NovelToon NovelToon
Rebith: Menjadi Istri Protagonis

Rebith: Menjadi Istri Protagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: raintara

"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"

Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.

Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.

Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?

Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.

Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Kegagalan Zana

Brakk!! 

Zana menegang. Bantal di genggamannya terlepas. Sontak Kanaya sebagai korban menghirup nafas rakus.

Di ujung pintu, Kalendra--- matanya menyorot tajam pada Zana yang sudah menggigil ketakutan.

"Sialan. Kau cari mati, hah?!"

Saat Kalendra akan menghampirinya bersama auranya yang ingin membunuh, dengan cepat Zana berlari. Mendorong tubuh tegap Kalendra secara serampangan.

Pergerakannya kalah cepat, dengan cekatan Kalendra menahan lengan perempuan itu kuat. Mencengkramnya hingga sang empu meringis sakit. Tetapi Zana tak kehabisan akal, dia tidak ingin ketahuan dan semua bayangan indahnya buyar. Maka, sekuat tenaga ia injak kaki Kalendra menggunakan heels yang dipakainya.

Berhasil.

Kalendra sontak melepaskan cekalannya terkejut. Hal itu tak disia-siakan oleh Zana. Segera ia berlari menuju tempat di mana tadi dia berganti pakaian. Perempuan itu tabraki orang-orang yang berlalu lalang karena menghalangi pelariannya.

Membuka pintu ruangan kasar, kemudian menutupnya tak kalah kencang, Zana mengunci pintu dengan tangan yang bergemetar.

Mencoba mengendalikan laju jantungnya yang bertalu-talu, Zana melepas masker yang menutupi wajahnya. Melempar benda itu kasar, perempuan itu tak tahan untuk tidak mengumpat.

"Sial!" runtuknya mengacak rambutnya frustasi.

Hampir saja. Hampir saja rencananya sukses. Hampir saja Kanaya kehabisan nafas. Dan semua itu harus sia-sia karena kedatangan laki-laki yang sedang dia usahakan.

Kalendra--- kenapa dia harus datang di waktu yang tidak tepat? Tidak tahukah dia, Zana melakukan ini semua untuknya.

Sekarang, Zana hanya bisa berharap Kalendra tidak mencurigai dan menendang dirinya jauh dari laki-laki itu.

Tidak bisa sebelum Zana berhasil menghabisi Kanaya.

Kau memang bodoh, Zana. Dua kali melakukan percobaan pembunuhan, dua kali pula kau gagal. Dasar payah. 

Suara itu datang, mengejek Zana yang sedang kesal, membuat amarah perempuan itu semakin memuncak.

"Diamlah! Kau hanya bisa memerintah tanpa memberikan solusi!" seru Zana yang dibalas oleh tawa menggelegar dari suara tak bertuan itu. Tawa yang hanya bisa di dengar oleh Zana seorang.

Kau saja yang bodoh! Membu-nuh satu orang perempuan saja tidak becus.

"Tidak segampang itu, sialan!" umpat Zana tak terima.

"Bahkan di kecelakaan itu, saat supirnya dan supir truk itu tewas, Kanaya masih bisa selamat. Seakan ada sesuatu tak kasat mata yang melindunginya."

Zana pikir, Kanaya akan tewas mengingat seberapa ringseknya mobil akibat kecelakaan. Bahkan supir pribadi kediaman Wijaya dan supir truk itu pun tewas. Nyatanya harapannya harus pupus, kala mendengar kabar Kanaya berhasil melewati masa kritisnya.

Ya kau benar. Ada yang melindungi pengganggu itu. 

Zana terdiam. Dia hanya asal bicara saja tadi. Tapi lihatlah informasi yang dia dapatkan.

"Maksudmu, Kanaya memang sudah dilindungi? Oleh siapa?"

Oleh seseorang yang menentang akhir yang sama.

"Yaa, siapa dia?"

