Jaka Utama adalah seorang "Antagonis" profesional. Tugasnya sederhana: menjadi tunangan jahat yang menyebalkan, dipermalukan oleh sang pahlawan, lalu mati secara tragis agar cerita berakhir bahagia. Namun, di reinkarnasinya yang ke-99, sebuah kesalahan fatal terjadi. Kalimat puitis yang ia ucapkan saat sekarat justru membuat sang Heroine (pahlawan wanita) jatuh hati padanya, membantai sang jagoan utama, dan merusak seluruh alur dunia!
Kini, Jaka terbangun kembali di Joglo miliknya untuk kesempatan ke-100—kesempatan terakhirnya. Kali ini, ia dibekali sebuah sistem baru: Buku Harian Ajaib. Cukup dengan menuliskan keluh kesah dan rencana jahatnya setiap hari, ia akan mendapatkan kekuatan luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirabumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
“Ah, itu….”
Ada apa dengan perawan tua ini? Ke mana perginya sifat dingin dan irit bicaranya? Jaka Utama tertangkap basah sedang berbohong dan mendadak salah tingkah. Setelah memutar otak sejenak, dia menemukan alasan yang terdengar masuk akal.
“Begini ceritanya, Ningsih. Waktu aku masih kecil, aku pernah bertemu dengan seorang sakti mandraguna. Katanya, aku punya bakat terpendam yang cuma muncul satu banding sejuta.”
“Jadi, beliau memasukkan sebuah mustika penawar racun ke dalam pusat tenaga dalamku supaya aku tidak mati konyol kalau diracuni orang. Oh iya, dia juga pesan agar rahasia ini tidak boleh dibocorkan ke siapa pun. Jadi Ningsih, kamu harus tutup mulut, ya.”
Mustika penawar racun?
Naningsih tidak percaya begitu saja. Dia segera mencengkeram kerah baju Jaka dan mengangkatnya dari kursi roda.
“Ningsih! Apa-apaan ini!” Jaka terkejut dengan tindakan kasar asistennya.
“Memeriksa seberapa sakti 'mustika' yang kamu bicarakan itu.”
Mengabaikan rontaan Jaka, Naningsih dengan terampil melepas sabuk pinggang Jaka. Telapak tangannya yang hangat dan lembut merogoh ke balik pakaian Jaka, menempel tepat di perut bagian bawah, di pusat tenaga dalamnya.
Jaka merasakan sensasi hangat yang menjalar ke perutnya. Dia juga merasakan energi murni perlahan disuntikkan dari telapak tangan Naningsih masuk ke dalam tubuhnya.
Sial, Pil Ledakan Racun milikku bakal ketahuan!
“Apakah ini…?” Naningsih sedikit mengernyit.
Dia menemukan bahwa di dalam pusat tenaga dalam Jaka, ada sebuah pil hitam seukuran kelereng yang melayang tenang. Meskipun kecil, pil itu dikelilingi oleh aura hitam yang sangat pekat.
Inikah pil yang menawar racun itu? Kalau benar, berarti racun siluman pohon di kaki Ratna Menur dan racun ular hitam milik Langgeng Sakti semuanya diserap ke sini? Aku jadi penasaran, apa pil ini juga bisa menghisap... racun di tubuhku sendiri?
Naningsih menatap Jaka dalam diam untuk waktu yang lama. Pikirannya melayang entah ke mana.
“Ningsih, kamu… kenapa?” Jaka sedikit menggigil ditatap begitu.
“Tidak ada. Jangan ganggu aku selama dua hari ke depan.” Naningsih menurunkannya, berbalik, dan langsung keluar kamar.
Jangan ganggu dua hari? Kenapa? Jaka menggaruk kepalanya bingung. “Ah sial, aku ingat!”
Setelah berpikir keras, Jaka mendapat pencerahan. Kenapa Naningsih bilang begitu? Karena hari ini adalah jadwal Racun Tirta Sejati di tubuhnya beraksi!
Fisik Naningsih adalah salah satu dari Lima Raga Agung: Raga Tirta Murni. Seorang pendekar yang memiliki fisik ini punya kekuatan elemen air yang sangat dahsyat. Itulah alasan kenapa Naningsih jauh lebih kuat dari pendekar lain di tingkat yang sama.
