"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."
Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.
Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.
Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.
Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 18
Pagi di Jakarta biasanya dimulai dengan hiruk-pikuk klakson, namun di ruang rapat utama Kementerian Pekerjaan Umum, suasananya jauh lebih mencekam. Ketegangan antara dua raksasa bisnis, Nirmala-Kencana dan Phoenix Construction, begitu terasa hingga para staf kementerian enggan untuk sekadar berdeham.
Keputusan pemerintah sudah final. Karena skala proyek Jembatan Nasional yang sangat masif, kedua perusahaan diwajibkan melakukan joint venture (kerjasama operasi). Kirana dan Arka dipaksa berada dalam satu meja, satu cetak biru, dan satu visi yang sebenarnya mustahil untuk disatukan.
Kirana duduk di ujung meja dengan gaun formal berwarna biru tua, rambutnya tersanggul rapi tanpa cela. Di hadapannya, Arka duduk dengan santai, menggulung lengan kemeja abu-abunya hingga siku, tampilan pria yang siap bekerja keras namun tetap memancarkan karisma yang mengintimidasi.
"Saya keberatan jika bagian struktur bawah dikelola oleh tim Arka," ujar Kirana dingin, meletakkan pulpen emasnya dengan denting yang tajam. "Rekam jejak Phoenix masih terlalu muda. Saya tidak ingin mempertaruhkan reputasi Nirmala pada perusahaan yang baru seumur jagung."
Arka menyeringai, sebuah senyuman yang membuat Kirana teringat pada pria yang dulu sering menggodanya di Bali. "Justru karena kami 'muda', kami lebih teliti dan berani menggunakan teknologi terbaru, Kirana. Sementara timmu... mereka tampak sedikit kelelahan karena terlalu lama duduk di zona nyaman."
"Kau menyebut timku tidak kompeten?" nada suara Kirana naik satu oktav.
"Aku menyebut mereka butuh pemimpin yang tidak terlalu sibuk mengurus ego pribadinya," balas Arka telak.
Para pejabat kementerian hanya bisa saling pandang. Mereka merasa seperti sedang menonton pertengkaran suami-istri daripada rapat bisnis. Akhirnya, pimpinan rapat memutuskan bahwa selama enam bulan ke depan, Kirana dan Arka harus berkantor di lokasi proyek yang sama di daerah pesisir Jawa Barat agar koordinasi tidak terhambat.
Lokasi proyek tersebut jauh dari kemewahan Jakarta. Hanya ada beberapa bangunan kontainer yang disulap menjadi kantor darurat. Karena keterbatasan fasilitas, Kirana dan Arka terpaksa berbagi satu ruangan besar yang hanya dibatasi oleh sebuah rak buku terbuka.
Malam itu, hujan lebat mengguyur pesisir. Listrik di lokasi proyek tiba-tiba padam karena sambaran petir. Kirana, yang sedang lembur meneliti laporan keuangan, tersentak saat kegelapan total menyelimuti ruangan. Ia memiliki trauma kecil pada kegelapan sejak kejadian penculikan dulu.
"Maya? Pak Reza?" panggil Kirana dengan suara bergetar. Tidak ada jawaban. Rupanya semua staf sudah pulang ke barak masing-masing.
Tiba-tiba, cahaya korek api menyala di sudut ruangan. Arka berdiri di sana, menyalakan sebatang lilin. Cahaya remang itu menyinari garis wajahnya yang tegas, membuatnya tampak seperti malaikat sekaligus iblis di mata Kirana.
"Jangan takut. Aku di sini," ujar Arka lembut. Suara yang dulu selalu menenangkannya.
Arka berjalan mendekat dan meletakkan lilin itu di atas meja Kirana. Ia melihat tangan Kirana yang mencengkeram pinggiran meja hingga memutih. Tanpa permisi, Arka duduk di kursi di samping Kirana.
"Pergilah, Arka. Aku bisa sendiri," usir Kirana, meski suaranya tidak setegas biasanya.
"Kau pembohong besar, Kirana. Kau gemetar," Arka meraih tangan Kirana.
Kirana mencoba menarik tangannya, namun Arka menggenggamnya dengan erat. Bukan genggaman yang menyakiti, melainkan genggaman yang protektif. Untuk sesaat, Kirana merasa dinding es yang ia bangun selama berbulan-bulan mulai retak.
"Kenapa kau melakukan ini, Arka?" tanya Kirana parau. "Kau membuatku terlihat bodoh di depan umum, kau mencuri proyekku, tapi sekarang kau bersikap seolah kau peduli padaku."
Arka menatap mata Kirana dengan intensitas yang memabukkan. "Karena aku ingin kau merasakannya. Aku ingin kau merasakan bagaimana sakitnya diabaikan, bagaimana rasanya melihat orang yang kau cintai memperlakukanmu seperti sampah. Aku ingin kau sadar bahwa posisi kita sekarang sama. Aku bukan lagi pria yang berhutang padamu, dan kau bukan lagi ratu yang bisa membuangku kapan saja."
