Elio pindah bukan karena mau.Seminggu setelah neneknya meninggal di desa, ibunya memaksanya pindah dari Jakarta ke SMA pinggiran yang dikelilingi kebun dan kabut. Rumah peninggalan nenek itu dingin, lembab, dan penuh sesajen yang belum sempat dibuang.Di malam terakhir nenek, nenek membisikkan satu hal sambil menggenggam tangan Elio erat: "Nenek buka jalannya ya, biar kamu gak kesepian."Sejak itu Elio melihat mereka.Awalnya hanya bayangan di ujung sawah. Lalu anak kecil tanpa kepala yang duduk di gerbang sekolah. Elio pikir dia gila.Sampai dia bertemu Ash.Di gudang belakang SMA-nya yang terkunci, ada cowok seumuran pakai seragam lama yang sobek. Tampan, pucat, dan tersenyum ke Elio. "Akhirnya ada yang bisa lihat lagi."Namanya Sean. Mereka memanggilnya Ash, karena dia seperti abu — tipis, beterbangan, selalu ada di sebelah, gak bisa diusir.Masalahnya, Ash bukan satu-satunya.SMA baru Elio menyimpan arwah penasaran dari tahun 90-an, dan semua mulai mendekat karena mata Elio
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luckystar20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror Pintu Depan dan Benteng Abu
Baru aja kaki Elio melewati ambang pintu kayu yang lapuk itu, tiba-tiba angin es yang super pekat langsung nyamber wajah mereka semua. Suara pintu tua di belakang mereka terhempas kencang banget!
BRAK!
"ANJIR!" jerit Bima histeris sambil loncat ke depan, hampir aja nindih badan Alvian. "Pintunya ngebanting sendiri! Kita dikunciin, El! Kita dikunciin di dalam!"
Elio refleks balik badan dan ngebanting badannya ke pintu, mencoba muter gagang pintu atau ngendorin engselnya. Tapi pintu kayu tua itu benar-benar terkunci rapat, seolah-olah ditarik sama kekuatan gaib yang gede banget dari luar.
"Gak bisa dibuka!" teriak Elio panik, napasnya mulai ngeluarin uap putih gara-gara suhu ruangan tiba-tiba dan drastis. "Gak mau geser sama sekali!"
"Tenang! Jangan teriak-teriak!" tegur Alvian tegas meski mukanya juga terlihat semakin tegang. Dia buru-buru menyalakan senter SWAT di tangannya, menyorot ke sekeliling ruangan depan yang diisi debu tebal, sarang laba-laba, dan sisa-sisa furnitur kayu yang sudah hancur digerogoti rayap.
Ayu, yang berdiri di paling dekat belakang Elio, cuma diam. Dia sama sekali gak terlihat panik atau njerit kayak Bima. Matanya yang bening hanya merhatiin sudut-sudut atap ruangan yang mulai dipenuhi kabut hitam pekat.
BZZZZT!
Mendadak, lampu senter yang dipegang Alvian dan Elio kedap-kedip parah. Bayangan-bayangan di dinding kayu rumah tiba-tiba bergerak-gerak sendiri, meliuk-liuk kayak ular hitam yang siap mencengkeram mereka.
"El... belakang lo!" teriak Ash yang melayang cepat di udara.
Dari sudut atap ruangan yang gelap, meluncur turun sesosok bayangan hitam tinggi besar dengan mata merah menyala! Hawa jahat yang terpancar dari sosok itu kerasa banget bikin dada sesak. Sosok penunggu tua rumah Jalan Kenanga Nomor 14 itu meraung keras, suara gemuruhnya mirip lolongan angin malam bercampur terjadi besi bergesek!
ROAAAR!
"Mati gue! Mati gue!" jerit Bima makin histeris sambil melemparkan dua kantong garam dapurnya asal-asalan ke udara. "Garam super, keluarlah! Usir hantu ini!"
Tapi garam dapur Bima jelas gak ada pengaruhnya sama sekali. Bayangan hitam itu malah makin menggebu-gebu, meluncur deras mau menerjang Elio dan Ayu yang berdiri paling dekat sama pintu!
"JANGAN SENTUH MEREKA!"
WOOSH!
Ash menerjang dari udara dengan kecepatan kilat! Hantu tampan berseragam vintage itu merentangkan kedua tangannya. Pendaran energi abu yang hangat dan sangat kuat meluap deras dari tubuh gaib Ash, memancar membentuk kubah pelindung raksasa yang membentengi Elio, Alvian, Bima, dan Ayu!
BRAK!
Terjadi hebat di udara! Bayangan hitam penunggu rumah itu menghantam benteng abu milik Ash. Suara lecutan energi gaib berbunyi nyaring banget, memicu gelombang angin dingin yang menerbangkan debu-debu tua di lantai rumah.