Tapi, kekuatan itu ada harganya. Sebuah racun permanen tumbuh di tubuhnya: Racun Tirta.
Tsk, sebenarnya racun itu adalah asupan tenaga yang luar biasa, batin Jaka. Racun itu tidak mematikan, melainkan bisa memicu peningkatan kesaktian secara drastis. Masalahnya, kalau sedang kambuh dan tidak diredakan, ada risiko besar jatuh ke dalam kegelapan batin. Paling ringan ilmunya macet, paling parah kesaktiannya hilang selamanya.
Jaka tahu ini karena di masa depan (dalam plot asli), Naningsih sendiri yang akan menceritakan rahasia ini kepadanya.
Jaka menoleh ke arah dinding kamar sebelah. Itu adalah kamar Naningsih.
“Dia pasti sedang menyiapkan air mandi sekarang, bersiap menahan serangan racun itu. Karena aku tidak boleh mengganggunya, mending aku menyelinap keluar buat jalan-jalan sendirian. Toh, tidak akan merusak plot utama. Kalau aku tetap di kapal ini, telingaku bisa panas dengar teriakannya dari sebelah.”
Di kamar sebelah, suasana sunyi dan kuno.
Di dalam ruang mandi yang luas, Naningsih melepas kebayanya dan menggulung rambutnya yang indah. Kaki jenjangnya yang putih mulus meluncur ke dalam bak mandi kayu jati. Air yang bertabur kembang mawar dan melati itu meluap keluar saat dia menenggelamkan tubuhnya.
Uap harum memenuhi ruangan seperti kabut di pegunungan, memberikan kesan tenang. Namun, hati Naningsih sedang berkecamuk.
“Pil penawar racun milik Jaka... apa bisa menawar Racun Tirta-ku juga?” gumamnya sedih. “Hari ini, saatnya racun ini kembali menyiksa.”
Dia bersandar lesu di tepi bak mandi, menatap kosong ke langit-langit sambil menunggu serangan itu datang. Entah berapa lama berlalu, kulit kuning langsat Naningsih tiba-tiba berubah menjadi lebih jernih dan mengkilap.
“Sudah dimulai….”
Di seluruh permukaan kulitnya, lapisan cairan transparan yang licin mulai merembes keluar.
“Mmm~”
Erangan tertahan bergema di kamar mandi. Dia menggigit bibir, jari-jari kakinya mengepal erat, dan tangannya mencengkeram pinggiran bak mandi sekuat tenaga, mencoba menahan gejolak aneh yang menyiksa tubuhnya.
Keesokan paginya.
Matahari pagi menyinari wajah Jaka yang sedang tidur. Tiba-tiba, terdengar teriakan melengking yang panjang dari kamar sebelah. Suara itu tidak berhenti-henti.
“Perawan tua ini, berisik sekali,” gumam Jaka bangun sambil mengucek mata.
“Seharian semalam dia pasti menderita. Sebagai pemimpin padepokan, harusnya aku bantu, ya?” canda Jaka pada diri sendiri. Tapi dia tidak berani pergi.
Dulu, di salah satu reinkarnasi, dia pernah nekad masuk ke kamar mandi saat Naningsih sedang begini. Memang adegan itu sangat menggoda imajinasi, tapi hasilnya berdarah. Dia dipenggal di tempat saat matanya masih melotot melihat tubuh Naningsih. Di ronde-ronde lain, kalau tidak dipenggal, kepalanya pecah kena pukul. Jadi, Jaka kapok.
Setelah sarapan, Jaka merenung. Dia tetap tidak paham kenapa Ratna Menur dan Langgeng Sakti bisa melenceng dari naskah. Sistem pun tutup mulut.
“Ya sudahlah, nasi sudah jadi bubur. Yang penting hasil akhirnya jangan sampai berubah. Kemarin Langgeng sudah menghajarku (meski pakai racun), dan Ratna sudah melihat Langgeng jadi pahlawan. Plot utamanya masih aman. Soal ciuman itu... ya sudahlah, murni kecelakaan kerja.”
“Hari ini aku tidak ada jadwal syuting, jadi waktunya santai-santai. Tapi sebelum itu, tulis diary dulu. Mari lihat hadiah apa yang diberikan sistem hari ini!”
Jaka Utama memanggil buku harian gaibnya dengan penuh semangat.