Shasha hanyalah gadis desa biasa yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya lewat beasiswa. Namun, hidupnya hancur dalam semalam ketika ia diculik oleh Jake Giordino, seorang pemimpin organisasi hitam yang paling ditakuti.
Shasha tidak melakukan kesalahan apa pun. Dosanya hanyalah satu, yaitu karena ia dicintai oleh pria yang diinginkan Lana, adik perempuan Jake.
Demi memuaskan obsesi sang adik, Jake mengurung Shasha di sebuah mansion tersembunyi. Shasha dipaksa menghilang dari dunia agar pria yang mencintainya bisa berpaling pada adik sang mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dipaksa Bernoda
“Bunuh dia untukku.”
Deg
Jantung Shasha seolah berhenti berdetak. Dunia di sekitarnya mendadak sunyi, hanya menyisakan gema kalimat mengerikan dari bibir Jake. Ia menggeleng cepat, wajahnya memucat pasi dengan ekspresi yang sudah tidak waras lagi karena ketakutan yang melampaui batas.
“TIDAK! AKU TIDAK MAU!” teriaknya histeris. Ia berbalik, mencoba lari sekencang mungkin keluar dari sel maut itu.
Namun Jake jauh lebih cepat. Dalam satu gerakan, ia sudah menyergap dan mengurung tubuh mungil Shasha. Punggung Shasha bertabrakan keras dengan dada bidang Jake yang sedingin batu. Air mata Shasha terjun bebas, ia memejamkan mata rapat-rapat, tidak berani menatap pria mengenaskan yang terikat di depannya.
“Sssttt... jangan menangis,” bisik Jake tepat di telinga Shasha, suaranya terdengar sangat tenang namun mematikan, “Pria seperti dia tidak pantas kau tangisi.”
“Kenapa kau... hiks... membunuhnya... hiks...” tanya Shasha di sela isakannya.
Jake menatap tajam pria tawanannya, lalu kembali berbisik di telinga Shasha dengan nada main-main, “Rahasia.”
Shasha melirik cepat pria di belakangnya dengan tatapan benci, “Dasar pria gila!”
“HAHAHAHAHAHA!” Jake justru tertawa keras. Tawa yang meledak itu terdengar begitu puas, seolah ia sedang menikmati pertunjukan paling menghibur di dunia.
“Apa nyawa manusia tidak berarti apa-apa bagimu?!” teriak Shasha, emosinya mulai meledak, “Apa kau bukan manusia, hah?!”
Jake tersenyum tipis. Ia menempelkan pipinya ke telinga Shasha, matanya tetap terkunci pada pria yang hampir mati di depan mereka, “Aku sudah berubah menjadi iblis. Dan kau tahu? Itu sangat menyenangkan,” ucapnya diakhiri tawa kecil yang mengerikan.
“Lepaskan aku, pria bajingan!”
Jake tidak memedulikan makian itu. Ia justru memaksa tangan Shasha untuk memegang pistol bersamanya, mengarahkan moncong senjata itu tepat ke arah sang tawanan.
“Aku tidak mau! Lepaskan aku!”
“Cobalah sekali, maka kau akan ketagihan merasakan darah orang lain,” bisik Jake, memprovokasi sisi gelap yang ia paksa muncul dari dalam diri Shasha.
“Tidak! Aku tidak ingin menjadi iblis sepertimu! Lepaskan aku!”
Telunjuk Shasha dipaksa menekan pelatuk. Jake menuntun tangannya, memberikan tekanan yang tidak bisa dilawan oleh tenaga Shasha yang lemah.
“Bunuh dia, gadis nakal.”
“TIDAK!”
DOR!
Suara tembakan itu menggelegar di ruang bawah tanah. Jake melepaskan tubuh Shasha dan tersenyum puas melihat tembakan itu tepat mengenai kepala sang tawanan.
Sementara Shasha langsung luruh ke lantai. Batu kotor dan dingin di bawahnya kini tidak terasa apa-apa karena seluruh tubuhnya sudah mati rasa. Ia mengangkat tangannya yang gemetar, menatap telapak tangannya sendiri dengan perasaan bersalah.
“Aku... aku... sudah membunuh orang.”
Jake menunduk, menatap Shasha dengan senyum miring yang menghina. Ia lalu berjongkok di depan gadis itu, “Menyenangkan, bukan?”
Plak!
Satu tamparan keras kembali mendarat di pipi kanan Jake. Shasha menatapnya dengan tatapan tajam yang penuh dengan air mata kemarahan.
