NovelToon NovelToon
Beladiri Yang Mencapai Puncak Cakrawala

Beladiri Yang Mencapai Puncak Cakrawala

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Kultivasi
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: JokyWong

Dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya hukum, Luo Chen lahir sebagai "sampah" dengan bakat yang menyedihkan. Dihina, dikucilkan, dan dipandang sebelah mata oleh klan sendiri—namun, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki para jenius: Keinginan untuk bertahan hidup yang melampaui batas kewarasan dan tekad yang sanggup meruntuhkan hukum Langit dan Bumi.Tidak ada warisan agung, tidak ada guru besar, hanya teknik bela diri kuno yang terlupakan dan pil racikan dari tanaman liar. Ini bukan sekadar kisah bangkitnya seorang kultivator, ini adalah perjalanan penuh darah dan keringat untuk membuktikan bahwa takdir hanyalah belenggu yang harus dihancurkan. Akankah Luo Chen mengguncang langit, atau ia akan terkubur selamanya dalam ketidakadilan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JokyWong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tragedi di Atas Panggung Turnamen

Sambil menyuapkan sepotong kue beras kukus ke mulut anak kecil di sampingnya,

seorang wanita berjubah biru muda menyeka sisa tepung di pipi anak itu.

"Makanlah pelan-pelan, Chen'er," bisik Mu Xue dengan suara lembut, mengusap

helai rambut hitam putranya.

Di sampingnya, seorang anak laki-laki berusia enam tahun mengunyah dengan cepat

sambil menatap lurus ke arah panggung batu di tengah arena. "Apakah Ayah akan

bertarung setelah ini?" tanya Luo Chen dengan mata bulatnya yang berbinar,

menatap pria gagah yang duduk tenang di sisi kanan ibunya.

Dengan tawa kecil yang rendah, pria bertubuh tegap itu mengulurkan tangan

kasarnya untuk menepuk bahu kecil sang anak. "Dua pertandingan lagi, Chen'er,"

sahut Luo Hao, mengarahkan pandangannya ke arah dua praktisi muda yang kini

tengah bersiap di atas area pertarungan. "Perhatikan baik-baik bagaimana mereka

mengalirkan energi Qi ke kaki."

Dua orang murid cabang kelima klan Luo melompat maju ke tengah panggung batu,

memicu kepulan debu tipis di bawah kaki mereka. Salah satu dari mereka

mengayunkan pedang kayu berlapis besi, melepaskan "Seni Tebasan Angin Puyuh"

yang memancarkan riak energi hijau transparan setebal dua sentimeter dari mata

pedangnya.

Satu hantaman keras terdengar saat murid kedua menepis tebasan itu menggunakan

perisai kayu yang diperkuat energi Qi berwarna cokelat tanah. Benturan tersebut

menyebarkan tekanan angin kecil yang berdesir hingga ke barisan kursi penonton

di bagian depan.

"Ayah, kenapa aliran energinya tidak stabil?" tanya Luo Chen sambil menarik

ujung jubah ayahnya, menunjuk ke arah murid berbaju hijau yang mulai

terengah-engah setelah melepaskan serangan ketiga.

Sambil mengusap kepala putranya, Luo Hao memberikan penjelasan dengan nada datar

namun jelas. "Dia terlalu cepat menghabiskan energinya di awal tanpa

memperhitungkan sisa napas. Seorang praktisi yang baik harus tahu kapan harus

menahan dan kapan harus melepaskan."

"Dengarkan kata ayahmu, Chen'er," sela Mu Xue merapikan lipatan jubah

suaminya yang sedikit kusut. "Kultivasi bukan hanya tentang kekuatan murni,

tetapi juga tentang ketenangan pikiran."

Suara lantang dari arah panggung utama memotong pembicaraan keluarga kecil

tersebut, memanggil nama petarung berikutnya yang harus segera bersiap.

"Pertandingan perebutan posisi sepuluh besar cabang utama! Luo Hao dari cabang

utama melawan Luo Jun dari cabang ketiga!"

"Giliranmu, Hao," bisik Mu Xue dengan tatapan mata yang mendadak lurus menatap

suaminya, tangannya menggenggam erat jemari Luo Hao selama beberapa detik.

Dengan anggukan pelan, Luo Hao melepaskan genggaman tersebut dan berdiri dari

kursi kayunya. "Jaga Chen'er di sini. Pertandingan ini tidak akan berlangsung

lama."

"Berjanjilah untuk tidak memaksakan diri, Ayah!" seru Luo Chen

melambaikan tangan kecilnya saat melihat sosok ayahnya mulai berjalan menuruni

tangga tribun penonton.

Langkah kaki tegap Luo Hao bergema pelan saat ia melangkah naik ke atas panggung

batu berukuran dua puluh meter persegi tersebut. Di ujung panggung yang

berlawanan, sesosok pria berkaus abu-abu dengan sepasang belati pendek di

pinggangnya sudah berdiri menunggu dengan tangan bersilang di depan dada.

