NovelToon NovelToon
Wajah Kedua Seorang MAFIA

Wajah Kedua Seorang MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:760
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aurelia Vanzara, sosok yang dulu ditakuti sebagai Crimson Queen, memilih menghilang dari dunia gelap setelah kehilangan satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya.
Kematian orang terkasih itu bukan hanya merenggut kebahagiaannya, tetapi juga menghancurkan alasan Aurelia untuk terus memegang kekuasaan.
Dengan identitas baru sebagai wanita biasa, ia mencoba menjalani hidup sederhana. Bekerja, tersenyum, dan berpura-pura bahwa masa lalunya tak pernah ada.
Namun, dunia tidak pernah benar-benar melepaskan miliknya.
Ketika sebuah keadaan mengancam satu-satunya kehidupan damai yang ia miliki sekarang, Aurelia dipaksa memilih: tetap menjadi wanita lemah yang mencoba melupakan segalanya, atau kembali menjadi ratu kejam yang pernah menguasai dunia bawah tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31- Kilau Pengantin

Hari berganti hari, hari yang dinanti pun akhirnya tiba.

Aula Grand Ballroom hotel bintang lima yang telah dipesan oleh Bramantyo disulap menjadi taman mawar putih yang luar biasa megah.

Ratusan lampu kristal memancarkan cahaya keperakan, memantul pada dekorasi kaca dan pilar-pilar tinggi yang dibalut kain sutra.

Alunan musik orkestra klasik mulai terdengar samar, menyambut kedatangan para pejabat, kolega bisnis kelas atas, dan tamu-tamu VIP yang mulai memenuhi area registrasi.

Namun, di dalam ruang rias eksklusif calon pengantin wanita, suasananya jauh lebih tenang. Alena duduk anggun di depan cermin besar bernuansa emas.

Gaun pengantin berwarna putih gading berpotongan elegan melekat sempurna di tubuhnya.

Riasan wajahnya tampak natural namun sangat memikat, menonjolkan kecantikan alaminya tanpa terlihat berlebihan. Rambutnya disanggul modern dengan hiasan tiara kecil yang berkilauan.

Sejak awal, Alena hidup sebatang kara setelah melarikan diri dari masa lalunya yang kelam. Sehingga di hari besarnya ini, tidak ada satu pun sanak saudara, sepupu, atau orang tua yang mendampinginya di ruangan tersebut.

Yang ada hanya beberapa perias profesional yang baru saja pamit keluar untuk memberikan ruang bagi sang pengantin untuk bernapas.

Namun, keheningan itu buyar ketika pintu ruang rias diketuk dua kali, lalu terbuka. Sofia melangkah masuk dengan keanggunan yang dipaksakan. Ia mengenakan kebaya modern super mewah yang dipenuhi payet berkilau, lengkap dengan kalung berlian yang mencolok di lehernya.

Sofia terus berjalan mendekat, dengan sepasang matanya yang menatap pantulan Alena di cermin dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Ada kilat kejengkelan melihat betapa cantiknya Alena malam ini, namun senyum sinis segera terukir di bibirnya yang merah merona.

Ia sengaja berjalan memutari kursi Alena, seraya melirik ke arah sofa-sofa besar di sudut ruangan yang kosong melongpong.

"Wah, riasanmu sangat bagus, Alena. Kamu terlihat... lumayan berbeda hari ini," ucap Sofia, membuka percakapan dengan basa-basi yang sarat akan racun tersembunyi.

"Terima kasih, Tante Sofia," jawab Alena, sambil membalikkan tubuhnya sedikit untuk menghormati ibu tiri Bara tersebut.

"Hmm hufth..." Sofia pura-pura mengembuskan napas prihatin, lalu duduk di sofa kosong dekat meja rias. "Tapi, Ibu perhatikan sejak tadi ruangan ini sepi sekali, ya? Di mana keluarga besarmu? Paman, bibi, atau setidaknya sepupu yang menemanimu sebelum melangkah ke altar? Di luar sana, keluarga besar Mas Bramantyo sudah memenuhi barisan depan, tapi di pihakmu... kosong sama sekali."

Sofia menjeda kalimatnya dan menatap Alena dengan pandangan merendahkan yang dibungkus rapi dengan wajah penuh simpati palsu.

