Aura Mahendra mengira kejutan kehamilannya akan menjadi kado terindah bagi suaminya, Adrian.
Namun, malam ulang tahun pernikahan mereka justru menjadi neraka saat ia memergoki Adrian berselingkuh dengan adik tirinya, Sisca.
Tidak hanya dikhianati, Aura dibuang dan diburu hingga mobilnya terjun ke jurang dalam upaya pembunuhan berencana yang keji.
Takdir berkata lain. Aura diselamatkan oleh Arlan Syailendra, pria paling berkuasa di Kota A yang memiliki rahasia masa lalu bersamanya.
Lima tahun dalam persembunyian, Aura bertransformasi total. Ia meninggalkan identitas lamanya yang lemah dan lahir kembali sebagai Dr. Alana, jenius medis legendaris dan pemimpin organisasi misterius The Sovereign.
Kini, ia kembali ke Kota A tidak sendirian, melainkan bersama sepasang anak kembar jenius, Lukas dan Luna. Kehadirannya sebagai Dr. Alana mengguncang jagat bisnis dan medis. Di balik gaun merah yang anggun dan tatapan sedingin es, Alana mulai mempreteli satu per satu kekuasaan Adrian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetiyoandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: MALAM DI PESTA AMAL
Gedung Kesenian Kota A malam itu tampak seperti istana cahaya. Karpet merah membentang sepanjang lima puluh meter, menyambut kedatangan para konglomerat, pejabat tinggi, dan selebritas papan atas dalam acara "Night of Hope Gala".
Namun, di balik kemegahan itu, suasana terasa mencekam. Berita tentang penemuan mayat di depan kediaman Mahendra pagi tadi telah menyebar seperti api di padang rumput kering, menjadi bisik-bisik paling panas di antara para tamu.
Adrian Mahendra melangkah turun dari limosinnya dengan wajah yang dipaksakan tenang. Di sampingnya, Sisca tampak sangat kontras dengan penampilannya yang biasanya sempurna.
Meskipun ia mengenakan gaun sutra berwarna zamrud dan perhiasan senilai jutaan dolar, riasannya yang tebal tidak mampu menyembunyikan lingkaran hitam di bawah matanya. Tangannya sedikit gemetar saat ia memegang lengan Adrian.
"Tersenyumlah, Sisca. Jangan biarkan mereka melihat kita hancur," desis Adrian melalui sela-sela giginya yang rapat.
"Aku mencoba, Adrian. Tapi aku merasa... aku merasa semua orang sedang menatap kita seolah kita adalah eksekutor," bisik Sisca dengan suara serak.
Saat mereka melangkah masuk ke dalam ballroom, kerumunan tamu segera menyingkir, memberikan jalan dengan rasa hormat yang bercampur dengan kecurigaan. Namun, perhatian massa tidak bertahan lama pada mereka. Suasana tiba-tiba menjadi hening saat pembawa acara mengumumkan kedatangan tamu yang paling dinantikan malam itu.
"Tuan Arlan Syailendra dan pasangannya, Dr. Alana."
Pintu besar ballroom terbuka. Arlan Syailendra melangkah masuk dengan setelan tuxedo hitam yang sangat tajam, memancarkan aura dominasi yang membuat setiap pria di ruangan itu merasa kerdil. Namun, bukan Arlan yang membuat semua orang menahan napas.
Di lengannya, Alana berjalan dengan keanggunan yang hampir tidak manusiawi. Ia mengenakan gaun couture berwarna perak metalik yang memeluk tubuhnya seperti kulit kedua, berkilauan di bawah lampu kristal seolah ia dibungkus dalam cahaya bulan.
Rambut hitamnya dibiarkan tergerai dalam gelombang lembut, dan di lehernya—dengan sengaja—ia mengenakan liontin bunga lotus perak yang besar dan mencolok.
Riasan matanya tajam, memberikan kesan predator yang cantik. Ia tidak tersenyum; ia hanya memberikan tatapan dingin yang mampu membekukan darah siapa pun yang berani menatapnya terlalu lama.
"Ya Tuhan... lihat dia," bisik seorang sosialita di pojok ruangan. "Dia terlihat seperti dewi perang."
Adrian mematung. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa pingsan. Saat Alana berjalan mendekat, ia melihat setiap gerak-gerik wanita itu—cara dia mengangkat dagu, cara dia melirik dengan sudut mata—semuanya adalah replika sempurna dari Aura Mahendra, namun dengan versi yang sepuluh kali lebih kuat dan mematikan.
Sisca, di sisi lain, mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Matanya terpaku pada liontin lotus di leher Alana. Bayangan masa lalu saat ia merobek kalung serupa dari leher Aura sebelum mendorongnya ke dalam mobil maut muncul kembali di benaknya dengan sangat jelas.
"Aura..." gumam Sisca, suaranya sangat rendah hingga hampir tidak terdengar.
Alana dan Arlan berhenti tepat di hadapan pasangan Mahendra. Arlan menyeringai tipis, sebuah seringai yang menandakan tantangan. "Adrian, Sisca. Senang melihat kalian masih memiliki keberanian untuk tampil di publik setelah kejadian... pagi tadi."
