NovelToon NovelToon
Zero Hunter

Zero Hunter

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: LetterFromJusticia

Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 — Darah yang Kembali Memanggil

“𝘉𝘦𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘧𝘰𝘳𝘮𝘢𝘴𝘪! 𝘋𝘪𝘢 𝘥𝘪 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘵𝘢!”

Teriakan 𝗔𝗿𝗴𝗮 𝗪𝗶𝗰𝗮𝗸𝘀𝗮𝗻𝗮 memecah kesunyian hutan.

Namun, sebelum keempat Hunter sempat menyempurnakan formasi, sosok mengerikan itu sudah menerjang keluar dari balik pepohonan.

BRUAAAKK!

Tanah bergetar ketika tubuh raksasa Razorback Hound menghantam batang pohon.

Serpihan kayu beterbangan.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 𝗡𝗼𝗶𝗿 berguling ke samping, nyaris terlambat menghindari serangan tersebut.

“𝘚𝘪𝘢𝘭, 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪!”

Ia segera bangkit.

Di hadapannya berdiri seekor monster setinggi hampir dua meter dengan tubuh menyerupai gabungan serigala dan babi hutan.

Tonjolan tulang tajam memenuhi punggungnya. Rahangnya dipenuhi gigi bergerigi, sementara cairan kental menetes dari sela-sela taringnya.

Grrrrrr!

“𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘴𝘢𝘭 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬!” perintah 𝗔𝗿𝗴𝗮. “𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨, 𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘬𝘪𝘳𝘪! 𝙆𝙞𝙧𝙖𝙣𝙖, 𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘶𝘵 𝘵𝘦𝘮𝘣𝘢𝘬! 𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘥𝘪 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘶𝘴𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘮𝘢𝘫𝘶!”

“𝘚𝘪𝘢𝘱!” sahut 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 dan 𝗞𝗶𝗿𝗮𝗻𝗮 hampir bersamaan.

𝗔𝗿𝗴𝗮 menjadi orang pertama yang bergerak.

Pedang panjangnya bergetar ketika mana dari CORE disalurkan melalui Regalia.

WUSHH!

Sebuah tebasan menghantam bahu Razorback Hound.

CRAAKK!

Darah gelap menyembur, tetapi luka tersebut tidak cukup dalam untuk menghentikan monster.

Razorback Hound membalas dengan sapuan kaki depan.

𝗔𝗿𝗴𝗮 segera memutar tubuh.

Cakar raksasa itu melintas beberapa sentimeter dari wajahnya.

“𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨!”

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 melesat dari sisi kiri.

“𝘒𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘶—”

Ujung tombaknya menghantam bagian samping tubuh monster.

TRANGG!

Serangan tersebut hanya menggores kulit tebalnya.

“𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘴𝘢𝘫𝘢! 𝘐𝘯𝘪 𝘬𝘶𝘭𝘪𝘵 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘫𝘢?”

“𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘨𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘵𝘶!” 𝗔𝗿𝗴𝗮 memperingatkan. “𝘒𝘶𝘭𝘪𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘵𝘦𝘣𝘢𝘭. 𝘊𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪, 𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘶𝘬𝘢!”

Namun, Razorback Hound tidak memberikan kesempatan.

Monster itu memutar tubuh dengan kasar.

DUAGHH!

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 terpental setelah terkena benturan bahunya.

Untungnya, ia sempat mengangkat tombak untuk mengurangi dampak serangan.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 langsung bergerak membantu.

“𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨! 𝘔𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪?”

“𝘔𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘯𝘢𝘱𝘢𝘴.” 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 meringis sambil bertumpu pada tombaknya. “𝘙𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘳𝘶𝘥𝘶𝘬 𝘵𝘳𝘶𝘬.”

Razorback Hound kembali merendahkan tubuh.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memperhatikan pergerakan kedua kaki depannya.

Bahu turun. Kepala sejajar dengan dada. Sama seperti yang dijelaskan Pak 𝗔𝗿𝗴𝗮.

