Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.
Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam rahimnya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
teman baru
Aku menoleh ke arahnya perlahan. Gadis itu berwajah lembut dan tulus, kulitnya bersih segar bercahaya, matanya berwarna cokelat jernih yang menatap tanpa prasangka sedikit pun, rambut panjangnya berombak alami jatuh rapi di bahu — tampak sopan dan ramah, namun ada wibawa tenang yang menyelimuti dirinya.
“Aku… ya benar, aku murid baru. Sedikit bingung mencari letak kelasku,” jawabku sambil tersenyum malu-malu, jantung berdebar pelan karena gugup.
Gadis itu tertawa pelan, suaranya lembut dan menenangkan sekali: “Jangan khawatir sama sekali. Ternyata kita satu kelas! Ayo ikut aku, aku akan menuntunmu ke sana.” Tanpa ragu sedikit pun, ia menyentuh pergelangan tanganku dengan lembut — sentuhan yang hangat dan menenangkan — lalu mengajakku berjalan menyusuri lorong yang luas dan berkilau itu.
Ruangan kelas itu luas sekali, tertata rapi, dan terasa sangat nyaman saat aku melangkah masuk. Kursinya empuk berwarna biru lembut, mejanya terbuat dari kayu yang kokoh dan halus, cahaya terang merata menyinari setiap sudut ruangan tanpa ada yang terasa gelap sedikit pun. Rasanya ini sungguh-sungguh sekolah paling indah dan baik yang pernah kulihat seumur hidupku.
Sarah menuntunku duduk di barisan depan sambil tersenyum lebar dan tulus: “Namaku Sarah, salam kenal, Zara. Senang sekali kau di sini.”
Di sebelahku, gadis lain segera mengulurkan tangannya dengan tatapan yang tulus: “Aku Liora. Dan kau tahu… kau cantik sekali lho.” Wajahnya lembut dan memikat, kulit putih bersih dengan pipi yang merona alami seperti kelopak bunga, rambut cokelat keemasan berombak halus yang berkilau cantik terkena cahaya jendela — ia tampak seperti gadis dari lukisan kuno.
Tak lama kemudian gadis di samping Liora menyapaku dengan sopan dan tenang: “Dan aku Diana. Senang sekali berkenalan denganmu, Zara.” Ia juga cantik namun dengan cara yang menenangkan — tatapannya dalam dan tenang, seolah ia bisa melihat lebih dalam dari yang orang lain tunjukkan, rambutnya disisir rapi membingkai wajah yang anggun dan tenang.
Pelajaran pun dimulai dengan tertib dan tenang. Semua murid mendengarkan dengan sungguh-sungguh, tak ada yang berisik, tak ada yang mengganggu. Hatiku terasa damai dan penuh semangat belajar — untuk pertama kalinya sejak lama, aku merasa mungkin aku benar-benar pantas berada di sini, di antara mereka.
Saat bunyi bel istirahat akhirnya terdengar nyaring, ketiga teman baruku itu langsung mengajakku berkeliling melihat seluruh bagian sekolah. Semuanya terawat dengan sangat baik: lorongnya bersih dan lantainya mengilap, jendela-jendelanya besar-besar sehingga cahaya matahari bisa masuk dengan leluasa dan membuat suasana selalu terasa terang. Segala fasilitas yang ada di sini terasa sangat lengkap: ada perpustakaan yang luas dan sepi tenang, kantin yang bersih serta udaranya segar, ruang untuk berkarya seni, ruang musik, ruang laboratorium, hingga gedung olahraga dan lapangan yang luas—semuanya terlihat megah namun tetap terasa asri dan nyaman dipandang.
Di halaman sekolah yang luas itu terbentang lapangan rumput yang warnanya hijau cerah dan terlihat sangat rapi serta rata. Di sekelilingnya ada jalur lari berwarna merah bata yang halus dan terawat baik. Di tengah lapangan berdiri kokoh gawang bola berwarna putih, sementara ratusan siswa berbaris rapi berjejer membentuk barisan yang teratur, seragam mereka berwarna biru dan putih terlihat sangat serasi jika dilihat dari kejauhan. Di kejauhan terlihat pagar tinggi yang dibatasi oleh pepohonan rindang, dan di baliknya tampak bangunan-bangunan tinggi yang menjulang bersanding dengan langit yang cerah. Udara di sini terasa segar, dan suasana tertib namun tetap terasa hidup sekali.
