Raka adalah pria yang selalu menunda banyak hal dalam hidupnya pekerjaan, keputusan, bahkan perasaannya sendiri.
Bagi Raka, semua selalu bisa dilakukan nanti. Selalu ada waktu. Selalu ada alasan untuk berkata, “ya mungkin besok.”
Namun semuanya berubah ketika Lala, seorang perempuan yang sederhana, jujur, dan penuh keberanian, masuk ke dalam hidupnya. Lala bukan hanya membuat Raka tertawa, tapi juga perlahan memaksanya menghadapi hal yang selama ini ia hindari: keputusan tentang cinta dan masa depan.
Ketika masa lalu Raka kembali muncul dan keraguan mulai menguji hubungan mereka, Raka harus memilih—tetap menjadi orang yang selalu menunda, atau akhirnya berani mengatakan “hari ini.”
Sebuah kisah komedi romantis hangat tentang cinta, keraguan, dan keberanian untuk tidak lagi menunggu besok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan yang Terlambat
Hari kedua dari tantangan satu minggu dimulai dengan suasana yang sedikit… berbeda.
Bukan hanya bagi Bayu.
Bukan juga bagi Nadia.
Tapi terutama bagi Raka.
Semalaman ia hampir tidak bisa tidur.
Bukan karena pekerjaan.
Bukan juga karena kopi yang terlalu banyak.
Tapi karena satu kalimat yang terus terngiang di kepalanya.
"Kalau suatu hari aku benar-benar punya pacar… kau akan tetap jadi temanku?"
Raka menatap langit-langit kamar kosnya.
Lalu menghela napas panjang.
"Kenapa aku baru memikirkan ini sekarang…"
Pagi itu di kantor, Doni langsung menyadari sesuatu.
Ia duduk di depan meja Raka sambil memperhatikan wajah temannya itu.
"Kau kelihatan seperti orang yang baru sadar sesuatu yang penting."
Raka mengetik di laptop tanpa menoleh.
"Aku memang baru sadar."
Doni menyeringai.
"Akhirnya?"
Raka berhenti mengetik.
Menatap layar kosong.
Lalu berkata pelan,
"Aku suka Nadia."
Doni langsung menepuk meja.
"AKHIRNYA!"
Beberapa orang di kantor menoleh.
Raka memijat pelipisnya.
"Tolong jangan seperti komentator sepak bola."
Doni tertawa.
"Aku sudah tahu dari lama."
Raka menatapnya.
"Kau tidak pernah bilang."
Doni mengangkat bahu.
"Karena kau sendiri tidak sadar."
Sementara itu di tempat lain…
Bayu dan Nadia sedang berada di rumah Bayu lagi.
Hari kedua tantangan.
Ibu Bayu sedang memasak di dapur.
Nenek Bayu duduk di kursi favoritnya sambil merajut.
Bayu dan Nadia duduk di sofa.
Suasana agak canggung.
Bayu berkata,
"Kau tidak menyesal ikut permainan ini?"
Nadia menoleh.
"Tidak."
Bayu tersenyum kecil.
"Aku beruntung punya teman seperti kamu."
Nadia tidak menjawab.
Ia hanya tersenyum tipis.
Namun dalam pikirannya…
Ia juga sedang memikirkan sesuatu.
Raka.
Siang hari, Raka akhirnya datang ke rumah Bayu.
Begitu ia masuk ruang tamu, ia langsung melihat sesuatu yang membuat dadanya terasa aneh lagi.
Bayu dan Nadia duduk sangat dekat di sofa.
Bayu bahkan sedang menunjukkan sesuatu di ponselnya.
Mereka tertawa.
Raka berdiri di pintu beberapa detik.
Entah kenapa langkahnya terasa berat.
Bayu akhirnya melihatnya.
"RAKA!"
Raka berjalan masuk.
"Hai."
Nadia menatapnya.
"Datang juga."
Raka mengangguk.
"Iya."
Nenek Bayu memperhatikan semuanya dari kursinya.
Matanya sedikit menyipit.
Beberapa menit kemudian mereka semua duduk bersama.
Ibu Bayu membawa teh dan kue.
"Kalian terlihat cocok sekali."
Bayu tersenyum bangga.
Raka hanya meminum tehnya.
Nenek tiba-tiba berkata,
"Nadia."
"Iya Nek."
"Kamu bahagia dengan Bayu?"
Bayu menoleh cepat.
Raka juga ikut menoleh.
Nadia terlihat berpikir beberapa detik.
Lalu berkata,
"Dia orang baik."
Nenek mengangguk pelan.
"Tapi itu bukan jawaban."
Ruangan menjadi sunyi.
Bayu mulai gugup.
Raka menatap Nadia.
Nadia akhirnya berkata,
"Aku… nyaman."
Nenek tersenyum kecil.
"Nyaman bukan berarti cinta."
Bayu langsung pucat.
Raka menahan napas.
Setelah beberapa jam, mereka akhirnya keluar dari rumah.
Bayu harus pergi membantu ayahnya ke kantor.
Jadi hanya tersisa Raka dan Nadia di halaman rumah.
Angin sore bertiup pelan.
Suasana menjadi canggung.
Raka akhirnya berkata,
"Nenek Bayu menakutkan."
Nadia tertawa kecil.
"Iya."
Raka menatapnya beberapa detik.
Lalu berkata pelan,
"Aku ingin bertanya sesuatu."
Nadia menoleh.
"Apa?"
Raka menelan ludah.
Ini pertama kalinya ia benar-benar serius.
"Kau… benar-benar nyaman dengan Bayu?"
Nadia terlihat sedikit terkejut.
"Kenapa kau bertanya itu?"
Raka tidak langsung menjawab.
Ia hanya berkata pelan,
"Aku ingin tahu saja."
Nadia memandang jalan di depan mereka.
Lalu berkata dengan jujur,
"Bayu orang baik."
Raka mengangguk pelan.
Nadia melanjutkan,
"Tapi aku tidak pernah memikirkan dia seperti itu."
Raka menatapnya.
"Seperti apa?"
Nadia tersenyum kecil.
"Seperti seseorang yang akan aku cintai."
Raka merasa dadanya sedikit lebih ringan.
Tapi Nadia kemudian menambahkan,
"Aku juga tidak pernah memikirkan siapa pun seperti itu."
Raka mengernyit.
"Tidak pernah?"
Nadia menggeleng.
"Tidak."
Beberapa detik mereka hanya berdiri dalam diam.
Lalu Nadia berkata sesuatu yang membuat Raka tidak siap.
"Termasuk kamu."
Raka tertawa kecil.
"Itu jelas."
Nadia menatapnya.
"Kau selalu seperti teman."
Raka mengangguk pelan.
"Iya."
Tapi jauh di dalam hatinya…
ia tahu sesuatu.
Jika ia tidak melakukan apa-apa sekarang…
maka ia mungkin akan kehilangan Nadia selamanya.
Di rumah Bayu malam itu…
Nenek duduk sendirian di ruang tamu.
Ia tersenyum kecil lagi.
Lalu berkata pelan,
"Anak bodoh itu belum menyadari."
Ia menatap jendela.
"Padahal waktunya hampir habis."
Karena tantangan satu minggu itu…
akan segera mencapai titik yang tidak bisa kembali lagi.
Dan seseorang harus mengatakan yang sebenarnya.
Sebelum semuanya terlambat.