Di atas panggung yang mulai sunyi, kedua petarung saling berhadapan dalam jarak

sepuluh langkah. "Lama tidak bertemu, Kakak Sepupu," ujar Luo Jun dengan senyum

miring yang memperlihatkan deretan giginya. "Kudengar kultivasimu sudah mencapai

ranah Inti Emas tahap empat."

Dengan wajah tanpa ekspresi, Luo Hao membiarkan energi keemasan mulai berpendar

tipis di permukaan kulitnya. "Gunakan seluruh kemampuanmu sejak awal, Luo Jun.

Aku tidak ingin membuang waktu di sini."

"Sombong seperti biasanya," desis Luo Jun mencabut kedua belati

pendeknya, mengalirkan energi Qi berwarna hijau tua yang memancar tipis dari

bilah logam tajam tersebut.

Dua bilah angin transparan melesat cepat saat Luo Jun mengibaskan tangannya ke

depan, membelah udara kosong menuju dada lawannya. Serangan pembuka itu bergerak

sangat cepat, meninggalkan garis putih samar di udara arena.

Sambil memiringkan tubuhnya sedikit ke kanan, Luo Hao membiarkan bilah angin

pertama lewat hanya beberapa sentimeter dari bahunya. Di saat yang sama, ia

mengangkat lengan kirinya, memicu "Seni Perisai Emas Pelindung" yang memunculkan

dinding energi keemasan setebal lima sentimeter untuk mementalkan bilah angin

kedua dengan suara dentang logam yang keras.

Dan pertempuran pun pecah dengan intensitas yang meningkat pesat dalam hitungan

detik. Luo Jun menerjang maju bagai bayangan hijau, melepaskan puluhan tebasan

cepat yang mengarah ke titik-titik vital di tubuh lawannya.

Namun, setiap serangan belati tersebut hanya membentur pelindung emas yang

menyelimuti tubuh Luo Hao. "Kecepatanmu meningkat, tetapi bobot seranganmu

terlalu ringan," komentar Luo Hao menggeser kaki kirinya ke belakang,

menghindari tebasan menyilang yang mengarah ke lehernya.

"Jangan hanya menghindar, Hao!" teriak Luo Jun melompat mundur sejauh

tiga meter untuk mengambil jarak, napasnya mulai terdengar memburu dengan cepat.

Dengan gerakan tangan yang tenang namun bertenaga, Luo Hao membentuk segel satu

tangan, mengaktifkan "Jurus Tapak Emas Penghancur". Energi kuning keemasan yang

sangat pekat langsung memadat di atas kepala Luo Jun, membentuk cetakan telapak

tangan raksasa berdiameter satu meter yang menekan udara di sekitarnya hingga

memunculkan retakan kecil di permukaan panggung batu.

Melihat tekanan energi raksasa itu runtuh ke arahnya, Luo Jun segera

menyilangkan kedua tangannya di atas kepala untuk memicu "Seni Dinding Batu

Pertahanan". Lapisan energi berwarna cokelat keruh setebal sepuluh sentimeter

segera terbentuk, mencoba menahan hantaman tapak emas raksasa tersebut.

Suara ledakan tumpat yang sangat keras mengguncang seluruh arena pertarungan

saat kedua energi berbeda warna itu berbenturan hebat. Serpihan energi yang

hancur terlontar layaknya pecahan kaca tajam, menggores permukaan batu panggung

dan meninggalkan bekas parit-parit kecil sedalam beberapa milimeter di bawah

kaki mereka.

Dari arah tribun penonton, Luo Chen mencondongkan tubuhnya ke depan pembatas

kayu, menatap jalannya pertarungan dengan cemas. "Ibu, apakah Ayah sudah

menang?" tanyanya lirih menggenggam erat lengan baju Mu Xue.

"Belum, Chen'er," jawab Mu Xue dengan pandangan mata yang tidak sedetik pun

beralih dari panggung batu. "Pertarungan belum selesai sebelum lawan benar-benar

jatuh."

Di tengah panggung yang diselimuti debu tebal, Luo Jun berlutut dengan satu

kaki, menyeka darah segar yang mengalir dari sudut bibirnya menggunakan punggung

tangan. "Sialan," umpatnya menatap Luo Hao yang masih berdiri tegak tanpa

luka sedikit pun di tubuhnya.

"Kau tidak akan bisa menang dengan tingkat kultivasi seperti itu, Luo Jun," ujar

Luo Hao memutar pergelangan tangannya perlahan. "Menyerahlah."

"Menyerah?" Luo Jun tertawa serak, suaranya terdengar penuh keputusasaan

sekaligus kebencian yang mendalam. "Dalam kamus cabang ketiga klan Luo, tidak

ada kata menyerah di hadapan cabang utama yang selalu merasa paling tinggi!"