Jake mengelus bekas tamparan itu, wajahnya tidak menunjukkan rasa sakit, namun matanya berubah gelap dan berbahaya, “Dua kali. Dua kali kau menamparku,” ucapnya dengan suara yang rendah dan mengancam.
Shasha bergerak mundur dengan ketakutan saat merasakan aura Jake yang berubah semakin mencekam, “Kau mau apa?!”
Belum sempat Jake membalas, suara langkah kaki yang cukup banyak terdengar mendekat. Kevin datang bersama anak buah Jake yang lain.
“Urus mayatnya,” perintah Jake sambil melemparkan pistol yang baru saja ia pakai kepada Kevin dengan santai.
Anak buah Jake segera bergerak mengurus mayat pria itu. Sementara itu, Kevin menatap Shasha dengan tatapan aneh, “Tuan. Apa dia...?”
Jake menyeringai lebar, “Benar. Dialah pembunuhnya.”
“Bukan! Bukan aku!” Shasha menggeleng tidak terima, lalu menunjuk Jake dengan telunjuknya yang gemetar, “Kau pembunuhnya!”
Jake kembali tertawa keras. Ia mencengkeram dagu Shasha, memaksa gadis itu mendongak menatapnya, “Kalau begitu, kitalah pembunuhnya.”
Shasha hendak melayangkan tamparannya lagi, tapi Jake dengan sigap menangkap pergelangan tangannya, “Tidak ada yang ketiga,” desisnya tajam.
Dalam satu gerakan cepat, Jake mengangkat dan menggendong tubuh Shasha di atas bahunya seperti karung beras. Ia melangkah keluar dari ruang bawah tanah yang berbau darah itu dan mengabaikan rontaan Shasha. Sementara di belakang mereka, Kevin mulai ikut membersihkan jejak darah yang baru saja tercipta bersama anak buah lainnya.
“Lepaskan aku! Dasar brengsek!” Shasha terus memukuli punggung Jake dengan sisa tenaganya. Namun pukulan itu seolah hanya angin lewat. Punggung Jake terasa sangat keras dan pria itu sama sekali tidak bergeming.
Jake mengabaikan semua rontaan dan makian Shasha. Ia melangkah mantap menaiki tangga untuk keluar dari kegelapan ruang bawah tanah, menyusuri koridor mansion yang mewah, dan kembali menaiki tangga menuju lantai atas.
“Lepaskan aku sekarang juga!” teriak Shasha lagi. Kepalanya mulai berdenyut pusing akibat guncangan dari langkah-langkah lebar Jake. Rasa waswas bahkan sudah menyelimuti hatinya saat ia menyadari mereka semakin dekat dengan kamarnya. Ia takut akan kegilaan apalagi yang akan dilakukan pria itu setelah paksaan pembunuhan tadi.
Sesampainya di depan kamar penyekapan gadis itu, Jake langsung menendang pintu hingga terbuka kasar, lalu menutupnya kembali dengan sentakan kaki. Ia melangkah menuju ranjang dan melemparkan tubuh Shasha ke atas kasur empuk itu. Shasha tersentak, berusaha segera bangkit, namun Jake sudah lebih dulu merangkak naik dan mengurung tubuhnya di bawah aura intimidasinya.
“Menyingkir! Apa yang akan kau lakukan?!” teriak Shasha dengan tatapan penuh ketakutan.
Jake menyeringai misterius, “Aku ingin tidur,” jawabnya singkat dengan nada penuh teka-teki yang mencekam.
“Apa maksudmu breng—“
Belum sempat Shasha menyelesaikan kalimatnya, Jake sudah membungkam bibirnya dengan ciuman paksa. Shasha memberontak hebat, namun Jake dengan mudah mencengkeram kedua tangan gadis itu ke atas kepala hanya dengan satu tangan kekarnya. Tangan Jake yang lain menahan pinggang Shasha agar tidak bergerak, sementara kakinya menjepit kaki Shasha, mengunci segala perlawanan.
Jake terus melumat bibir Shasha meskipun gadis itu berusaha keras mengatupkan mulutnya. Dalam satu kesempatan sempit, Shasha menggunakan giginya untuk menggigit bibir Jake sekuat tenaga hingga berdarah. Jake tersentak, menghentikan aksinya, dan menegakkan tubuh sambil menyentuh bibirnya yang terluka.
Ia menatap noda merah di jemarinya, lalu menyeringai liar, “Menarik.”
Shasha menatapnya dengan kecemasan yang memuncak. Ia takut tindakannya barusan justru membangkitkan sisi iblis Jake yang lebih buas. Jake kembali menunduk, berniat melanjutkan apa yang ia mulai.
Tok tok tok!
