Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.
Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.
Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
COWOK YANG DULU SALMA SUKA
Bel sekolah berdentang panjang, menggema di sepanjang lorong-lorong yang sejak pagi dipenuhi suara tawa, keluh kesah, dan gesekan sepatu para murid. Seketika suasana berubah. Pintu kelas terbuka satu per satu, bangku digeser tergesa, dan halaman sekolah perlahan dipenuhi arus manusia yang bergerak pulang.
Beberapa murid berlari kecil sambil tertawa, sebagian lain berjalan santai, menggenggam ponsel atau menenteng tas yang tampak lebih berat dari pagi tadi.
Matahari sore menggantung rendah, menyusupkan cahaya keemasan di sela pepohonan tua yang berjajar di tepi lapangan, membuat bayangan memanjang di atas paving yang mulai hangat.
Di antara keramaian itu, Salma berdiri sejenak. Seperti di waktu-waktu biasa, pandangannya berhenti pada satu sosok yang selalu ia cari tanpa sadar—Erlangga.
Laki-laki itu berdiri tak jauh dari tangga kelas, ransel hitamnya tersampir di satu bahu. Posturnya tegap namun santai, seolah dunia di sekelilingnya bergerak lebih cepat daripada ritme langkahnya. Rambutnya sedikit berantakan, terkena cahaya sore yang membuatnya tampak lebih hangat dari biasanya. Wajahnya tidak berlebihan tampan, namun ada keteduhan yang sulit dijelaskan,yakni sorot matanya yang tenang, menyimpan sesuatu yang tak mudah ditebak. Senyumnya jarang terlihat, tapi ketika muncul, tipis dan singkat—selalu cukup untuk membuat dada Salma bergetar.
Hampir dua tahun. Waktu yang tidak singkat untuk menyukai seseorang dalam diam. Salma bahkan hafal kebiasaan Erlangga, cara ia menunduk sebentar sebelum melangkah, kebiasaan memasukkan tangan ke saku celana, juga caranya menoleh sekilas seolah memastikan sesuatu tak tertinggal.
Erlangga tidak pernah tahu betapa kehadirannya sederhana namun bermakna—sekadar berdiri di sana, di tengah hiruk pikuk pulang sekolah, sudah cukup membuat Salma merasa hari itu terasa sangat lengkap.
"Salma, lo belum balik?!" Seru seorang gadis mengejutkan.
Tidak hanya Salma yang menoleh ke arah Tari, tapi juga Erlangga. Ya. Laki-laki itu refleks menoleh ke arah mereka, namun tak lama, langkahnya perlahan bergerak, berlalu dan menghilang.
"Yaaaaaa...." Rengek Salma setengah protes. "Gara-gara lo, kesayangan gue jadi kabur!"
Tari tertawa. "Erlangga maksud, lo?"
Salma mengangguk.
"Udah... lebih baik lupain cowok itu. Gue punya satu info buat lo tahu!"
Salma mengernyitkan dahinya, "Apa?"
Tanpa banyak kata, Tari merogoh ponsel dari dalam tasnya, jemarinya bergerak cepat membuka sebuah layar, lalu mengangkatnya di hadapan Salma.
Salma menoleh. Dan di detik itu, dadanya seperti ditarik kuat.
Di layar ponsel Tari terpampang sebuah foto—Erlangga. Senyumnya kali ini nyata, tidak samar seperti yang biasa Salma lihat dari kejauhan. Di sampingnya berdiri seorang gadis. Rambut gadis itu terurai rapi, wajahnya cerah dengan tatapan mata yang yakin.
Senyum gadis itu tenang, seolah dunia berada pada tempat yang seharusnya ketika ia berdiri di sisi Erlangga. Penampilannya sederhana namun berkelas, serasi dengan Erlangga dalam cara yang menyakitkan untuk diakui.
Mereka tampak sepadan. Terlalu sepadan.
Seragam gadis yang berasal dari sekolah yang berbeda dengan mereka itu jatuh rapi di tubuhnya, gesturnya anggun. Dari sorot matanya, terpancar kecerdasan, bukan yang dibuat-buat, melainkan yang lahir dari keyakinan pada dirinya sendiri. Ia terlihat percaya diri, nyaman berada di sisi Erlangga, seolah keberadaan laki-laki itu memang sudah menjadi bagian dari dunianya. Sungguh, amat jauh berbeda dengan Salma yang selama ini hanya berani mencintai dari jarak aman.
Tangan Salma gemetar tanpa sadar. Pandangannya terpaku pada layar itu lebih lama dari yang seharusnya. Ada rasa panas di balik matanya, namun ia menahannya.
Dadanya sesak oleh satu kesadaran pahit, gadis itu terlihat begitu pantas berada di sisi Erlangga. Cantik, cerdas, dan utuh—sementara Salma merasa dirinya hanya serpihan perasaan yang tak pernah berani diakui.
"Lo harus lupain Erlangga, dia udah punya pacar!" Jelas Tari semakin memperjelas kenyataan pahit yang harus sahabatnya itu terima.
Salma menunduk, hatinya kecewa. Bukan karena hanya Erlangga bersama gadis lain—ia sudah lama menyiapkan dirinya untuk kemungkinan itu. Bukan pula karena rasa cemburu yang meledak-ledak. Yang membuat dadanya perih justru kesadaran sunyi bahwa selama ini ia terlalu pandai menyimpan perasaan, hingga tak pernah memberi dirinya sendiri kesempatan untuk diperjuangkan.
Ia kecewa pada dirinya sendiri.
"Lagi dan lagi. Kenapa..." Gumam Salma tanpa sadar.
"Sal, gue ngerti perasaan lo." Kata Tari menepuk pundak sahabatnya itu menenangkan. "Mungkin dia bukan jodoh lo. Masa depan lo itu bukan soal cowok, Sal... tapi cita-cita lo buat jadi orang sukses dan banggain keluarga lo nantinya. Urusan jodoh, biar Tuhan yang atur."
Salma menatap lurus ke arah Tari.
"Y-Ya, Okeee gue ngerti apa yang lo rasain sekarang. Ngomong emang gampang. Tapi coba deh lo pahami kalimat gue barusan. Sal, itu artinya... Tuhan belum nyiapin yang terbaik buat lo."
****