NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Andinirhein

Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Damai Yang Rapuh.

Pagi telah tiba. Sinar matahari yang menerobos celah gorden membangunkan tidurku dengan hangat.

Saat membuka mata, kulihat Eun Dam sudah terjaga lebih dulu. Ia duduk di samping ranjang sambil menatapku dengan saksama.

"Selamat pagi, cantik," ucapnya dengan senyum manis yang selalu berhasil membuat jantungku berdebar.

"Selamat pagi juga..." jawabku pelan sambil mengusap mata yang masih terasa berat karena kantuk.

Aku melirik jam tangan yang tergeletak di atas meja kecil di samping ranjang. Jarum jam ternyata sudah menunjukkan pukul delapan pagi.

"Eun Dam, aku harus pulang dulu lalu pergi ke bakery. Sore nanti aku akan kembali ke sini, ya," kataku sambil bergegas bangun dari tempat tidur. "Dan pastikan kau sarapan."

"Iya, baiklah. Hati-ha—"

Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, aku sudah lebih dulu berlari keluar dari ruangan.

Eun Dam hanya bisa terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala. Senyum tipis masih menghiasi wajahnya.

Sesampainya di rumah, aku langsung membuka pintu. Aroma masakan yang begitu harum segera menyambutku dan memenuhi indra penciumanku.

Di dapur, terlihat Hwi Sol Oppa yang sedang sibuk memasak.

"Eoh? Seolhwa? Kamu sudah pulang?" tanyanya sambil mematikan kompor dan menoleh ke arahku.

"Iya, Oppa. Aku mau mandi dulu, lalu langsung berangkat ke bakery."

"Kalau sedang terburu-buru, biar Oppa siapkan bekal untukmu. Nanti kamu bisa makan di bakery," ujarnya.

"Iya, Oppa. Aku mandi dulu, ya."

Setelah selesai mandi dan bersiap untuk berangkat, aku mendapati Hwi Sol Oppa tengah merapikan kotak bekal di meja makan.

Entah mengapa, pemandangan itu membuatku terdiam sejenak.

Ia tampak seperti seorang ibu yang sedang menyiapkan perlengkapan anaknya sebelum berangkat ke sekolah. Dengan telaten, ia memastikan semuanya sudah lengkap. Bahkan, ia tak lupa memberiku berbagai nasihat.

"Jangan lupa makan tepat waktu."

"Jangan makan makanan pedas."

"Dan habiskan bekalnya, mengerti?"

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.

Sikapnya mengingatkanku pada Eomma.

Dulu, setiap pagi, Eomma selalu melakukan hal yang sama. Menyiapkan bekal, mengingatkanku untuk makan, dan memastikan aku menjaga kesehatan.

Untuk sesaat, dadaku terasa hangat.

Meskipun banyak hal telah berubah dalam hidupku, setidaknya masih ada seseorang yang merawatku dengan tulus, seperti keluarga yang tak pernah benar-benar pergi.

"Ayo, Oppa. Antar aku," ujarku sambil meraih tas yang sudah kusiapkan.

Hwi Sol Oppa segera mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas meja.

"Tapi Oppa belum siap, kan? Apa Oppa tidak bekerja hari ini?" tanyaku heran.

Pria itu menoleh kepadaku dengan senyum jahil yang khas.

"Bukankah seorang CEO berhak libur kapan pun ia mau?"

Aku hanya bisa menggeleng pelan sambil tersenyum tipis mendengar jawabannya.

Beberapa menit kemudian, kami sudah berada di dalam mobil.

Pemandangan Kota Seoul yang sibuk berlalu di balik jendela. Untuk beberapa saat, suasana di antara kami terasa tenang.

Namun keheningan itu akhirnya terpecahkan ketika Hwi Sol Oppa membuka percakapan.

"Bagaimana keadaan Eun Dam?" tanyanya sambil tetap fokus menyetir, meski sesekali melirik ke arahku.

Aku menoleh ke arahnya.

"Menurutku kondisinya sudah jauh lebih baik. Sekarang hanya tinggal menunggu proses pemulihannya saja."

Hwi Sol Oppa mengembuskan napas lega.

"Syukurlah kalau begitu."

Aku mengangguk pelan.

"Sampaikan salam Oppa untuknya, ya."

Aku langsung mengernyitkan dahi.

"Kenapa tidak menyampaikan salamnya sendiri saja?"

"Hm?"

