"Aku butuh istri untuk mendapatkan warisan Kakek, dan kamu butuh uang untuk pengobatan ibumu. Adil, kan?" — Aksara Danendra.
Bagi Aylin, pernikahan ini hanyalah transaksi pahit. Ia rela membuang harga dirinya dan menjadi 'Istri Bayaran' demi pengobatan sang ibu. Ia berjanji tidak akan melibatkan hati, apalagi pada pria dingin dan penuh rahasia seperti Aksara. Bagi Aylin, semua lelaki sama saja brengsek.
Namun, bagaimana jika di atas kertas kontrak yang dingin itu, benih cinta justru tumbuh secara perlahan? Dan bagaimana jika saat cinta itu mulai mekar, Aylin menyadari bahwa dirinya hanyalah tameng untuk rahasia gelap suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.22 -Emilia Luna Grace
Setelah Aksara dan Aylin berangkat kerja, serta kedua pekerja barunya pamit ke pasar, Rosalind memutuskan untuk menikmati ketenangan apartemen mewah itu. Ia menyalakan televisi, menonton acara memasak yang belakangan menjadi favoritnya. Namun, meski matanya menatap layar, pikirannya melayang jauh.
Rosalind memiliki sebuah impian sederhana yang ia simpan dalam hati: ia ingin memiliki rumah makan sendiri. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa mandiri tanpa harus terus bergantung pada menantunya. Ada rasa sungkan yang terus menggelayut; ia merasa kehadirannya mungkin mengganggu privasi Aksara dan Aylin sebagai pengantin baru.
"Semoga suatu saat nanti aku bisa punya rumah makan dan rumah kecil sendiri. Aylin dan Aksara... mereka pasti ingin waktu berdua tanpa dicampuri orang tua," gumam Rosalind lirih sambil tersenyum tipis, mulai merencanakan masa tuanya dalam lamunan.
Namun, ketenangan itu seketika pecah saat bel apartemen berbunyi nyaring. Rosalind mengernyit bingung. Bi Rita dan Dila tidak mungkin kembali secepat ini karena pasar cukup jauh dari sini. Siapa yang bertamu sepagi ini?
Ia melangkah menuju pintu. Entah kenapa, tiba-tiba jantungnya berdebar kencang secara tidak wajar. Rasa sakit dan sesak yang sudah lama ia kubur mendadak hadir kembali, menghimpit dadanya hingga ia sulit bernapas. Seolah-olah instingnya sedang memberi peringatan akan datangnya badai.
Begitu pintu terbuka, Rosalind mematung. Seluruh otot di tubuhnya menegang saat melihat sosok pria paruh baya berdiri di hadapannya.
"Ka-kamu..." lirih Rosalind. Pandangannya mengabur, tubuhnya limbung seolah gravitasi menghilang dari bawah kakinya. Beruntung, ia masih sempat berpegangan pada daun pintu yang kokoh.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Rosalind dengan nada suara yang bergetar hebat. Ada perpaduan antara trauma, takut, dan kemarahan yang meluap dalam satu kalimat itu.
Pria itu, Reynan—mantan suaminya—menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada guratan penyesalan di wajahnya yang mulai dimakan usia, sangat kontras dengan sosok angkuh yang puluhan tahun lalu pernah membuangnya tanpa belas kasihan.
"Ros, aku..."
"Jangan panggil aku dengan mulut itu!" potong Rosalind dingin. "'Ros' adalah panggilan yang sudah mati sejak kamu memilih wanita itu. Aku tidak sudi namaku disebut oleh lelaki yang sudah membuang darah dagingnya sendiri!"
"Rosalind, maafkan aku. Aku hanya ingin bertemu dengan anak ki—"
"Anakku! Aylin hanya anakku, bukan anakmu!" jerit Rosalind, meskipun ia berusaha menahan suaranya agar tidak histeris, namun getaran kemarahan itu tidak bisa disembunyikan. Air mata mulai mengalir di pipinya yang memucat.
Di ujung koridor, Arvano yang baru saja keluar dan hendak pergi bekerja mendadak menghentikan langkahnya. Ia mematung, telinganya menangkap setiap kata dari pertengkaran tersebut. Arvano tidak bodoh; dia tahu ini adalah informasi emas. Ia segera merapat ke dinding, diam-diam mengaktifkan perekam suara di ponselnya.
"Wah, pertunjukan yang bagus," bisik Arvano menyeringai licik. Ia merasa baru saja menemukan senjata nuklir untuk menghancurkan posisi Aylin di hati Aksara. Jika Aksara tahu istrinya memiliki latar belakang keluarga yang "berantakan", bukankah itu akan mempermudah jalannya menyingkirkan Aylin?
"Pergi dari sini! Aku bilang pergi!" suara Rosalind semakin meninggi.
"Rosa, aku mohon... aku hanya ingin berbicara sebentar," pinta Reynan memelas.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan! Hubungan kita sudah lama berakhir sejak kamu memilih cinta pertamamu yang jauh lebih penting dari anak dan istrimu sendiri! Pergi sekarang, atau aku akan panggil keamanan!" ancam Rosalind dengan tatapan mata setajam silet.