Ketika teman-temanku pergi sejenak untuk membeli makanan ringan, aku pun duduk sendirian di bangku tribun yang menghadap ke lapangan. Belum lama aku duduk diam menikmati suasana, tiba-tiba ada seorang siswa laki-laki datang menghampiriku sambil tersenyum dengan penuh percaya diri. “Hai, aku Rafael. Aku rasa namamu pasti Zara, kan?” Ia terlihat sangat tampan, rambutnya berwarna cokelat keemasan yang sedikit berantakan namun justru membuatnya terlihat semakin menarik, dan ada daya tarik yang kuat terpancar dari dirinya.
Di belakangnya berdiri dua orang temannya: ada Elio yang memiliki garis wajah tegas namun tatapannya terlihat lembut, dan ada Damian yang terlihat tenang, pandai, dan memancarkan kesan berwibawa sejak pertama kali dilihat.
Belum sempat aku membuka mulut untuk menjawab sapaan itu, Sarah dan yang lain sudah kembali ke tempatku berdiri dan langsung menegurnya dengan nada halus namun tegas. “Ayo kalian pergi saja, jangan ganggu dia.” Rafael hanya tertawa kecil mendengar itu, melambaikan tangannya dengan santai seolah tidak merasa bersalah sedikit pun, lalu berjalan pergi meninggalkan kami.
Setelah mereka menjauh, Diana segera berbicara padaku dengan nada penuh perhatian. “Kamu harus berhati-hati ya, Zara. Dia dikenal sering bersikap sembarangan kepada banyak orang, jadi Jangan mudah percaya pada kata-katanya yang manis nanti.”
Aku hanya mengangguk tanda mengerti sambil tersenyum tipis. Saat itulah lewat seorang gadis lain di dekat kami: tubuhnya tingginya pas sekali, kulitnya bersih dan sehat, rambutnya dikuncir rapi hingga terlihat berkilau halus—ia memakai kacamata bingkai tipis, tampak sederhana dan polos, seolah belum menyadari bahwa sebenarnya ia juga memiliki keindahan dan pesona yang tersendiri.
Liora dan Diana tiba-tiba melangkah maju lalu berdiri menghalangi jalan gadis itu dengan sikap yang tegas. “Hei, Clara! Apa yang kau pegang itu? Berikan kemari, aku ingin melihatnya!” seru Liora, lalu tanpa menunggu izin ia merebut buku itu dari genggaman tangan Clara.
Clara berusaha menahannya sekuat tenaga, suaranya terdengar lirih dan penuh rasa takut. “Jangan diambil! Itu adalah buku pinjaman perpustakaan yang harus aku kembalikan tepat waktu. Tolong kembalikan padaku!”
Namun Liora yang sudah berhasil memegang buku itu hanya tersenyum penuh kemenangan. “Kalau begitu, sebaiknya buku ini hancur saja, agar tidak bisa kau gunakan lagi!” Tanpa ragu sedikit pun, ia merobek halaman demi halaman hingga buku itu terbelah dua dan akhirnya menjadi tumpukan kertas yang hancur tak beraturan.
Melihat kejadian itu, aku tertegun kaget dan bingung. Hatiku terasa tidak tenang melihatnya diperlakukan demikian. Aku hendak berdiri untuk membela Clara, namun sekilas mataku tertuju pada Sarah yang hanya diam saja seolah tidak melihat apa-apa. Mengapa ia membiarkan hal sekejam ini terjadi? gumamku dalam hati. Tanpa ragu lagi, aku segera melangkah maju dan berbicara dengan nada yang tegas namun tenang: “Cukup! Hentikan hal ini sekarang. Mengapa kalian harus menyakiti dia tanpa alasan yang jelas?”
Mendengar suaraku, Liora dan Diana pun berhenti seketika, lalu menoleh memandangku dengan tatapan yang tajam. Sementara itu, Clara menatapku dengan pandangan yang bercampur antara harap dan rasa terima kasih yang tulus.
Liora menjawab dengan nada yang penuh sindiran: “Zara, sepertinya kau belum mengetahui kebenarannya. Ayahnya adalah seseorang yang kini mendekam di penjara karena kesalahannya sendiri, sedangkan ibunya telah melakukan hal yang memalukan. Masih berani ia menginjakkan kaki di sekolah yang sebaik ini—sungguh hal yang sangat memalukan!”