NovelToon NovelToon
Istriku Diambil Papa

Istriku Diambil Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Konflik etika
Popularitas:511
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.

Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Catur Berdarah

​Kemenangan kecil di ruang sidang ternyata hanyalah pembukaan dari badai yang lebih besar. Agil tahu bahwa memojokkan Baskoro di depan hukum sama saja dengan membangunkan singa yang sedang terluka. Malam itu, di sebuah rumah aman (safe house) yang dijaga ketat oleh unit kecil militer bentukan ibunya, Agil duduk menghadap jendela yang menghadap ke arah pelabuhan.

​Laila duduk di dekatnya, jemarinya masih gemetar saat memegang cangkir teh. Luka di lehernya akibat alat Neural-Shocker sudah mulai mengering, namun luka di jiwanya masih menganga lebar.

​"Mas... Papa tidak akan berhenti, kan?" tanya Laila pelan.

​Agil berbalik, menatap istrinya dengan tatapan yang kini lebih tajam dan dingin. "Dia tidak akan berhenti sampai salah satu dari kami binasa, Laila. Tapi dia lupa, dia yang mengajariku cara bermain catur. Dia mengajariku bahwa untuk memenangkan permainan, terkadang kita harus mengorbankan benteng untuk mendapatkan raja."

​Manuver di Luar Sidang

​Pagi harinya, publik dikejutkan dengan sebuah rilis data di situs investigasi internasional. Data itu bukan soal korupsi, melainkan daftar aset tersembunyi Baskoro yang melibatkan nama-nama besar di kepolisian. Agil sedang melakukan "pembersihan" secara horizontal. Ia tidak hanya menyerang ayahnya, ia sedang memutus semua tangan yang bisa membantu Baskoro melarikan diri atau memanipulasi putusan hakim.

​Namun, Baskoro tetaplah Baskoro. Dari dalam sel tahanan sementaranya yang mewah—hasil suap kepada kepala sipir—Baskoro memegang kendali melalui sebuah ponsel satelit yang diselundupkan.

​"Hendra," ucap Baskoro kepada orang kepercayaannya melalui telepon. "Agil sedang mencoba membakar hutan untuk mengusirku. Kalau begitu, buatlah dia terbakar di dalamnya. Aku ingin Laila dibawa kepadaku besok malam. Tidak peduli berapa banyak nyawa tentara Rina yang harus kau habisi."

​Pengkhianatan di Dalam Benteng

​Keamanan di rumah aman Agil tampak sempurna, namun ada satu celah yang tidak disadari Agil: loyalitas uang sering kali lebih kuat daripada loyalitas tugas. Salah satu pengawal kiriman ibunya, seorang sersan bernama Malik, ternyata memiliki utang judi besar yang sudah dilunasi oleh agen-agen Baskoro.

​Tengah malam, saat hujan badai melanda Jakarta, Malik mematikan sistem kamera pengawas dan membuka pintu gerbang belakang.

​Agil sedang berada di ruang kerja saat ia mendengar suara benturan keras dari arah kamar Laila. Ia segera menyambar pistolnya dan berlari ke sana, namun ia terlambat.

​Laila sudah diseret keluar melalui jendela oleh dua pria berpakaian hitam. Malik berdiri di sana, menodongkan senjata ke arah Agil.

​"Maaf, Pak Agil. Tapi Tuan Besar membayar jauh lebih banyak daripada Nyonya Rina," ucap Malik dingin.

​"Kau akan mati sebelum sempat membelanjakan uang itu, Malik!" geram Agil.

​Baku tembak pecah di koridor sempit itu. Agil berhasil melumpuhkan Malik, namun Laila sudah dibawa masuk ke dalam mobil hitam yang memacu kecepatannya menembus kegelapan malam.

​Panggilan Sang Iblis

​Sepuluh menit kemudian, ponsel Agil bergetar. Sebuah panggilan video.

​Wajah Baskoro muncul, kali ini tanpa setelan jas, hanya mengenakan kaos putih tahanan, namun matanya memancarkan kegilaan yang murni. Di belakangnya, Laila terlihat terikat di sebuah kursi di dalam sebuah gudang yang tampak familiar bagi Agil: gudang tempat ibu Agil dulu sering membawa Agil bermain saat kecil, sebelum Baskoro mengubahnya menjadi tempat penyimpanan rahasia.