Untuk itu, kau harus mencari tahu sendiri. Karena sesuai perjanjian di awal. Aku hanya bisa memberikan clue kepada bonekaku tanpa membeberkan kebenarannya.

Hening, sebelum akhirnya suara tak bertuan itu kembali terdengar.

Zana, aku punya saran untukmu. 

Zana masih diam. Seolah sedang menunggu kalimat selanjutnya dari suara tak berwujud itu.

Untuk menghabisi Kanaya, buatlah orang terdekatnya yang melakukannya. Orang yang selama ini menjaganya mati-matian. Dengan itu, pelindung Kanaya tidak akan bisa melakukan apa-apa, karena dua manusia yang dia inginkan bersatu malah membunuh satu yang lainnya.

Orang yang menjaga Kanaya mati-matian, hanya satu nama yang terlintas di benak Zana saat ini.

Kalendra.

.

.

"Bedebah sialan!"

Kalendra tak dapat menahan geramannya kala melihat cctv yang menunjukkan seseorang berpakaian suster yang menyelinap masuk ke kamar istrinya.

Bodoh. Jika dia pikir dengan menyamar, Kalendra tidak akan mengetahui identitas aslinya, maka ja-lang itu salah besar. Dia terlalu meremehkan seorang Kalendra Wijaya.

Lalu, tiba-tiba Kalendra mengeluarkan seringainya, dengan mata menatap layar komputer penuh arti. Kontras dengan amarah yang baru saja meledak-ledak.

"Rio."

"Ya Tuan?"

Awalnya sekertaris Kalendra itu kesal bukan kepalang. Bisa-bisanya bosnya itu menelponnya di waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat. Tetapi, setelah mengetahui masalah ini cukup genting, laki-laki itu melupakan rasa kesalnya dan bersikap profesional.

"Suruh para bawahan kita untuk menangkap ja-lang itu. Bawa ke tempat biasa, suruh mereka untuk menyiksanya dan jangan sampai mati. Jika perlu, suruh mereka untuk mengoyak harga dirinya juga." perintah Kalendra mengalun rendah yang tak bisa dibantah.

Di tempatnya, Rio menelan salivanya susah payah. Sudah lama sejak terakhir kali dia mendapatkan perintah yang berhubungan dengan tempat itu.

Tempat di mana Kalendra menunjukkan sisinya yang lain. Sisi yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali dirinya. Detik itu juga, Rio menyadari, bahwa nasib perempuan yang ada pada layar, tidak akan berakhir baik.

Nasib yang tragis telah menantinya.

.

.

"Anda baik-baik saja, Nyonya?"

Entahlah. Kanaya tidak dapat menjawab pertanyaan Ami secara pasti. Dirinya masih terlalu syok. Bisa-bisanya orang yang dia kira baik dan polos, malah berusaha...menghabisinya.

Sifat Zana sangat berbeda seperti yang ada pada ingatannya.

Di kehidupan yang dulu, Zana sangatlah polos. Pemalu dan penakut. Bahkan perempuan itu kerap menujukan tatapan rasa bersalahnya kala Kanaya melihatnya bersama Kalendra.

Namun sekarang. Apa yang terjadi dengan perempuan itu sebenarnya. Atas landasan apa dia ingin menyingkirkan Kanaya dari dunia ini.

"Aku bingung, Bi. Kenapa Zana berusaha membu-nuhku, apa salahku padanya?"

"Nyonya, terkadang....bukan karena anda memiliki salah yang menyebabkan seseorang membenci."

Kanaya menatap Ami bingung.

"Benci? Zana membenciku? Tapi kenapa?"

"Mungkin...iri? Mungkin dia tidak membenci anda, tapi ketika melihat betapa sempurnanya hidup anda, sisi buruknya muncul tak terima.