Pagi harinya, suasana kembali memanas. Seorang tamu datang ke lokasi proyek. Ia adalah Reno, seorang pengusaha muda tampan yang merupakan mantan kekasih Kirana di masa kuliah. Reno datang membawa buket bunga besar dan makanan mewah untuk Kirana.
"Aku dengar kau sedang kesulitan di sini, Kirana. Jadi aku datang untuk memberimu sedikit semangat," ujar Reno sambil mencium tangan Kirana di depan mata Arka.
Kirana, yang tahu Arka sedang memperhatikan, sengaja menyambut Reno dengan sangat hangat. "Terima kasih, Reno. Kau selalu tahu apa yang kubutuhkan."
Arka, yang sedang memeriksa peta proyek, membanting gulungan kertasnya ke meja dengan keras hingga menimbulkan suara dentuman. Ia berjalan melewati mereka tanpa kata, namun matanya memancarkan api cemburu yang siap membakar apapun.
"Sepertinya partnermu itu sedang datang bulan," sindir Reno sambil tertawa.
Kirana tersenyum kecut. Ia merasa menang bisa membuat Arka kesal, namun di dalam hatinya, ia merasa tidak nyaman. Ia terus memperhatikan punggung Arka yang menjauh menuju dermaga proyek.
~
Sore harinya, badai kecil kembali datang. Kirana melihat Arka sedang berada di ujung dermaga yang belum selesai, mencoba mengamankan beberapa material yang hampir hanyut. Angin kencang membuat dermaga bergoyang hebat.
"Arka! Kembali! Itu berbahaya!" teriak Kirana dari pinggir pantai.
Arka tidak mendengar. Tiba-tiba, sebuah kayu besar penyangga dermaga patah. Arka kehilangan keseimbangan dan jatuh ke laut yang sedang berombak pasang.
"ARKA!" jerit Kirana. Tanpa pikir panjang, Kirana berlari menuju air. Ia lupa akan statusnya sebagai CEO, ia lupa akan gaun mahalnya yang kini basah kuyup oleh lumpur.
Untungnya, Arka adalah perenang yang handal. Ia muncul ke permukaan dan berhasil meraih tiang pancang. Para pekerja segera membantu menariknya ke darat.
Saat Arka sudah berada di atas pasir, terengah-engah dan basah kuyup, Kirana langsung menghambur ke arahnya. Ia memukul dada Arka dengan tangis yang pecah.
"Kau bodoh! Kau ingin mati? Kenapa kau selalu membuatku takut!" teriak Kirana di sela tangisnya.
Arka terdiam, membiarkan Kirana meluapkan emosinya. Ia kemudian menangkap kedua tangan Kirana dan menariknya ke dalam pelukan yang sangat erat. Kirana meronta, namun Arka tidak melepaskannya.
"Kau menangis untukku, Kirana? Kau bilang kau tidak peduli jika aku mati," bisik Arka di telinga Kirana yang basah.
Kirana berhenti meronta. Ia menyandarkan wajahnya di dada Arka yang bidang. "Aku membencimu karena kau selalu bisa membuatku menjadi wanita lemah, Arka. Aku benci diriku karena masih mencintaimu."
Arka mengangkat dagu Kirana. Di bawah guyuran hujan gerimis, wajah mereka hanya berjarak satu inci. "Kalau begitu, jangan berhenti membenciku. Karena kebencianmu adalah satu-satunya hal yang membuktikan bahwa aku masih memiliki tempat di hatimu."
Arka menunduk, hendak mencium bibir Kirana yang pucat. Kirana memejamkan matanya, menyerah pada perasaan yang selama ini ia tekan. Namun, tepat sebelum bibir mereka bersentuhan, suara deheman Reno terdengar dari belakang mereka.
"Kirana? Mobil jemputannya sudah siap. Kita harus kembali ke hotel."
Kirana tersentak dan segera melepaskan diri dari Arka. Ia merapikan rambutnya yang berantakan dengan wajah yang memerah padam karena malu. Ia menatap Arka dengan tatapan dingin yang dipaksakan kembali.
"Lupakan kejadian ini, Arka. Itu hanya refleks kemanusiaan. Jangan berpikir itu sesuatu yang lebih," ujar Kirana dengan suara gemetar, lalu ia berjalan cepat menuju Reno tanpa menoleh lagi.
Arka berdiri di sana, sendirian di pinggir pantai yang gelap. Ia menyentuh bibirnya sendiri, merasakan sisa kehangatan napas Kirana. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh tekad.
"Kau boleh lari ke pelukan pria mana pun, Kirana. Tapi tubuhmu dan air matamu tidak pernah bisa berbohong. Kau masih milikku," gumam Arka.
...----------------...
**Next Episode**....