Season 1 : Nadia dan Nathan (Tamat)
Season 2 : Nara dan alex (Tamat)
Baca juga kelanjutannya dengan judul dan kisah baru "Pernikahan Paksa Karina"
Seperti biasanya, baca lima episode dulu ea biar enak bacanya.
Nadia Ayu Purnama adalah seorang gadis cantik berusia sembilan belas tahun yang terpaksa menikah dengan seorang rentenir.
Menjadi istri muda dari seseorang yang lebih pantas disebut paman olehnya membuatnya tersiksa. Apalagi tekanan dari Devi, istei pertama Bondan yang selalu menyiksanya bukan hanya dengan fisik, tapi juga dengan perkataan yang selalu membuat air mata Nadia meleleh.
Akankan seumur hidup dia berada dalam kubangan menjadi istri kedua yang menderita? Atau apakah dia dapat terlepas dari laki-laki yang membuatnya merasa jijik pada dirinya sendiri?
Mari kita Do'akan agar Nadia menemukan laki-laki yang dapat menyelamatkan hidupnya dan menerima Nadia dengan cintanya yang tulus. Aamiiin.
Ikuti ceritanya ya Zheyenk 😘
Jangan lupa Vote dan Rate dulu dong 😁
Terus masukin juga jadi favorit kamu 😎
Ya udah deh. Silahkan membaca 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_OK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Curiga
Maaf libur lama lagi...😅
Kemarin aplikasinya bermasalah, setiap di up jadinya malah tanda tanya. Daripada banyak kesalahan karena tidak bisa di edit lagi waktu mau up, jadi masih disimpan di word. 🤗
Untuk menebus kesalahan, hari ini akoh crazzy up. Okeh? 😎
Happy Reading😍
Sejak juragan Bondan mengetahui kehamilan Nadia, dia jarang menghabiskan malam dengan istri mudanya itu. Dia tahu diri. Dia tidak sanggub bercinta tanpa obat kuatnya, namun jika ia mengkonsumsi obat kuat, ia takut akan melukai bayi yang dikandung Nadia.
Dalam seminggu ini, juragan Bondan hanya bermalam dengan Nadia selama dua kali. Selebihnya, laki-laki tua itu akan bermalam dengan Devi. Dan jika memang belum puas, ia akan meminta anak buahnya menyiapkan wanita untuknya.
Awalnya, hal ini membuat Devi dan Yulia senang karena mengira bahwa juragan Bondan sudah mulai bosan dengan Nadia. Hinaan dan cemoohan juga sering diterima Nadia dari kedua wanita ular berwajah cantik itu.
Namun, kecurigaan mereka mulai terasa saat melihat Juragan Bondan selalu memperhatikan Nadia. Ini mengisyaratkan ada sesuatu di antara mereka. Akhirnya mereka memutuskan untuk meminta orang mengawasi Nadia secara sembunyi-sembunyi.
Tangan Devi mengepal. Sebuah laporan yang baru saja ia terima dari anak buahnya membuat darah tingginya naik.
...🌸🌸🌸
...
Sore itu Nadia pulang ke rumah tidak seperti biasanya. Lisa pulang bersamanya karena dia memang pulang lebih awal karena merasa tidak begitu enak badan.
Sejak pagi, Nadia merasakan pusing. Dan semakin siang rasa sakit itu semakin parah ditambah dengan badannya yang terasa lemas. Selain itu, perutnya juga terasa mual. Itulah sebabnya ia izin untuk pulang terlebih dulu.
“Aunty kenapa?” tanya Lisa yang merasa tidak biasanya ia pulang bersama Nadia. “Aunty sakit?” lanjutnya karena Nadia tidak menjawab pertanyaannya.
Nadia yang sedari masuk mobil menyenderkan kepala dan menutup mata segera menengok ke arah cucu sambungnya seraya tersenyum.
“Iya Lisa. Aunty sedikit merasa pusing.” Jawab Nadia dan kembali menutup mata sambil memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.
“Apa sangat sakit?”
Nadia tidak menjawab. Hanya mengangguk dan bergumam. Wajahnya memang terlihat pucat. Keringat dingin memenuhi pelipisnya yang memerah.
“Kita ke puskesmas ya?” Lisa menyarankan karena tidak tega melihat Nadia yang sepertinya sangat menderita.
Namun Nadia tidak dapat menjawab karena dia telah kehilangan kesadaran. Lisa yang menyadarinya segera panik dan memberitahu Joni.
Joni segera menghentikan mobilnya. Mengintruksikan pada Lisa agar memberi Nadia minyak kayu putih yang memang sudah tersedia di dasbor mobil.
“Kita bawa saja ke puskesmas om Joni. Kasihan aunty.”
“Baiklah.” Joni segera melajukan mobilnya, berbalik arah dan menuju puskesma.
Sepanjang perjalanan, Lisa menepuk pelan pipi Nadia seraya memanggil namanya. Namun Nadia tidak juga mendapatkan kesadarannya. Hingga sampai di puskesmas, Nadia belum sadarkan diri.
Joni segera keluar dari mobil dan membopong Nadia masuk ke dalam Puskesmas. Lisa ikut berlari di belakangnya. Seketika kedatangan mereka menjadi pusat perhatian.
“Ada apa ini?” tanya Bidan Asti yang kaget ketika tiba-tiba saja Joni masuk dan membaringkan Nadia di atas brangkar di ruangan bidan itu.
“Cepat periksa Nadia. Sejak pagi dia mengeluh pusing, mual dan lemas sebelum pingsan.”
