ketika keluarga belum dikaruniai keturunan dan memilih poligami sebagai solusi, bagaimana kisah keluarganya? Bagaimana sekitar bisa memahami kondisinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaDM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#chapter 34, Putra Mahkota
Lahirnya anak laki-laki tentu menjadi kebanggaan tersendiri buat Maulana, kelak dibahunya tanggung jawab keluarga ini akan dia jaga dan teruskan.
Maulana mengadakan aqiqah di Bogor, lebih banyak lagi yang diundang. Bahkan para pelanggan setia Bakulan Bunda pun turut hadir yang domisili di Jabodetabek karena tau bagaimana perjuangan Nayara buat mendapatkan buah hati, walaupun bab poligaminya mereka ga tau.
Zayyan Maulana, disematkan sebagai namanya. Kedua orang tua mengharapkan kelak dia bisa menjadi pemimpin yang cemerlang sesuai namanya. Panggilannya Aa' Zay.
Ummi Nurul yang memimpin acara pengajian aqiqah Aa' Zay. Sepanjang lantunan ayat suci Al-Qur'an, sang bayi diam dengan mata terbuka seolah sedang menyimak padahal sedari malam agak rewel karena puput puser.
"Kita hanya perlu memperbanyak sabar dalam do'a-do'a yang tidak segera Allah kabulkan. Bukankah Allah telah berjanji akan mengabulkan jika kita berdo'a. Dalam Al Qur'an surat Al Mu'min ayat 60 : Dan Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Ya, berdo'a adalah ikhtiar yang paling utama dan pertama kali harus dilakukan setiap manusia. Setelah itu kita harus senantiasa berprasangka yang baik pada Allah. Karena seperti yang kita tahu, Allah sesuai dengan prasangka hambaNya. Banyak yang tau tentang perjuangan Teh Nayara untuk mendapatkan buah hati. Untuk semua pasangan yang sedang berikhtiar, semoga Allah memberikan kekuatan, kesabaran dan pelajaran dalam perjuangan ini. Allah akan senantiasa mendengar tiap keluh kesah kita dan melihat semua ikhtiar kita" nasehat Ummi Nurul.
Setelah selesai pengajian, dilanjutkan ramah tamah, banyak yang memberikan uang dan kado buat Aa' Zay bahkan full satu kamar isinya kado semua. Sangat jauh jumlahnya saat Fathia lahir. Rekanan Maulana pun mengirimkan uang sebagai ungkapan turut berbahagia. Rencananya Maulana dan Nayara akan membuatkan satu rekening khusus untuk Aa' Zay, jadi kalo ada yang memberikan uang ke Aa' Zay akan disimpan di rekening tersebut.
Selesai acara, Nayara membawa Aa' Zay ke kamar karena mau diberikan ASI. Maulana juga ikut masuk kamar.
"Lama ya kita menanti saat ini. Dari berkomitmen dalam ikatan pernikahan selama belasan tahun, akhirnya Aa' Zay hadir juga ke dunia dan seketika mengubah dunia kita berdua ya. Anak ini lahir setelah melalui proses persalinan yang panjang dan pastinya menyakitkan buat kamu" kata Maulana sambil memeluk Nayara dari belakang sambil mengusap kepala Aa' Zay.
"Nangisnya itu loh yang bikin kaget, kenceng banget, tapi justru kita tersenyum lebar menyambutnya" ujar Nayara.
"Bener ya kata orang ketika anak lahir ke dunia dengan menangis, kita menyambutnya dengan berjuta senyuman. Kita lah yang dia lihat pertama kali" tambah Maulana.
.
Zay sudah bisa seperti pola normal kebanyakan orang, dimana kalo pagi dan siang banyak bangun dan menangis saat minta ASI, malamnya pun lebih banyak tidur, jika ga dibangunin buat minum ASI pasti bablas tidur sampai pagi.
"Aa' Zay... masih banyak yang ingin Bunda kenalin ke kamu. Ada Kakek, Nenek, Aki dan Nini yang selalu kasih semangat, nasehat dan do'a dari kamu saat didalam perut. Ada om, tante, mama Tikah yang suka ajaib kelakuannya. Ada Fathia yang lucu dan keliatan banget sayang sama kamu. Para pekerja disini dan di Bakulan Bunda yang bener-bener ikut ngerasain up and down nya Bunda" ucap Bunda saat tengah malam Aa' Zay bangun karena pipis.
Jari kecilnya Zay menggenggam tangan Nayara, seolah ga ingin melepaskannya. Membuat Nayara meleleh hatinya.