“𝘈𝘸𝘢𝘴, 𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘢𝘯𝘤𝘢𝘯𝘨-𝘢𝘯𝘤𝘢𝘯𝘨!”

Benar saja.

WUSHH!

Monster tersebut melesat menuju 𝗞𝗶𝗿𝗮𝗻𝗮.

Perempuan itu segera menembakkan anak panah dari crossbow-nya.

TWANG! TWANG!

Dua proyektil menghantam tubuh Razorback Hound.

Satu terpental setelah mengenai tonjolan tulang. Sementara yang lainnya menancap dangkal di bagian bahu.

Namun, serangan tersebut tidak cukup menghentikan pergerakannya.

“𝙆𝙞𝙧𝙖𝙣𝙖, 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘫𝘢𝘭𝘶𝘳𝘯𝘺𝘢!”

𝗔𝗿𝗴𝗮 berlari memotong jalur monster.

Pedangnya menghantam sisi kepala Razorback Hound.

CLANG!

Benturan keras membuat arah terjangan sedikit berubah.

Monster tersebut menabrak tanah di sebelah 𝗞𝗶𝗿𝗮𝗻𝗮.

BRUUUMM!

Debu dan dedaunan beterbangan.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melihat kesempatan.

𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨!

Ia melesat dari samping.

Kedua Gauntlet-nya terangkat.

DUAAKK!

Pukulan kanan menghantam bagian rusuk Razorback Hound.

Namun, alih-alih membuat monster terhuyung, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 justru merasakan getaran menyakitkan menjalar hingga bahunya.

𝘈𝘱𝘢—

Otot dan kulit monster itu terlalu tebal.

Belum sempat 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menarik tangannya, Razorback Hound memutar tubuh.

BUAGHH!

Sebuah hentakan kaki mengenai lengan kirinya.

Tubuh 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terlempar.

BRAAAKK!

Punggungnya menghantam batang pohon.

“𝘎𝘢𝘬𝘩—!”

Udara seolah dipaksa keluar dari paru-parunya.

Rasa sakit menjalar dari punggung menuju rusuk yang sebelumnya pernah terluka.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 jatuh berlutut.

𝘊𝘶𝘮𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯... 𝘥𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪?

Ia menggertakkan gigi.

Brindle Prowler yang pernah dilawannya terasa jauh lebih lemah dibandingkan monster di hadapannya.

“𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣! 𝘉𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯! 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢𝘮 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘵𝘶!”

Teriakan 𝗔𝗿𝗴𝗮 menyadarkannya.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berguling tepat ketika Razorback Hound menerjang kembali.

BRUAAKK!

Batang pohon di belakangnya retak akibat benturan.

Monster itu menggeram, kemudian mundur beberapa langkah.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memperhatikan sesuatu.

Setiap kali Razorback Hound melakukan terjangan penuh, tubuhnya membutuhkan waktu untuk kembali mengubah arah.

Kecepatannya luar biasa, tetapi berat tubuhnya menjadi kelemahan ketika harus berbelok mendadak.

Ia mengingat latihan bersama 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.

𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘢𝘱.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menarik napas.

“𝘗𝘢𝘬! 𝘏𝘢𝘣𝘪𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘫𝘢𝘯𝘨, 𝘥𝘪𝘢 𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘦𝘭𝘰𝘬!”

“𝘓𝘢𝘭𝘶?”

“𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘱𝘢𝘬𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘴𝘦𝘵, 𝘴𝘪𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳!”

𝗔𝗿𝗴𝗮 meliriknya.

“𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘵𝘳𝘪𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪.”

Ia mengangkat pedang.

“𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨, 𝘱𝘢𝘯𝘤𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢 𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵 𝘱𝘰𝘩𝘰𝘯 𝘪𝘵𝘶! 𝙆𝙞𝙧𝙖𝙣𝙖, 𝘪𝘯𝘤𝘢𝘳 𝘬𝘢𝘬𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘴𝘦𝘵! 𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣, 𝘵𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘢𝘣𝘢-𝘢𝘣𝘢𝘬𝘶!”

Mereka segera bergerak.

