NovelToon NovelToon
Montir Ganteng

Montir Ganteng

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:426.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Dareen

Dareen yang selalu dibandingkan oleh papanya dengan kakak kandungnya yang bernama Aril. Dareen madih kuliah sedangkan Aril sudah bekerja. Dareen akhirnya membuktikan pada papanya bahwa ia bisa mandiri tanpa bantuan dari papanya. Dareen mulai ikut bekerja sebagai montir, karena dia mempunyai paras yang tampan. Akhirnya banyak yang menjuluki Montir Ganteng.

Bagaimana Dareen bisa sukses?
Ikuti ceritanya di Montir Ganteng.

Thank's.
Dareen_Naveen (Boezank Jr.)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dareen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

S2_Gagal

Gue buru-buru mandi karena pagi ini sedikit berbeda. Udara pagi ini berasa dingin nyentuh kulit. Air di gayung udah mirip air es aja.

Langsung gue lilitin handuk di perut kemudian langsung lari untuk ambil baju di lemari.

"Ehh ... mau ke mana, Oppa?" Yuman malah nyegah gue, padahal badan udah kedinginan banget.

"Ambil baju, Na. Kakak udah kedinginan," jawab gue dengan bibir yang udah gemetar.

"Itu ada di atas kasur, Oppa. Masa gak liat?"

"Astagfirullah, maaf, Na. Kakak udah kedinginan bangat, gak fokus."

Akhirnya gue dan Yumna melaksanakan ibadah pagi ini. Dua kalimat salam udah terucap, menandakan ibadah hari ini udah kelar.

Untuk kali pertama, gue mengimami makmum yang gak lain istri sendiri. Yaa saallamm ... berasa belum percaya udah jadi suami. Nambah berat lagi tanggung jawab gue saat ini. Tanggung jawab lahir batin untuk istri gue.

Gue liat Yumna melipat mukena dan sajadah. Dia pamit untuk masak katanya. Sedangkan gue masih di atas sajadah untuk mengaji.

Hidung ini mencium wangi-wangi masakan. Gue tertarik untuk bangkit kemudian menyusul Yumna ke dapur. Dalam ruangan yang gak terlalu besar, gue melihat Yumna yang asyik memasak dengan peralatan tempurnya.

"Wangi banget, Na," ucap gue sambil ngelingkarin tangan di perut Yumna.

"Emm ... Oppa pasti udah lapar," ujar Yumna sambil melihat sebentar ke arah gue --manis.

"Hm'm," ucap gue ngirit.

"Bentar ya, Oppa. Aku lagi buat sesuatu yang spesial buat Oppa," katanya.

Gue liat ikatan rambut Yumna yang mulai mengndor. Sesekali tangannya membenahi rambut yang mulai tak beraturan.

"Sini, Kakak benerin ikatan rambutnya."

"Boleh. Tolong ga, Oppa."

Gue membuka ikatan rambutnya.

Tercium wangi sampo yang lembut dari helai rambu hitamnya. Kembali gue benahi tatanan rambut kemudian kembali mengikatnya.

"Udah."

"Makasih, Oppa."

Gak terlalu lama gue nunggu di sampingnya. Ternyata dia membuat sayur asem, goreng ikan asin, sambal dan tempe goreng. Ah, Sunda pisan.

"Rasa deh, udah pas belum?" tanya Yumna sambil nyodorin masakannya.

"Emm ... mantap!" Gue acungin kedua jempol tangan.

"Ya udah, Oppa tunggu di meja makan deh, nanti aku antar ke sana," titahnya.

Gue jalan ke meja makan yang masih kosong. Di sana gue duduk di kursi sambil ngeliatin Yumna mulai menata menu masakan ke meja makan. Kini semuanya udah terhidang dengan wangi yang menguar kuat bikin perut nambah laper.

Yumna ngambilin nasi, sayur, sambal, ikan asin dan tempe ke piring yang cukup besar. Bukan makanan mewah, gue emang suka masakan Sunda. Jelaslah, gue pan orang Sunda asli. Ya, makanan pun Sunda pisan.

"Oppa?" Yumna memanggil di sela makan.

"Hem."

"Sepertinya yang gak kenal Oppa semua tertipu, ya?" katanya dengan seulas senyum.

"Laahhh ... kenapa?" Gue bertanya dengan tempe goreng yang masih ada di tangan.

"Wajah Korea tapi makanan Sunda banget," katanya sambil ketawa.

