Yurinika tak mengira akan di labrak oleh selingkuhan suaminya. bukan hanya sekali tapi berkali-kali selingkuhannya itu datang dan melabrak dia. memintanya meninggalkan sang Suami Abimana. pria bingung itu justru tak mau meninggalkan keduanya.
hingga akhirnya Yuri benar-benar kecewa kepada Abimana dan saat tahu Sandra adalah anak dari atasannya di kantor membuat Yuri memiliki ide untuk memanfaatkannya.
apa yang akan di lakukan Yuri atas rasa kecewa yang dia dapat dari suami yang sudah dia bersamai dari titik nol sampai mereka menikah dua tahun? ikuti terus ceritanya.
dan jangan lupa baca karya othor lainnya dengan mencari nama pena Yam_zhie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yurinika 16
Yuri menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan untuk meredakan adrenalin yang sempat memuncak. Ia merapikan kerah bajunya, lalu berbalik melangkah masuk kembali ke dalam kedai.
Sesampainya di dalam, Ajeng langsung berlari kecil menghampirinya, merangkul lengan Yuri sambil melompat-lompat kecil penuh kekaguman.
"Yur! Sumpah ya, kamu gila banget! Keren parah!" bisik Ajeng heboh setengah berteriak.
"Satu miliar, Coy! Sumpah itu langkah paling cerdas sedunia! Biar si pelakor itu tahu rasa habis puluhan juta buat cowok parasit, ditambah harus bayar pesangon ke kamu!"
Yuri tersenyum tipis, merangkul bahu sahabat setianya itu. "Uang itu bukan sekedar tebusan, Jeng. Itu adalah modal awal aku buat keluar dari cengkeraman keluarga mereka sepenuhnya."
Saat Yuri kembali berdiri di balik meja kasir untuk melanjutkan pekerjaannya, matanya tak sengaja kembali melirik ke arah meja sudut.
Pria berkacamata tipis itu sudah berdiri dari kursinya. Ia merapikan jasnya, menutup laptopnya, lalu berjalan perlahan mendekati meja kasir dengan senyum penuh karisma terukir di bibirnya.
"Pementasan drama yang luar biasa, Mbak Yuri," ucap pria itu dengan suara beratnya yang berwibawa, berhenti tepat di depan meja bar. Ia meletakkan selembar kartu nama di atas meja kayu.
"Kalau suatu hari Mbak Yuri butuh pengacara handal atau penasihat keuangan buat mengurus 'aset' baru Mbak... hubungi nomor di kartu itu."
Yuri menatap kartu nama perak beraksen emas di hadapannya, kartu yang sama yang sempat ia tolak beberapa hari lalu, milik Adhiyaksa Pratama.
Yuri mendongak, menatap mata sang pemilik gedung sekaligus investor misterius itu dengan pandangan menyelidik.
"Kenapa Anda sebegitu perhatiannya sama masalah saya, Mas?"
Adhiyaksa tersenyum misterius, jemarinya mengetuk pelan tepi meja kasir.
"Karena saya tidak suka melihat wanita cerdas dan berani harus membuang air matanya untuk pria yang salah."
Sebelum Yuri sempat membalas ucapannya, Adhiyaksa memberi anggukan hormat, berbalik badan, dan melangkah keluar kedai tepat saat jam menunjukkan pukul empat sore, mengakhiri rutinitas minggunya dengan meninggalkan tanda tanya besar sekaligus peluang baru di tangan Yuri.
Lonceng kedai bergemerincing pelan saat pintu kaca menutup rapat di belakang Adhiyaksa Pratama. Suasana di dalam kedai berangsur-angsur tenang, menyisakan bisik-bisik penasaran dari beberapa pengunjung yang masih terpaku pada layar ponsel mereka setelah merekam keributan tadi.
Yuri masih berdiri terpaku di balik meja kasir. Tatapannya terkunci pada kartu nama beraksen emas di hadapannya: Adhiyaksa Pratama — Konsultan Hukum & Manajemen Aset.
Pria itu menyandarkan satu tangannya di meja kasir dengan santai, mengulas senyum tipis yang sarat misteri seraya menunggu tanggapan dari Yuri.
Yuri menatap kartu nama itu sejenak, lalu mendongak mengunci pandangannya tepat di manik mata Adhiyaksa. Keraguan dan rasa curiga yang terpendam selama lebih dari seminggu akhirnya tidak bisa ia tahan lagi.
"Tunggu dulu, Mas," potong Yuri dengan alis bertaut, suaranya mengeras pelan penuh intimidasi.
"Bukannya Mas ini orang suruhan Sandra?"
Adhiyaksa sempat tertegun sekilas. Kerutan halus muncul di dahinya sebelum akhirnya sebuah tawa renyah yang berat dan hangat lolos dari bibirnya. Ia menggeleng pelan, tampak sangat terhibur dengan prasangka yang dipelihara Yuri selama ini.
"Orang suruhan Sandra?" ulang Adhiyaksa dengan nada terkejut yang dibuat-buat, membetulkan letak kacamata tipisnya.
"Mbak Yuri beneran mikir saya dibayar sama wanita histrionik yang baru saja Mbak jambak rambutnya di luar itu?"
"Ya lagian Mas aneh banget!" timpal Ajeng dari samping Yuri, menyela dengan wajah sengit.
"Hari gini mana ada cowok perlente mau nongkrong di kedai kopi kecil tiap hari dari jam delapan pagi sampai jam empat sore cuma buat ngopi? Pasti semua orang mikirnya Mas itu mata-mata atau intel yang disewa si Sandra buat ngumpulin bukti busuk dijatuhin ke Yuri!"