Reynan tertegun. Ia melihat mantan istrinya kini begitu keras dan tak tersentuh. Setelah beberapa saat terdiam, ia akhirnya mengalah.
"Baiklah, aku akan pergi. Tapi aku akan kembali lagi. Aku akan menemui Aylin... dan menantuku."
"Dasar tidak tahu malu! Menantu katanya, cih," desis Rosalind jijik sebelum akhirnya membanting pintu dengan suara keras.
BRAKK!
Arvano yang melihat Reynan pergi segera menyimpan ponselnya. Ia menyesuaikan letak jam tangannya sambil menyunggingkan senyum kemenangan.
"Oh... jadi pria tua itu ayahnya? Benar-benar menarik," gumam Arvano dengan nada rendah yang penuh rencana jahat.
*
*
Siang harinya di kafe, suasana sangat sibuk. Aylin tampak cekatan membantu Renata menyiapkan pesanan pelanggan yang terus mengalir tanpa henti.
Di jam sibuk seperti ini, ia tidak keberatan turun tangan membantu pelayan mengantarkan pesanan. Baginya, dapur dan aroma masakan adalah obat paling ampuh untuk melupakan sejenak kegelisahan hatinya.
"Mbak Aylin," panggil Caca dengan suara pelan.
"Iya, Ca. Ada apa?" tanya Aylin, wajahnya tampak lebih segar setelah berkutat dengan pekerjaannya.
"I-itu... Mbak dipanggil Pak Arvano ke ruangannya," cicit Caca ketakutan. Semua karyawan tahu betapa dingin dan perfeksionisnya manager kafe mereka yang satu ini.
"Oh, ya sudah. Makasih ya, Ca. Tolong ini antarkan ke meja nomor sembilan," balas Aylin tenang, dibalas anggukan cepat oleh Caca.
Aylin sebenarnya bingung kenapa Arvano memanggilnya. Setelah berpamitan pada Renata, ia melangkah menuju ruangan Arvano.
Begitu pintu terbuka setelah mendapat izin masuk, indra penciuman Aylin langsung disambut perpaduan aroma parfum maskulin yang tajam dan sentuhan aroma feminin yang elegan. Sangat kontras.
Ini adalah pertama kalinya Aylin berhadapan langsung secara pribadi dengan Arvano—pria yang dikabarkan sangat dekat dengan Aksara.
"Maaf, Pak. Anda memanggil saya?" tanya Aylin seprofesional mungkin.
Arvano memutar kursi kebesarannya, lalu berdiri perlahan. Ia melangkah mendekati Aylin dengan tatapan menilai. Aylin harus mengakui dalam hati, Arvano memang tampan. Namun baginya, pesona Aksara jauh lebih berwibawa dan menenangkan.
"Jadi, kamu... istrinya kekasihku?" ucap Arvano dingin, suaranya terdengar meremehkan. "Akhirnya, aku bisa melihatmu dari dekat."
Aylin mengerutkan kening, merasa jengah dengan tatapan pria di depannya. "Ada apa Anda memanggil saya? Jika ini bukan urusan pekerjaan, lebih baik saya kembali ke dapur."
Aylin ingin sekali memutar bola matanya. Bisa-bisanya Aksara menyukai lelaki seperti ini ihh, amit-amit, batin Aylin dongkol.
Arvano terkekeh sinis. "Baiklah, baiklah. Kamu cukup berani juga ternyata. Hebat, tidak mudah ditindas."
Arvano berjalan mengitari Aylin, seolah sedang mengintimidasi mangsanya. "Aylin, asal kamu tahu saja. Walaupun aku kekasih rahasia Aksara, di hati Aksara sebenarnya tidak ada aku."
Arvano memperhatikan wajah Aylin, mencari celah keraguan atau rasa sakit di sana. Namun, wajah Aylin tetap datar tanpa ekspresi.
"Kamu ingin tahu siapa perempuan yang sebenarnya dicintai Aksara?" bisik Arvano tepat di samping telinga Aylin.
"Aku tidak ingin tahu. Biarkan saja itu menjadi rahasianya sendiri," balas Aylin tegas tanpa menoleh.
"Yakin tidak mau tahu?" goda Arvano lagi dengan nada yang semakin menyebalkan.
"Jika Anda hanya ingin mempermainkan saya, lebih baik saya kembali bekerja. Permisi," sahut Aylin ketus. Ia membalikkan badan, hendak meraih gagang pintu.
Namun, tepat sebelum jemarinya menyentuh pintu, Arvano menyebutkan satu nama dengan penekanan yang membuat seluruh tubuh Aylin mendadak kaku.
"Emilia Luna Grace."
"Aksara selalu memanggilnya, Luna. Karena itu adalah panggilan kesayangan Aksara pada Emilia." Lanjut Arvano, tersenyum puas.
Langkah Aylin terhenti. Tangannya menggantung di udara. Nama itu... nama yang sama dengan pesan di ponsel Aksara tadi pagi.
Bersambung ...
😄😄
🤣
berarti muka'mu tetap datar ya Aks...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