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 mengayunkan tombak untuk menarik perhatian monster.

“𝘏𝘦𝘪, 𝘢𝘯𝘫𝘪𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘥𝘪𝘴𝘢𝘯! 𝘚𝘪𝘯𝘪! 𝘓𝘢𝘸𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘶!”

Razorback Hound menggeram.

Kemudian menerjang.

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 menghindar ke samping, memanfaatkan pohon sebagai penghalang.

Monster itu gagal mengenainya.

“𝙆𝙞𝙧𝙖𝙣𝙖, 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨!”

TWANG!

Anak panah 𝗞𝗶𝗿𝗮𝗻𝗮 menghantam bagian belakang sendi kaki depan.

SKRRAAK!

Razorback Hound meraung.

“𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣, 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬!”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 segera bergerak mendekat.

Ia menghantam bagian kaki yang sama menggunakan Gauntlet.

DUAAKK!

Monster tersebut kehilangan keseimbangan sesaat.

Namun, ketika 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 hendak melancarkan pukulan kedua, rahang raksasa itu mendadak terbuka.

GRRAAAHH!

“𝘎𝘩—!”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menarik tubuh ke belakang.

Terlambat.

Ujung cakar monster menyayat lengan kirinya.

SRRAATT!

Darah segar mengalir membasahi Gauntlet.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mundur sambil menggertakkan gigi.

“𝘚𝘢𝘵𝘶 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭𝘢𝘯, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳!” bentak 𝗔𝗿𝗴𝗮. “𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢𝘩!”

“𝘠𝘢, 𝘗𝘢𝘬!”

Pertarungan berlangsung semakin brutal.

𝗔𝗿𝗴𝗮 terus menjaga perhatian monster menggunakan pedangnya.

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 membantu membatasi pergerakan dari sisi kiri, sedangkan 𝗞𝗶𝗿𝗮𝗻𝗮 menembakkan proyektil setiap kali memperoleh sudut aman.

Namun, Razorback Hound mulai menyesuaikan diri.

Monster tersebut tidak lagi selalu menerjang lurus.

Sesekali ia berhenti mendadak, berputar, kemudian menyerang menggunakan rahangnya.

Bahkan 𝗔𝗿𝗴𝗮 beberapa kali terpaksa mundur.

“𝘋𝘪𝘢 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢!” seru 𝗔𝗿𝗴𝗮. “𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘫𝘢𝘭𝘶𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘶𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪!”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengusap darah yang mengalir dari bibirnya.

Kondisinya semakin buruk.

Lengan kiri terluka.

Rusuk terasa nyeri.

Napasnya mulai berat.

𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴, 𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴 𝘥𝘶𝘭𝘶𝘢𝘯.

Tiba-tiba, Razorback Hound melompat menuju 𝗞𝗶𝗿𝗮𝗻𝗮.

Perempuan itu baru saja melepaskan tembakan dan belum sempat berpindah posisi.

“𝙆𝙞𝙧𝙖𝙣𝙖!”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 bergerak tanpa berpikir panjang.

Ia melesat dari samping, lalu menundukkan tubuh untuk menghindari cakaran.

Ketika rahang monster terbuka, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memutar pinggul dan melancarkan pukulan dari bawah.

“𝘏𝘢𝘢𝘢𝘩!”

BUAAAGHH!

Gauntlet kanannya menghantam rahang bawah Razorback Hound.

KRAAKK!

Salah satu taring monster patah.

Darah gelap menyembur ke udara.

Sebagian mengenai wajah 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

Dan sebelum ia sempat menutup mulut—

GULP!

Sedikit darah monster masuk ke tenggorokannya.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tersentak.

“𝘜𝘨𝘩...”

Rasa pahit menyerupai logam memenuhi mulutnya.

Namun, sesuatu yang jauh lebih aneh terjadi sesaat kemudian.

DUG!

Jantungnya berdetak keras.

Panas menjalar dari tenggorokan menuju dada, lalu menyebar ke seluruh tubuhnya.

DUG! DUG!

