Aku mulai tertarik dengan sosok wanita yang duduk disebelah ku dibangku delapan delapan C dalam penerbangan pesawat Jakarta ke Makassar. Dia duduk diam, mengunakan baju serba hitam, sepintas ku melihat ada air mata yang membasahi pipinya. Hatiku mulai ibah, siapa kamu manis, ingin rasanya aku mau menenangkanmu.
Ini perasaan yang dirasakan oleh Kapten Marinir Martinus Revelino. Yang sedang dalam perjalanan menuju tempat tugas baru di Papua. Saat ini dia ditugaskan sebagai Komandan Intel pada kesatuan angkatan laut di Papua.
Dalam penerbangan ini, dia bertemu dengan Gracia Natasya, seorang apoteker yang harus kembali ke papua karena duka yang dia alami.
Apakah Ino dan Cia bisa menjalin hubungan cinta??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Sakit
Kapten Marinir Martinus Revelino Rehata sudah tiga hari mengikuti kegiatan yang dimaksud bersama komandannya dan beberapa anggota lainnya dari kesatuan angkatan laut Biak. Kegiatan bersama kementrian dalam negeri luar negeri dan pertahanan keamanan. Sesekali dia menginap di hotel yang tersedia bersama ajudannya. Namun lebih banyak dia menghabiskan waktu bersama orangtua dan kakaknya di rumah mereka.
Ino masih punya waktu tiga hari di Jakarta, Gerson ajudannya sudah memilih kembali bersama rombongan lainnya ke Biak. Komandan dan istrinya masih bersama anak - anaknya di Jakarta. Hari ini Ino sengaja mengantar mami dan papinya pergi bekerja.
"Kenapa ade mengantar mami dan papi."
"Bolehkan adek antar."
"Boleh dong, mami happy." Maminya langsung mencium anak laki - laki bungsunya ini yang hari ini menjadi supir buat kedua orangtuanya. Ino sengaja hari ini mau bertemu dengan Cia.
"Mi, pi, pulangnya telepon supir saya."
"Kok bisa."
"Iya bisa lah. Kan adek hanya mengantar, pulangnya padangan merpati ini di jemput oleh supir."
"Mi, pasti anak kamu ada maksud mengantar kita."
"Iya sih, mami curiga. Kamu ngapain di rumah sakit tempat mami dan papi bekerja."
"Mami kenal apoteker yang bernama Gracia Anastasya??"
"Oooo Cia, kenal dong." Papinya tertawa.
"Itu apoteker kesayangan mami kamu."
"Ooo ya."
"Ada apa kamu mencari Cia."
"Ada deh."
Martinus Revelino Rehata sudah mengetahui, Cia bertugas di apotik yang mana. Karena di rumah sakit besar ini, ada dua apotik. Satu di Poli dan satu lagi apotik besar yang ada di bagian tengah kompleks rumah sakit yang bangunananya tersendiri.
"Selamat pagi, bisa ketemu dengan Gracia Anastasya."
"Oooo Nona Cia, ada rapat bersama petinggi rumah sakit." Ino dongkol hatinya. Ternyata papi dan maminya mengodai dia, mereka tahu bahwa pagi ini, mereka akan rapat dan Cia ada dalam rapat itu. Akhirnya Ino memilih menunggu rapat selesai di ruangan maminya. Karena dia tahu di ruangan ini banyak jajannya.
"Bro... Ngapain disini."
"Aku antar mami dan papi usi."
"Mami dan papi lagi rapat, kok sebagai supir kamu ngak tahu. Pulang sana. pasti siang bari selesai. Karena mau bahas tentang kegiatan bakti sosial rumah sakit ini dalam rangka ulang tahun rumah sakit."
"Aku tunggu mami di ruangannya saja."
Akhirnya Kakaknya Ino mempersilahkan adiknya menunggu, dia yang baru selesai dinas malam, memilih pulang dan tidur di rumah. Tiga jam lebih Ino menunggu sampai jam makan siang. Ino sengaja mengirim pesan kepada Cia karena dia mau menagih hutang traktir makannya.
"Oke, selesai jam kerja ya. Saya tunggu kamu di plasa senayan."
"Tidak saya jemput kamu di rumah sakit. Baru kita ke plasa senayan bersama."
"Oke."
Cia direpotkan dengan pesan yang masuk di handphonenya di akhir - akhir rapat. Pukul satu siang, baru rapat bersama pimpinan berakhir.
Karena kegiatan ulang tahun rumah sakit semakin dekat, maka Cia selaku sekeretaris panitia di undang ketua panitia hari ulang tahun rumah sakit Dokter Julien Meti Lumiu spesialis bedah, yang adalah maminya Martinus Revelino Rehata. Untuk membahas kesiapan termasuk surat - surat yang harus dokter Julie tanda tangan. Dokter Julien begitu kaget mengetahui anak bungsunya ada di ruangannya. Kemudian beliau sadar bahwa tadi pagi anaknya menanyakan tentang Gracia Anastasya apoteker di rumah sakit ini.
