Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.
Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).
Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.
"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."
Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 018 - Berpacu dengan Alarm
Suara dentang lonceng darurat di menara induk terus bergaung tanpa henti, memantul keras di antara dinding-dinding tebing batu kapur yang mengelilingi Sekte Lembah Giok Hitam. Dari ketinggian lereng tebing yang terjal, Gu Yuan dapat melihat gelombang kepanikan yang mulai menjalar cepat di pelataran barak luar bawah: puluhan murid penegak hukum berseragam abu-abu gelap berlarian membawa tombak dan busur silang, sementara gong-gong tembaga dipukul bersahut-sahutan di setiap sudut gerbang barak.
Asap hitam tebal yang membubung pekat dari arah parit limbah sebelah barat menandakan rencana pengalihan jejak yang ia susun bersama Xiao Wu tadi berhasil memecah konsentrasi pengamanan sekte. Para penjaga gerbang mengira ada pemberontakan bersenjata yang dipimpin oleh tahanan yang berhasil menjebol jeruji dan kabur ke arah luar lembah, memusatkan sebagian besar pasukan patroli menuju pintu air bagian bawah untuk melakukan penyisiran massal.
Namun Gu Yuan tahu persis bahwa waktu amannya sangat sempit dan rapuh. Begitu komandan tombak yang berpapasan dengannya di tangga tadi memeriksa sel nomor sepuluh dan menemukan sosok Luo Biao yang asli terikat dalam keadaan babak belur, kabar bahwa ada seorang penyusup yang menyamar mengenakan jubah abu-abu pengawas akan langsung meledak ke seluruh kompleks sekte, sampai ke telinga Tetua Mo Cheng dalam hitungan detik.
Jika seorang kultivator Fondasi Sejati menyadari bahwa pelat pengendali formasinya dibawa kabur oleh orang yang menyamar, Mo Cheng akan meluncur ke lereng tebing ini dengan pedang terbangnya dalam waktu kurang dari seratus tarikan napas.
Gu Yuan mempercepat langkah kakinya, melompati celah-celah batu cadas yang basah dan licin oleh lumut hijau berlendir. Kakinya yang melepuh masih terasa nyeri berdenyut setiap kali menghantam bebatuan cadas yang tajam, namun pengaruh Pil Penahan Darah yang ia telan tadi menjaga aliran tenaga di meridiannya tetap stabil dan tidak tersendat.
Di dalam saku jubahnya, lempengan cermin perunggu terus memancarkan getaran hangat yang berdenyut teratur seirama dengan detak nadinya. Getaran itu memproyeksikan kilasan jalur pengawasan di dalam kepalanya: regu-regu pengawal menara yang biasanya mengunci lereng tebing air terjun kini sedang ditarik mundur menuruni jalan setapak utama untuk menutup gerbang lembah bawah. Jalur tebing belakang saat ini berada dalam kondisi tanpa pengawasan selama beberapa tarikan napas.
Jalan setapak berbatu cadas itu berakhir di sebuah tebing batu hitam yang berdiri tegak lurus di samping air terjun raksasa. Deru gemuruh jutaan kubik air yang jatuh bebas menghantam kolam dasar jurang terdengar memekakkan telinga, menggetarkan tulang-tulang rusuk Gu Yuan dan menyemburkan kabut air dingin yang membasahi pakaian serta topi jerami bambunya hingga kuyup.
Di balik tirai air terjun yang menderu deras itu, tersembunyi sebuah pintu batu raksasa yang tertutup rapat oleh formasi dinding tebing alami. Tanpa sarana pembuka khusus, pintu ini tampak menyatu sempurna dengan dinding batu cadas purba di sekelilingnya, mustahil dibedakan oleh mata manusia biasa.
Gu Yuan merogoh sabuk pinggangnya, mengeluarkan pelat perunggu segi delapan pemberian Mo Cheng. Ia mengamati permukaan dinding tebing di samping deburan air terjun, mencari ceruk rahasia yang sesuai dengan ukuran pelat tersebut.
Tepat di balik rumpun semak pakis liar setinggi dada yang basah oleh percikan air, terdapat sebuah cekungan batu segi delapan yang dipenuhi ukiran garis-garis parit halus bermotif urat darah kering.
Gu Yuan menempelkan pelat perunggu itu ke dalam cekungan batu.
Klek… wuuusss!
Batu giok merah darah di tengah pelat seketika menyala terang, memancarkan cahaya merah pekat yang mengalir deras menyusuri seluruh garis parit di dinding tebing. Suara gemuruh roda gigi batu purba berderak berat dari dalam perut tebing, disusul oleh terbelahnya tirai air terjun oleh semburan gelombang Qi tak kasatmata.
Aliran air terjun yang deras mendadak tersibak ke dua sisi seperti tirai kain basah yang ditarik paksa, memperlihatkan sebuah mulut gua hitam setinggi satu depa yang menganga di balik dinding batu. Dari dalam kegelapan mulut gua tersebut, berhembus hawa dingin yang luar biasa pekat dan menusuk tulang, membawa bau busuk tembaga karat, minyak belerang, dan anyir darah yang menusuk hidung hingga kerongkongan terasa kering seketika.
Gu Yuan segera mencabut kembali pelat perunggu segi delapan itu dari dinding tebing dan menyimpannya rapat-rapat ke balik sabuk kulitnya.
Ia melangkah maju dua langkah, bersiap melompati ambang batu mulut gua untuk masuk ke dalam aula altar sebelum formasi pintu air terjun menutup kembali secara otomatis.
Wusss!
Sebuah suara desing udara yang sangat tajam, cepat, dan dingin mendadak meluncur deras dari arah semak-semak pohon cemara di lereng tebing sebelah atas. Kecepatannya luar biasa tinggi, membelah kabut air terjun yang pekat dengan suara siulan mematikan yang menusuk telinga.
Naluri bertahan hidup Gu Yuan yang telah ditempa oleh puluhan kematian simulasi seketika menjeritkan tanda bahaya fatal. Tanpa sempat menolehkan pandangan, ia secara refleks memiringkan kepalanya ke arah kiri sejengkal penuh dari posisi semula sambil merendahkan lututnya.
Taks!
Sebilah belati lempar berbahan baja hitam bergagang lilitan benang sutra menancap telak di dinding batu kapur tepat di samping daun telinga kanannya, hanya berjarak sehelai rambut dari kulit pipinya yang basah. Hantaman belati lempar itu begitu kuat hingga separuh bilahnya terkubur ke dalam batu cadas yang keras, memercikkan serpihan debu batu tajam yang merobek tepi topi jerami bambu yang ia kenakan.
Gu Yuan membeku di ambang mulut gua yang gelap. Dari semak-semak tebing berbatu di atasnya, terdengar suara gesekan kain jubah dan desau napas pendek seseorang yang baru saja melompat turun dengan gesit ke jalan setapak berbatu cadas tepat di belakang punggungnya.