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 membelalakkan mata.

𝘗𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪...

Ia pernah mengalaminya.

Ketika bertarung melawan BETA di gedung terbengkalai.

Ketika tubuhnya berada di ambang kehancuran.

Saat itu, ia tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Dan sekarang sensasi tersebut kembali muncul.

Suara langkah monster terasa lebih jelas.

Gerakan bahunya tampak sedikit lebih mudah diikuti.

Bukan karena dunia tiba-tiba melambat.

Melainkan karena tubuh 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 seolah mulai mengenali gerakan yang sebelumnya terlalu cepat untuk ditanggapi.

𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶?

“𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣, 𝘮𝘶𝘯𝘥𝘶𝘳!”

Teriakan 𝗔𝗿𝗴𝗮 memaksanya kembali berkonsentrasi.

Razorback Hound menyapu tubuh ke arahnya.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menurunkan pusat gravitasi dan melangkah miring.

WUSHH!

Serangan tersebut melintas tepat di atas bahunya.

Ia berhasil menghindar.

Namun, lutut kanannya bergetar ketika menahan perubahan arah mendadak.

Rasa sakit masih ada.

Lukanya tidak menghilang.

𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘥𝘢𝘬 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘬𝘶𝘢𝘵.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengencangkan rahang.

𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘦𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢.

“𝘗𝘢𝘬!”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berteriak sambil menghindari serangan berikutnya.

“𝘒𝘢𝘬𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘨𝘰𝘺𝘢𝘩! 𝘗𝘢𝘬𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘦𝘭𝘰𝘬 𝘵𝘢𝘫𝘢𝘮, 𝘬𝘢𝘬𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘥𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢!”

𝗔𝗿𝗴𝗮 segera memahami maksudnya.

“𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨, 𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘬𝘦 𝘱𝘰𝘩𝘰𝘯 𝘵𝘶𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨! 𝘓𝘰𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘵𝘪𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳! 𝙆𝙞𝙧𝙖𝙣𝙖, 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢!”

“𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘶𝘮𝘱𝘢𝘯?” gerutu 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀.

Meski begitu, ia sudah bergerak mendekati batang pohon besar yang tergeletak di tanah.

Ia mengangkat tombaknya.

“𝘚𝘪𝘯𝘪! 𝘛𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘱𝘶𝘢𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘣𝘳𝘢𝘬𝘬𝘶, 𝘬𝘢𝘯?”

Razorback Hound meraung.

Monster itu melesat.

Namun, tepat sebelum mencapai 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀, pemuda tersebut melompat ke samping.

Monster itu berusaha membelok.

Kaki depannya menekan tanah.

SKRRAKK!

Sendi yang terluka gagal menopang seluruh bobot tubuh.

“𝙆𝙞𝙧𝙖𝙣𝙖!”

TWANG!

Anak panah menghantam kaki yang sama.

GRRAAAAAHH!

Razorback Hound terhuyung.

𝗔𝗿𝗴𝗮 segera maju.

Mana mengalir melalui Regalia pedangnya.

“𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯!”

WUSHHH!

Pedangnya menebas bagian bawah leher monster.

Darah hitam menyembur.

Namun, Razorback Hound masih hidup.

Dengan sisa tenaganya, monster tersebut membuka rahang dan mencoba menggigit 𝗔𝗿𝗴𝗮.

“𝘗𝘢𝘬, 𝘢𝘸𝘢𝘴!”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menerjang dari samping.

Ia melihat celah pada rahang yang sebelumnya terkena pukulannya.

𝘚𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪. 𝘋𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menurunkan tubuh, menapak kuat menggunakan kaki belakang, lalu mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa menuju Gauntlet kanannya.

“𝘑𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘬𝘢𝘶!”

BUAAAAAGHHH!

Pukulannya menghantam bagian bawah rahang yang telah retak.

Kepala Razorback Hound terdorong ke belakang, memperparah luka terbuka di lehernya.

Tubuh monster itu terhuyung.

Satu langkah.

Dua langkah.

Kemudian—

BRUUUUMMM!

