Satu malam di kamar nomor 101 menghancurkan seluruh masa depan Anindira. Dijebak oleh saudara tiri dan terbangun di pelukan pria asing yang wajahnya tak sempat ia lihat, Anindira harus menelan pahitnya pengusiran dari keluarga.
Lima tahun kemudian, ia kembali sebagai asisten pribadi di Adiguna Grup. Namun, bosnya adalah Baskara Adiguna, pria berhati es yang memiliki sepasang mata persis seperti putra kecilnya.
Ketika rahasia malam itu mulai terkuak, Anindira menyadari bahwa ia bukan sekadar korban satu malam. Ia adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan nyawa dan harta. Baskara tidak akan melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena benih yang tumbuh di rahim Anindira adalah pewaris tunggal yang selama ini dicari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Lembur hingga larut malam
Lembur hingga larut malam ini ternyata bukan hanya tentang pekerjaan kantor biasa, melainkan sebuah pertaruhan nyawa yang sangat mengerikan. Anindira menahan napasnya saat bayangan pria bertopeng itu semakin mendekat ke arah meja tempat mereka bersembunyi. Ruangan yang gelap gulita membuat setiap suara gesekan kain terasa seperti ancaman kematian yang nyata.
Devan menarik Anindira lebih rapat ke dalam pelukannya, berusaha meredam detak jantung wanita itu yang terdengar sangat liar. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil namun berat yang nampak berkilau tertimpa cahaya bulan. Anindira membelalakkan mata saat menyadari bahwa bosnya sedang menggenggam sebuah alat pertahanan diri yang sangat serius.
"Jangan bergerak sedikit pun, apa pun yang terjadi nanti di depan mata Anda," bisik Devan dengan suara yang nyaris tidak terdengar oleh telinga manusia normal.
"Apakah mereka orang-orang utusan Ayah saya, Tuan?" tanya Anindira dengan suara yang bergetar hebat karena ketakutan.
Penyusup itu mulai menggeledah laci meja kerja Devan dengan kasar, menciptakan suara gaduh dari tumpukan berkas yang berhamburan ke lantai. Ia nampak sangat terburu-buru mencari sesuatu yang sangat berharga, kemungkinan besar adalah data perbankan yang baru saja disalin oleh Anindira. Udara di dalam ruangan itu terasa semakin pengap dan penuh dengan ketegangan yang memuncak.
Tiba-tiba, suara langkah kaki lain terdengar dari arah lorong luar yang nampak sedang berlari dengan sangat cepat. Penyusup bertopeng itu segera menghentikan kegiatannya dan menatap ke arah pintu dengan posisi yang sangat siaga. Anindira merasakan tangan Devan semakin mengencang di pinggangnya, seolah sedang bersiap untuk melakukan tindakan balasan yang sangat mendadak.
"Keluar sekarang atau aku akan membakar seluruh isi ruangan ini bersama kalian!" teriak penyusup itu dengan nada suara yang sangat serak.
"Siapa yang mengirimmu ke sini untuk mengganggu ketenangan wilayah saya?" tanya Devan sambil berdiri dengan perlahan dari balik meja persembunyiannya.
Anindira terkesiap melihat keberanian Devan yang muncul secara terang-terangan di hadapan moncong senjata api yang sangat mematikan itu. Cahaya bulan menyinari wajah Devan yang nampak sangat dingin dan tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun pada ancaman di depannya. Pria bertopeng itu nampak sedikit ragu saat melihat tatapan mata Devan yang jauh lebih mengerikan daripada senjata yang ia pegang.
Ketegangan itu pecah saat lampu ruangan mendadak menyala dengan sangat terang, diikuti oleh serbuan beberapa petugas keamanan perusahaan. Penyusup itu mencoba melarikan diri melalui jendela kaca yang besar, namun Devan bergerak lebih cepat dengan menendang kaki pria tersebut hingga tersungkur. Anindira segera merangkak keluar dari bawah meja sambil memeluk erat perangkat penyimpan data miliknya yang sangat berharga.
Petugas keamanan segera meringkus pria bertopeng tersebut dan membawanya keluar dari ruangan dengan pengawalan yang sangat ketat. Anindira berdiri dengan kaki yang masih terasa lemas, menatap kekacauan yang terjadi di dalam ruangan kerja yang tadinya sangat rapi itu. Ia melihat Devan sedang merapikan lengan kemejanya yang sedikit kusut akibat perkelahian singkat yang baru saja terjadi.