Adrian berdehem, mencoba menjaga suaranya agar tidak bergetar.
"Kejadian pagi tadi hanyalah fitnah dari musuh bisnis kami, Tuan Arlan. Kami sedang bekerja sama dengan pihak berwajib untuk menemukan pelakunya."
"Oh, benarkah?" Alana menyela, suaranya terdengar seperti melodi yang mematikan. Ia melangkah satu langkah lebih dekat ke arah Sisca. "Saya pikir itu adalah 'hadiah' dari seseorang yang sangat merindukan kalian. Bagaimana tidur Anda semalam, Nyonya Mahendra? Apakah mimpi buruk itu mulai terasa nyata?"
Sisca mundur satu langkah, wajahnya kini sepucat kertas. "Siapa kau... Kau bukan dokter. Kau adalah iblis yang kembali dari neraka!"
"Sisca, tutup mulutmu!" Adrian mencoba membentak, namun terlambat.
Beberapa tamu di sekitar mereka mulai memperhatikan. Alana tertawa kecil, suara tawa yang sangat dingin. "Nyonya Mahendra sepertinya sedang tidak sehat. Mungkin efek dari terlalu banyak menyimpan rahasia?"
Tiba-tiba, lampu di ballroom sedikit meredup karena acara utama akan dimulai—sebuah lelang amal untuk panti asuhan. Namun, bagi Sisca, kegelapan itu terasa seperti jurang yang menganga. Ia mulai berhalusinasi. Di bayang-bayang di balik tubuh Alana, ia seolah melihat sosok Aura yang bersimbah darah, menatapnya dengan mata kosong.
"Pergi! Pergi kau!" Sisca tiba-tiba berteriak, menepis tangan pelayan yang lewat yang membawakan nampan minuman. Gelas-gelas jatuh dan pecah berkeping-keping, menciptakan suara denting yang memekakkan telinga di tengah keheningan.
Seluruh ruangan kini menatap Sisca.
"Sisca, sadarlah!" Adrian mencengkeram lengan istrinya dengan kasar, namun Sisca justru memberontak.
"Dia ada di sana, Adrian! Dia memakai kalung itu! Dia kembali untuk mengambil jantungku!" Sisca menunjuk ke arah Alana dengan jari yang gemetar hebat. Rambutnya yang tertata rapi mulai berantakan, dan matanya menunjukkan kegilaan yang nyata.
Alana tetap berdiri tenang di samping Arlan, wajahnya menunjukkan ekspresi "prihatin" yang sangat palsu. "Tuan Adrian, sepertinya istri Anda membutuhkan perawatan psikiater segera. Sangat disayangkan, di acara semegah ini dia kehilangan akal sehatnya."
Arlan memeluk pinggang Alana secara posesif, memperlihatkan aliansi mereka yang tak tergoyahkan. "Harry, panggilkan ambulans. Kita tidak ingin Nyonya Mahendra melukai tamu lainnya."
"Tidak! Jangan sentuh aku! Kalian semua ingin membunuhku seperti kami membunuh—" Sisca hampir saja mengucapkan pengakuannya sebelum Adrian menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Maafkan kami, istri saya sedang sangat tertekan karena kejadian sabotase pagi tadi," Adrian berkata dengan napas terengah-engah, wajahnya dipenuhi keringat. Ia segera menyeret Sisca keluar dari ballroom di bawah tatapan menghina dari seluruh elit Kota A. Reputasi mereka hancur total dalam satu malam.
Setelah mereka pergi, Arlan menunduk, berbisik di telinga Alana. "Satu tumbang. Kau benar-benar tahu di mana harus menusuk, Dokter."
Alana menatap pintu tempat Sisca diseret keluar. "Itu baru goresan kecil, Arlan. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya dianggap gila oleh dunia, sama seperti dia membuat orang lain menderita."
Arlan mengambil gelas champagne dan memberikannya pada Alana. "Malam ini adalah kemenanganmu. Mari kita nikmati sisanya."
Namun, di tengah kemenangannya, Alana melihat Lukas yang muncul dari balik kerumunan tamu (ia menyelinap masuk dengan bantuan tim Arlan).
Lukas memberikan kode jempol ke bawah, menandakan bahwa ia baru saja berhasil menanamkan perangkat penyadap di mobil Adrian saat kekacauan tadi terjadi.
Alana tersenyum puas. Sekarang, ia tidak hanya telah menghancurkan kewarasan Sisca, tapi ia juga telah memasang jaring di leher Adrian. Perjalanan pulang mereka malam ini akan menjadi rekaman pertama dari pengakuan dosa yang akan menghancurkan Mahendra Group selamanya.
Malam itu berakhir dengan gemilang bagi Dr. Alana, namun bagi keluarga Mahendra, itu adalah awal dari akhir yang menyakitkan. Di dalam limosinnya yang melaju cepat, Sisca terus meracau ketakutan, sementara Adrian menatap ke luar jendela dengan mata penuh kebencian, menyadari bahwa wanita berbaju perak itu telah mengambil segalanya darinya hanya dalam hitungan jam.