Tubuh raksasanya roboh menghantam tanah.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 segera mundur, mengangkat kedua tangannya meskipun ototnya hampir tidak mampu bergerak.

Beberapa detik berlalu.

Tidak ada gerakan.

Tidak ada geraman.

𝗔𝗿𝗴𝗮 mendekat dengan sangat hati-hati sebelum memeriksa kondisi target.

Kemudian ia menurunkan pedangnya.

“𝘛𝘢𝘳𝘨𝘦𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘦𝘭𝘪𝘮𝘪𝘯𝘢𝘴𝘪,” katanya. Lalu, lebih pelan, “𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪.”

Keheningan menyelimuti hutan.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berdiri dengan napas tersengal-sengal.

Kedua tangannya bergetar.

Darah mengalir dari luka di lengannya, sementara Gauntlet kanannya dipenuhi cairan gelap milik BETA.

Perlahan, ia menjatuhkan tubuh ke tanah.

“𝘏𝘢𝘩... 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢.”

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 mendekat sambil memegangi pinggang.

“𝘎𝘪𝘭𝘢, 𝙑𝙖𝙣. 𝘒𝘢𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘣𝘢𝘣𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘳, 𝘺𝘢?”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tertawa lemah.

“𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘨𝘢𝘮𝘱𝘢𝘯𝘨, 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘥𝘪.”

“𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘤𝘰𝘣𝘢. 𝘛𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘱𝘦 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘫𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨.”

𝗞𝗶𝗿𝗮𝗻𝗮 ikut mendekat.

“𝘛𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘱𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩 𝘱𝘰𝘴𝘪𝘴𝘪.” 𝗞𝗶𝗿𝗮𝗻𝗮 menatap lengan kiri 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 yang masih meneteskan darah. “𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘰𝘵𝘰𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘳𝘢𝘩𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘦 𝘭𝘦𝘩𝘦𝘳𝘬𝘶. 𝘛𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menggeleng.

“𝘈𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘤𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘮𝘣𝘢𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘯𝘤𝘪 𝘬𝘢𝘬𝘪𝘯𝘺𝘢.” Ia melirik 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀. “𝘋𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘦𝘭𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘶𝘮𝘱𝘢𝘯.”

“𝘕𝘢𝘩, 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘪𝘵𝘶.” 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 menepuk dadanya, lalu langsung meringis. “𝘈𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘪 𝘫𝘢𝘴𝘢𝘬𝘶.”

𝗔𝗿𝗴𝗮 yang baru menyelesaikan pemeriksaan target mendengar percakapan tersebut.

Ia berjalan menghampiri 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

“𝘜𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘪𝘴𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢, 𝘭𝘶𝘮𝘢𝘺𝘢𝘯.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengangkat wajah.

“𝘒𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘯𝘦𝘬𝘢𝘵. 𝘋𝘶𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯.” 𝗔𝗿𝗴𝗮 melirik luka di lengan kiri 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻. “𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘰𝘢𝘭 𝘱𝘰𝘭𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘶𝘴. 𝘛𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘪𝘵𝘶, 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘶𝘵𝘢𝘳-𝘱𝘶𝘵𝘢𝘳 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪.”

“𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘱𝘰𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩, 𝘗𝘢𝘬. 𝘉𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘥𝘢𝘬, 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘬𝘦𝘯𝘢.”

“𝘐𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘶 𝘬𝘶𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳.” 𝗔𝗿𝗴𝗮 menyarungkan pedangnya. “𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘶𝘢𝘫𝘢𝘳𝘪. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘩𝘦𝘣𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘯𝘺𝘢.”

Setelah seluruh anggota menerima pertolongan pertama, 𝗔𝗿𝗴𝗮 mengambil dokumentasi eliminasi dan memverifikasi bukti melalui aplikasi HUNTER.

Beberapa saat kemudian, smartphone ESIA 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 bergetar.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

[ MISSION SUCCESS ]

E-EXTERMINATION / 08-117

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

PRIMARY TARGET : ELIMINATED

THREAT LEVEL : E

TEAM MEMBERS : 4 / 4 ALIVE

REWARD : PENDING EVALUATION

Bukti eliminasi diterima. Evaluasi akhir dan pembayaran akan diproses W.H.O.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menatap layar tersebut cukup lama.

