NovelToon NovelToon
Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Ibu Tiri
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."

Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.

Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?

Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26: Pembelaan Gadis Kecil di Tempat Parkir

Konfrontasi tajam di Distrik Barat akhirnya memutus rantai terakhir yang mengikat jiwa Viona pada masa lalunya yang kelam.

Setelah menyaksikan bagaimana angkuhnya Widya Lin runtuh menjadi ketakutan yang menyedihkan di bawah tatapan dingin Oliver, Viona pulang dengan perasaan bebas yang sesungguhnya.

Tidak ada lagi beban rasa bersalah, tidak ada lagi rasa berutang budi.

Namun, sisa-sisa dari badai masa lalu itu ternyata masih menyisakan riak kecil.

Kali ini, ujian tersebut datang di tempat yang paling tidak terduga, dan pembelaan terbesar justru lahir dari sosok mungil yang paling dicintai di dalam mansion.

Hari Kamis berikutnya, langit kota sangat

cerah. Untuk merayakan kesembuhan total Viona dari bayang-bayang trauma dan sebagai hadiah atas keberaniannya, Oliver meluangkan waktu setengah hari dari jadwal kerjanya yang padat.

Mereka memutuskan untuk membawa Yoyo pergi ke sebuah pusat rekreasi keluarga yang memiliki taman bermain dan area luar ruangan yang luas di Distrik Utara.

Setelah menghabiskan waktu beberapa jam bermain komidi putar, memberi makan kelinci, dan tertawa bersama di bawah sinar matahari hangat, Yoyo tampak sangat gembira.

Gadis kecil itu menggenggam sebuah balon merah besar di tangan kanannya, sementara tangan kirinya digandeng erat oleh Viona.

Oliver berjalan di sisi lain Viona, membawa tas berisi perlengkapan Yoyo dengan ekspresi wajah yang tampak jauh lebih santai dari biasanya.

Ketika mereka berjalan menyusuri area tempat parkir terbuka yang cukup ramai untuk kembali ke mobil SUV hitam mereka, sebuah suara melengking yang sangat familiar tiba-kira menghentikan langkah mereka.

"Wah, wah. Lihat siapa yang sedang berpura-pura menjadi keluarga bahagia di sini!"

Viona menoleh dan mendapati sesosok wanita paruh baya dengan pakaian sosialita yang mencolok sedang berdiri di dekat sebuah sedan perak.

Di sampingnya, berdiri seorang wanita muda berpakaian modis yang langsung menatap Viona dengan pandangan penuh permusuhan.

Mereka adalah Tante sela—adik kandung dari Widya Lin—dan sepupu Adrian, Sherly Lin.

Rupanya, meskipun aset utama keluarga inti Lin telah disita sepenuhnya oleh Oliver, cabang keluarga mereka yang lain masih mencoba mempertahankan sisa-sisa keangkuhan mereka di depan publik.

Tante Sela melangkah maju dengan tas tangan bermerek yang ia jinjing dengan sangat sengaja.

Wajahnya yang dilapisi riasan tebal tampak berkerut sinis saat menatap Viona.

"Viona, Viona. Sungguh tidak tahu malu," ucap Tante Sela dengan suara yang sengaja dikeraskan agar didengar oleh beberapa pengunjung lain yang sedang berjalan di tempat parkir.

"Setelah menghancurkan keluarga Lin dari dalam, sekarang kau menempel pada Tuan Besar Oliver seperti benalu? Kau pikir dengan merawat anak yatim piatu itu, kau bisa menutupi fakta bahwa dirimu sendiri adalah wanita mandul yang cacat?"

Mendengar kata-kata kasar yang ditujukan kepada Viona dan sebutan "anak yatim piatu" yang dilontarkan kepada Yoyo, atmosfer di sekitar mobil SUV hitam tersebut seketika membeku.

Oliver melangkah maju, tangannya mengepal erat di dalam saku celananya.

Sepasang mata elangnya berkilat berbahaya, memancarkan aura membunuh yang sangat pekat.

 Baru saja Oliver hendak membuka mulutnya untuk memerintahkan pengawal pribadi yang bersiaga di dalam mobil untuk menyeret kedua wanita itu, sebuah suara cempreng yang nyaring mendahuluinya.

"Jangan bicara buruk tentang Bibi Viona!"

Yoyo melangkah maju dengan berani.

Gadis kecil yang biasanya pemalu dan selalu bersembunyi di balik kaki Viona itu kini berdiri tegak di depan Tante Sela.

Kedua tangan mungilnya mengepal di sisi tubuhnya, dan wajah gembilnya memerah karena amarah yang murni.

"Bibi Viona bukan benalu! Bibi Viona adalah orang paling baik di dunia!"

teriak Yoyo, suaranya yang cempreng namun tegas bergema di seluruh area parkir.

"Dan Yoyo bukan anak yatim piatu! Yoyo punya Ayah Oliver yang hebat, dan Yoyo punya Bibi Viona yang sangat menyayangi Yoyo seperti Ibu kandung Yoyo sendiri!"

Tante Sela tertegun, tidak menyangka bahwa seorang anak kecil berusia lima tahun akan berani menantangnya di depan umum.