Suara ketukan pintu yang tiba-tiba membuyarkan niat Jake. Dengan gerakan kasar dan penuh kekesalan, ia pun melepaskan tubuh Shasha.
Jake turun dari ranjang, dan membuka pintu dengan sentakan kuat, “Ada apa?” tanya Jake dingin.
Kevin berdiri di sana. Matanya sempat melirik ke dalam kamar, melihat Shasha yang sedang meringkuk ketakutan sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. Gadis itu terlihat berusaha bersembunyi dari kenyataan pahit.
Jake ikut melirik ke arah ranjang sejenak sebelum menatap Kevin kembali, “Tidak ada yang terjadi,” ucapnya santai, lalu melangkah keluar kamar sambil memberikan kode agar Kevin mengikutinya.
Kevin mengangguk patuh, menutup pintu kamar Shasha, dan berjalan berdampingan dengan atasannya itu.
“Nyonya besar baru saja dibawa ke rumah sakit,” lapor Kevin dengan nada serius.
“Ke rumah sakit sekarang,” perintah Jake dingin tanpa keraguan sedikit pun. Langkahnya semakin lebar dan terburu-buru meninggalkan area mansionnya.
Sementara itu, di balik pintu kamar yang tertutup, Shasha terus menangis sesenggukan di bawah perlindungan selimutnya. Hatinya hancur. Pria itu benar-benar kurang ajar dan telah menodainya dengan cara yang paling hina.
......................
Di sisi lain kota, suasana di dalam mobil Bima terasa jauh lebih tenang. Lana duduk di kursi penumpang, sedangkan matanya terus memerhatikan ke luar jendela hingga sosok Bima muncul dari sebuah minimarket dengan kantung kresek di tangannya.
“Apa yang kau beli?” tanya Lana saat Bima masuk dan duduk di sampingnya.
“Roti. Apa kau suka?” jawab Bima singkat sambil menyodorkan sebungkus roti.
Lana mengulum senyumnya. Baginya, perhatian kecil ini terasa sangat istimewa karena datang dari pria yang selama ini ia dambakan. Ia mengangguk cepat, “Suka. Bahkan sangat suka,” ucapnya sebelum melahap roti cokelat itu dengan antusias, “Mmm... lezat sekali!”
Bima hanya tersenyum tipis. Dalam hatinya, ia merasa terkejut melihat sisi lembut Lana yang belum pernah ia temui sebelumnya. Namun keceriaan Lana tidak mampu menghapus mendung di wajah Bima. Lana yang menyadari hal itu segera mengubah ekspresinya menjadi sedih, berusaha menunjukkan empati.
“Tenanglah, Bima. Kita pasti akan menemukan Shasha. Polisi juga sudah mulai bergerak membantu kita,” hibur Lana sambil menyentuh lengan Bima.
“Tapi kita masih belum menemukan petunjuk apa pun,” balas Bima dengan suara berat, “Bagaimana aku bisa tenang? Aku tidak tahu bagaimana keadaan Shasha sekarang. Apa dia baik-baik saja? Apa dia disakiti? Apa dia—“
Drrt... drrt...
Kalimat Bima terputus oleh getaran ponsel Lana. Lana mengangkat ponsel itu dari pangkuannya dan dahinya berkerut kala melihat nama sang pemanggil. Itu adalah nomor pengawal neneknya. Ia sempat merasa kesal karena momen intimnya dengan Bima terganggu, namun ia segera menekan emosinya agar Bima tidak curiga.
“Ada apa menghubungiku malam-malam begini?” tanya Lana dengan nada ketus yang tertahan. Namun di detik berikutnya, wajahnya langsung memucat.
“APA?!”
Suaranya meninggi, dipenuhi rasa khawatir yang nyata, “Aku ke sana sekarang!”
Panggilan itu terputus. Lana dengan terburu-buru merapikan barang-barangnya, bahkan tangannya sedikit gemetar karena pikirannya yang kalut.
“Ada apa?” tanya Bima cemas.
Lana menoleh, matanya berkaca-kaca, “Nenekku... Nenekku masuk rumah sakit.”
Tanpa pikir panjang, Bima meletakkan rotinya yang belum habis dan segera memasang sabuk pengaman, “Kuantar sekarang.”
Lana mengangguk patuh. Di balik rasa khawatir terhadap neneknya, terselip kepuasan kecil di hatinya. Melihat kepedulian Bima yang begitu besar kepadanya membuatnya yakin bahwa tidak akan sulit untuk menaklukkan hati pria itu sepenuhnya dalam waktu dekat, sekaligus menjauhkannya dari jejak Shasha.