"Menikah dengan keluarga terpandang seperti kami memang butuh mental yang kuat, Sayang. Apalagi jika kamu datang sendirian tanpa ada sanak saudara yang bisa menyokong namamu di belakang. Orang-orang di luar sana mungkin akan sedikit berbisik tentang asal-usulmu yang sebatang kara ini."

Mendengar sindiran yang sengaja dilontarkan untuk menjatuhkan mentalnya tepat sebelum acara dimulai, Alena tidak menunjukkan reaksi panik atau sedih sedikit pun.

Bagi seorang wanita yang pernah mengendalikan faksi dunia bawah dan menghadapi moncong senjata, ucapan Sofia hanyalah seperti embusan angin sepoi-sepoi yang tidak berarti.

Karena Sofia menyampaikannya dengan nada yang masih terukur dan tidak kelewat batas, Alena pun memilih untuk menghadapinya dengan keanggunan seorang pemenang.

"Terima kasih atas perhatiannya yang begitu besar, Tante," sahut Alena, suaranya mengalir begitu lembut dan stabil. "Saya memang tidak memiliki sanak saudara yang hadir hari ini. Namun bagi saya, pernikahan ini bukan tentang mengumpulkan banyak orang untuk pamer kekuasaan atau asal-usul."

Alena kemudian berdiri dari kursinya, lalu merapikan ujung gaun pengantinnya yang menjuntai indah dengan gerakan yang sangat anggun.

"Bara memilih saya bukan karena siapa yang berdiri di belakang saya, melainkan karena diri saya sendiri. Dan mulai hari ini, setelah janji suci itu diucapkan, keluarga Bara akan menjadi keluarga saya juga, termasuk Tante Sofia," lanjut Alena, dengan tatapan tenang. "Jadi, saya rasa saya tidak pernah benar-benar sendirian lagi."

Seketika Sofia terbungkam. Ia mengerjapkan matanya, karena tidak menduga bahwa sindiran tajamnya akan dipatahkan begitu saja dengan jawaban yang sangat berkelas dan dewasa.

Alih-alih melihat Alena menangis atau berkecil hati, ia justru melihat aura seorang wanita pelindung yang sangat kuat terpancar dari diri calon menantunya itu.

Namun, sebelum Sofia sempat membalas, pintu ruang rias kembali terbuka lebar. Bramantyo berdiri di ambang pintu dengan setelan jas formal yang sangat gagah. Wajah tegasnya tampak dihiasi senyum tipis saat melihat Alena.

"Sofia, acara akan segera dimulai. Mengapa kamu masih di sini? Cepat kembali ke barisan depan," perintah Bramantyo tegas pada istrinya.

"Ah... iya, Mas. Aku hanya sedang menyapa Alena sejenak," jawab Sofia buru-buru, ia langsung bangkit dan berjalan keluar ruangan dengan langkah yang cepat, seraya menyembunyikan kekesalannya.

Bramantyo kemudian menatap Alena, lalu mengulurkan siku tangannya dengan ramah. "Bara sudah menunggumu di depan altar, Alena. Karena ayahmu sudah tidak ada, izinkan saya yang mengantarmu berjalan ke hadapan putraku."

Alena tertegun sejenak, hatinya menghangat melihat ketulusan dari ayah Bara. Lalu ia pun mengangguk hormat. "Sebuah kehormatan bagi saya, Om."

"Panggil Ayah mulai sekarang," koreksi Bramantyo dengan nada hangat.

Alena pun tersenyum lebar, lalu menautkan tangannya pada siku Bramantyo.

Saat pintu aula besar terbuka dan ribuan pasang mata serta kilatan lampu kamera mulai menyorot ke arahnya, Alena mendongak.

Di ujung altar, Bara tengah berdiri dengan setelan tuksedo hitam yang membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih tampan. Mata Bara berkaca-kaca menatap kedatangan Alena.

"Aku sangat beruntung mendapatkanmu, Alena."

1
𝐀⃝🥀Weny
keren kau Max👍🏻
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya dapat restu juga dari camer🤭 hati² kamu Sofia jangan sampai kamu membangunkan singa yang sedang tidur😁
𝐀⃝🥀Weny
dobel up thor
Aurora: siap... di usahakan ya.../Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!