NovelToon NovelToon
PENYIHIR TANPA SIHIR

PENYIHIR TANPA SIHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Lahir tanpa sihir (Nirmala) di dunia yang memuja kekuatan membuat Askara dibenci oleh ayahnya sendiri. Namun, sebuah rahasia besar terungkap: Askara tidak kosong, ia adalah "pemangsa sihir" yang mampu menyerap, menggabungkan, dan memantulkan kembali setiap serangan musuh. Berbekal kemampuan unik ini dan stamina fisik yang terlatih, Askara memulai perjalanan jauh demi membuktikan bahwa seorang tanpa sihir pun mampu mengguncang dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: Cerita dari Sang Maestro dan Gerbang Kedua

Rombongan megah Guild Elang Emas akhirnya menghentikan laju kuda-kuda mereka di gerbang Kota Toga. Debu tipis mengepul saat puluhan kesatria sihir berzirah mengkilap mulai memasuki Distrik Bawah. Di barisan depan, sang kapten ekspedisi—seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan bekas luka di pipinya yang bernama Kapten Arlan—memimpin rombongan menyusuri jalanan gersang menuju ke sudut paling ujung tebing kota.

Rose berkuda tepat di belakang Kapten Arlan. Matanya yang jernih memandang sekeliling, memperhatikan suasana kota yang sarat akan aroma sulfur dan dentuman besi. Rombongan mereka berhenti tepat di depan sebuah bengkel kayu usang dengan simbol kapak patah di atas pintunya.

"Sudah lama tidak bertemu, Tua Bangkai!" seru Kapten Arlan dengan tawa menyalak saat mendorong pintu bengkel.

Dari dalam kegelapan, sosok Moses muncul sembari menyapu keringat di dahinya dengan kain lusuh. Begitu melihat sosok Arlan, wajah keras sang maestro pandai besi melunak, mengganti kerutan di dahinya dengan seringai lebar.

"Arlan? Hahaha! Siapa yang menyangka Kapten dari Elang Emas sudi menginjakkan kaki di bengkel rongsokanku ini?" balas Moses, menyambut temannya itu dengan pelukan hangat khas prajurit veteran.

Rose dan beberapa anggota tim inti ikut melangkah masuk ke dalam bengkel. Hawa hangat tungku api yang telah mendingin masih terasa samar. Sementara Kapten Arlan dan Moses saling melepas rindu, pandangan Rose tidak sengaja tertumpuk pada balok titanium raksasa di sudut ruangan yang telah terbelah dua dengan permukaan potongan yang teramat sangat halus—hampir seperti cermin.

Moses yang menyadari arah pandang Rose dan anggota guildnya langsung menyeringai bangga. Ia menepuk balok titanium itu dengan keras.

"Kalian melihat ini?" ucap Moses, suaranya mendadak bergetar oleh rasa antusiasme yang membara. "Beberapa hari lalu, seorang pemuda luar biasa datang ke sini. Dia adalah seorang Nirmala—manusia tanpa sirkulasi mana dasar, tapi memiliki wadah kosong yang mampu menampung sihir asing.

Anak itu datang meminta dibuatkan pedang yang bisa menahan kekuatannya!"

Langkah kaki Rose seketika terhenti. Dadanya berdegup kencang. Nirmala? Pemuda dengan wadah kosong?

Moses terus bercerita dengan semangat yang meledak-ledak, seolah cerita itu adalah pencapaian tertinggi dalam hidupnya.

"Aku memberinya tiga ujian gila yang hampir mustahil. Tapi dia bertahan menjaga Tungku Intiku selama tiga hari tiga malam tanpa tidur! Dia pergi ke Tebing Ratapan, berburu Bijih Besi Meteorit Amfibi dan membunuh Gorgon Shield-Bear hanya dengan pedang berkarat tanpa menggunakan sihir! Dan puncak kegilaannya... dia membelah balok titanium ini dengan mengontrol sihir kegelapan murninya setipis rambut!"

Rose mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Moses dengan tangan yang bergetar pelan di samping tubuhnya.

Matanya mulai berkaca-kaca oleh rasa haru dan bangga yang luar biasa. Ia tahu betul... tidak ada orang lain di dunia ini yang memiliki tekad gila seperti itu selain Askara.

"Anak itu..." lanjut Moses sembari tersenyum lebar. "Nama pedang yang ku buatkan untuknya adalah SUNYA—Kehampaan. Sedangkan aku menamainya KARSA karena tekad steel-nya. Dia sudah berangkat ke Hutan Sihir Kegelapan beberapa hari lalu untuk menguji pedangnya."

Rose mengepalkan tangannya di dada, meraba kalung kecilnya. Bibir indahnya mengulas senyuman paling hangat yang terukir di wajahnya selama sebulan terakhir. Rasa bangga membuncah di dalam jiwanya. Askara tidak pernah menyerah; pemuda itu justru melompati batasan dirinya dengan cara yang teramat luar biasa.

Askara... kau benar-benar hebat, batin Rose bersorak bangga. Tunggu aku... aku akan segera menyusulmu ke hutan itu!

Sementara itu, di tempat yang sangat jauh di dalam kegelapan abadi Hutan Sihir Kegelapan.

Askara telah melangkah melewati reruntuhan Gerbang Nol.

Menyusuri jalan setapak berbatu yang kian menyempit dan dipenuhi oleh batangan pohon mati berduri, udara di sekitarnya terasa semakin padat dan menekan dada.

Setelah berjalan beberapa ratus meter menembus kabut hitam yang menipis, langkah kaki Askara kembali terhenti.

Di hadapannya kini berdiri sebuah struktur gerbang batu kuno raksasa yang dililit oleh akar-akar hitam beracun. Gerbang batu itu memancarkan aura intimidasi yang jauh lebih pekat daripada area pintu masuk tadi. Inilah pintu menuju sektor kedua: GERBANG SATU.

Askara menarik napas dalam-dalam, menghentikan langkahnya beberapa meter di depan pintu gerbang batu tersebut. Tangan kanannya perlahan turun, meraba gagang

Sunya di pinggangnya yang memancarkan pendaran hangat, seolah-olah bilah meteorit itu ikut bersiap menyambut ancaman dari penjaga lapis kedua.

Di balik pintu gerbang batu yang tertutup rapat itu, Askara bisa merasakan getaran hening dari sebuah energi pertahanan fisik murni yang sangat masif—keberadaan Double-Headed Vanguard, sang monster berkepala dua dengan sihir pelindung mutlak yang siap menghadang siapa pun yang berani melangkah lebih jauh.

Askara mendongak, matanya berkilat tajam di balik bayang-bayang tudung hitamnya. "Mari kita lihat seberapa kokoh perisai milikmu, Penjaga Gerbang Satu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!