NovelToon NovelToon
Menantu Yang Tidak DiInginkan

Menantu Yang Tidak DiInginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Selingkuh
Popularitas:194
Nilai: 5
Nama Author: Thida_Rak

Sudah tiga tahun Dianawati tinggal bersama mertuanya di Tanjungpinang. Kepindahan itu terjadi setelah suaminya, Andi Pratama, memutuskan meninggalkan Kalimantan—tempat mereka dulu bekerja dan membangun kehidupan—demi kembali ke kota kelahirannya. Alasannya sederhana namun tak bisa ditolak: ibunya tinggal seorang diri, sementara adik bungsunya bekerja di Batam dan hanya bisa pulang sesekali.

Di rumah mertua, Dianawati menjalani hari-harinya sebagai istri dan menantu yang bertanggung jawab: merawat ibu mertua yang mulai menua, mengurus anak, serta mempertahankan usaha kecil-kecilan yang sudah ia rintis sejak masih di Kalimantan. Dalam rutinitas yang tampak sederhana itulah, ia perlahan menyadari bahwa kehidupan baru ini tidak semudah yang dibayangkan.

Antara tanggung jawab, kesabaran yang terus diuji, dan kerinduan pada masa lalu yang lebih bebas, Dianawati berusaha tetap kuat—bahkan ketika ia mulai merasa dirinya adalah satu-satunya yang berjuang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thida_Rak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Sudah seminggu Andi berada di Batam, namun Dian jarang menerima kabar darinya. Ia rutin mengirim pesan dan mencoba menelepon, tapi tak satu pun dibalas atau diangkat. Sesekali, ia hanya mengetahui kabar suaminya dari mertuanya.

Selama seminggu ini, Bu Minah seolah selalu mencari-cari kesalahan Dian. Meski begitu, Dian berusaha tetap sabar, menyadari bahwa ibu suaminya tetaplah orang tua yang harus ia hormati.

Di tengah kesibukan dan rasa lelah itu, Sinta menghubungi Dian. Ia mengajak Dian bertemu sore nanti untuk pergi ke playground—sebuah tempat yang jarang bisa Dian kunjungi karena biasanya waktunya banyak habis di rumah.

Dian tersenyum tipis, merasa sedikit lega dengan ajakan temannya. Sore ini, setidaknya, ia bisa sejenak melepaskan penat dari rutinitas dan tekanan di rumah.

Awalnya, Bu Minah menolak keras rencana Dian untuk pergi. Namun Dian menenangkan mertuanya dan berjanji, “Nanti Ibu, aku akan beli makanan juga kok.”

Janji itu membuat Bu Minah akhirnya mengangguk setuju meski dengan nada ketus, membiarkan Dian bersiap untuk pergi sore nanti bersama Sinta.

Sesampainya di playground, Sinta langsung melambaikan tangan ke arah Dian. Dian membalas lambaian itu dengan mengangguk dan tersenyum.

Kali ini, Dian juga bisa melihat anak Sinta, Jelita, yang bermain ceria di ayunan. Senyum hangat Jelita membuat Dian merasa nyaman, sejenak melupakan penat dan tekanan di rumah.

Dian menurunkan Naya di dekat ayunan, lalu menatap sekeliling playground yang ramai oleh tawa anak-anak. Naya tampak senang, matanya berbinar melihat perosotan dan ayunan.

Jelita berlari menghampiri Naya dengan riang. “Hai, Naya!” sapa Jelita sambil tersenyum lebar.

Dian ikut tersenyum melihat kedua anak itu bermain bersama. Sesaat ia bisa melupakan rasa penat, omelan mertua, dan sepinya rumah tanpa Andi. Sore itu, tawa dan canda anak-anak menjadi obat kecil yang menenangkan hatinya.

Sinta membuka obrolan sambil tersenyum ringan.

“Ian, suamimu pindah ke Batam ya? Aku beberapa kali lihat dia di Nagoya kemarin,lalu di Panbil,” tanya Sinta penasaran.

Dian menunduk sebentar, rasa sedih muncul di matanya.

“Iya, Sin… Andi pindah ke Batam. Dan aku sama sekali tidak diberi tahu,” jawab Dian pelan, suaranya penuh kekecewaan.

“Lho, kok bisa, Ian? Padahal kerja di Bintan kan? Enak loh, nggak jauh-jauh banget,” ujar Sinta sambil menatap Dian penuh penasaran.

Dian menghela napas, hatinya campur aduk antara sedih dan lelah. Ia hanya bisa tersenyum tipis, mencoba menenangkan diri sambil mendengarkan Sinta berbicara.

Dian menatap jauh ke arah anak-anak yang sedang bermain, menarik napas panjang sebelum menjawab.

“Iya, Sin… aku juga nggak ngerti. Dia pindah ke Batam begitu saja, dan aku sama sekali nggak dikasih tahu sebelumnya,” ujarnya pelan, suaranya lembut tapi terdengar jelas rasa kecewa.

Sinta mengangguk, menatap Dian dengan penuh pengertian.

“Ya ampun, Ian… kamu harus sabar, ya. Kadang mereka memang nggak sadar kalau tindakan mereka bikin kita sedih,” kata Sinta menenangkan.

Dian hanya tersenyum tipis, mencoba menerima keadaan meski hatinya masih terasa berat. Sesaat, tawa Naya dan Jelita yang bermain bersama membuatnya sedikit lega.

Setelah puas bermain, Sinta menepuk bahu Dian sambil tersenyum.

“Kamu ikut makan bareng aku, yuk. Mumpung aku masih di Pinang, besok sudah balik ke Batam karena suamiku ada kerjaan di sini,” ajaknya ramah.