"Sore nanti aku akan kembali ke rumah sakit dan menginap di sana." Aku tersenyum lebar sebelum melanjutkan, "Oppa, ikutlah denganku."

Hwi Sol Oppa terdiam sejenak.

Aku menatapnya penuh harap.

Hwi sol oppa hanya terdiam untuk beberapa detik, dan tiba-tiba mengatakan.

Hwi Sol Oppa terdiam selama beberapa detik. Tatapannya lurus ke depan, seolah sedang mempertimbangkan ajakanku.

"Baiklah," ujarnya akhirnya. "Sore nanti Oppa akan menjemputmu, lalu kita pergi ke rumah sakit bersama."

Senyum tipis terukir di wajahnya. Tangan besarnya terulur, mengusap pipiku dengan lembut seperti yang selalu ia lakukan sejak dulu.

Aku membalas senyum itu, tetapi hanya sebatas di bibir.

Karena sejujurnya, hatiku sama sekali tidak baik-baik saja.

Akhir-akhir ini, setiap kali menatap Hwi Sol Oppa, perasaan bersalah yang begitu besar selalu menghimpit dadaku.

Aku sedang menyembunyikan sebuah kebenaran darinya.

Sebuah kebenaran yang mungkin akan menghancurkan hidup kami semua jika sampai terungkap.

Namun di sisi lain, aku juga tidak ingin kehilangan Eun Dam.

Aku tidak sanggup membayangkan pria yang kucintai itu harus mendekam di balik jeruji besi dan kehilangan masa depannya.

Aku tahu apa yang telah dilakukan Eun Dam adalah kesalahan besar.

Kesalahan yang tidak seharusnya dimaafkan begitu saja.

Tetapi setiap kali mengingat bagaimana ia mempertaruhkan nyawanya demi melindungiku, hatiku kembali goyah.

Aku tidak sanggup melihatnya menderita.

Perlahan, aku menoleh ke arah Hwi Sol Oppa yang sedang fokus mengemudi.

Cahaya matahari pagi menyinari sebagian wajahnya. Wajah pria yang selama ini selalu menjagaku, mempercayaiku, dan menganggapku sebagai keluarga yang paling berharga.

Dadaku terasa sesak.

Bagaimana jika suatu hari nanti Oppa mengetahui semuanya?

Bagaimana jika ia mengetahui bahwa adik yang begitu ia cintai dan percayai selama ini justru menyembunyikan rahasia tentang kematian kedua orang tuanya?

Akankah ia membenciku?

Akankah tatapan hangat itu berubah menjadi kekecewaan?

Atau mungkin...

Ia tidak akan pernah memaafkanku lagi.

Memikirkan kemungkinan itu saja sudah cukup membuat hatiku terasa hancur.

Lamunanku buyar ketika suara Hwi Sol Oppa terdengar di telingaku.

"Kita sudah sampai, Tuan Putri," katanya sambil tersenyum manis.

Aku tersentak pelan dan segera menoleh ke luar jendela. Benar saja, mobil kami sudah terparkir tepat di depan bakery.

"T-terima kasih, Oppa," jawabku sedikit gugup.

Entah mengapa, setelah memikirkan semua rahasia yang kusimpan darinya, aku jadi merasa canggung setiap kali menatap wajahnya.

Hari itu berjalan cukup sibuk di bakery.

Beberapa hari sebelumnya, aku dan tim telah menambahkan beberapa menu dessert baru untuk menarik lebih banyak pelanggan. Berkat promosi yang dilakukan tim pemasaran, toko kami dipadati pengunjung sejak pagi.

Suara mesin kopi, tawa pelanggan, dan aroma manis dari kue-kue yang baru keluar dari oven memenuhi ruangan sepanjang hari.

Melihat bakery seramai itu membuat rasa lelahku sedikit terbayar.

Di sela-sela kesibukan, aku menyisihkan beberapa dessert dari menu baru. Aku memasukkannya ke dalam kotak khusus untuk kubawa ke rumah sakit nanti.

Aku ingin Hwi Sol Oppa dan Eun Dam juga mencicipinya.

Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat.

Jarum jam kini menunjukkan pukul lima sore.

Aku segera merapikan meja kerjaku sebelum masuk ke toilet untuk membersihkan diri dan memperbaiki penampilanku. Aku tidak ingin terlihat berantakan ketika pergi ke rumah sakit.

Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk ke ponselku.

