Arini meninggalkan suaminya yang tulus, Dimas, karena terbuai janji kemewahan dari Rian. Namun Rian ternyata hanya menipunya lalu pergi begitu saja, membuat Arini jatuh miskin sendirian. Saat ia menyadari kesalahannya dan berharap kembali pada Dimas, ia terlambat — Dimas sudah bahagia dengan wanita lain. Arini akhirnya belajar: ketulusan jauh lebih berharga daripada kemewahan semu, dan penyesalan selalu datang di akhir cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan yang Menghapus Batas
Suara pintu sedan Mercedes-Benz yang tertutup rapat menciptakan ruang kedap udara yang begitu tenang di dalam kabin. Di luar, bintik-bintik air hujan mulai menampar kaca depan dengan ritme yang makin cepat, membiaskan cahaya lampu-lampu jalanan kota menjadi pendaran warna-warni yang indah.
Di dalam mobil, suhu pendingin udara diatur sangat pas. Aroma wewangian kayu cedarwood dan kulit mahal yang menjadi ciri khas Rian memenuhi seluruh sudut ruangan kecil itu. Jok kulit berwarna krem mendekap tubuh Arini dengan begitu lembut—sebuah kenyamanan fisik yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.
Rian duduk di balik kemudi, jemarinya yang mengenakan jam tangan emas menggenggam lingkar kemudi berkulit halus dengan santai. Pria itu menekan tombol engine start, dan mesin mobil meraung halus sebelum bergetar tanpa suara.
"Rumahmu di daerah mana, Arini?" tanya Rian seraya memutar kemudi perlahan, mengarahkan mobil meluncur keluar dari area parkir VIP menuju jalan raya yang mulai basah.
Arini tertegun sejenak. Pertanyaan sederhana itu seketika memukul kesadarannya kembali ke bumi. Rumahnya? Sebuah kontrakan petak sempit di dalam gang kecil yang becek jika hujan turun, terletak di kawasan pemukiman padat yang penuh bau sampah dan jemuran warga.
Rasa malu yang teramat sangat menyengat dada Arini. Bagaimana mungkin ia membiarkan pria sesukses dan seanggun Rian melihat tempat tinggalnya yang menyedihkan itu? Seluruh citra anggun dan berkelas yang baru saja ia bangun di kafe tadi akan hancur dalam sekejap jika Rian mengantarnya sampai ke depan pintu rumah.
"Arini?" Rian melirik sekilas, menatap Arini dengan raut heran namun tetap lembut.
"Ah... iya, Rian," sahut Arini gugup, jemarinya meremas tas genggam imitasinya di atas pangkuan. "Turunkan aku di depan kompleks pertokoan jalan utama saja. Rumahku... dekat dari sana. Biar aku jalan sedikit."
Rian memicingkan matanya sedikit, menangkap kegelisahan yang terpatri jelas di wajah wanita di sampingnya. Namun sebagai pria yang lihai membaca kelemahan orang lain, Rian tidak mendesak. Ia hanya tersenyum tipis—sebuah senyuman yang menyiratkan bahwa ia sangat paham apa yang sedang disembunyikan Arini.
"Baiklah, kalau itu membuatmu lebih nyaman," ujar Rian tenang, membiarkan mobil terus meluncur menembus derasnya hujan.
Di sepanjang perjalanan, Rian tidak membiarkan keheningan canggung menguasai kabin. Dengan lihai, ia memainkan irama percakapan. Ia memutar musik instrumental bergenre smooth jazz ber-volume rendah, lalu mulai bercerita dengan gaya bahasa yang penuh wawasan. Ia membicarakan rencana ekspansi bisnisnya, pengalamannya mengunjungi kota-kota besar di Eropa, hingga visinya tentang bagaimana seorang wanita seharusnya diperlakukan.
"Bagi saya, Arini... wanita itu ibarat perhiasan langka," tutur Rian, suaranya terdengar begitu hangat di tengah gemercik hujan di luar. "Ia tidak diciptakan untuk bekerja keras menanggung beban hidup yang berat. Tugas seorang pria adalah menjadi wadah yang kokoh, melindungi dan memastikan perhiasan itu selalu berkilau. Kalau perhiasan itu dibiarkan redup dan berdebu di tempat yang salah... itu bukan salah perhiasannya, tapi salah pria yang memegangnya."
Arini mendengarkan setiap patah kata itu bagaikan orang haus yang menemukan mata air di tengah padang pasir. Setiap kalimat Rian seolah membenarkan seluruh amarah dan kekecewaannya pada Dimas selama ini. Di mata Rian, sikap menuntutnya bukanlah sebuah kesalahan, melainkan bentuk pertahanan diri seorang wanita yang tidak mendapatkan haknya.
"Kamu terlalu baik, Rian..." bisik Arini, menatap profil samping wajah Rian yang tegas diterpa tembusan cahaya lampu jalan. "Tidak semua pria berpikir sepertimu."
"Hanya pria yang tahu cara menghargai keindahan yang berpikir begini, Arini," balas Rian manis, menghentikan mobilnya saat lampu merah menyala di sebuah perempatan jalan.
