Dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya hukum, Luo Chen lahir sebagai "sampah" dengan bakat yang menyedihkan. Dihina, dikucilkan, dan dipandang sebelah mata oleh klan sendiri—namun, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki para jenius: Keinginan untuk bertahan hidup yang melampaui batas kewarasan dan tekad yang sanggup meruntuhkan hukum Langit dan Bumi.Tidak ada warisan agung, tidak ada guru besar, hanya teknik bela diri kuno yang terlupakan dan pil racikan dari tanaman liar. Ini bukan sekadar kisah bangkitnya seorang kultivator, ini adalah perjalanan penuh darah dan keringat untuk membuktikan bahwa takdir hanyalah belenggu yang harus dihancurkan. Akankah Luo Chen mengguncang langit, atau ia akan terkubur selamanya dalam ketidakadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JokyWong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi di Atas Panggung Turnamen
Sambil menyuapkan sepotong kue beras kukus ke mulut anak kecil di sampingnya,
seorang wanita berjubah biru muda menyeka sisa tepung di pipi anak itu.
"Makanlah pelan-pelan, Chen'er," bisik Mu Xue dengan suara lembut, mengusap
helai rambut hitam putranya.
Di sampingnya, seorang anak laki-laki berusia enam tahun mengunyah dengan cepat
sambil menatap lurus ke arah panggung batu di tengah arena. "Apakah Ayah akan
bertarung setelah ini?" tanya Luo Chen dengan mata bulatnya yang berbinar,
menatap pria gagah yang duduk tenang di sisi kanan ibunya.
Dengan tawa kecil yang rendah, pria bertubuh tegap itu mengulurkan tangan
kasarnya untuk menepuk bahu kecil sang anak. "Dua pertandingan lagi, Chen'er,"
sahut Luo Hao, mengarahkan pandangannya ke arah dua praktisi muda yang kini
tengah bersiap di atas area pertarungan. "Perhatikan baik-baik bagaimana mereka
mengalirkan energi Qi ke kaki."
Dua orang murid cabang kelima klan Luo melompat maju ke tengah panggung batu,
memicu kepulan debu tipis di bawah kaki mereka. Salah satu dari mereka
mengayunkan pedang kayu berlapis besi, melepaskan "Seni Tebasan Angin Puyuh"
yang memancarkan riak energi hijau transparan setebal dua sentimeter dari mata
pedangnya.
Satu hantaman keras terdengar saat murid kedua menepis tebasan itu menggunakan
perisai kayu yang diperkuat energi Qi berwarna cokelat tanah. Benturan tersebut
menyebarkan tekanan angin kecil yang berdesir hingga ke barisan kursi penonton
di bagian depan.
"Ayah, kenapa aliran energinya tidak stabil?" tanya Luo Chen sambil menarik
ujung jubah ayahnya, menunjuk ke arah murid berbaju hijau yang mulai
terengah-engah setelah melepaskan serangan ketiga.
Sambil mengusap kepala putranya, Luo Hao memberikan penjelasan dengan nada datar
namun jelas. "Dia terlalu cepat menghabiskan energinya di awal tanpa
memperhitungkan sisa napas. Seorang praktisi yang baik harus tahu kapan harus
menahan dan kapan harus melepaskan."
"Dengarkan kata ayahmu, Chen'er," sela Mu Xue merapikan lipatan jubah
suaminya yang sedikit kusut. "Kultivasi bukan hanya tentang kekuatan murni,
tetapi juga tentang ketenangan pikiran."
Suara lantang dari arah panggung utama memotong pembicaraan keluarga kecil
tersebut, memanggil nama petarung berikutnya yang harus segera bersiap.
"Pertandingan perebutan posisi sepuluh besar cabang utama! Luo Hao dari cabang
utama melawan Luo Jun dari cabang ketiga!"
"Giliranmu, Hao," bisik Mu Xue dengan tatapan mata yang mendadak lurus menatap
suaminya, tangannya menggenggam erat jemari Luo Hao selama beberapa detik.
Dengan anggukan pelan, Luo Hao melepaskan genggaman tersebut dan berdiri dari
kursi kayunya. "Jaga Chen'er di sini. Pertandingan ini tidak akan berlangsung
lama."
"Berjanjilah untuk tidak memaksakan diri, Ayah!" seru Luo Chen
melambaikan tangan kecilnya saat melihat sosok ayahnya mulai berjalan menuruni
tangga tribun penonton.
Langkah kaki tegap Luo Hao bergema pelan saat ia melangkah naik ke atas panggung
batu berukuran dua puluh meter persegi tersebut. Di ujung panggung yang
berlawanan, sesosok pria berkaus abu-abu dengan sepasang belati pendek di
pinggangnya sudah berdiri menunggu dengan tangan bersilang di depan dada.
