bersamaan, di dalam ruang kerjanya yang mewah di seberang jalan sana, Kevin menjerit histeris hingga suaranya serak.

Arka tidak perlu melihatnya secara langsung untuk tahu bahwa musuh bebuyutannya itu pasti sedang mengamuk dan menghancurkan semua perabotan mahal di ruangannya.

Tayangan televisi yang masih menyala di salah satu layar besar pujasera menyorot wajah bahagia Bagas Kusuma yang melangkah keluar meninggalkan mal.

"Pecundang itu pasti sedang menangis darah sekarang meratapi uang suapnya yang terbuang sia-sia hanya untuk mempromosikanku." Arka membatin dengan tawa kemenangan yang menggema di dalam hatinya.

"Nisa, tarik napas yang dalam dan siapkan tenagamu, malam ini kita akan memecahkan rekor penjualan tertinggi dalam sejarah pujasera ini didirikan." Arka menoleh ke asistennya dengan mata berbinar penuh kobaran semangat.

"Siap laksanakan Mas Bos, mesin kasir ini aku jamin tidak akan berhenti berbunyi sampai mal ini benar-benar tutup!" Nisa menjawab dengan penuh semangat sambil bersiap di posisinya.

Malam itu, Dapur Arka Absolute tidak hanya mendominasi penjualan mutlak di lantai tiga, tetapi juga menyedot hampir seluruh pengunjung dari setiap lantai Grand Malika City.

Banyak pengunjung mal yang rela duduk lesehan di lantai atau berdiri di dekat eskalator hanya untuk bisa menikmati semangkuk Sop Buntut Rempah Magis yang sedang viral itu.

Kios-kios pesaing seperti Bebek Bakar Pak Anton dan Mie Ayam Bu Rina benar-benar kosong melompong tanpa satu pun pelanggan yang melirik.

Mereka berdua hanya bisa menatap Arka dari kejauhan dengan pandangan putus asa, menyadari sepenuhnya bahwa mereka telah mencari masalah dengan monster kuliner yang salah.

Jam menunjukkan pukul sembilan malam saat Arka akhirnya meletakkan sendok sayurnya karena semua bahan baku dari sistem telah habis terkuras tanpa sisa.

"Mohon maaf semuanya, persediaan kami untuk hari ini sudah benar-benar habis, silakan kembali lagi besok pagi." Pengumuman Arka disambut dengan helaan napas kecewa yang panjang dari ratusan orang di antrean yang tersisa.

Meskipun sekujur tubuh terasa lelah luar biasa, Arka dan Nisa tidak bisa menahan senyum bahagia mereka melihat hasil kerja keras hari itu.

[Kemajuan Misi Ketiga: Rp. 115.000.000,- / Rp. 500.000.000,-]

Dalam satu hari penuh sejak pembukaan resmi, Arka berhasil mengumpulkan total omset dan bonus yang angkanya sangat fantastis.

Jika tren pesat ini terus berlanjut berkat promosi gratis dari siaran nasional tadi, misi omset lima ratus juta itu pasti akan selesai jauh sebelum batas waktunya.

"Mas Arka, ini adalah hari pertama bekerja paling gila, paling melelahkan, sekaligus paling menyenangkan dalam seluruh hidupku." Nisa menyeka keringat di dahinya sambil tertawa bahagia.

"Dan ini baru permulaan saja Nisa, kita akan membuat nama Dapur Arka Absolute menjadi legenda kuliner sejati di kota ini." Arka menatap lampu neon kuning di kiosnya dengan tekad yang semakin membara menyambut hari esok.

1
Ponny Sagita
serius thor? restoran mahal pake kursi plastik?
Ponny Sagita
kok masih pinggir jalan? othor niiih yaaa
Nissa Safira: mungkin iyaa outdoor kak, soalnya si Arka lagi proses membangun restoran mewahnya sendiri kak🤣
total 1 replies
Ponny Sagita
masak nasinya kan baru pagi pagi, kok bisa didinginkan semalaman?
Nissa Safira: hahaha dari semalem nasi nya belum habis kak gara2 malem nya di datengi preman🤣
total 1 replies
Wega Luna
keterlaluan udah hutang bunga tempat dagang dirusak ,itu bisa dilaporkan, loh
Nissa Safira: hahahaa namanya juga utang sama rentenir sadis kak😅
total 1 replies
Mohd Harmizi
berhasil jual 3 ribu kok poin kepuasan hanya 500?
Nissa Safira: iyaa juga iyaa.. kelupaan kak🤣
total 1 replies
m_reynaldi
mantapp.. update bab yg banyak thorr 😍
Fariq Banafsaj
lanjut🤩
Dewa Naga 🐲🐉
mantappp.. lanjut...💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!