​"Kau ingin bermain catur, Agil? Sekarang aku sudah memegang Ratumu," ucap Baskoro sambil tertawa parau. "Datanglah sendiri ke gudang lama di KM 24. Bawa buku catatan asli Surya Wijaya. Jika aku melihat ada tentara atau polisi dalam jarak satu kilometer, kau akan menerima potongan jari istrimu setiap lima menit."

​Langkah Bunuh Diri

​Rina, ibu Agil, masuk ke ruangan dengan wajah panik setelah mendengar keributan. "Agil! Jangan pergi sendiri! Itu jebakan! Dia ingin menghabisimu di sana agar dia bisa mengklaim bahwa kau mati dalam pelarian!"

​Agil menatap ibunya dengan tatapan yang kosong. "Mama selama ini hanya memanfaatkan aku untuk menjatuhkan Papa demi kepentingan politik Mama, kan?"

​Rina tertegun, lidahnya kelu.

​"Kalian berdua sama saja," lanjut Agil sambil memakai jaket hitamnya. "Kalian menggunakan aku dan Laila sebagai bidak. Tapi malam ini, aku akan mengakhiri permainan ini dengan caraku sendiri."

​Agil tidak membawa pasukan. Ia hanya membawa satu tas kecil dan sebuah pemantik api. Ia menuju KM 24, bukan untuk menyerah, melainkan untuk melakukan "Langkah Gambit"—sebuah langkah pengorbanan yang dirancang untuk menghancurkan seluruh papan permainan.

​Konfrontasi di KM 24

​Gudang itu sunyi, hanya deru angin malam yang masuk melalui celah-celah seng. Baskoro duduk di atas peti kayu, menanti anaknya. Hendra dan tiga pengawal lainnya berdiri siaga dengan senjata otomatis.

​Agil masuk dengan tenang, tangannya terangkat ke atas.

​"Mana bukunya?" tanya Baskoro tidak sabar.

​Agil melemparkan tas kecil itu ke depan kaki Baskoro. Hendra membukanya, namun di dalamnya bukan buku, melainkan sebuah tablet digital yang menampilkan hitungan mundur: 02:00 menit.

​"Apa ini?!" teriak Baskoro.

​"Itu adalah pemicu bom termit yang sudah aku pasang di seluruh server utama Baskoro Group dan semua brankas digitalmu di Swiss, Pa," ucap Agil dengan suara yang sangat tenang. "Dalam dua menit, seluruh kekayaanmu—setiap sen yang kau banggakan, setiap bukti kekuasaanmu—akan terhapus secara permanen. Dan aku tidak membawa kode pembatalannya."

​Baskoro melompat berdiri. "Kau gila! Kau menghancurkan warisanmu sendiri!"

​"Aku tidak butuh warisan dari darah dan air mata orang lain. Aku hanya ingin Laila. Lepaskan dia, dan aku akan memberitahu bagaimana cara menghentikan proses ini... meskipun itu bohong."

​Baskoro menatap tablet itu, lalu menatap Laila, lalu menatap Agil. Untuk pertama kalinya, sang predator merasa terjepit. Jika ia membunuh Agil, ia kehilangan hartanya. Jika ia melepaskan Laila, ia kehilangan kendalinya.

​"Hendra! Bunuh wanitanya sekarang!" teriak Baskoro, kehilangan akal sehatnya karena serakah.

​Namun, sebelum Hendra menarik pelatuk, suara ledakan terdengar dari arah gerbang. Bukan polisi, melainkan sosok yang selama ini dianggap sudah mati.

​Gito muncul dengan luka-luka yang dibalut kasar, membawa senapan laras panjang. Di belakangnya, puluhan pekerja logistik yang pernah dibantu Agil menyerbu gudang itu dengan kemarahan rakyat jelata.

​"Permainan selesai, Tuan Besar!" teriak Gito.

​Kekacauan pecah. Agil berlari menuju Laila di tengah desingan peluru. Ia memeluk istrinya, melindunginya dengan tubuhnya sendiri, sementara gudang itu mulai dilalap api dari sabotase yang dilakukan Agil.

​Baskoro mencoba meraih tablet itu di tengah api, tidak menyadari bahwa kekuasaannya benar-benar sedang terbakar, baik secara fisik maupun digital.

Asap hitam pekat membumbung tinggi ke langit malam Jakarta yang gerimis. Gudang tua di KM 24 itu kini telah berubah menjadi tungku raksasa. Suara derit besi yang memuai dan ledakan kecil dari tangki bahan bakar menciptakan suasana apokaliptik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!