"Aa'... melihat kamu yang kecil dan lemah, rasanya Bunda selalu ingin memelukmu sepanjang waktu biar kamu nyaman dan ga takut. Aa' Zayyan Maulana... itulah namamu Nak, nama yang kami pilih dengan penuh cinta, yang didalamnya terkandung do'a. Bunda dan Ayah akan selalu siap mendampingi setiap langkahmu. Apapun yang kamu cita-citakan nanti, kami akan mendukungmu. Jangan takut melangkah Nak. Do'a kami yang dipanjatkan disetiap waktu akan selalu terucap nama kamu didalamnya. Aa'.. inilah dunia kita.. mungkin ga sehangat rahim Bunda dulu, tapi Bunda dan Ayah siap mendampingimu" tutur Nayara mengajak Zay ngobrol.
Maulana hari ini bangun kesiangan, harusnya jam lima subuh sudah jalan ke Ciloto. Ada perusahaan katering yang biasa menangani seribu porsi per harinya, janjian ketemu di Ciloto mau liat perkebunan milik Maulana. Mereka melayani katering untuk pabrik milik Jepang yang sangat concern dalam pemilihan bahan makanan. Apalagi dari awal maunya sayur dan buah-buahan organik. Makanya ingin melihat secara langsung sebagai bahan pertimbangan kerjasama dengan agro bisnisnya Maulana.
Mang Dadang lumayan cekatan memilih jalan pintas. Untunglah Abah berinisiatif untuk mengulur waktu dengan mengajak ngeteh dan keliling perkebunan dulu. Kebetulan juga petani jamur disini makin banyak yang menjadi binaan Maulana jadi pihak katering bisa secara langsung melihat hasil panen per harinya.
"Udaranya masih segar ya Bah" ucap salah satu rombongan katering.
"Alhamdulillah.. mungkin banyak yang hijau-hijau jadinya masih segar. Beda sama di kota yang jarang ada pohon. Makanya banyak penduduk sini yang tua kaya Abah masih sanggup jalan keliling kampung. Beda sama orang kota yang cuma ke warung jarak sepuluh meter aja pake motor" jawab Abah.
Semua tertawa karena merasa benar juga omongan Abah. Kadang sebagai orang yang tinggal di perkotaan, sekedar ke warung selisih tiga rumah aja pake motor, jadi ga banyak gerak.
Satu jam kemudian Maulana sampai dan langsung meneruskan perbincangan di rumah Abah. Ambu menyajikan makanan kampung yang justru digemari para orang katering. Walaupun sudah masuk musim penghujan, tapi cuaca ga menentu, hari ini mentari sangat terik menyapa. Ambu menyediakan bir kocok buat para tamu.
"Tenang aja walaupun namanya Bir Kocok tapi ga bikin mabuk. Ini minuman tradisional yang terbuat dari jahe merah, kayu manis, cengkeh, gula pasir dan aren. Terus bahan-bahan tersebut direbus dan diambil sarinya hingga berwarna coklat. Nah penyajiannya ini ya dikocok-kocok dulu biar berbusa kaya bir" terang Abah.
"Iya nih.. rasanya unik.. segar dingin tapi diperut rasanya hangat" jawab orang katering.
"Dulu kan kita dijajah Belanda, mereka mabuk-mabukan pake bir asli, nah yang pribumi juga bisa bikin tandingannya, ga memabukkan dan insyaa Allah halal" kata Abah.
Para orang-orang katering pamit pulang, Maulana masih berbincang sama Abah dan Ambu.
"kumaha perkembanganna Fathia sama Aa' Jay?" tanya Abah.
"Zay Bah.. atuh kaya orang India .. Ajay.. Alhamdulillah keduanya sehat. Teh Fathia juga keliatan sayang sama Aa' nya, kalo mandiin aja ikutan" terang Maulana.
"Nay sama Tikah saling cemburu?" tanya Ambu hati-hati.
"Sifatnya wanita kan emang pencemburu, tapi sejauh ini ga ada keributan yang besar. Sama-sama sibuk sama anaknya masing-masing" jawab Maulana.
"Tapi kayanya kamu perlu mulai berpikir untuk pisahin mereka, apalagi kalo anak-anak sudah besar. Masa ada dua rumah tangga dalam satu atap, kasian anak-anak nantinya jadi bingung" usul Abah.
"Ga ada pikiran buat seperti itu Bah... selama mereka masih nurut sama Lana.. insyaa Allah aman" jawab Maulana.
membuka wawasan, tau gimana kita harus mengerti orang lain gak berkutat pada diri sendiri.
keluar dari zona nyaman itu berat
Alhamdulillah Zay banyak anak jadi penerus nya juga ada
mbokya sekali kali selesaikan masalah sendiri gitu