"Abu!" teriak Elio cemas, ngeliat wujud abu sahabatnya itu memudar tipis gara-gara nahan serangan mendadak tadi.
"Gue... gue gak apa-apa, Manusia Berisik!" sahut Ash sambil menahan nafas gaibnya, gertakan sepertinya menahan beban berat. Energi abunya semakin bersinar terang, mendorong balik bayangan hitam jahat itu sampai terlempar mundur ke sudut atap!
"Alvian, sekarang!" seru Ash lagi. "Gue tahan bentengnya, tapi lo harus pakai gelang lo buat ngunci pergerakan hantu itu!"
"Paham!" sahut Alvian cepat. Tanpa ragu sedikit pun, Alvian melangkah maju ke depan benteng abu Ash. Dia melepas gelang kayu miliknya, lalu mengacungkannya lurus-lurus ke arah bayangan hitam di sudut atap.
"Dengan izin para leluhur penjaga Parangkusuma...diam di tempatmu!" seru Alvian dengan suara berat yang penuh wibawa.
Cahaya emas tipis muncul dari gelang kayu Alvian, menyatu sama energi abu milik Ash. Dua kekuatan itu langsung mengikat sosok bayangan hitam itu, menguncinya di sudut ruangan sampai aura jahatnya perlahan-lahan meredam dan menghilang menyelimuti kegelapan atap.
Suasana ruangan depan tiba-tiba hening kembali. Suhu udara yang tadinya sedingin es perlahan-lahan mulai stabil, meski bau debu dan tanah basah masih kerasa pekat.
"Hah... hah..." Bima terengah-engah di lantai, terduduk lemas sambil megangin dada yang mau copot. "Anjir...demi apa itu tadi serem banget! Gue kapok! Gue mau pulang ke rumah emak gue!"
Elio mengabaikan cerocosan Bima dan langsung menghampiri Ash yang melayang turun pelan-pelan. Wujud abu Ash tampak sedikit transparan, tanda energi gaibnya lumayan terkuras gara-gara masang kubah pelindung tadi.
“Ash, lo gak apa-apa kan?” tanya Elio penuh khawatir, matanya menatap lekat sahabat hantunya itu.
Ash menyyunggingkan cengiran konyolnya yang biasa, meski terkesan agak lemes. "Iya, ngremehin gue lo, El. Hantu ganteng kayak gue mana bisa kalah cuma sama bayangan hitam kayak gitu. Yang penting lo sama yang lain gak kenapa-kenapa."
“Makasih ya, Ash,” bisik Elio tulus.
Ash cuma ngedip sebelah matanya konyol, lalu memutar badannya ngeliatin Ayu yang masih berdiri tenang di dekat pintu.
Ayu merhatiin interaksi antara Elio dan udara kosong di sebelahnya dengan pandangan yang sulit ditebak. Dia gak bisa ngelihat wujud Ash, tapi dia jelas-jelas bisa ngerasain benteng hawa dingin hangat yang tadi nyelametin mereka dari serangan penunggu rumah.
"Teman gaib lo hebat juga," kata Ayu pelan sambil menatap Elio.
Elio tersentak kaget. "Lo... lo bisa ngerasain keberadaan Ash?!"
Ayu cuma tersenyum tipis, gak menjawab pertanyaan Elio secara langsung. Dia malah berjalan melewati Alvian dan Bima yang masih sibuk mengumpulkan sisa-sisa kantong garam di lantai.
“Penunggu tadi hanya benteng luar,” ujar Ayu sambil menunjuk ke arah koridor gelap di dalam rumah. "Kalau kalian mau nemuin ruangan utama tempat dokumen dan rahasia itu disimpan, kita harus lewat jalan tengah itu."
Alvian berdiri, merapikan jaketnya dan kembali memakai gelang kayunya. Mata menatap Ayu dengan analisis penuh. "Lu beneran paham peta rumah ini kan?"
Ayu menoleh sedikit, menatap Alvian dengan tatapan mantap. "Gue gak bakal buang-buang waktu ke sini kalau cuma mau bohong. Ayo lanjut, sebelum benteng gaib di luar bangun lagi."
Elio, Alvian, Bima, dan Ash saling berpandangan. Meskipus baru aja diteror habis-habisan di pintu depan, niat mereka buat terbongkarnya rahasia masa lalu Sean dan Nenek Suri makin membara. Dengan lentera senter yang kembali menyala terang, mereka berempat—plus cewek misterius bernama Ayu—mulai melangkah lebih dalam menembus kegelapan lorong rumah Jalan Kenanga Nomor 14.