Dewi seorang istri yang di tinggal merantau suaminya Abi ke Kalimantan dan harus tinggal di kampung merawat mertua dengan uang kiriman seadanya dari sang suami, Dewi pun harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup dengan sang mertua.
Hingga suatu ketika Dewi mendapati sebuah rahasia besar dari teman Abi, ternyata Abi diam-diam menikah lagi, hati Dewi hancur dan dia pun nekat ke Kalimantan untuk memastikan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundae safiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sikap Abi mulai membuat Dewi curiga
Setelah di rawat beberapa hari di rumah sakit akhirnya pagi ini Bu Raminah pun di ijin kan untuk pulang ke rumah. Dengan menaiki kendaraan umum Dewi membawa Bu Raminah pulang.
''Alhamdulillah ibu sudah boleh pulang ya Bu, nanti di rumah ibu bisa istirahat dengan lebih tenang'' ucap Dewi saat keduanya masih di dalam angkot. Luka Bu Raminah sudah membaik walau masih belum kering betul namun itu sudah jauh lebih baik dan lagi Bu Raminah enggak tahan berlama-lama di rumah sakit.
''Iya Wi, kalau di rumah ibu bisa makan dengan kenyang tidur dengan nyenyak dan enggak mimpi buruk lagi Wi'' sahut Bu Raminah dengan perasaan lega.
''Ibu jangan cemas, nanti sampai rumah akan Dewi masak in makanan yang enak-enak buat ibu'' ucap Dewi dengan lembut dan sabar.
''Aduh Wi, ibu enggak minta yang enak-enak kok, apa pun yang kau masak selalu enak di lidah ibu'' jawab Bu Raminah dengan jujur, sebenarnya Bu Raminah merasa enggak enak hati sama Dewi, beliau pun tak habis pikir uang dari mana lagi buat mereka berdua makan sedang buat di rumah sakit beberapa hari saja pasti sudah menghabiskan banyak duit, sedangkan Dewi selalu menemaninya dan tak bekerja selama itu.
''Bu..Ibu enggak usah mikir yang macam-macam pokoknya serahin semua sama Dewi, yang penting ibu cepat sehat dan pulih kembali ya Bu'' ucap Dewi meyakinkan sang mertua, Bu Raminah tak bisa berkata apa-apa lagi dan hanya bisa nurut dengan apa kata Dewi.
''Atau nanti kamu coba teleponkan Abi biar ibu ngomong sebentar sama dia ya Wi'' pinta Bu Raminah.
''Iya bu, nanti kalau sudah sampai rumah ya'' jawab Dewi dengan sabar.
Tak berapa lama kemudian mereka berdua pun sampai di depan rumah, Dewi pun membantu Bu Raminah turun dari angkot, kebetulan Bu Kokom sedang berada tak jauh dari tempat mereka turun.
''Eh Wi...kalian sudah pulang, Bu Raminah sudah sembuh Bu, ayo sini saya bantuin bawa barangnya ke dalam'' sapa Bu Kokom sembari membantu Dewi yang keteteran memapah juga menenteng tas berisi barang-barang saat menginap di rumah sakit.
''Aduh Bu Kokom makasih banget lowh bu, maaf ya kami selalu ngerepotin Bu Kokom'' ucap Dewi tak enak hati.
''Ah kamu ini kayak sama siapa aja sih Wi, kamu juga sudah sering bantuin keluarga ibu kok'' jawab Bu Kokom dengan tulus.
Sesampainya di dalam rumah Dewi pun merebahkan tubuh Bu Raminah di atas ranjang, kemudian menyelimutinya, Bu Kokom pun ikut menunggui di dalam kamar sembari mengajak ngobrol Bu Raminah.
''Gimana rasanya Bu, apa masih ada yang sakit?'' tanya Bu Kokom, sedang Dewi pergi ke belakang untuk membuat minuman.
''Sudah lumayan enak Bu Kokom, untung ada Dewi kalau tidak entah bagaimana nasib saya di masa tua ini'' keluh Bu Raminah.
''Bu...sebaiknya Abi di suruh pulang saja, biar kerja di dekat sini kasihan Dewi sejak pengantin baru di tinggal terus seperti janda saja, kapan mereka mau punya anak kalau enggak pernah tidur bareng'' ucap Bu Kokom berpendapat.
''Iya nanti aku coba omong in sama Abi, semoga saja anak itu mau mendengarkan omonganku, kasihan juga kalau di pikir-pikir si Dewi'' sahut Bu Raminah yang menyetujui usulan Bu Kokom.
''Nah gitu dong Bu, bukan apa-apa sih Bu tapi saya sebagai orang yang lebih tua dan banyak makan asam garam kehidupan ini juga enggak tega melihat Dewi, Bu Raminah sendiri sudah sakit-sakitan apa Abi enggak kasihan dan tega melihatmu seperti ini Bu, kalau seperti itu adanya si Abi memang benar-benar keterlaluan'' oceh Bu Kokom yang sedang mengeluarkan unek-unek dalam hatinya.
''Iya Bu iya saya tahu maksud Bu Kokom kok'' jawab Bu Raminah yang sedikit malu dengan kelakuan anak semata wayangnya.
''Lagi pada ngobrolin apa sih seru banget, ini kopinya Bu Kokom, silahkan di minum'' ucap Dewi yang baru saja datang sembari meletakkan secangkir kopi di atas meja.
''Ah repot segala kau Wi , pakai bikin kopi buat ibu'' jawab Bu Kokom sembari mengambil cangkir kopi tersebut dan menyeruputnya selagi panas.