"Cia kenalkan ini anak bungsuku." Cia kaget karena dia tidak menyangka bahwa Ino adalah anak dari dokter Julien,itu berarti Ino adalah anak pemilik rumah sakit ini, dokter Wisnu Christofer Rehata spesialis bedah saraf dan pembulu. Melihat Cia yang sudah memerah wajahnya, dia langsung memegang tangan Cia.
"Ino kenal dengan apoteker mami di rumah sakit ini."
"Ooo iya mami ingat, tadi pagi kamu tanya Cia kan. Cia anakku ini tentara angkatan laut, sekarang tugas di papua."
"Mami, Cia tahu. Tempat tugas Ino, adalah kota Cia dimana Cia lahir dan dibesarkan."
"Ooo ya. Berarti kemarin Cia pulang ke Papua, pas kedukaan kamu juga tahu."
"Ino ada disana, dan Ino hadir di ibadah pemakaman mamanya Cia."
Urusan kepanitian selesai. Kemudian dilanjutkan dengan janji Cia kepada Ino. Sebenarnya bukan janji namun pemaksaan Ino. Dan Cia tidak mempermasalahkan itu karena menurut Cia, Ino berhak mendapatkan semua itu, karena sudah berkorban tangan dan pundak dua jam penerbangan yang mengalami turbulensi.
Cia dan Ino sudah berada salah satu restoran di plasa senanyan. Sekali makan disini maka uang jutaan rupiah akan habis. Namun Cia sudah memperhitungkan pengeluarannya selama seminggu ini.
Makanan yang mereka makan adalah makanan kesukaan Ino, dan ternyata selesai makan, Ino yang membayar makanan itu.
"Mas, nanti saya berhutang terus sama kamu."
"itu yang aku harapkan."
Karena sudah berada di plasa senayan, Cia menyempatkan diri ke swalayannya untuk berbelanja mingguan stok lauknya dan buah - buahan serta sayur mayur. Setelah mereka berdua nonton di bioskop, menikmati film yang lagi viral sekarang. Pukul tujuh malam baru mereka keluar dari kawasan plasa ini. Ino langsung mengantar Cia ke apartemennya. Yang tidak jauh dari rumah sakit tempat dia bekerja.
"Mau mampir minum teh mas?"
"Boleh." Ino menerima tawaran Cia, kebetulan tadi Cia membeli cake kesukaannya. Sesuai janji Cia, sampai di unit apartemen Cia bernomor tujuh ratus lima, langsung Cia menyiapkan teh dan kue kepada Ino dan dirinya.
Unit apartemen Cia, tidak besar tidak juga kecil, namun ditata rapi oleh Cia. Waktu masuk unit ini langsung bertemu dengan toilet disebelah toilet ada dapur minimalis dan didepannya ada meja makan dan kursi sofa di ruang keluarga yang langsung berhadapan denga balkon apartemen yang digunakan Cia menanam bunga. Ada satu kamar tidur yang lengkap dengan kamar mandi di dalamnya.
"Unit kamu rapi dan bersih."
"Kan saya sendiri yang tinggal. Jadi harus rawat. Apalagi saya alergi udara parah. Diminum mas."
Ino menikmati teh dan kue yang disajikan oleh Cia, sambil dia merapikan belanjaannya tadi ketempat - tempat penyimpanan. Dari pembicaraan mereka, Ino tahu bahwa di unit apartemen ini Cia menghabiskan lima tahun. Dan dia juga tahu bahwa apartemen itu dibeli orang tuanya untuk Cia sekolah.
"Kamu ngak menitip sesuatu buat papa kamu."
"Ngak mas. Apa yang mau aku berikan, disana pasti ada."
Ino merasa bahwa Cia tidak terlalu antusias jika membahas papanya dia lebih semangat membahas figur mamanya. Namun Ino tak tega, karena membahas mamanya berarti akan menambah kesedihan bagi diri Cia.
"Kapan kamu pulang ke Biak?"
"Kalau tidak ada halangan desember nanti. Tetapi ...."
"Tetapi.... ???"
"Sebenarnya desember ini adalah rencana saya dan mama liburan ke Jepang."
"Jadi kamu mau liburan kesana."
"Sepertinya."
"Baru papa kamu??"
"Sudah ada yang mengurusnya."
Ino bertamu di unit apartemen Cia sampai jam sembilan malam. Ternyata Ino dan Cia cocok, mereka nyambung waktu saling berbicara. Ada saja yang mereka bahas. Besok harinya Ino masih bermain lagi ke unit apartemen Cia sebelum dia kembali ke tempat tugasnya.