Adhiyaksa menatap Ajeng, lalu kembali menatap Yuri yang masih memasang posisi siaga dengan kedua tangan bersedekah di dada.
"Prasangka yang sangat masuk akal, tapi sayang sekali seratus persen salah," sahut Adhiyaksa santai, menyunggingkan senyum miring yang menawan.
"Saya datang ke sini setiap hari karena kopi di sini enak, tempatnya tenang buat saya kerja, dan..." Adhiyaksa mengetuk kartu namanya di meja bar.
"Jadi... Mas ini bukan orang suruhan Sandra?" tanya Yuri memastikan, matanya meneliti raut wajah Adhiyaksa yang tanpa keraguan sedikit pun.
"Sama sekali bukan," tegas Adhiyaksa lembut, matanya menatap Yuri dengan binar ketertarikan yang amat dalam.
"Saya permisi dulu... Kalau Mbak Yuri butuh jasa saya untuk mempercepat perceraian atau berkonsultasi untuk mengelola keuangan. Saya bisa diskon feenya..."
Adhiyaksa menyunggingkan senyum miring yang teramat menawan namun penuh intrik, lalu mengedipkan sebelah matanya secara tipis ke arah Yuri.
"Diskon fee?" ulang Yuri dengan kening berkerut dalam. Ia menatap pria di hadapannya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan makin curiga.
"Maaf ya, Mas Adhiyaksa... Saya rasa tawaran Mas ini terlalu mulus buat jadi kenyataan. Di dunia ini nggak ada yang gratisan, apalagi dari orang kaya yang tiba-tiba datang jadi 'pahlawan kesiangan' di tempat kerja saya."
Ajeng di samping Yuri mengangguk-angguk setuju dengan cepat, wajahnya memasang mimik judes.
"Bener tuh kata Yuri! Gaya Mas ini udah kayak pria idaman di novel-novel, tapi maaf ya, kita nggak gampang baper! Jangan-jangan Mas nawarin diskon fee ujung-ujungnya minta imbalan lain yang aneh-aneh?"
Adhiyaksa terkekeh renyah. Suara tawanya yang berat bergetar lembut, sama sekali tidak tersinggung oleh tuduhan tajam kedua wanita di balik meja bar itu. Pria itu menopang dagunya dengan satu tangan di atas meja kasir, menatap Yuri lekat-lekat.
"Ternyata Mbak Yuri bukan cuma tangguh pas menjambak pelakor, tapi juga paranoid ya," goda Adhiyaksa dengan intonasi santai yang menyebalkan.
"Mbak Yuri tenang aja. Saya ini pengacara profesional dan pengusaha, bukan pria hidung belang yang nyari kesempatan dalam kesempitan. Niat saya murni."
"Murni?" cibir Yuri, melipat kedua tangannya di dada.
"Sesuatu yang murni itu biasanya cuma air mineral, Mas. Kalau pengacara kaya nawarin diskon buat urusan cerai orang asing, pasti ada udang di balik batu."
"Oke, oke, kalau Mbak Yuri maksa mau tahu 'udang' di balik batunya..." Adhiyaksa memajukan tubuhnya sedikit, memelankan suaranya menjadi bisikan berwibawa yang hanya bisa didengar Yuri dan Ajeng.
"...udangnya sederhana. Saya sangat membenci pria tak berguna yang memanfaatkan wanita tulus demi gengsi dan selingkuhan. Melihat Abimana hancur di tangan istrinya sendiri bakal jadi hiburan yang sangat mahal buat saya."
Yuri tertegun sejenak. Senyum tipis nan arogan di wajah Adhiyaksa memang menyebalkan, namun kilatan ketegasan di mata pria itu tidak bisa dibohongi.
"Mas ini aneh banget..." gumam Yuri sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Dendam pribadi sama pria parasit kayak Abimana?"
"Bisa dibilang begitu," sahut Adhiyaksa seraya menegakkan kembali tubuhnya dan merapikan kancing jas cantiknya.
"Lagipula, satu miliar yang lagi Mbak tagih dari Sandra itu jumlah yang lumayan. Kalau Mbak Yuri salah langkah, si Sandra atau keluarganya bisa menuntut balik dengan tuduhan pemerasan. Di situlah peran saya."
Adhiyaksa mengetuk kartu nama beraksen emas di meja kayu itu sekali lagi dengan ujung jarinya.
"Simpan kartu itu, Mbak Yuri. Saya permisi."
Dengan gerakan elegan, Adhiyaksa membalikkan badan dan melangkah santai menuju pintu keluar kedai. Lonceng berdering halus saat ia mendorong pintu kaca, meninggalkan Yuri yang mematung menatap kartu nama itu dengan perasaan campur aduk antara kesal, benci, dan membutuhkan kemampuan pria menyebalkan tersebut.
Ajeng menghembuskan napas berat yang ditahannya sejak tadi.
"Yur... sumpah, itu cowok tengil dan menyebalkan banget! Tapi... omongannya soal celah hukum pemerasan itu ada benarnya juga, kan?"
Yuri menarik napas panjang, meremas kartu nama perak itu di dalam genggamannya.
"Iya, Jeng. Dia memang menyebalkan... tapi dia senjata yang paling tajam buat meratakan Abimana dan Sandra sekaligus."
mnding si Abi tuker pake uang lebih bermanfaat ,,
dan buat Abi silahkan nikmati permainan yg udh km mulai sndri di belakang Yuri😏