NovelToon NovelToon
KAU PIKAT SUAMIKU KUREBUT SUAMIMU

KAU PIKAT SUAMIKU KUREBUT SUAMIMU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Laras, ibu rumah tangga yang setia, tak sengaja membaca pesan mesra di ponsel suaminya, Dimas. Perempuan di balik pesan itu ternyata Vania, tetangga baru yang selama ini bersikap ramah padanya.

Laras hancur, tapi ia memilih diam dan mengumpulkan bukti. Saat melihat Reza, suami Vania, yang tulus mencintai istrinya, ia memutuskan membalas dengan cara yang sama: merebut apa yang paling Vania sayangi.

Namun semakin dalam Laras bermain, semakin kabur batas antara dendam dan perasaan. Rahasia masa lalu Vania dan Reza mulai terbuka, dan Laras harus memilih antara menuntaskan pembalasan atau menyelamatkan dirinya dan Kenzo, anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KASET

Ruangan tunggu ICU itu terlalu kecil untuk lima orang dewasa, satu balita yang tertidur, dan satu kebohongan yang sudah disimpan sebelas tahun.

Kajati — pria jas abu-abu itu — tidak masuk sepenuhnya. Ia berdiri di ambang pintu, membiarkan dua petugas di belakangnya menutup setengah pintu. Gerakannya sopan. Terlalu sopan. Seperti Rudi waktu pertama kali datang membawa amplop santunan ke rumah Sumi.

"Tuti, Sumi sudah cerita?" tanyanya, masih menatap Bu Tuti. Suaranya berat, suara orang yang terbiasa didengarkan tanpa perlu mengeraskan suara. "Kamu seharusnya istirahat. Dokter bilang jantungmu lemah."

"Jantungku lemah sejak kamu suruh supir itu belok di tikungan Puncak," jawab Bu Tuti. Suaranya serak, tapi tidak gemetar. "Sebelas tahun aku minum obat karena itu."

Hendarto menegang. "Pak Kajati, ini—"

"Sebentar, Hendarto." Pria itu mengangkat tangan sedikit. Tidak membentak. Cukup mengangkat. Hendarto diam. "Bu Laras, saya tahu ini mengejutkan. Tapi biarkan saya jelaskan sebelum kalian mendengarkan sesuatu yang bisa disalahartikan."

Laras tidak menjawab. Ia menatap kaset di tangan Mira. Labelnya: 15/08/2015 - Puncak - 22.14. Jam kecelakaan Bapaknya dan orang tua Reza.

Kenzo menggeliat di gendongan Vania, mengigau pelan, "Mama..."

Vania mengelus punggungnya, matanya tidak lepas dari pria tua itu.

Reza melangkah maju setengah langkah, berdiri di depan kotak besi kecil yang terbuka. "Itu foto Bapak saya," katanya pelan. "Di dalam mobil. Yang di jok depan itu Bapak?"

Kajati melirik foto polaroid di atas meja. Sekilas. Tidak lama.

"Itu saya," katanya. Tanpa menyangkal. "Malam itu saya ikut. Pak Hendra minta saya temani, karena ada pembahasan soal proyek pelabuhan. Saya duduk di depan."

"Dan yang di tangan Bapak dekat rem?" tanya Reza.

Pria itu tersenyum tipis. "Kamu masih muda, Reza. Foto polaroid itu buram. Di tikungan gelap, apa pun bisa terlihat seperti apa pun."

Laras merasakan sesuatu naik dari perutnya ke tenggorokannya. Bukan marah. Mual.

"Putar sekarang," kata Bu Tuti tiba-tiba. "Jangan tunggu."

Mira menatap Laras. Laras mengangguk.

Mira merogoh tasnya. Perekam suara tua dari loker 27 — yang sama yang Laras bawa ke gudang tujuh — masih ada di sana. Perekam itu punya slot kaset kecil. Untuk itulah kotak itu disimpan.

Mira memasukkan kaset. Menekan play.

Detik pertama hanya desir hujan dan deru mesin.

Lalu suara Bapak Laras. Suara yang Laras kenal dari kaset ceramah lama yang disimpan ibunya.

"Pak Hendra, remnya... remnya blong, Pak. Saya injak nggak... Ya Allah..."

Suara Pak Hendra panik: "Tahan, Jono! Tahan setirnya!"

Suara perempuan — Bu Sari — menjerit.