Aku sudah di depan.

Senyum kecil langsung terukir di bibirku.

Begitu keluar dari bakery, kulihat mobil Hwi Sol Oppa sudah terparkir di depan toko.

Seperti biasanya, ia turun lebih dulu dan membukakan pintu untukku.

"Silakan masuk, Nona Owner," ujarnya dengan nada menggoda sambil sedikit membungkukkan badan layaknya seorang sopir pribadi.

Aku tertawa pelan.

"Terima kasih, CEO kesayanganku," balasku sambil mencubit lembut hidung mancungnya.

"Yah, setidaknya penghargaan atas kerja kerasku masih dibayar dengan cubitan."

"Tentu saja. Itu bonus spesial."

Kami berdua tertawa kecil sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.

Suasana perjalanan terasa hangat dan nyaman.

Langit sore yang mulai berwarna jingga menemani perjalanan kami menuju rumah sakit.

Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil akhirnya memasuki area parkir.

Aku menarik napas pelan sembari menatap gedung rumah sakit yang menjulang di hadapanku.

Entah mengapa, perasaanku kembali menjadi tidak tenang.

Karena aku tahu, cepat atau lambat, rahasia yang selama ini kusimpan mungkin akan mengubah hubungan kami selamanya tapi aku akan berusaha seolah tidak terjadi apapun di depan oppa.

Kami akhirnya sampai di depan ruang perawatan Eun Dam.

Aku menggenggam gagang pintu dan membukanya perlahan.

Begitu masuk, pandanganku langsung tertuju pada sosok Eun Dam yang sedang berdiri di dekat jendela. Tatapannya mengarah ke langit senja yang memancarkan warna jingga keemasan. Cahaya matahari yang masuk melalui kaca membuat wajahnya terlihat lebih tenang dibanding beberapa hari sebelumnya.

"Eun Dam..." panggilku sambil berlari kecil menghampirinya.

Pria itu segera menoleh. Senyum hangat langsung terukir di bibirnya saat melihatku.

"Kamu sudah sampai?" tanyanya.

Namun senyum di wajahnya sedikit memudar ketika matanya menangkap sosok Hwi Sol Oppa yang berdiri di belakangku.

"Hyung...?"

Hwi Sol Oppa melangkah mendekat.

"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya dengan nada tenang.

Eun Dam tampak sedikit gugup.

"Aku sudah jauh lebih baik, Hyung."

Syukurlah."

Untuk sesaat, suasana menjadi canggung.

Lalu Hwi Sol Oppa menghela napas pelan sebelum menepuk bahu Eun Dam.

"Ah, benar. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih."

Eun Dam tampak terkejut.

"Terima kasih karena sudah menyelamatkan adikku."

Tatapan Eun Dam melembut.

"Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika Seolhwa yang terluka, Hyung."

Aku terdiam mendengar jawabannya.

Jantungku berdebar pelan.

Meskipun kalimat itu sederhana, aku tahu betul ketulusan yang terkandung di dalamnya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku melihat Hwi Sol Oppa tersenyum tulus kepada Eun Dam.

Dan untuk pertama kalinya pula, Eun Dam tidak mengalihkan pandangannya.

Seolah-olah tembok yang selama ini berdiri di antara mereka mulai runtuh sedikit demi sedikit.

Tidak ingin suasana menjadi terlalu emosional, aku segera mengangkat kotak yang sejak tadi kubawa.

"Aku membawa sesuatu."

Kedua pria itu langsung menoleh ke arahku.

"Menu dessert baru dari bakery. Kalian harus menjadi orang pertama yang mencicipinya."

Aku membuka kotak tersebut dan menyodorkannya kepada mereka.

Hwi Sol Oppa dan Eun Dam masing-masing mengambil satu potong.

Beberapa detik kemudian, ekspresi mereka berubah hampir bersamaan.

"Enak," komentar Eun Dam.

"Ini sangat enak," tambah Hwi Sol Oppa sambil mengangguk puas.

Aku tersenyum lebar melihat reaksi mereka.

Entah mengapa, pemandangan dua pria yang sangat kusayangi itu duduk bersama sambil tersenyum membuat hatiku terasa hangat.

Aku ingin waktu berhenti sejenak.

Aku ingin menyimpan momen ini lebih lama.

Dan dalam hati, aku diam-diam memanjatkan doa.

Semoga kehangatan ini bukan hanya kebahagiaan sementara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!