MISSION SUCCESS.

Dua kata yang selama bertahun-tahun hanya mampu dibayangkannya.

Kini benar-benar tertera pada perangkat miliknya.

Ia tersenyum.

𝘑𝘢𝘥𝘪, 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘴𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳.

Namun, kebahagiaan itu bercampur dengan kelelahan luar biasa.

Tubuhnya sakit.

Tangannya bergetar.

Dan rasa panas aneh yang sebelumnya memenuhi dadanya mulai mereda.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menyentuh bagian tenggorokannya.

𝘈𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘥𝘪?

Ia mengingat darah monster yang sempat tertelan.

Kemudian bayangan kejadian di gedung terbengkalai kembali muncul.

𝘈𝘱𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯... 𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢?

“𝙑𝙖𝙣! 𝘈𝘺𝘰 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯! 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘥𝘪𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘗𝘢𝘬 𝘼𝙧𝙜𝙖!”

Teriakan 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 memutus pemikirannya.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menurunkan tangan.

“𝘐𝘺𝘢, 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳!”

Ia bangkit perlahan, lalu mengikuti ketiga rekannya.

Perjalanan kembali menuju pos pengamanan dimulai.

𝗞𝗶𝗿𝗮𝗻𝗮 berjalan di tengah formasi, sementara 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 membantu 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melewati bagian tanah yang tidak rata.

𝗔𝗿𝗴𝗮 memimpin di depan.

Tidak ada peringatan baru dari perangkat mereka.

Tidak ada indikasi ancaman tambahan.

Namun, ketika melewati deretan pepohonan besar, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tiba-tiba merasakan sesuatu yang membuat langkahnya melambat.

𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢...

Ia menoleh ke belakang.

Hutan tampak sunyi.

Terlalu sunyi.

Bahkan setelah Razorback Hound terbunuh, tidak terdengar kicauan burung ataupun suara serangga.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memperhatikan kegelapan di antara pepohonan.

Untuk sesaat, ia merasa seolah ada sesuatu yang sedang mengawasi mereka.

“𝙑𝙖𝙣? 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪?” tanya 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak langsung menjawab.

Ia terus menatap celah pepohonan.

Namun, tidak ada apa pun di sana.

“𝘒𝘢𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶?” tanya 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 akhirnya.

“𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘢𝘱𝘢?”

“𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢. 𝘐𝘵𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢.”

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 ikut menoleh sebentar, lalu mengangkat bahu.

“𝘉𝘢𝘳𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘰𝘯𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘥𝘶𝘢 𝘮𝘦𝘵𝘦𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘶𝘬 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘯𝘨, 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘱𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘦 𝘩𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘢𝘩.”

“𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳.” 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memaksa pandangannya lepas dari pepohonan. “𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯𝘬𝘶.”

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 menepuk bahunya.

“𝘈𝘺𝘰. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘢𝘶 𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘰𝘯𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘭𝘢𝘪𝘯.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tertawa kecil, lalu meringis karena rusuknya ikut tertarik.

“𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳 𝘥𝘶𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪.”

Keduanya kembali berjalan.

Namun, beberapa langkah kemudian, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mendengar sesuatu dari arah hutan.

Krrkk...

Suara ranting patah.

Ia berhenti.

Menoleh.

Dan sekali lagi, tidak menemukan apa pun.

Smartphone ESIA di sakunya tetap diam.

Tidak ada notifikasi.

Tidak ada peringatan BETA.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 akhirnya melanjutkan langkah.

Ia tidak mengetahui apa yang menyebabkan suara tersebut.

Tetapi satu pertanyaan terus mengganggu pikirannya.

Jika Razorback Hound adalah satu-satunya BETA di kawasan ini... mengapa hutan masih terasa seperti sedang menahan napas?

---

1
Renjana
keren👍
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊
ラマSkuy
nice 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!