Di atas panggung yang mulai sunyi, kedua petarung saling berhadapan dalam jarak
sepuluh langkah. "Lama tidak bertemu, Kakak Sepupu," ujar Luo Jun dengan senyum
miring yang memperlihatkan deretan giginya. "Kudengar kultivasimu sudah mencapai
ranah Inti Emas tahap empat."
Dengan wajah tanpa ekspresi, Luo Hao membiarkan energi keemasan mulai berpendar
tipis di permukaan kulitnya. "Gunakan seluruh kemampuanmu sejak awal, Luo Jun.
Aku tidak ingin membuang waktu di sini."
"Sombong seperti biasanya," desis Luo Jun mencabut kedua belati
pendeknya, mengalirkan energi Qi berwarna hijau tua yang memancar tipis dari
bilah logam tajam tersebut.
Dua bilah angin transparan melesat cepat saat Luo Jun mengibaskan tangannya ke
depan, membelah udara kosong menuju dada lawannya. Serangan pembuka itu bergerak
sangat cepat, meninggalkan garis putih samar di udara arena.
Sambil memiringkan tubuhnya sedikit ke kanan, Luo Hao membiarkan bilah angin
pertama lewat hanya beberapa sentimeter dari bahunya. Di saat yang sama, ia
mengangkat lengan kirinya, memicu "Seni Perisai Emas Pelindung" yang memunculkan
dinding energi keemasan setebal lima sentimeter untuk mementalkan bilah angin
kedua dengan suara dentang logam yang keras.
Dan pertempuran pun pecah dengan intensitas yang meningkat pesat dalam hitungan
detik. Luo Jun menerjang maju bagai bayangan hijau, melepaskan puluhan tebasan
cepat yang mengarah ke titik-titik vital di tubuh lawannya.
Namun, setiap serangan belati tersebut hanya membentur pelindung emas yang
menyelimuti tubuh Luo Hao. "Kecepatanmu meningkat, tetapi bobot seranganmu
terlalu ringan," komentar Luo Hao menggeser kaki kirinya ke belakang,
menghindari tebasan menyilang yang mengarah ke lehernya.
"Jangan hanya menghindar, Hao!" teriak Luo Jun melompat mundur sejauh
tiga meter untuk mengambil jarak, napasnya mulai terdengar memburu dengan cepat.
Dengan gerakan tangan yang tenang namun bertenaga, Luo Hao membentuk segel satu
tangan, mengaktifkan "Jurus Tapak Emas Penghancur". Energi kuning keemasan yang
sangat pekat langsung memadat di atas kepala Luo Jun, membentuk cetakan telapak
tangan raksasa berdiameter satu meter yang menekan udara di sekitarnya hingga
memunculkan retakan kecil di permukaan panggung batu.
Melihat tekanan energi raksasa itu runtuh ke arahnya, Luo Jun segera
menyilangkan kedua tangannya di atas kepala untuk memicu "Seni Dinding Batu
Pertahanan". Lapisan energi berwarna cokelat keruh setebal sepuluh sentimeter
segera terbentuk, mencoba menahan hantaman tapak emas raksasa tersebut.
Suara ledakan tumpat yang sangat keras mengguncang seluruh arena pertarungan
saat kedua energi berbeda warna itu berbenturan hebat. Serpihan energi yang
hancur terlontar layaknya pecahan kaca tajam, menggores permukaan batu panggung
dan meninggalkan bekas parit-parit kecil sedalam beberapa milimeter di bawah
kaki mereka.
Dari arah tribun penonton, Luo Chen mencondongkan tubuhnya ke depan pembatas
kayu, menatap jalannya pertarungan dengan cemas. "Ibu, apakah Ayah sudah
menang?" tanyanya lirih menggenggam erat lengan baju Mu Xue.
"Belum, Chen'er," jawab Mu Xue dengan pandangan mata yang tidak sedetik pun
beralih dari panggung batu. "Pertarungan belum selesai sebelum lawan benar-benar
jatuh."
Di tengah panggung yang diselimuti debu tebal, Luo Jun berlutut dengan satu
kaki, menyeka darah segar yang mengalir dari sudut bibirnya menggunakan punggung
tangan. "Sialan," umpatnya menatap Luo Hao yang masih berdiri tegak tanpa
luka sedikit pun di tubuhnya.
"Kau tidak akan bisa menang dengan tingkat kultivasi seperti itu, Luo Jun," ujar
Luo Hao memutar pergelangan tangannya perlahan. "Menyerahlah."