"Di saat dia hidup kesusahan, ada orang lain yang hidupnya terasa sangat mengagumkan. Kedengkian mengatakan 'seharusnya itu menjadi milikku'. Apalagi, ketika dia datang kemari, Nyonya kerap kali mencoba mendekatkan dia dengan Tuan Kalendra. Sisi rakusnya semakin bertambah liar."

"Lalu, kenekatan itu muncul. Saat dia ingin menyingkirkan Nyonya dan merebut semua yang Nyonya miliki."

Kanaya diam. Mencoba mencerna setiap kata yang Ami ucapkan. Zana...Kanaya tidak akan pernah menyangka dia memiliki pemikiran seperti itu.

Ya, Kanaya akui dia salah dengan mencoba menjodohkan Zana dengan Kalendra. Tetapi, pada saat itu dia mengira jika Kalendra dan Zana memang harus bersatu. Terlepas saat melakukan tindakan bodoh itu, hatinya merasa sesak tak nyaman.

"Nyonya." suara Ami kembali terdengar.

"Jangan terus menerus berpatokan pada masa lalu. Bukankah masa lalu ada untuk dijadikan pelajaran?"

Deg. Kata-kata itu lagi.

Kanaya menatap Ami penuh tanya. "Bi, jika aku bertanya, apa Bi Ami mau menjawab jujur?"

Ami tersenyum. Seolah memang sudah menantikan ini. "Tentu, Nyonya."

"Apa Bi Ami tahu, kalau...aku sedang mengulang kehidupan pertamaku?" Ami menyunggingkan bibir puas.

"Ya. Saya tahu. Orang di mimpi anda waktu anda kritis, itu memang saya."

Fakta apa lagi ini? Sebenarnya genre hidup apa yang sedang Kanaya jalani?

Kanaya ingin bertanya lebih banyak. Sayangnya, Kalendra terlanjur datang. Meminta Ami untuk keluar dan meninggalkan mereka sendiri.

Kanaya mendesah kecewa. Hal yang dapat Kalendra tangkap, sehingga berpikir jika Kanaya tidak menyukai kedatangannya.

"Aku telah menggangu kalian?" tanya Kalendra. Mengusap pipi Kanaya yang terasa dingin.

"Tidak. Bukan seperti itu. Hanya---" ahh, tidak. Sebaiknya Kalendra tidak mengetahuinya.

"Kami sedang menggosip dan kau datang mengganggu." ujar Kanaya pada akhirnya.

Kalendra terkekeh. Dia ci-um puncak kepala Kanaya singkat. "Bagaimana keadaanmu, masih ada yang sakit?"

Kanaya menggeleng. "Tidak ada. Hanya sedikit syok."

"Kau tenang saja." Kalendra membawa sang istri agar bersandar pada dadanya.

Kanaya menerima dengan senang hati. Toh, rasanya nyaman dan aman. Memejamkan matanya, perempuan itu mulai menikmati elusan telapak tangan Kalendra pada surainya.

"Dia akan mendapatkan balasannya karena berani melukaimu."

Kanaya tidak terkejut. Dengan kekuasaannya, Kalendra bisa melakukan apa saja. Dan ya, Kanaya tidak akan melarang. Mungkin, memang sebaiknya Kalendra-lah yang menyadarkan Zana tentang posisinya.

Sayangnya...apa yang Kalendra katakan tidak sesederhana yang Kanaya bayangkan.

1
Resti Rahmayani
kenapa harus berbohong, padahal untuk memulai sesuatu harus jujur walaupun sakit dan lagi pula suaminya tau walaupun hasil nguping sih ..
Ahrarara17
Lagi kak, up lagi
wwww
novel se seru ini ko sepi bgt sih 🤔 padahal bagus loh guys 👍🏻 semangat buat author nya 🫶🏻
raintara06: terhura bgt bacanya 🤧🤧tengkyu yaa🩵
total 1 replies
Ahrarara17
Ceritanya keren
Ahrarara17
Yuk, kak. Lanjut yuk, ceritanya. Ditunggu upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!