MOHON MAAF, INI NOVEL PERTAMA SAYA, ISINYA MASIH SANGAT BERANTAKAN.LEBIH-LEBIH ALURNYA JUGA LONCAT-LONCAT. BTW LANJUTAN DARI NOVEL INI LEBIH RAPI YA, JUDULNYA PETUALANGAN ZHANG XIUHAN. TRIMS DAN MAAF SEKALI LAGI...
Zhang Xiuhan merupakan pemuda biasa saja yang tak memiliki keahlian bela diri. Meski tak memiliki latar belakang kependekaran, kebaikan hatinya telah berhasil mematahkan Mantera pada Pedang Naga Emas yang kemudian memaksanya untuk masuk dan terlibat di dunia persilatan.
Tak hanya terlibat di dunia kependekaran, Zhang Xiuhan juga melibatkan dirinya dalam memerangi militer Kekaisaran Min yang telah melakukan penjajahan di banyak wilayah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hashirama Senju, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 33 - Membuka Pintu Pusaka Bertuah
"Sekarang, aku tanya dirimu. Apakah Kau menginginkan Kitab Bambu Bertuah?"
Guru besar berang-berang bertanya dengan nada berat dan berwibawa. Li Jie mengernyitkan kening. Ia berpikir bahwa mungkin kitab itu akan membuatnya semakin kuat, tapi ia merasa belum pantas mendapatkannya. Li Jie menunduk menggelengkan kepala.
"Tidak Tuan Guru Besar. Li Jie belum pantas menerimanya. Li Jie hanya ingin keluar dengan selamat dari tempat ini."
"Sudah kubilang. Hentikan kebodohanmu dan lanjutkan kebaikanmu." Guru besar berang-berang mengucapkan kalimat dengan tenang dan masih mengalirkan hawa kebijaksanaan.
"Anak Muda, tak ada satu pendekar pun yang melewatkan kesempatan untuk menjadi semakin sakti. Selama hal tersebut ditempuh dengan jalan yang tidak melanggar aturan, Kau berhak dan pantas mendapatkannya."
"Kebaikan memang dekat dengan kebodohan. Dan kecerdasan juga dekat dengan tipu muslihat. Tapi kau bisa mengambil tengah-tengahnya, menjadi pintar tanpa harus menjadi licik. Jadi, kutanya sekali lagi, apakah kau menginginkan Kitab Bambu Bertuah?"
"Ya, Tuan Guru Besar. Saya menginginkannya. Saya ingin menjadi kuat untuk membuat kebaikan saya lebih bermanfaat."
"Bagus... Aku menghendakimu untuk membuka pintu pusaka bertuah. Kau juga menghendaki untuk mendapatkannya. Sekarang, buka matamu."
Li Jie membuka matanya, ternyata ia telah berada di tempat lain. Di dalam hutan bambu kuning yang sangat sejuk dan berhawa segar. Hutan luas dengan tumbuhan bambu kuning di mana-mana, burung bercicit saling bekejaran di udara.
Meski telah mengalami banyak kejadian yang ajaib, Li Jie tetap kaget dan keheranan begitu mengalami hal-hal baru dalam hidupnya.
"Bagaimana... Bagaimana.... Indah bukan tempat ini?"
Li Jie melihat guru besar Berang-berang kini telah kembali seperti semula. Ia berbicara dengan nada cepat dan mondar-mandir tak tentu arah.
"Ayo... Ayo... Anak muda, kutunjukkan padamu harta benda kami..." Berang-berang itu mengajak Li Jie untuk mengikuti langkahnya.
Berang-berang itu membawa Li Jie ke sebuah batu besar yang ditumbuhi sebatang bambu kuning tunggal.
"Tebanglah bambu kuning ini dengan apa pun. Kau akan mendapatkan pusaka Kitab Bambu Bertuah setelah bambu itu patah."
Li Jie bersiap menarik pedangnya. Dengan konsentrasi penuh ia menebaskan pedangnya ke bambu kuning itu.
Suara kemeretak muncul seiring pedang Li Jie berbenturan dengan sebatang bambu kuning, bukan bambunya yang retak melainkan pedang Li Jie yang ternyaya mengalami keretakan.
Li Jie mencoba dengan lebih keras lagi, ia melapisi pedangnya dengan es untuk menjaganya agar tidak patah saat ditebaskan lagi ke batang Bambu Kuning.
Usaha yang dilakukan Li Jie tak membuahkan hasil. Bahkan, bambu itu tak tergores sedikit pun. Li Jie menengok ke arah guru besar berang-berang, Li Jie melihat berang-berang itu sedang menguap kebosanan.