Sambil merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, Luo Jun menyalurkan

"Seni Tusukan Bayangan Ungu". Pendaran energi ungu gelap yang sangat tipis dan

tidak biasa mendadak muncul di sela-sela jarinya, memancarkan aura dingin yang

asing dan langsung menusuk tulang siapa pun di sekitarnya.

Melihat fluktuasi energi yang sangat tidak stabil tersebut, Luo Hao mengerutkan

dahi dan segera mempertebal perisai emas pelindungnya hingga mencapai sepuluh

sentimeter. "Jurus apa itu?" tanyanya dengan nada yang mulai waspada.

"Jurus yang akan mengirimmu ke neraka, Hao!" pekik Luo Jun melepaskan

satu jarum kecil berwarna ungu gelap yang melesat keluar dari sela jarinya

dengan kecepatan yang melebihi kecepatan suara.

Suara benturan tajam berbunyi, Trak!

Jarum ungu gelap itu menabrak perisai emas milik Luo Hao, namun alih-alih

hancur, jarum tersebut justru melepaskan energi hitam pekat yang bersifat

korosif, melubangi lapisan pelindung emas dalam hitungan milidetik sebelum

menembus ulu hati Luo Hao tepat di titik tengah koordinat dantian miliknya

berada.

Suara erangan tertahan keluar dari tenggorokan Luo Hao saat tubuhnya mendadak

kaku, disusul dengan hilangnya seluruh pendaran cahaya emas yang menyelimuti

dirinya sejak awal pertarungan. Ia jatuh berlutut dengan kedua tangan menekan

dadanya yang mulai mengeluarkan darah hitam pekat.

Di atas panggung pertarungan, tubuh Luo Hao bergetar hebat sebelum akhirnya ia

roboh ke lantai batu dengan mata yang membelalak menahan rasa sakit luar biasa

dari pecahnya Inti Emas di dalam tubuhnya.

"Ayah!" teriak Luo Chen dengan suara melengking dari arah tribun, mencoba

melompati pembatas kayu sebelum akhirnya didekap erat oleh ibunya yang juga

mulai panik melihat kondisi suaminya yang mendadak tumbang.

"Hao!" teriak Mu Xue menggendong putranya, berlari menuruni tangga tribun

dengan langkah yang tergesa-gesa menuju ke arah panggung batu pertarungan.

Dari arah deretan kursi tetua, seorang pria tua berambut putih panjang berdiri

dengan cepat, melompat turun dari panggung kehormatan dan melesat dalam satu

tarikan napas menuju tempat putranya terbaring. "Hentikan pertarungan!" teriak

Elder Luo Zhan seraya menempelkan telapak tangannya di punggung Luo Hao untuk

menyalurkan energi Qi murni, mencoba menahan kehancuran meridian putranya yang

menjalar cepat.

Dua orang penjaga panggung segera bergerak maju untuk menahan Luo Jun yang masih

berdiri tegak dengan senyum kemenangan yang sangat lebar di wajahnya. "Aku tidak

melanggar aturan apa pun, Tetua Agung," ujar Luo Jun dengan santai sambil

mengangkat kedua tangannya. "Senjata spiritual diperbolehkan dalam turnamen

ini."

"Dantian miliknya hancur," bisik Elder Luo Zhan dengan mata yang bergetar

menatap lantai panggung yang ternoda darah hitam, tangannya perlahan turun dari

punggung putranya yang kini mulai kejang-kejang. "Inti Emasnya... pecah menjadi

serpihan tanpa sisa."

"Jangan sentuh suamiku!" pekik Mu Xue yang baru saja sampai di atas panggung,

segera berlutut di samping tubuh suaminya yang dingin dan memeluk kepala Luo Hao

dengan erat.

Sambil menangis sesenggukan, Luo Chen kecil memegang erat tangan ayahnya yang

terus gemetar di atas lantai batu. "Ayah... bangunlah, Ayah... Chen'er ada di

sini..." tangisnya dengan suara yang serak karena terlalu banyak berteriak.

Di tengah keheningan arena yang mendadak mencekam, beberapa asisten tabib segera

membawa tandu kayu untuk mengevakuasi tubuh Luo Hao yang kini tidak lagi

memiliki sisa energi Qi sedikit pun di dalam tubuhnya—menandakan bahwa ia telah

berubah menjadi manusia fana yang lumpuh sepenuhnya.

1
🌹🌹Alika Moi🌹🌹
sangatbagus isi ceritanya tapi sayang tidak di lanjutkan.
Joe Maggot Curvanord
bagus cuma terlalu sedikit bab oer hari nya
JokyWong: oke makasih ya masukkan nya, nanti di up ya 2 bab per hari 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!