"Menyerah?" Luo Jun tertawa serak, suaranya terdengar penuh keputusasaan
sekaligus kebencian yang mendalam. "Dalam kamus cabang ketiga klan Luo, tidak
ada kata menyerah di hadapan cabang utama yang selalu merasa paling tinggi!"
Sambil merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, Luo Jun menyalurkan
"Seni Tusukan Bayangan Ungu". Pendaran energi ungu gelap yang sangat tipis dan
tidak biasa mendadak muncul di sela-sela jarinya, memancarkan aura dingin yang
asing dan langsung menusuk tulang siapa pun di sekitarnya.
Melihat fluktuasi energi yang sangat tidak stabil tersebut, Luo Hao mengerutkan
dahi dan segera mempertebal perisai emas pelindungnya hingga mencapai sepuluh
sentimeter. "Jurus apa itu?" tanyanya dengan nada yang mulai waspada.
"Jurus yang akan mengirimmu ke neraka, Hao!" pekik Luo Jun melepaskan
satu jarum kecil berwarna ungu gelap yang melesat keluar dari sela jarinya
dengan kecepatan yang melebihi kecepatan suara.
Suara benturan tajam berbunyi, Trak!
Jarum ungu gelap itu menabrak perisai emas milik Luo Hao, namun alih-alih
hancur, jarum tersebut justru melepaskan energi hitam pekat yang bersifat
korosif, melubangi lapisan pelindung emas dalam hitungan milidetik sebelum
menembus ulu hati Luo Hao tepat di titik tengah koordinat dantian miliknya
berada.
Suara erangan tertahan keluar dari tenggorokan Luo Hao saat tubuhnya mendadak
kaku, disusul dengan hilangnya seluruh pendaran cahaya emas yang menyelimuti
dirinya sejak awal pertarungan. Ia jatuh berlutut dengan kedua tangan menekan
dadanya yang mulai mengeluarkan darah hitam pekat.
Di atas panggung pertarungan, tubuh Luo Hao bergetar hebat sebelum akhirnya ia
roboh ke lantai batu dengan mata yang membelalak menahan rasa sakit luar biasa
dari pecahnya Inti Emas di dalam tubuhnya.
"Ayah!" teriak Luo Chen dengan suara melengking dari arah tribun, mencoba
melompati pembatas kayu sebelum akhirnya didekap erat oleh ibunya yang juga
mulai panik melihat kondisi suaminya yang mendadak tumbang.
"Hao!" teriak Mu Xue menggendong putranya, berlari menuruni tangga tribun
dengan langkah yang tergesa-gesa menuju ke arah panggung batu pertarungan.
Dari arah deretan kursi tetua, seorang pria tua berambut putih panjang berdiri
dengan cepat, melompat turun dari panggung kehormatan dan melesat dalam satu
tarikan napas menuju tempat putranya terbaring. "Hentikan pertarungan!" teriak
Elder Luo Zhan seraya menempelkan telapak tangannya di punggung Luo Hao untuk
menyalurkan energi Qi murni, mencoba menahan kehancuran meridian putranya yang
menjalar cepat.
Dua orang penjaga panggung segera bergerak maju untuk menahan Luo Jun yang masih
berdiri tegak dengan senyum kemenangan yang sangat lebar di wajahnya. "Aku tidak
melanggar aturan apa pun, Tetua Agung," ujar Luo Jun dengan santai sambil
mengangkat kedua tangannya. "Senjata spiritual diperbolehkan dalam turnamen
ini."
"Dantian miliknya hancur," bisik Elder Luo Zhan dengan mata yang bergetar
menatap lantai panggung yang ternoda darah hitam, tangannya perlahan turun dari
punggung putranya yang kini mulai kejang-kejang. "Inti Emasnya... pecah menjadi
serpihan tanpa sisa."
"Jangan sentuh suamiku!" pekik Mu Xue yang baru saja sampai di atas panggung,
segera berlutut di samping tubuh suaminya yang dingin dan memeluk kepala Luo Hao
dengan erat.
Sambil menangis sesenggukan, Luo Chen kecil memegang erat tangan ayahnya yang
terus gemetar di atas lantai batu. "Ayah... bangunlah, Ayah... Chen'er ada di
sini..." tangisnya dengan suara yang serak karena terlalu banyak berteriak.
Di tengah keheningan arena yang mendadak mencekam, beberapa asisten tabib segera
membawa tandu kayu untuk mengevakuasi tubuh Luo Hao yang kini tidak lagi
memiliki sisa energi Qi sedikit pun di dalam tubuhnya—menandakan bahwa ia telah
berubah menjadi manusia fana yang lumpuh sepenuhnya.