Season 2 novel SANG PENGASUH
Arya, Ricky, Rendi, dan Wiliiam, adalah empat pria tampan sold out yang telah menjalani senasib sepenanggungan gagal malam pertama karena kejahilan diantara mereka. Menjalani kehidupan rumah tangga tidak selancar jalan tol. Keempatnya mengalami ujian.
Diantaranya, Arya. Kemunculan salah satu keluarga yang dikira telah meninggal, hadir mengusik ketenangan rumah tangganya.
Pun dengan Rendi. Kedatangan adiknya dari Turki dan kini tinggal bersamanya malah membuatnya was-was.
Kisah kehidupan keempatnya, author kemas dalam satu bingkai cerita.
Kisah ini hanya fiksi. Jika ada kesamaan nama, tempat/perusahaan itu hanya kebetulan semata.
Selamat menikmati kisah yang bisa membuatmu senyum-senyum sendiri.
Cover free by pxfuel
Edit by me
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Dia?
Seminggu sudah Rade menapakan kaki di Bandung. Ia sama sekali belum keluar menjelajahi kota yang terkenal dengan julukan Paris Van Java itu. Perbedaan cuaca kala di Turki sedang memasuki summer, di Bandung saat ini tak tentu kadang panas kadang dingin padahal sedang berada pada masa musim hujan. Kondisi tersebut membuat tubuhnya ngedrop terkena flu karena harus beradaptasi dengan cuaca baru.
"Gimana udah enakan?" Marisa menghampiri Rade yang sedang berjemur di belakang usai dirinya mengantar Rendi yang akan bertugas ke rumah sakit.
"Alhamdulillah Kak, udah fit." Rade merebahkan badannya di kursi berjemur. Menikmati sentuhan sinar mentari yang menghangatkan kulitnya.
"Kalau udah enakan, gimana kalau kita main ke rumah Mama Rita? Mama nanyain kamu lho. Sekalian jalan-jalan biar gak bosen di rumah." Tawaran Marisa itu tentu saja disambut dengan sukacita oleh Rade.
"Kak Risa, sekalian hunting perlengkapan baby juga ya?" Rade merubah posisinya menjadi duduk, menatap dengan binar semangat membayangkan memilih pakaian bayi yang lucu-lucu.
"Kalau itu belum bisa sekarang, harus nunggu sebulan lagi. Kata Mama, nunggu 7 bulan dulu baru boleh belanja perlengkapan. Kata orangtua dulu mah pamali."
"Itu mitos sampe sekarang jaman canggih masih berlaku aja ya." Rade tertawa kecil menanggapi saran turun-temurun yang sampe sekarang masih diikuti kebanyakan masyarakat.
"Kalau kata Kak Rendi, ambil pesan moralnya aja. Usia kandungan trimester tiga kan udah kuat. Janin sudah berwujud bayi. Membeli keperluan bayi diusia ini lebir relevan. Kalau belanja pada saat masih berbentuk janin dikhawatirkan mubazir, karena kehamilan di usia awal rentan gagal."
Rade mengangguk setuju dengan alasan logis yang ini.
Mereka akhirnya berangkat menuju rumah Mama Rita dengan diantar sopir yang selalu stanby mengantar bumil disaat Rendi sedang bertugas.
.
.
.
Mama Rita yang sedang menata pot-pot tanaman di teras rumah,menyambut hangat kedatangan dua wanita cantik yang tampil modis dalam balutan tunik dan hijab pashmina yang baru turun dari mobil.
"Assalamualaikum--" Sapa Marisa dan Rade bersamaan.
"Waalaikumsalam...anak-anak Mama--." Bergantian Mama Rita memeluk Marisa dan Rade. Raut kebahagiaan tersirat dari wajah Mama Rita yang terlihat awet muda. Kemudian Mama mengajak keduanya masuk ke dalam rumah.
****
Di ruko Triple A Collection
Andina membawa serta kedua anaknya untuk mengecek kegiatan di ruko dan menunggu pihak konveksi yang akan datang mengantarkan baju untuk stok toko. Meski tidak setiap hari datang ke ruko, namun kegiatan olshopnya tetap berjalan sehat karena tiga orang yang bekerja dengannya bekerja penuh loyalitas dan jujur.
Jam 12 siang, sambil duduk bersandar di kepala ranjang, Andina menemani bobo siang Athaya dan Aqila di ranjang empuk kado Mama Rita saat dulu.
Si kecil bobo sambil menyusu dalam dekapan sang mama. Si sulung bobo dalam usapan lembut tangan kanan Mama Andin di rambutnya. Keduanya terlelap bersamaan, didorong buaian lantunan sholawat merdu yang meresap memberi ketenangan ke hati dan pikiran anak-anak lucu itu.
Satu per satu kening anak-anaknya dikecup dengan sayang. Berhalangkan guling yang memisahkan keduanya, Andina beringsut turun dari ranjang secara perlahan.
"Ceu, nitip anak-anak ya. Aku mau ke kantor Mas Arya dulu." Andina merapihkan penampilannya bersiap memanjakan bayi besar dengan membawakan bekal siang yang sudah dibawanya dari rumah.
"Siap, Neng. Eceu akan siaga," jawab Ceu Edoh sambil membantu melipat baju-baju yang baru datang dari konveksi dan sudah di QC oleh Andina.
Mama muda yang selalu gesit dalam setiap aktifitasnya, yang tak suka bermalas-malasan dalam mengisi waktu luang, mulai melajukan mobilnnya usai berpamitan pada Safa.
Mobil berhenti di lantai 3 area parkir bertuliskan 'VIP Parkir' dibawah arahan petugas yang mengatur posisi. Karena tempat itu dikhususkan untuk Direktur dan jajarannya. Petugas mengangguk sopan saat Andina keluar dari mobilnya.