Li Jie merasa malu dan kesal. Ia mengerahkan seluruh kekuatan yang ia miliki dan pada puncaknya terdengar ledakan yang cukup keras yaitu benturan hebat antara dua kekuatan.
"Apa itu... Apa itu... Apa itu?" Berang-berang kecil mendadak terbangun dari tidurnya. Ia tergeragap mengelap air liurnya dan modar-mandir tanpa arah.
"Anak muda... Kenapa kau lemas begitu? Baru saja kusuruh menebang satu pohon sudah lemas begini. Bagaimana ini... Bagaimana ini..." Berang-berang kecil bersungut-sungut memandangi Li Jie yang terduduk dengan keringat membanjiri tubuhnya. Napasnya tak beraturan dan tangannya gemetar kelelahan.
Li Jie semakin kesal mendengar ucapan berang-berang kecil. Tapi ia tak menunjuklan rasa kesalnya melainkan rasa malu yang ia perlihatkan.
"Maaf Tuan Guru, saya terlalu lemah...
Berang-berang kecil mendekati Li Jie dan memegang pergelangan tangan Li Jie.
"Luar biasa... Luar biasa aneh... Bocah dengan kekuatan setara pendekar Langit, tapi justru berstruktur tulang setara pendekar kesatria... Bagaimana ini.
Bagaimana...." Berang-berang kecil mengernyitkan kening ke arah Li Jie.
"Aku... Aku tinggal di pulau Lingkaran Setan selama beberapa waktu....
"Oh... Ya... Ya... Aku mengerti... Aku mengerti... Tapi ketahuilah anak muda, ilmu yang didapat secara kilat itu efek sampingnya sangat berbahaya."
Berang-berang kecil kemudian menjelaskan jika Li Jie setidaknya hanya bisa menggunakan dua puluh persen dari seluruh kekuatannya, jika lebih, akan berisiko seperti saat ini. Tulangnya terasa remuk dan ia tak mampu mengeluarkan jurus apa pun. Hal itu tentu membahayakannya jika berada dalam pertempuran.
Sebelum berhasil meningkatkan kualitas tulangnya, guru besar berang-berang berpesan agar Li Jie menghindari pertarungan yang panjang.
Jika dihadapkan pada sebuah pertarungan yang kemungkinan akan berlangsung lama, guru besar berang-berang lebih menyarankan untuk Li Jie agar menjauh dari peperangan.
"Bagaimana ini... Bagaimana ini... Kau sudah jauh ke sini tapi tak mendapatkan apa-apa... Bagaimana ini...."
"Tak apa Tuan Guru. Itu artinya saya memang belum pantas mendapatkannya... Mungkin lain waktu... Ah.. Itu pun jika ada kesempatan lagi...
"Ah... Ya... Ya... Tunggu sebentar. Aku punya hadiah kecil untukmu... Sebentar sebentar...." Berang-berang kecil mondar-mandir memilih batang bambu kuning.
Setelah ia memantabkan pilihan, ia menebang bambu itu hanya denhan jari kecilnya.
"Ini....ini hadiah untukmu... Kau pasti akan bahagia sekali mendapatkannya." Berang-berang kecil mendongak ke atas meminta Li Jie untuk meraih potongan bambu kuning yang ia tebang.
Li Jie mengerutkan kening. Ia tak lekas menerima potongan bambu itu karena masih merasa heran. Apa istimewanya bambu itu?
"Ya sudah... Kalau tidak mau...
"Saya menginginkannya...." Li Jie segera menjawab. Meski sekarang belum jelas apa kehebatan bambu itu, tapi pasti itu bukan bambu sembarangan.
Mereka berdua pun berjalan menuju sebuah gundukan batu yang tadinya mereka pakai untuk duduk bersila. Guru besar Berang-berang berjanji mengantarkan Li Jie kembali ke dunianya menggunakan kekuatan berang-berang. Ia juga memberi tahu Li Jie bahwa Li Jie boleh kembali ke sana sewaktu-waktu....
"Oh ya... Anak muda, lain kali kalau Kau hendak menemuiku lagi, jangan lupa selamatkan aku lagi saat aku sedang pura-pura tertindih batu ya...."
Li Jie menahan senyum mendengar ucapan guru besar berang-berang. Sebelum ia merespon permintaan guru besar berang-berang tersebut, berang-berang itu kembali mengucapkan sesuatu,
"Kita akan segera bertemu kembali. Aku bisa merasakannya ... Ingat pesanku tadi, ya...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Oh ya, bagi pembaca yang jeli, pasti menemukan ada beberapa Plot Hole dan pergantian bab yang kurang smooth. Lain waktu author akan merevisi beberapa bab tanpa mengubah isi dan alur cerita. Terima kasih...
semangat Thor