Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Harimau tutul itu merendahkan tubuhnya, bersiap menerkam. Ekor panjangnya menyapu udara perlahan ke kiri dan kanan. Sepasang matanya yang semuning saga tak sedetik pun lepas mengunci sosok Jangkrik.
Di atas dahan pohon beringin, Sang Warok hanya bersedekap dada. Ia sama sekali tak menunjukkan niat untuk turun gelanggang.
"Warok!" seru Jangkrik tanpa memalingkan wajah dari sang predator.
"Apa?"
"Kalau aku menang?"
Sang Warok tersenyum tipis. "Kau hidup."
"Kalau aku kalah?"
Sang Warok mengangkat bahu dengan santai. "Aku yang akan menguburmu."
Belum sempat Jangkrik merespons, binatang buas itu meledak dari posisinya.
Auum!
Harimau itu menerkam ganas, membelah udara. Memori latihan di lorong bambu langsung berkelebat di kepala Jangkrik. Ia tidak mundur lurus. Sebaliknya, tubuhnya meliuk memutar setengah langkah ke samping.
Cakar harimau meleset, hanya berhasil menyambar ujung bajunya.
Sret! Kain itu robek.
Tanpa membuang waktu, Jangkrik membalas dengan satu ayunan golok.
Sret! Bilah senjatanya hanya menggores tipis bahu sang harimau.
Binatang itu mendarat di tanah dan seketika langsung memutar tubuhnya. Gerakannya terlampau lincah untuk ukuran tubuh sebesar itu.
"Jangan dikejar!" teriak Sang Warok dari atas pohon.
Jangkrik refleks menahan langkahnya. Benar saja, detik berikutnya... harimau itu kembali menerkam kilat dari posisi berbalik. Seandainya tadi Jangkrik nekat mengejar, dadanya pasti sudah terkoyak lebih dulu.
"Bagus," gumam Sang Warok pelan.
Kini, harimau itu mulai berjalan memutari mangsanya. Ia tidak terburu-buru, mencari celah. Jangkrik ikut berputar menjaga jarak. Golok pendek di tangannya terasa amat berat lantaran sepasang Gelang Baja Wulung masih membebani kedua lengannya. Keringat dingin mulai menetes dari pelipisnya.
"Jangan tatap kepalanya!" komando Sang Warok memecah ketegangan. "Lihat bahunya!"
Jangkrik segera menggeser fokus matanya. Petuah itu terbukti benar. Setiap kali otot harimau itu menegang untuk melompat, bahu depannya selalu merendah lebih dulu.
Saat bahu kanan harimau itu turun menyentak—Jangkrik langsung bergerak mendahuluinya. Harimau menerkam, namun Jangkrik sudah menggeser tubuhnya dari titik pendaratan.
Sret!
Goloknya menari, menyayat sisi lambung harimau jauh lebih dalam. Darah segar memancing bau anyir di udara.
Auuuummm!
Harimau itu meraung marah dan mundur beberapa langkah. Jangkrik menahan diri, tidak mengejar. Petuah Sang Warok kembali menjadi penahan: Pendekar yang marah akan mengejar membuta. Pendekar yang hidup akan menunggu.
Harimau yang terluka itu mulai kehilangan kesabaran. Darah yang menetes dari lambungnya membuat insting liarnya meradang. Binatang itu kembali mengitari Jangkrik. Gerakannya kini lebih cepat, kuda-kudanya lebih rendah, dan auranya jauh lebih mematikan.
Tiba-tiba... burung peniru di balik semak kembali berkicau.
"Tolong..."
Suara rintihan perempuan malang itu mengalun lagi. Refleks, fokus mata Jangkrik nyaris berpaling ke arah semak. Namun, ia segera memejamkan mata sesaat, menolak tipuan itu. "Aku tidak akan tertipu dua kali!"
Namun nahas, begitu fokusnya kembali ke depan... harimau itu sudah mengudara. Terlambat.
Bruk!
Tubuh Jangkrik dihantam keras hingga berguling-guling sejauh beberapa tombak. Golok pendeknya terlempar lepas dari genggaman.