Mendengar penjelasan Joni, bidan Asti segera memeriksa Nadia. Namun tak lama setelah itu dia mengernyitkan dahinya seperti berfikir keras.
“Ada apa Bu?” tanya Joni setelah melihat bidan Asti menggelengkan kepalanya.
“Kandungannya dalam bahaya. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit di kota. Fasilitas disini tidak lengkap.”
“Bagaimana kalau di klinik Kasih Bunda? Nadia biasanya memeriksakan kandungannya disana.”
“Itu juga bagus. Saya akan membuatkan surat rujukan.”
Joni kembali menggendong Nadia dan keluar dari puskesmas. Ketika sampai di luar, ia bertemu dengan dokter Nathan. Setelah membaringkan Nadia di dalam mobil dan memastikannya nyaman dengan paha Lisa sebagai bantalnya, Joni kembali ke dalam.
“Bu Nadia kenapa Jon?” tanya dokter Nathan.
“Kandungannya dalam bahaya.” Jawab Joni singkat dan segera masuk ke dalam puskesmas untuk menemui bidan Asti. Dokter Nathan mengikutinya.
“Tapi saya mohon maaf karena tidak bisa mengantar. Ada pasien yang akan melahirkan dan tidak ada bidan pengganti disini.” Kata Bidan Asti seraya memberikan surat rujukan. Joni menerimanya.
“Bagaimana kalau saya yang mengantarkan? Kebetulan adik saya salah satu bidan disana.” Dokter Nathan menawarkan diri. Hari ini dia tidak ada jadwal. Dia ke puskesmas hanya untuk mengambil file nya yang ketinggalan.
“Itu sangat membantu Dokter. Tolong segera. Nyawa keduanya bisa saja terancam.” Kata Bidan Asti sebelum kedua laki-laki muda itu keluar dari ruangan.
Ketika di depan mobil, Joni mengusulkan jika Lisa sebaiknya pulang dan mengabarkan masalah ini kepada orang di rumah. Karena keadaan yang mendesak, ia tidak bisa mengabarkannya secara langsung. Lisa menurut dan segera meminta bantuan warga sekitar untuk mngantarkannya.
Sekarang, Nadia menjadikan paha Dokter Nathan sebagai bantalnya sepanjang perjalanan. Wajahnya terlihat jelas garis kecemasan. Walaupun ia dengan mati-matian memendam perasaannya, namun hatinya tidak bisa dibohongi. Ia mencintai seseorang dengan status istri muda.
“Sebenarnya apa yang terjadi Jon?”
“Saya juga tidak tahu dokter. Pagi tadi dia mengeluh sakit kepala. Namun siang harinya semakin parah. Bahkan dia sempat beberapa kali muntah hingga menyebabkan lemas.” Jelas Joni dengan masih fokus pada jalan di depannya.
Setelah mendengar penjelasan dari Joni, dokter Nathan segera menghubungi Nathasya dan memintanya bersiap-siap menyiapkan keperluan yang dibutuhkan. Ia juga menjelaskan keadaan Nadia pada adiknya itu.
...***...
Di tempat lain, keadaanya jauh berbeda dengan keadaan yang ada di dalam mobil dimana Nadia sedang terbaring tak sadarkan diri.
Kedatangan Lisa yang membawa kabar bahwa Nadia masuk ke dalam rumah sakit justru membuat kedua wanita ular yang ada di rumah itu bahagia. Tentu saja, semakin Nadia menderita, mereka akan semakin senang.
“Lalu dimana sekarang Nadia?” tanya Yulia pada putrinya yang saat ini menjadi penyampai pesan.
“Om Joni membawanya ke kota. Tadi sebelumnya dibawa ke puskesmas. Tapi kata bu bidan kondisi Aunty parah. Jadi harus dibawa ke rumah sakit di kota.” Jelas Lisa semakin membuat kedua wanita yang mendapatkan kabar buruk itu senang.
“Baiklah kalau begitu. Kamu masuklah ke dalam kamar. Setelah itu segeralah makan siang.” Kata Yulia yang diangguki dan dipatuhi oleh Lisa.
Setelah gadis cilik itu berlalu. Yulia dan Bu Devi segera melakukan Tos. Rencana mereka berhasil.
Flash Back On....
Setelah mengetahui fakta bahwa Nadia tengah hamil tiga bulan, Bu Devi dan Yulia segera membuat rencana. Mereka memesan ramuan pelemah kandungan dari bahan herbal dari dukun bayi langganan mereka berdua.
Dengan ramuan pelemah kandungan itu, mereka memberikannya secara diam-diam ke dalam minuman yang biasa dibawa Nadia ke dalam kamar setiap hari. Dan juga ke dalam botol yang selalu dibawa Nadia ke sekolah. Karena terbuat dari bahan herbal, efeknya tidak akan berlangsung secara cepat dan tidak terasa.
Setelah ramuan itu dikonsumsi selama satu minggu berturut-turut efeknya baru dirasakan oleh Nadia. Janin yang dikandungnya semakin jarang bergerak. Namun Nadia tidak merasa ada yang salah. Dan sekarang, sepuluh hari sudah ramuan itu masuk ke dalam tubuh Nadia.
Flash Back Off....
“Itulah akibatnya jika berani mencari gara-gara denganku. Enak saja dia berniat melahirkan anak bapak. Anak bapak hanya akan lahir dari rahimku. Tidak akan ada anak dari wanita manapun di dunia ini.” Gumam Bu Devi.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😘
Jangan Lupa like dan Vote nya ya....
Dimasukin juga dalam favorite kalian agar tahu kalau ada up terbaru dari cerita akoh.... 😎