Lalu suara keempat. Tenang. Dekat dengan mikrofon. Suara yang sekarang berdiri di depan pintu dengan jas abu-abu.

"Sudah. Lepas setirnya. Biar alam yang selesaikan."

Jeda. Bunyi benturan. Pekik. Lalu sunyi, hanya hujan.

Kaset berhenti dengan klik.

Tidak ada yang bicara.

Hendarto memejamkan mata. Rahangnya mengeras sampai terlihat tulang.

Reza menatap foto polaroid itu, lalu menatap pria tua itu. Air matanya tidak jatuh. Matanya hanya merah, sangat merah.

"Jadi Bapak saya... Ibu saya... dibunuh karena proyek pelabuhan?" Suaranya hampir tak terdengar. "Bukan kecelakaan?"

Kajati tidak menjawab langsung. Ia menatap kotak besi kecil, lalu menatap Bu Tuti.

"Kamu merekam ini dari mana, Tuti? Kamu bahkan tidak ada di mobil."

"Aku tidak ada," kata Bu Tuti. "Tapi Sumi ada. Sumi yang menaruh perekam itu di dasbor mobil suaminya setiap kali pergi jauh. Karena Jono bilang rem mobil itu sudah dua kali diutak-atik orang bengkel yang disuruh Rudi. Dia mau bukti."

Sumi. Ibu Laras. Yang selama ini dibilang hanya ibu rumah tangga yang menelan rahasia.

Laras menoleh ke arah pintu. Dari ujung lorong, Sumi berjalan tertatih, ditemani seorang perawat. Bajunya basah, kerudungnya miring. Ia baru saja lolos dari tiga mobil hitam di depan rumahnya.

"Ibu..." Laras berbisik.

Sumi masuk ke ruang tunggu. Menatap pria jas abu-abu itu tanpa takut lagi.

"Sudah sebelas tahun saya diam, Pak," katanya. Pelan, tapi semua orang mendengar. "Saya diam waktu suami saya mati. Saya diam waktu anak saya dijodohkan dengan orang suruhanmu. Saya diam waktu Tuti harus pura-pura mati. Cukup."

Kajati menatap Sumi, lalu menatap Hendarto.

"Hendarto, amankan barang bukti itu. Dan bawa Bu Tuti kembali ke rumah sakit. Beliau halusinasi karena obat."

Hendarto tidak bergerak.

Untuk pertama kalinya sejak Laras mengenalnya, jaksa itu mengangkat wajah dan menatap atasannya langsung.

"Maaf, Pak," katanya. "Saya tidak bisa."

"Apa?"

"Saya sudah kirim salinan kaset ini ke Kejagung setengah jam lalu. Waktu Bu Tuti telepon saya dari rumah Sumi." Hendarto membuka ponselnya. Di layar, terlihat panggilan terakhir: Kejagung - Jampidsus. "Dan dua petugas di belakang Bapak bukan tim Bapak. Mereka tim pengamanan saksi dari Jakarta. Mereka datang bukan untuk jemput Bu Tuti. Mereka datang untuk jemput Bapak."

Dua petugas di ambang pintu bergeser. Bukan menghalangi Laras. Menghalangi Kajati.

Pria jas abu-abu itu masih tersenyum. Tapi senyumnya kini tidak sampai ke mata.

"Tuti," katanya pelan, "kamu pikir satu kaset bisa menjatuhkan saya?"

"Bukan satu kaset," jawab Bu Tuti. Ia membuka map cokelat tebal yang sejak tadi ia pangku. Di dalamnya, bukan hanya rekaman dan foto, tapi ratusan lembar fotokopi rekening, tanda tangan, dan satu lembar terakhir — surat pengunduran diri Dimas dari perusahaan Rudi, dengan catatan kaki tulisan tangan Dimas: Saya dipaksa tanda tangan pemindahan saham pelabuhan atas nama Pak Kajati.

"Sebelas tahun, Pak," kata Bu Tuti. "Sebelas tahun saya kumpulkan, satu lembar demi satu lembar. Dari tong sampah kantor Pak Hendra."

Dari ranjang ICU, bel berbunyi.

Perawat berlari masuk: "Keluarga Pak Dimas? Beliau kejang!"

Laras menjatuhkan kotak besi kecil. Bunyi dentingnya menggema.

"Mas!"

1
Shankara Senja
hurufnya emang dibuat miring ya...dan tebal
Nuna_Pena: hehe.. iy
total 1 replies
Shankara Senja
bagus....lo jual,gw beli..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!