Rian memutar tubuhnya menghadap Arini. Tatapannya dalam, begitu intens hingga membuat Arini menahan napas. Pria itu merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam elegan dengan tulisan cetak timbul berwarna emas, lalu mengulurkannya kepada Arini.
"Ini nomor pribadi saya," ucap Rian. Tangannya sengaja menyentuh jemari Arini sedikit lebih lama saat menyerahkan kartu itu. "Kalau kapan pun kamu merasa jenuh, butuh teman bicara, atau butuh bantuan apa pun... pintu saya selalu terbuka lebar untukmu. Jangan sungkan."
Jantung Arini berdegup kencang saat menyambut kartu nama yang terasa tebal dan mahal itu. "Terima kasih, Rian..."
Beberapa menit kemudian, mobil sedan hitam itu berhenti di tepi jalan utama, persis di dekat mulut gang sempit menuju rumah kontrakan Arini. Hujan di luar masih turun lumayan deras, menciptakan genangan air yang memantulkan lampu-lampu jalan.
"Terima kasih sudah mengantarku, Rian," ujar Arini seraya memegang gagang pintu mobil.
"Sama-sama, Arini. Sampai jumpa lagi... primadona," sahut Rian dengan kedipan mata yang mengikat.
Arini melangkah keluar dari mobil. Begitu pintu Mercedes-Benz itu tertutup dan mobil berangsur melaju menghilang di kegelapan malam, Arini merasakan hawa dingin dan lembab langsung menyergap tubuhnya. Ia terpaksa memegang gaun hitamnya tinggi-tinggi, berjalan berjinjit menembus beceknya lorong gang kecil demi menghindari genangan air hitam yang kotor.
Kontras itu terasa sangat menyakitkan: dari kabin mobil mewah berharga miliaran rupiah, kini ia harus kembali menyusuri jalanan sempit yang berbau sampah dan air got meluap.
Ketika Arini tiba di depan pintu rumah kontrakannya, lampu teras yang temaram menerangi sosok seorang pria yang duduk bersandar di kursi plastik tua di depan pintu.
Itu Dimas.
Pria itu masih mengenakan seragam kerjanya yang basah kuyup di bagian bahu dan dada. Wajahnya pucat pasi, matanya merah karena kelelahan setelah bekerja belasan jam tanpa henti di dua tempat berbeda. Di tangannya, ada sebuah kantong plastik hitam yang sudah agak basah terkena tetesan air hujan dari atap.
Melihat Arini berjalan mendekat dengan gaun bagus dan riasan wajah yang masih tersisa, Dimas segera berdiri. Tubuhnya agak gemetar menahan dingin, tetapi matanya memancarkan rasa lega yang teramat sangat.
"Arini... kamu dari mana saja?" tanya Dimas dengan suara parau. "Mas khawatir sekali... tadi hujan deras turun, Mas cari kamu di sekitar jalan depan tapi tidak ada. Ponselmu juga tidak bisa dihubungi."
Arini menghentikan langkahnya. Rasa bersalah yang sempat berbisik kecil di hatinya seketika menguap, berganti dengan rasa risi dan jijik saat melihat penampilan suaminya yang begitu kumal dan menyedihkan.
"Aku ada urusan di luar," jawab Arini dingin, menolak menatap mata Dimas.
Dimas menghela napas panjang, mencoba tersenyum walau bibirnya yang pucat gemetar. Pria itu menyodorkan kantong plastik hitam di tangannya dengan hati-hati.
"Ini... Mas tadi sempatkan mampir ke kedai martabak sebelum pulang," bisik Dimas pelan, berusaha memberikan yang terbaik dari sisa upah lelahnya hari itu. "Mas minta orangnya buatkan yang keju cokelatnya agak tebal... buat kamu."
Arini menatap kantong plastik kusam di tangan suaminya yang bernoda oli. Pikiran Arini langsung terbang kembali ke cangkir Chamomile tea dengan madu murni, mobil Mercedes-Benz, dan kartu nama hitam bersepuh emas di dalam tasnya.
Bagi Arini, martabak dalam kantong plastik basah itu bukan lagi simbol cinta, melainkan simbol kemelaratan yang menghina impian tingginya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Arini menepis tangan Dimas yang memegang kantong plastik itu. Bungkus martabak hangat itu terlepas dari genggaman Dimas, jatuh menimpa genangan air hujan yang kotor di atas lantai semen teras rumah mereka.
"Arini!" Dimas terperanjat, matanya membelalak kaget menatap makanan yang dibelinya dengan sisa keringat terakhirnya kini hancur di atas tanah kotor.
"Aku tidak butuh makanan murahan ini, Mas!" bentak Arini dengan nada rendah namun penuh racun. Ia menerobos masuk ke dalam rumah dan membanting pintu kayu itu, meninggalkan Dimas yang berdiri mematung di tengah gerimis malam, menatap makanan kotor di bawah kakinya dengan dada yang hancur tak berbekas.