"Anda tidak apa-apa, Dira? Maafkan saya karena harus melibatkan Anda dalam situasi yang sangat berbahaya ini," ucap Devan sambil mendekati Anindira dengan tatapan khawatir.
"Saya baik-baik saja, Tuan, hanya sedikit terkejut dengan semua kejadian yang berlangsung begitu cepat ini," jawab Anindira sambil mencoba mengatur napasnya kembali.
Devan mengambil perangkat penyimpan data dari tangan Anindira dan memeriksanya sejenak untuk memastikan isinya tetap aman dan tidak rusak. Ia kemudian meminta Anindira untuk segera pulang dan beristirahat karena waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi yang sangat sunyi. Devan berjanji akan memberikan pengawalan pribadi untuk memastikan Anindira sampai di rumah petaknya dengan selamat tanpa gangguan.
Selama perjalanan pulang di dalam mobil, Anindira hanya terdiam sambil memikirkan bagaimana hidupnya berubah drastis dalam waktu singkat. Ia masuk ke dalam rumah petak dan melihat Arkan yang sedang tidur terlelap dengan memeluk boneka beruang kecil kesayangannya. Air mata Anindira jatuh saat menyadari bahwa ia baru saja mempertaruhkan nyawanya demi memberikan masa depan yang lebih baik untuk putra kecilnya.
"Ibu akan melakukan apa pun agar kamu tidak perlu merasakan penderitaan yang sama seperti yang Ibu rasakan," bisik Anindira sambil mencium kening Arkan.
Keesokan paginya, Anindira bangun dengan tubuh yang terasa sangat pegal namun ia tetap memaksakan diri untuk berangkat kerja tepat waktu. Ia tidak ingin memberikan celah sedikit pun bagi para musuhnya untuk mencurigai kelemahannya sebagai seorang ibu tunggal. Sesampainya di kantor, ia mendapati suasana yang jauh lebih sibuk dari biasanya karena kabar mengenai upaya pencurian data sudah menyebar luas.
Sekretaris utama menatap Anindira dengan pandangan yang sangat penuh dengan selidik seolah sedang mencari tahu keterlibatan asisten baru tersebut. Namun, Anindira mengabaikannya dan langsung menuju ruangan Devan untuk melanjutkan tugas penyusunan laporan keuangan yang sempat tertunda tadi malam. Ia melihat Devan sedang duduk di kursinya sambil menatap sebuah rekaman kamera pengawas yang diputar berulang-ulang di layar monitor.
"Orang itu adalah profesional, dia tidak meninggalkan jejak sidik jari atau tanda pengenal apa pun di lokasi kejadian," jelas Devan tanpa menoleh ke arah Anindira.
"Apakah kita tetap akan mempresentasikan data ini di depan dewan direksi siang nanti, Tuan?" tanya Anindira dengan penuh rasa penuh pertimbangan.
Devan mengangguk mantap dan menyatakan bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk menjatuhkan lawan-lawan politiknya di dalam perusahaan tersebut. Anindira segera menyiapkan seluruh berkas fisik dan memastikan tidak ada satu pun angka yang terlewatkan dari pengawasannya yang sangat teliti. Mereka berjalan menuju ruang rapat besar dengan langkah yang penuh dengan keyakinan meski bahaya masih mengintai di setiap sudut.
Saat memasuki lift, Anindira merasakan firasat yang sangat buruk saat melihat kabel-kabel listrik yang nampak sedikit terkelupas di sudut langit-langit kotak besi itu. Ia hendak memperingatkan Devan, namun pintu lift sudah tertutup rapat dan mesin mulai bergerak naik dengan suara yang sangat aneh. Getaran hebat mulai terasa mengguncang seluruh badan lift hingga membuat lampu di dalamnya berkedip-kedip dengan sangat cepat.
Anindira segera berpegangan pada pegangan besi di sampingnya sementara Devan mencoba menekan tombol darurat yang nampak sama sekali tidak berfungsi. Suara dentuman keras terdengar dari arah atas, diikuti oleh putusnya kabel baja yang menahan beban lift tersebut hingga mereka terjun bebas sejenak. Hampir terperangkap di lift yang rusak ini membuatnya menyadari bahwa musuh mereka tidak akan berhenti sebelum mereka benar-benar hancur.