"Lidah gak bisa bo'ong, Na. Sedari kecil Mamanya Kakak emang gak pernah masak makanan yang aneh-aneh. Mama lebih suka masak masakan Sunda untuk keluarganya. Itu sebabnya Kakak sangat suka masakan Sunda."

"Oh ... seperti itu," katanya yang singkat, padat dan jelas. Jelas-jelas bikin gue pingin nyium, eh gemes!

***

Bengkel gue serahin sama Ferdy dulu karena gue ingin berbulan madu dan ogah diganggu. Lu bayangin aja kalau lagi bulan madu diganggu. Lagi nanggung bermesraan malah ada gangguan. Alamat sebelnya sampe ubun-ubun.

"Udah beres, Na?" tanya gue ke Yumna.

"Udah, Oppa. Kita mau ke mana, sih?" tanya Yumna.

"Ada deh. Ayok!" Gue mengandeng tangan Yumna berjalan ke pintu depan kemudian menguncinya.

"Lohhh ... kenapa gak pakek mobil, Oppa?" tanya Yumna dengan mimik wajah heran ketika kami melewati mobil hitam yang terparkir di garasi.

"Sengaja."

"Maksudnya?"

"Kita naik kereta."

"Kok naik kereta? Aku jadi tambah penasaran deh mau dibawa ke mana sama Oppa."

Kami menunggu mobil taksi di depan gerbang rumah. Tidak berselang lama akhirnya taksi pesanan gue sampe juga.

"Ayok naik," titah gue pada Yumna ketika pintu mobil taksi yang berwarna biru telah terbuka.

"Makasih, Oppa." Yumna pun masuk yang dibarengi oleh gue yang masuk dari pintu sebelahnya.

"Jalan, Pak!"

Taksi meluncur ke Stasiun Bandung dan menunggu kereta tiba.

"Makan yuk, Na?" ajak gue ke Yumna.

"Ya Allah, Oppa. Belum ada dua jam kamu makan. Masa iya udah cari makan lagi?" ujar Yumna dengan mata membulat heran.

"Masih dalam masa pertumbuhan, Sayang," bisik gue beralibi.

"Idih! Mau tinggi segimana lagi? Lagian Oppa kan usianya lebih dari 20 tahun. Mana bisa tumbuh lagi?"

"Bisa dong. Karena yang tumbuh itu gak selalu ke atas. Bisa ke samping dan bisa ke depan," jawab gue ngasal.

"Baru denger tumbuh ke depan. Apa yang tumbuh ke depan?" tanya Yumna dengan alis yang hampir bertaut, sepertinya dia berpikir keras.

Hayooo ... jangan ngeres. Haha....

Sengaja gue gak jawab karena gue pun gak tau jawabannya apa. Orang gue asal jiplak aja gak pakek mikir.

"Oppa, kok gak dijawab?"

"Gak bisa jawab."

"Kenapa?"

"Lapar."

Yumna tampaknya kesal sama jawaban gue. Dia memutar bola matanya. "Ya udah, ayok makan!" ajaknya sambil melangkah ke tukang roti. Dia memang tau gue suka beli 'Roti O'.

Kami duduk di kursi sambil menunggu roti bulat itu dihidangkan.

"Yeay! Pesanan udah datang," ucap Yumna ketika roti dan secangkir latte yang terhidang di cup berukuran kecil udah tersaji di depan mata.

"Makasih, Kang," kata gue ketika meraih pesanan.

"Sama-sama," jawabnya kemudian berlalu pergi.

Kami menikmati 'Roti O' dengan secangkir latte. Herannya, kenapa malah Yumna yang semangat makan?

Akhirnya kereta tujuan kami udah datang. Gue bayar Roti dan latte yang barusan dipesan kemudian naik kereta sama Yumna.

Yumna tidak banyak bicara, dia lebih milih menyenderkan kepalanya di pundak gue. Udah gak aneh lagi, kalau perjalanan jauh dia pasti tidur. Jangankan di kereta api, ketika gue gendong aja dia bisa molor. Seperti julukan dari gue ke dia, yaitu TuMor (Tukang Molor).

Gagal deh nikmatin indahnya perjalanan berdua. Yumna malah tidur. Akhirnya gue hanya sendiri menikmati perjalanan yang pasti lama. Gue emang sengaja ngajak Yumna naik kereta api, berharap bisa nikmatin keindahan perjalanan seperti saat ini berdua. Sawah hijau yang terhampar luas serta perkebunan yang kami lewati ketika di perjalanan. Tapi, semua itu hanya seperti angan, tidak sesuai dengan realita, karena sepanjang perjalanan, mata istri gue tetap terpejam. Asem!

