Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.
Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.
Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 32
BAB 32
Sementara di tempat lain, di batas pinggiran kota yang luput dari gemerlap menara bisnis Rian maupun panggung catwalk Victor Group, jaring-jaring perlawanan ditenun dari sudut yang jauh berbeda. Di sinilah, di dalam bengkel tua yang menyimpan jejak tempaan besi dan helai benang, jawaban atas intrik korporasi mulai dibentuk oleh tangan-tangan pengrajin.
Hawa panas dari tungku pembakaran bata merah di sudut bengkel Pencagai kian menyengat kulit. Bau arang kayu, belerang, dan lelehan minyak pelumas beradu dengan aroma khas sutra organza krem pucat yang dibentangkan Maya di atas meja kayu panjang.
KLANG... KLANG... KLANG...
Dentangan palu berat milik Rendra menghantam pelat kuningan merah membara di atas landasan besi. Otot-otot lengannya yang dibalut kemeja hitam tergulung tampak menegang. Setiap kali palu mendarat, percikan api oranye memercik di udara remang, menerangi raut wajahnya yang tertutup jelaga dan keringat.
Maya menghentikan gerak jarum dan benang emas di tangannya, mengamati Rendra dari jarak tiga meter. Sejak peristiwa tak terduga di reruntuhan Candi Sewu Jati beberapa minggu lalu, dinding kecurigaan Maya perlahan melunak. Kedekatan di antara mereka tumbuh secara intens, walau keduanya yang berkarakter keras masih sering beradu argumen kecil. Sepuluh menit yang lalu saja mereka sempat berdebat sengit hanya karena ketebalan milimeter pada tekukan pelat kuningan..
Namun di balik setiap perdebatan itu, ada kepresisian yang hampir mistis pada cara mereka bekerja bersama. Pria yang di depan panggung evaluasi bertindak sebagai kurator tajam bermulut racun, di sini berubah menjadi figur yang lebur bersama besi dan api, menjaga Maya dengan cara yang amat khas.
Ketenangan di dalam bengkel mendadak terganggu ketika pintu besi geser berderit keras, terdorong kasar dari luar. Seorang lelaki tua berwajah kuyu dengan pakaian seragam buruh pabrik yang lusuh masuk dengan tergesa-gesa. Tangannya gemetar memegang sebuah amplop cokelat tebal yang kumal.
"Pak Rendra! Tolong saya, Pak!" seru lelaki tua itu dengan suara parau yang ketakutan.
Rendra menyelesaikan tiga pukulan terakhir pada lekukan engsel kuningan—KLANG! KLANG! KLANG!—sebelum mencelupkan logam panas itu ke dalam tong air. Suara desisan uap panas (SSSHHH...) membumbung tinggi, menciptakan kabut putih tebal.
Rendra melepas kacamata pelindungnya, menyapu keringat di dahi dengan punggung lengan. "Pak Broto?" ujar Rendra, suaranya berat dan stabil. "Ada apa? Kenapa berpakaian seperti orang dikejar hantu?"
Lelaki tua bernama Pak Broto itu mendekat dengan langkah gemetar. "Oknum dari koperasi perantara pabrik tekstil sebelah datang lagi, Pak! Mereka membawa orang-orang berbadan tegap. Katanya, kalau saya tidak menyerahkan sertifikat rumah dan alat tenun manual milik keluarga saya hari ini untuk melunasi utang potong gaji yang sengaja mereka bengkakkan, bengkel tenun kecil saya di ujung gang akan diratakan!"
Maya yang mendengar hal itu menghentikan pekerjaannya. Ia tahu betul praktik lintah darat bernamakan "koperasi" yang sering memeras para pengrajin lokal di kawasan industri ini.
Rendra mengambil kain lap, mengeringkan tangannya. "Berapa angka manipulasi yang mereka catat di surat itu?"
Pak Broto menyerahkan amplop cokelat tersebut. "Di catatan awal, saya cuma pinjam modal bahan lima belas juta. Tapi dalam dua bulan, mereka mengklaim denda keterlambatan dan bunga harian sampai menjadi sembilan puluh juta rupiah! Saya tidak punya uang sebanyak itu, Pak Rendra!"
Maya memajukan langkahnya. "Sembilan puluh juta dari lima belas juta? Itu pemerasan murni! Pak Broto bisa melaporkan ini ke kepolisian!"
Rendra menoleh singkat ke arah Maya. "Polisi di kawasan industri tua tidak bekerja berdasarkan simpati moral, Maya. Mereka bekerja berdasarkan bukti hitam di atas putih dan siapa yang memegang kendali atas dokumen."
Rendra meraih amplop itu, membukanya, lalu membaca lembaran kertas di dalamnya dengan cermat selama kurang dari dua menit. Matanya menyipit saat menemukan klausul kecil bertuliskan huruf mikro di halaman ketiga.
"Pak Broto," kata Rendra pelan, "mereka memakai stempel palsu dari Lembaga Arbitrase Perdagangan Lokal. Pasal bunga harian ini bertentangan dengan Undang-Undang Hak Karya Tradisional Organik Usaha Kecil Nomor 4."