''Enggak repot kok Bu, hanya air ini'' balas Dewi sembari duduk di dekat mereka berdua.
''Wi...coba kamu hubungi suami kamu sekarang, ibu mau ngomong sebentar!'' pinta Bu Raminah selagi ingat.
''Baik Bu'' jawab Dewi yang kemudian segera menelepon nomor ponsel Abi suaminya.
Tak berapa lama kemudian sambungan pun terhubung.
''Halo mas'' sapa Dewi.
''Ya halo...ada apa?'' jawab Abi cuek seperti biasanya.
''Lagi repot enggak mas, ibu mau ngomong sama kamu'' ucap Dewi dengan nada lembut.
''Ada apa lagi sih enggak tahu apa aku lagi sibuk kerja!'' keluh Abi.
''Hanya sebentar kok mas, penting katanya'' bujuk Dewi karena merasa kasihan jika Abi tak mau bicara sama ibunya.
"Hah baiklah, kasih hp nya sama ibu" jawab Abi tak berdaya.
Dewi kemudian menyerahkan hp nya pada Bu Raminah.
"Halo Abi, ini ibu nak" sapa Bu Raminah saat hp sudah di tangannya.
"Halo bu, kata Dewi ibu mau ngomong sesuatu sama Abi ya, ada apa bu?" tanya Abi dari seberang telepon.
"Aduh nih anak benar-benar kelewatan ya, bukannya nanyain gimana keadaan ibunya yang masih sakit, ini malah kesannya enggak mau di telepon ibunya, dasar anak durhaka kau Abi" gerutu bu Kokom dalam hati saat mendengar jawaban Abi saat menerima telepon dari ibunya.
"Iya Abi...ibu baru pulang dari rumah sakit nak, ibu kangen sama kamu, kapan kamu pulang nak, sudah setahun kamu tak pulang juga jarang kasih kabar, apa kamu enggak rindu sama ibu juga istrimu Abi" keluh Bu Raminah.
"Buuuuu...ibu kan tahu Abi di sini tuh lagi kerja cari duit bu buat masa depan keluarga kita!" kilah Abi.
"Iya ibu tahu nak, tapi apa tidak bisa kamu cari kerja yang deket sini aja, jangan jauh jauh, kasihan istri kamu di tinggal terus,kalau kayak gitu kapan kalian akan punya anak" protes Bu Raminah.
"Aduh bu, buat makan aja masih kurang boro-boro mikirin punya anak" bantah Abi.
"Mau sampai kapan nak, ibu sudah tua, lagian kamu jauh-jauh merantau sudah dapat apa hah, bahkan selama ini Dewi sibuk kerja buat nutupin kekurangan keluarga kita, lebih baik kamu pulang nak, kita hidup bersama itu jauh lebih baik!" pinta Bu Raminah pada Abi.
"Sayang sudah belum, di tungguin papa nih cepat turun!"
Tiba-tiba saja Wulan dari lantai bawah berteriak memanggil Abi, seketika Abi langsung gugup karena takut ibunya mendengar teriakan Wulan barusan.
"Suara siapa itu di sana Abi, siapa wanita itu?!" tanya Bu Raminah penasaran, Dewi pun langsung membulatkan matanya begitu juga dengan Bu Kokom.
"Halo bu, halooooo Abi enggak dengar bu, halooo....haloooooo!!!"
Tuuuuuttttt!!!!
Sambungan telepon pun langsung terputus, Abi pun mengelus dada merasa lega, dia sudah ketar ketir takut ibunya akan bertanya lebih jauh bahkan mencurigainya.
Sementara itu Bu Raminah gemetar hingga hp di tangannya pun jatuh ke pangkuannya.
"Bu...ada apa bu, apa ibu baik-baik saj" tanya Dewi penasaran, namun Bu Raminah masih terdiam.
"Wi, jangan-jangan suami kamu selingkuh di sana Wi" tebak Bu Kokom curiga.
"Bu Kokom jangan bilang begitu pamali, Dewi yakin Mas Abi enggak akan menghianati Dewi" ucap Dewi padahal dalam hati dia pun merasa curiga setelah melihat reaksi Bu Raminah dan mendegar kata yang di ucapkan Bu Raminah barusan.
"Kamu dengar sendiri tadi ada wanita yang memanggil suamimu dengan panggilan sayang" ucap Bu Kokom dengan yakin, kebetulan panggilan telepon barusan memakai pengeras suara jadi Dewi dan Bu Kokom pun ikut mendengar perbincangan Bu Raminah dan Abi.
"Semoga saja itu hanya suara orang lain Bu, Dewi enggak mau suudzon sama mas Abi" ucap Dewi yang mencoba baik-baik saja dan berusaha menyembunyikan rasa curiganya pada Abi.
Bu Raminah menoleh ke arah Dewi, tanpa sadar beliau pun menangis terisak-isak.
"hikz...hikz...hikz....Dewi maafin Abi ya Wi, maafin anak ibu!" ucap Bu Raminah penuh penyesalan di sela-sela isak tangisnya.
"Bu jangan begitu, semua masih belum pasti, kita enggak boleh berburuk sangka sama Mas Abi Bu" jawab Dewi supaya mertuanya lebih tenang.
"Kamu baik sekali Dewi, Abi pasti menyesal jika berani menyakiti kamu...hikz...hikz...hikz!" Bu Raminah pun langsung di peluk Dewi dengan erat, keduanya larut dalam isak tangis, Bu Kokom yang melihat mereka pun tak bisa menahan air mata, kemudian memutuskan untuk pulang dan memberikan ruang pada menantu dan mertua itu untuk meluapkan emosi mereka.
cinta boleh wi gobloogg jangan