Menjelang malam, akhirnya kereta telah tiba di Kota Malang. "Na, bangun, yuk. Udah sampai." Gue ngebangunin Yumna.

"Ngantuk Oppa." Dia gak ngegubris matanya malah merem lagi. Kalau udah seperti ini, gue gak bisa apa-apa lagi selain dari gendong dia di punggung.

Gue lebih milih taksi untuk diantar ke hotel terdekat karena malam telah larut dan tidak mungkin untuk melanjutkan perjalanan. Badan pun terasa lemas karena perjalanan yang jauh. Untunglah, hotelnya cukup nyaman. Gue baringkan Yumna di tempat tidur, sedangkan gue sendiri milih untuk menikmati langit malam di balkon hotel.

...••🍃🍃🍃••...

Thanks untuk respons positif dari kawan-kawan untuk cerita ini. Oh iya, di sini ane sebagai Author mo kasih tau kalau di novel ini POV (Poin Of View) atau sudut pandang yang ane gunakan yaitu POV1 (aku/Dareen), jadi dalam pengemasan cerita seolah ane sendiri yang bercerita. Maaf ane bahas di sini karena kemarin ada yang sempat berkomentar, menanyakan "kok seperti curhat Authornya?"

Kurang lebih seperti itu pertanyaannya tapi sama readernya dihapus lagi, makanya ane bahas di sini karena mungkin untuk di platform masih agak jarang yang menggunakan POV1.

Teghemo Kasih.

Salam hangat dari Lampung 🙏

1
Sulaiman Efendy
WADUHHH,, UDH TAMAT RUPANYA...
Sulaiman Efendy
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sulaiman Efendy
MAMPUS LO RIL.. MKANYA JDI LAKI2, JGN GOBLOK,, MNTANG2 ISTRI BLM HAMIL, LLU SLINGKUH...
Sulaiman Efendy
PARAH TU NILA,,UDH JDI ISTRI BENI, MSH JUGA MAIN BLAKANG SAMA ARIL. DN ARIL MMG LKI2 BODOH..
Sulaiman Efendy
KN KALIAN BSA CEK KSUBURAN.. KNP SOLUSINYA HRS SELINGKUH. UDH ITU SELINGKUH DGN WANITA BKAS PAKAI..
Sulaiman Efendy
PSTI MANDA BLM HAMIL,, MKANYA SI ARIL SELINGKUH,, BSA JDI NI SI ARIL YG MNDUL..
Sulaiman Efendy
KLO BENGKEL UDH RAME PELANGGAN, KNP GK REKRUT PEKERJA BIAR GK KETETERAN..
Sulaiman Efendy
WAHHH SI ARIL SELINGKUH NI KYKNYA
Sulaiman Efendy
DINASEHATKN AWALNYA SJA SADAR, SKRG MLH MKIN PARAH..
Sulaiman Efendy
LBH BAGUS LO SELIDIKI, ATAU LO CHAT SI NILA..
Sulaiman Efendy
SEBESAR APA GAJI BENI DI PRUSAHAAN PAPA DAREEN, HINGGA BSA BLANJAIIN NILA BRG2 BRANDED, JGN2 KORUPSI TU SI BENI
Sulaiman Efendy
DI BLANJAIIN BENI, WAJAR BRANDED..
Sulaiman Efendy
BISA JDI MMG ANAK BENI, DN SI BENI SELINGKUH SAMA NILA..
Sulaiman Efendy
JGN2 YUMNA ANAK SI BENI...
Sulaiman Efendy
YA AMPUN NILA, UDH DI NASEHATI DAREEN. MSH AZA BRHUBUNGN DGN SI BENI..
Sulaiman Efendy
WAAHHH DARI TANTE2, MBAK2, SEBAYA, DN ABG, SUKA MA DAREEN..
Evi
thoor hubungan Aril sama nila bagai mana,. itu si nila hamil ank siapa bpk nya???
jd penasaran aq thoor
abdan syakura
Assalamu'alaikum kak Darren..
salken....
Kuy.....nyimak nih...😊🤝👍💪
Dareen: waalaikum salam, ..
terima kasih udh singgah di novel saya, Kak 🙏
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
dapet brondong nih🤣🤣
Qaisaa Nazarudin
Katanya Nila ini seumuran dgn Ariel iya,berarti tua Nila iya sama Darren..😅😅
Dareen: iya 😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!