Belum sempat Pak Broto menjawab, suara langkah kaki berat dan derap sepatu boot bergema di luar. Tiga pria berbadan besar dengan jaket kulit hitam melangkah masuk tanpa permisi. Pria di paling depan, bertubuh tambun dengan gurat luka di pipi kiri, mengunyah tusuk gigi dengan tatapan meremehkan.
"Wah, wah... ternyata tua bangka ini sembunyi di bengkel besi tua," ejek pria bertato itu. "Heh, Rendra! Jangan ikut campur urusan koperasi kami kalau bengkel berminyakmu ini tidak mau kami acak-acak!"
Rendra berdiri tegak, memangkas jarak hingga berdiri tepat di depan pria bertato itu. Posturnya yang tegap dan pancaran matanya yang dingin memancarkan dominasi mutlak.
"Gudang ini adalah wilayah hukum Pencagai," ucap Rendra dengan nada rendah yang mengintimidasi. "Dan kau, Danu, baru saja membawa dokumen pemerasan berstempel palsu ke dalam wilayahku."
Pria bernama Danu itu tertawa sumbang. "Stempel palsu apa? Kertas itu sah ditandatangani Pak Broto!"
"Pak Broto menandatangani draf polos tanpa halaman lampiran bunga," balas Rendra tenang, namun jemarinya menunjuk tepat ke wajah Danu. "Aku tahu siapa yang menyuruhmu. Oknum Kepala Seksi Pasar bernama Subagyo, bukan? Katakan padanya, kalau dia tidak menarik surat ancaman ini dalam waktu sepuluh menit, berkas analisis kecurangan pajak toko emas miliknya yang tersimpan di brankas saya akan sampai ke meja Kejaksaan Tinggi sebelum jam makan siang."
Mendengar nama "Subagyo" dan "Kejaksaan Tinggi" diucapkan secara terang-terangan, wajah Danu seketika berubah pasi. Tusuk gigi di mulutnya nyaris jatuh.
"Aku punya salinan rekaman transaksi kalian dengan pabrik tekstil impor dua bulan lalu," sahut Rendra datar. "Sekarang, bawa dua anak buahmu keluar dari bengkelku. Dan beritahu bosmu, utang Pak Broto dihitung ulang secara transparan sesuai pokok lima belas juta tanpa bunga haram, atau kita selesaikan di pengadilan umum."
Danu mengepalkan tangannya, namun melihat ketenangan Rendra yang tak tergoyahkan, ia menyadari ancamannya sia-sia. "Awas kau, Rendra! Ini belum selesai!" serunya seraya berbalik kasar dan menyuruh anak buahnya pergi.
Pintu geser kembali dibanting tutup. Pak Broto mendesah lega luar biasa. "Terima kasih banyak, Pak Rendra..." bisiknya dengan mata berkaca-kaca.
"Pulanglah, Pak Broto. Temani istri Bapak," kata Rendra lembut. "Fokus saja menenun kain sutra pesanan pasar tradisional. Jangan pernah mau menandatangani kertas apa pun tanpa membawanya ke sini dulu."
Setelah Pak Broto pergi, suasana bengkel kembali sunyi.
Maya berdiri terpaku. Ada perasaan hangat yang merayap perlahan di sudut hatinya. Di balik sosok Rendra yang terkesan dingin, pria ini adalah benteng pelindung bagi para pengrajin kecil yang ditindas. Namun, saat matanya beralih ke sudut ruangan—menatap buku sketsa kulit Rendra yang terbuka dan memperlihatkan garis-garis kurva ornamen dengan presisi tingkat dewa—bayangan sosok REN langsung membayang kuat di benak Maya.
REN... sosok maestro legendaris yang karyanya di panggung internasional selalu membuat dada Maya bergetar oleh rasa kagum yang murni. Keheningan karya REN dan keanggunan bentuk logamnya tetap menjadi puncak obsesi artistik Maya.
Maya mengagumi ketenangan Rendra di sini, tapi hatinya tetap terpikat dan terikat rapat pada misteri kejeniusan REN.
Rendra berjalan kembali ke arah landasan besinya, mengambil palu. "Kenapa kau melihatku seperti itu?" tegurnya datar. "Kau pikir aku sedang berakting jadi pahlawan lokal?"
Maya tersenyum tipis, menggeleng pelan. "Tidak. Aku cuma kagum kau tahu detail hukum arbitrase usaha kecil."
"Seorang perancang atau kurator yang tidak paham hukum industri akan selalu jadi mangsa empuk bagi orang-orang seperti Victor," jawab Rendra dingin. "Cukup buang waktunya. Kembalilah ke mesin jahitmu, Maya."
Maya tertawa kecil, menarik kain sutra organza krem pucatnya, dan mulai menginjak pedal mesin jahit.
TAK-TAK-TAK-TAK-TAK...
Suara mesin jahit Maya kembali menyatu dengan dentangan tempaan besi Rendra. Namun, saat suara mesin jahit beradu dengan dentam palu, kepulan asap hitam mendadak membubung dari saluran ventilasi bawah lantai.