NovelToon NovelToon
Kesatria Merah

Kesatria Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Perperangan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: PrinceArslan

Mati di medan perang modern, Alvaro sang prajurit pasukan khusus elit terlahir kembali di Aetheria—dunia yang dikuasai oleh sihir dan aura. Sialnya, ia terjebak dalam raga "Arya Denwick" Anak bangsawan 17 tahun berpenyakitan pewaris desa rawa miskin, yang baru saja didorong ke jurang kematian oleh Musuh yg tidak diketahui.
Tanpa "sistem" ajaib layaknya kisah pahlawan lain, Arya menolak takdir pecundangnya. Memadukan pernapasan yang ia ketahui di militer untuk memanipulasi energi aura dan mematikannya seni pedang dari Bumi, ia merakit ulang tubuh rusaknya.
dan menjadi penguasa sejati di kerajaan bahkan dunia tersebut!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Koneksi di Api Unggun

Setelah bangkai para bandit diseret keluar dari jalan dan batang pohon pinus dipindahkan, konvoi kembali bergerak lambat. Begitu senja tiba, mereka memutuskan untuk mendirikan kamp di area terbuka dekat aliran sungai kecil, seratus meter dari jalur utama.

Suasana kamp malam itu diwarnai campuran kelelahan dan kelegaan. Para pengawal bayaran pedagang, yang kehilangan dua rekan mereka, menyalakan api unggun besar. Mereka meminum tuak keras untuk membuang rasa takut, bersuara bising, dan mengutuki para bandit yang menyerang siang tadi.

Berbeda dari pengawal konvoi yang tidak teratur, kelompok Arya menjaga disiplin ketat. Di sudut kamp, Max dan empat rekannya membagi tugas tanpa suara. Josh dan Kin berjaga di perimeter luar. Willi mengasah pedangnya dengan batu asah, sementara Max dan Erson merawat zirah kulit mereka yang terkena cipratan darah.

Arya duduk di dekat api unggun kecil milik kelompoknya, membersihkan bilah pedang panjang pemberian Aran dengan kain berminyak.

Langkah kaki tebal mendekat. Vane, Ketua Guild pedagang, berjalan membawa sepotong paha domba panggang di atas piring kayu dan sebotol anggur. Pria tambun itu melirik ke arah empat prajurit Arya yang tetap bersikap siaga, lalu melangkah menghampiri Arya.

"Aku membawakan daging panggang dan anggur kualitas bagus, Tuan Muda Denwick," ujar Vane, menyodorkan piring tersebut.

Arya menerima piring itu tanpa senyum. "Terima kasih, Vane."

Vane duduk di atas log kayu di seberang Arya. Ia menuangkan anggur ke cangkir kayunya sendiri, meminumnya sedikit, lalu menatap Arya secara langsung.

"Aku ingin minta maaf atas sikapku waktu kita pertama kali berangkat," kata Vane terus terang. "Aku pikir kalian cuma rombongan bangsawan miskin yang bakal jadi beban di jalan. Tapi tanpa kalian, gerobak belakangku sudah dijarah dan aku bakal rugi ribuan keping perak."

"Kami membayar untuk tumpangan ini," jawab Arya datar sambil mengunyah daging domba. "Dan pertumpahan darah siang tadi sudah selesai. Kau tidak perlu berpura-pura ramah kalau ada maksud lain."

Vane terkekeh pelan, menepuk perutnya yang buncit. "Lurus dan tidak berbelit-belit. Aku suka gaya bicaramu. Baik, kalau begitu kita bicara bisnis."

Vane mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kalian membawa senjata, zirah, dan logistik seadanya, tapi cara bertarung kelompokmu sangat efisien. Kalian tidak kelihatan seperti pengawal biasa yang cuma mencari bayaran harian. Tujuan kalian ke perbatasan bukan cuma jalan-jalan, kan?"

"Kami menuju Hutan Kuno di Rustwood," kata Arya. "Kami akan berburu monster di sana."