"Agh!" ringisnya menahan perih. Cakar sang predator berhasil merobek bahu kirinya. Darah segar seketika mengalir membasahi kain bajunya.
Harimau itu tidak memberi ampun. Ia kembali melompat untuk mendaratkan gigitan pemungkas di leher Jangkrik. Bocah itu meraba tanah mencari goloknya, namun jaraknya terlampau jauh.
Dalam sepersekian detik yang menentukan hidup dan matinya, memori saat menangkap ujung pecut Samandiman mengambil alih tubuhnya.
Saat cakar mematikan itu menukik turun, Jangkrik mengulurkan kedua tangannya dan menangkap erat pergelangan kaki depan si harimau.
Ughhh!
Tubuh Jangkrik terseret keras di atas tanah berdebu. Lengannya ditarik paksa seakan mau putus. Namun, ia menolak melepaskan cengkeramannya. Harimau itu menggeram brutal, berusaha merobek perut Jangkrik dengan kaki satunya.
Menggunakan momentum serbuan lawannya, Jangkrik memutar tubuhnya sekuat tenaga.
Brak!
Tubuh raksasa harimau itu terhempas keras, menghantam telak batang pohon beringin di dekat mereka.
Celah itu akhirnya terbuka. Jangkrik melenting cepat, meraih goloknya yang tergeletak di tanah. Tanpa memberi waktu bagi sang predator untuk memulihkan diri—
Sret!
Golok pendek itu ditusukkan dalam-dalam, tepat menembus sela-sela tulang rusuk harimau menuju jantungnya.
Auuuuummm!
Binatang itu mengamuk dalam sakaratul maut. Tubuh besarnya meronta liar, membuat Jangkrik ikut terlempar ke udara. Namun, golok itu tetap tertancap kokoh di lambungnya.
Beberapa detik yang menegangkan berlalu. Harimau itu mulai berdiri limbung. Satu langkah... Dua langkah... Lalu...
Bruk!
Tubuh berbulu tutul itu roboh ke bumi, tak bernyawa.
Hutan kembali direngkuh keheningan total. Jangkrik terduduk lemas sambil terengah-engah. Bahu kirinya robek dan terus berdarah, sementara lengan kanannya mati rasa akibat menahan beban harimau. Namun, ia selamat. Ia masih bernapas.
Prok... Prok...
Sang Warok akhirnya mendarat tanpa suara dari atas pohon. Ia berjalan menghampiri bangkai harimau, lalu memeriksanya sekilas dengan ujung kaki.
"Lumayan," komentarnya singkat dan teramat dingin.
Jangkrik mendengus kesal, matanya menyalang. "Lumayan katamu?! Aku hampir saja mati dicabiknya!"
Sang Warok menatapnya lempeng. "Tapi nyatanya kau tidak mati. Dan itulah satu-satunya hal yang penting di dunia persilatan."
Pria berjanggut itu kemudian menunjuk luka robek di bahu Jangkrik. "Meski berhasil menang, kau membuat tiga kesalahan fatal."
Jangkrik perlahan mengangkat wajahnya yang berpeluh.
"Pertama, kau terlalu cepat menghunus golokmu. Kedua, kau hampir saja terpancing oleh suara burung itu untuk yang kedua kalinya. Ketiga..." Sang Warok menatap tajam ke dalam manik mata muridnya, menembus hingga ke ulu hati. "...kau lupa."
"Lupa apa?"
Sang Warok menginjak kepala harimau yang sudah tak bernyawa itu. "Kau hanya memusatkan seluruh perhatian dan pikiranmu pada harimaunya. Padahal, sejak awal sudah kukatakan... musuhmu yang sebenarnya adalah sang pemburu yang berburu dengan kecerdikan."
Sang Warok menunjuk ke angkasa, ke arah burung peniru yang kini terbang menjauh melintasi tajuk pohon. "Bila kau sedang menghadapi manusia... burung tadi adalah ibarat rekannya. Dan di saat sepersekian detik perhatianmu terpecah karena tipuan itu... sebilah pisau dari arah lain pasti sudah menembus lehermu."
Jangkrik terdiam, menatap lekat bangkai harimau di depannya lama sekali.