Dian mengangguk sambil tersenyum tipis. Kesempatan ini terasa menyenangkan baginya—bisa sejenak melepas penat dari rutinitas di rumah dan menikmati kebersamaan dengan teman lama.

Setelah selesai makan bersama, mereka pun berpisah. Dian tersenyum kepada Sinta sebelum berpamitan.

Tak lupa, sebelum pulang, Dian membeli martabak manis untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh untuk ibu mertuanya. Meskipun hatinya masih sedikit berat karena perlakuan Bu Minah, Dian berusaha menjaga sikap baiknya dan tetap menepati janji kecil itu.

Sesampainya di rumah, suara Bu Minah langsung terdengar dari ruang tengah.

“Aduh, Dian… lama banget sih kamu! Ke mana aja?!” omel Bu Minah dengan nada ketus.

Dian menarik napas panjang, menahan rasa kesal dan lelah. Ia hanya tersenyum tipis, menyerahkan martabak yang dibawanya, sambil mencoba menenangkan hati menghadapi omelan yang tak terelakkan itu.

Dian melangkah masuk ke kamar, tempat di mana ia bisa melepaskan semua topeng dan menjadi diri sendiri.

Di sana, ia bisa menarik napas panjang, menenangkan hati yang lelah, dan sebentar menyingkirkan tekanan dari rumah serta omelan mertuanya.

Kamar itu baginya adalah ruang aman—tempat ia bisa sejenak bersandar, menenangkan diri, dan memulihkan semangat sebelum menghadapi hari-hari berikutnya.

Dian duduk di kamar sambil bermain ponsel, mencoba mengalihkan pikirannya dan sesekali mengirim pesan kepada Andi.

Tak lama, ponselnya bergetar menandakan ada pesan dari pelanggan:

"Mbak Di, kapan open PO cilok?"

Dian membalas dengan cepat, mengetik pesan dengan nada sopan:

"Cilok belum ready, Kak. Paling cireng yang siap sekarang."

Ia meletakkan ponsel sejenak, menatap Naya yang sedang bermain, dan menarik napas panjang. Meski lelah, rutinitas kecil seperti ini memberinya sedikit rasa lega.

Pov Andi

Seminggu berada di Batam terasa begitu menyenangkan. Segala sesuatunya serba dekat, mudah, dan nyaman—mau makan apa saja tinggal pilih, ke mana pun bisa dengan leluasa.

Hubungannya dengan Tasya juga semakin dekat, meski mereka belum resmi pacaran. Andi mulai merasa enggan membalas pesan-pesan Dian, bahkan teleponnya pun tidak pernah ia angkat. Dalam hatinya, ia merasa Dian sudah tidak lagi menarik seperti dulu, dan itu membuatnya memilih untuk menjauh secara perlahan.

“Ibu dan Arif juga mendukung aku,” pikir Andi dalam hati.

“Asal Ibu tetap diam, semuanya akan aman.”

Ia merasa lega karena merasa memiliki sekutu di keluarganya, sehingga rencananya untuk menjauh dari Dian dan mendekati Tasya bisa berjalan tanpa gangguan.

Hari-hari berlalu dengan Andi semakin tenggelam dalam kebebasan dan kenyamanan di Batam, sementara Dian tetap menunggu kabar darinya tanpa menyadari perubahan sikap suaminya.

******

Di rumah, Dian masih duduk di kamar sambil memandangi ponselnya. Beberapa pesan dan panggilan tak satu pun dijawab atau diangkat Andi. Hatinya mulai terasa berat, campur aduk antara rindu, kecewa, dan cemas.

Ia mencoba menenangkan diri, menarik napas panjang sambil menatap Naya yang asyik bermain di dekatnya. “Mungkin ayah sedang sibuk,” bisik Dian dalam hati, berusaha meyakinkan diri sendiri.

Namun setiap detik yang berlalu tanpa kabar dari Andi membuat hatinya semakin gundah. Dian menggenggam ponselnya lebih erat, berharap suatu saat Andi akan kembali menghubunginya, meski kerinduan itu terasa menyakitkan.

Stok cireng di rumah cukup aman, jadi setiap ada pesanan tinggal langsung dipacking. Kemarin, Dian sudah menyiapkan tiga kilogram cireng yang sudah dibagi dalam kemasan 250 gram.

Sejak pagi, kurir silih berganti datang menjemput pesanan. Dian tetap tenang menata dan menyerahkan cireng-cireng itu, sambil sesekali memperhatikan Naya yang bermain di dekatnya. Rutinitas ini sedikit mengalihkan perhatiannya dari rasa rindu dan cemas menunggu kabar Andi.

Bu Minah sudah bersiap rapi di ruang tengah.

“Ian, ibu mau ke Batam. Pulang sore ya, kamu jaga rumah,” ucapnya tegas.

Dian menatap Bu Minah, suara pelan tapi berharap:

“Bu, Dian boleh ikut?”

Bu Minah mengerutkan dahi, terlihat kesal.

“Ah, mau ngapain sih kamu? Ibu ke sana mau menemui Arif. Bulan depan dia akan menikah, jadi siang ini ibu akan melamar calon istrinya. Kamu di rumah saja.”

Dian menahan rasa kecewa dan lirih bertanya, “Kok ibu nggak kasih tahu, Bu, kalau Arif mau tunangan? Rasanya aku jadi orang asing… orang terakhir yang tahu semuanya.” Air matanya hampir jatuh, tapi ia menahan diri.

Bu Minah mendelik dan menjawab ketus, “Halah, kamu itu lebai! Sudahlah, itu taksi ibu sudah nunggu.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!