Vane mengangkat alisnya. "Hutan Kuno? Tempat itu bahaya. Tapi... kalau kalian memang berhasil bertahan hidup di sana, material dari tempat itu harganya sangat tinggi."

"Itu alasanku ingin bicara denganmu," potong Arya. Ia meletakkan pedangnya yang sudah bersih ke atas pangkuan. "Aku butuh informasi tentang pasar di Kota Bebas Rustwood. Dan aku butuh jalur distribusi yang tidak memotong banyak pajak resmi dari Kekaisaran Verdentia atau Kerajaan Mossgate."

Vane tersenyum tipis. "Rustwood itu kota bebas. Hukum di sana dipegang oleh Guild Petualang dan Konsul Merchant. Kalau kau membawa bahan monster ke kota kerajaan biasa, pejabat setempat bakal memotong pajak sampai tiga puluh persen. Tapi kalau kau menjualnya lewat Guild milikku di Rustwood, potonganku cuma lima belas persen. Tanpa dokumen asal-usul barang, tanpa pertanyaan."

Arya mencerna informasi itu. "Berapa harga pasaran untuk Kristal Mana tingkat rendah dan kulit monster melata saat ini?"

"Kristal Mana kelas rendah dari Goblin atau Serigala Taring besi berkisar antara dua sampai tiga keping perak per buah. Tapi kalau kau bisa dapat kulit Inti Beruang Rawa atau kelenjar racun Reptil Duri, harganya bisa sampai sepuluh keping emas per unit. Para alkemis dan pembuat zirah di Rustwood selalu kehabisan stok."

Arya mengangguk singkat. Angka itu jauh lebih cepat untuk menghasilkan dana daripada mengandalkan pajak desa rawa Denwick yang tidak seberapa.

"Deal," kata Arya. "Jika kelompokku keluar dari Hutan Kuno dengan membawa hasil buruan, aku akan menjual seluruh materialnya lewat jaringanmu. Kau dapat komisi lima belas persen, tapi kau harus menyiapkan pembayaran tunai dalam keping emas murni dan menyediakan peralatan tempur bertaraf militer untukku."

Vane menepuk paha tebalnya dengan puas. "Sepakat, Tuan Muda. Aku suka berbisnis dengan orang yang tahu persis apa yang ia mau."

Vane menghabiskan anggurnya lalu berdiri, menepuk-nepuk celananya yang berdebu. "Istirahatlah. Besok sore kita sampai di Rustwood. Dan percaya padaku, kota itu jauh lebih keras daripada para bandit yang kita habisi siang tadi."

Setelah Vane kembali ke tendanya, Arya memanggil Max yang baru saja selesai mengasah pedang.

"Max, ganti posisi jaga dengan Josh sekarang. Besok kita sampai di Rustwood, pastikan semua orang memeriksa ulang persediaan air dan kondisi senjata," perintah Arya.

"Siap, Tuan Muda," jawab Max.

Arya bersandar pada gerobak kayu, memejamkan mata dengan pedang berada tepat di jangkauan tangan kanannya. Jalur ekonomi sudah terbuka. Sekarang, yang tersisa adalah membuktikan apakah pasukannya sanggup bertahan di dalam hutan iblis tersebut.

1
adiba fafa
/Drool/
adiba fafa
mana nih duel sama max
palupi
semangat thor👍🥰
palupi
semakin seru...👍🥰
palupi
❤️
PrinceArslan: halo kak' Jika kaka suka karya ku.. aku akan merekomendasikan karya ku yang lain yaitu "Goblin Emperor" barangkali kaka tertarik terimakasih
total 1 replies
palupi
semakin seru 👍
palupi
👍
palupi
langsung tertarik ceritanya 🥰
👍
PrinceArslan: terima kasih 👍
total 1 replies
marsabat hindom
sangat bagus
PrinceArslan: terima kasih 🙏
total 1 replies
Sung Jin Woo
bagus
Akagami Shanks
suka cerita yg seperti ini 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!