Gedung parkir baru untuk kendaraan roda empat yang dibuat 3 tingkat usai pelebaran pembangunan itu, tampak penuh dengan kendaraan yang terparkir. Galaksi Dept store yang baru sebulan berubah nama menjadi Galaksi Plaza semakin ramai pengunjung karena banyak tenant kuliner baru yang hadir memanjakan lidah juga bioskop terkenal akan segera launching.
"Hai, mbak Andin!"
Andina yang berjalan tergesa menuju lift, sontak membalikan badannya begitu mendengar orang menyapanya.
Wanita cantik berambut coklat mendekat menghampiri Andina.
"Mau ke ruang Pak Arya ya, Mbak?" tanyanya kaku.
"Iya, Laura. Suamiku pengen makan siang buatan rumah. Makanya aku bawain." Andina tersenyum sambil mengacungkan tas jinjing yang ditentengnya.
"Aku juga mau ke Resto. Mau memantau kinerja karyawan." Laura tersenyum kikuk. Kesalahannya waktu itu membuatnya sungkan dan malu untuk menyapa Andina. Padahal beberapa kali Laura melihat Andina datang namun baru kali ia berani menyapanya.
"Baiklah, Laura. Aku duluan ya, suamiku sudah menunggu."
"Sebentar mbak Andin. Hmm...bisakah kita berteman?" tanya Laura ragu. Takut Andina menolaknya.
"Aku tidak punya musuh dan tak ingin punya musuh. Jadi, tentu saja kita bisa berteman." Andina mengulurkan tangan kananya. Laura tersenyum lebar menyambut uluran tangan itu dan mengucapkan terima kasih.
****
"Maaf, Mas. Aku terlambat ya. Tadi di parkiran ketemu Laura, mengajak berteman." Andina bicara sambil menyalakan microwave untuk memanaskan lauk yang dibawanya. Lalu bergegas menghampiri sang suami yang duduk di sofa.
Cup
Satu ciuman ia berikan di pipi suaminya itu yang tampak segar dengan rambut bagian depan yang masih basah.
"Tak apa, sayang. Aku juga baru selesai sholat."
"Kamu menerima permintaan Laura?" lanjut Arya penasaran.
"Iya, Mas. Aku gak mau punya musuh lebih baik banyak teman." Andina kembali bangkit mendengar suara alarm microwave berbunyi.
"Sayang, kamu selalu baik dengan semua orang. Tapi tetap harus hati-hati jangan sampai ada orang memanfaatkan kebaikanmu." Arya berbicara memperhatikan istrinya yang sedang menata makanan di meja.
"Mas gak usah khawatir. Aku selalu meminta perlindungan kepada Allah, untuk selalu menjagaku, menjaga suamiku dan menjaga keluarga kita. Ayo kita makan!" Andina menyerahkan piring yang sudah terisi untuk suaminya.
"Ah sayang, jawabanmu membuatku speechless. Makin cinta deh--" Kecupan kilat mendarat di bibir sang istri yang masih memegang piring untuknya.
"Suapin--"
"Tuh kan, ujung-ujungnya jadi bayi besar." Andina memutar bola matanya. Tak urung mengikuti kemauan suaminya itu. Jadilah makan sepiring berdua.
Usai menemani sang suami, Andina bersiap untuk kembali lagi ke ruko. Ia merapihkan lagi wadah kosong ke dalam tas yang dibawanya.
"Sayang, jangan terlalu capek. Aku gak mau kamu sakit." Arya memeluk Andina dari belakang sebelum melepasnya pergi. Ia menyandarkan wajah di bahu sang istri, memberi kecupan di pipinya.
"Aku cuma mengurus suami dan anak-anak. Pekerjaan rumah sudah ada yang menghandle. Ke ruko juga hanya sesekali untuk memantau. Dan aku ikhlas menjalaninya. Jadi aku gak akan merasa capek." Andina membalas mengecup pipi Arya yang masih bersandar di bahunya.
Arya menyunggingkan senyum bahagia, melepas kepergian Andina yang diantarnya sampai depan pintu lift.
****
Brug
"Maaf, Bu, saya tidak sengaja. Apa ada yang sakit?"
Pria muda yang berjalan tergesa sampai menabrak Mama Rita yang sedang berdiri, meminta maaf. Tangannya meraih tas Mama Rita yang jatuh.
"Bu, apa ada yang sakit?" Pria tadi mengulang pertanyaannya karena Mama Rita hanya diam mematung dan menatapnya tanpa kedip.
"Eh, ga papa-ga papa." Mama Rita tersadar dari keterkejutannya. Ia bicara dengan terbata.
Seorang pria berjas abu datang mendekat. "Boss, meeting akan segera dimulai, semua orang sudah menunggu." Rupanya dia adalah sang asisten yang mengingatkan agendanya.
"Permisi ya, Bu. Sekali lagi saya minta maaf." Pria tegap itu menganggukan kepalanya sebelum berlalu melewati Mama Rita yang tampak shock.
Marisa dan Rade keluar dari toilet menemui Mama yang menunggunya. Mereka bertiga berada di hotel usai melakukan perawatan Spa.
"Mama lihat apa?" Marisa mengernyit karena Mama terus memperhatikan ke arah lift.
"Mama barusan lihat orang yang mirip anaknya Pakde Waluyo." ujar Mama meski sedikit tak yakin.
"Ish Ma, mereka kan sudah meninggal kecelakaan. Mungkin aja kan ada orang yang mirip meski tak bersaudara. Yuk ah, kita pulang." Marisa mengamit tangan Mama diikuti Rade di belakangnya.