"Heh, anak kecil! Kau tidak tahu apa-apa! Wanita ini hanya memanfaatkanmu agar bisa menguasai harta ayahmu! Dia wanita mandul yang tidak bisa melahirkan anaknya sendiri, makanya dia berpura-pura baik padamu!"

sela Sherly Lin dengan nada yang tak kalah kejam.

"Yoyo tidak peduli!"

balas Yoyo dengan mata bulatnya yang kini berkaca-kaca namun memancarkan ketegasan yang luar biasa.

"Bibi Viona tidak perlu melahirkan Yoyo untuk menjadi Ibu Yoyo! Bibi Viona yang selalu memeluk Yoyo saat Yoyo mimpi buruk! Bibi Viona yang memasak sup enak untuk Yoyo dan Ayah! Bibi Viona adalah Ibu terbaik di dunia! Kalian berdua adalah orang-orang jahat yang jelek karena suka berbicara buruk! Pergi dari sini! Jangan ganggu keluarga kami!"

Mendengar pembelaan yang begitu murni, berani, dan sarat akan kasih sayang dari mulut putri kecilnya, dada Viona bergemuruh hebat.

Air mata kebahagiaan yang tak terbendung mengalir perlahan di pipinya. Rasa haru yang teramat dalam menyergap jiwanya. Yoyo—gadis kecil yang dulu begitu rapuh akibat trauma kehilangan ibu kandungnya—kini telah tumbuh menjadi ksatria kecil yang berdiri paling depan untuk melindunginya.

Beberapa pengunjung tempat parkir yang mulai berkerumun mulai berbisik-bisik, mengarahkan pandangan mencemooh kepada Tante Sela dan Sherly yang kedapatan menindas seorang anak kecil dan ibunya di depan umum.

Sebelum Tante Sela sempat membalas ucapan Yoyo, Oliver melangkah maju dengan wibawa seorang penguasa mutlak yang mengerikan.

Ia berlutut sejenak, mengangkat Yoyo ke dalam dekapan satu lengan kokohnya, lalu berdiri tegak menatap kedua wanita keluarga Lin tersebut dengan pandangan yang sanggup membekukan darah mereka.

"Kalian berdua,"

ucap Oliver, suaranya sangat rendah, berat, dan membawa getaran ancaman yang teramat nyata.

"Kalian baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam sisa hidup kalian yang tidak berharga."

Oliver melirik ke arah dua pengawal tegapnya yang kini sudah berdiri siaga di belakang Tante Sela dan Sherly.

"Hubungi pihak otoritas pajak dan komisi pengawas bisnis. Mulai detik ini, aku ingin seluruh bisnis cabang keluarga Lin di kota ini diperiksa secara menyeluruh tanpa celah. Dan untuk kalian berdua..."

 Oliver menatap tajam ke arah tas mewah yang dijinjing Tante Sela.

 "...pastikan besok pagi tidak ada satu pun bank di kota ini yang bersedia memberikan pinjaman atau membiarkan kartu kredit kalian aktif."

"T-Tuan Besar Oliver... kami... kami tidak bermaksud—"

Tante Sela seketika pucat pasi, menyadari bahwa satu kebodohannya hari ini telah menyeret seluruh cabang keluarganya ke dalam jurang kehancuran yang sama dengan keluarga inti Lin.

"Pergi dari hadapanku sebelum aku kehilangan kendali untuk tidak mengirim kalian ke sel tahanan malam ini juga," potong Oliver dingin.

Tanpa menunggu perintah kedua, Tante Sela dan Sherly langsung berbalik dan berlari menuju mobil mereka dengan ketakutan yang luar biasa, meninggalkan tempat parkir itu dalam kehancuran harga diri yang mutlak.

Di dalam mobil SUV hitam yang melaju tenang meninggalkan area rekreasi, suasana terasa sangat hangat.

 Yoyo duduk di pangkuan Viona di kursi penumpang tengah.

 Viona mendekap tubuh mungil putrinya itu dengan sangat erat, menumpahkan seluruh rasa syukur dan kasih sayang yang membuncah di dadanya.

"Terima kasih, Yoyo... Terima kasih banyak, Sayang," bisik Viona dengan suara yang serak karena sisa tangis harunya. Ia mengecup pucuk rambut Yoyo berkali-kali. "Bibi sangat bangga pada Yoyo hari ini."

Yoyo mendongak, mengusap air mata di pipi Viona dengan tangan kecilnya yang hangat.

"Bibi jangan menangis lagi, ya? Yoyo sudah besar sekarang. Yoyo dan Ayah akan selalu menjaga Bibi dari orang-orang jahat itu."

Oliver, yang sedang mengemudikan mobil, melirik pemandangan indah itu dari kaca spion tengah.

Sebuah senyuman menawan dan penuh kebanggaan terukir di bibir tegas sang CEO.

Genggaman tangannya pada kemudi mengerat, membawa rasa hangat yang menjalar hingga ke seluruh tubuhnya.

Hari ini, di tempat parkir yang riuh itu, sebuah kebenaran baru telah dideklarasikan bukan oleh kontrak kertas atau upacara formal, melainkan oleh kepolosan seorang anak kecil:

bahwa Viona telah sepenuhnya diakui dan dicintai sebagai seorang ibu yang sah di dalam hati Yoyo, dan sebagai jantung dari keluarga mereka yang utuh untuk selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!