NovelToon NovelToon
Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.


Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Pemantik di Ruang Makan

Bau gas masih tercium samar di lorong menuju ruang makan, tetapi tak lagi setajam tadi.

Andien berhenti di ambang pintu gudang beras, satu tangan masih memegang jimat sirih dan kunyit dari ibunya, tangan lain menekan dadanya yang naik turun. Katup utama di halaman belakang sudah ia putar sampai mentok. Ventilasi atap sudah dibuka Pak Slamet dari luar. Empat puluh dua orang telah digiring tim Gegana lewat pintu rahasia ke halaman belakang, anak-anak digendong, nenek-nenek dipapah, tanpa satu pun tangisan keras.

Tinggal satu ruangan yang belum kosong.

Dari balik pintu ganda ruang makan, terdengar suara-suara.

"... tidak perlu berpura-pura sekarang, Carlo." Suara Bima muda dan tegang, setiap katanya seperti kawat yang ditarik terlalu kencang. "Kamu datang sendirian karena kamu tahu aku tidak bohong soal gasnya."

"Aku datang karena kamu menyandera orang yang tidak bersalah."

"Tidak ada yang tidak bersalah di keluarga ini."

Andien menempelkan telinga ke celah pintu. Lewat sisi kiri, ia bisa melihat sebagian ruangan: meja makan panjang tempat ia dulu menata mangkuk-mangkuk sup untuk keluarga pasien, lampu gantung yang temaram, dan empat orang.

Carlo berdiri di ujung meja, kedua tangan terbuka di sisi tubuh. Laras duduk di kursi dekat jendela, wajahnya pucat tetapi tegak, kedua tangan terlipat rapi di pangkuan seperti dokter yang sedang menunggu hasil. Seorang pria tua berjas abu-abu berdiri kaku di dekat dinding dengan senapan berburu tergantung di bahu, wajahnya basah keringat: Pak Gunawan Santoso, sang notaris.

Dan di tengah ruangan, di dekat kompor portabel yang dibawa dari dapur, berdiri seorang pria muda berambut gelap, berkemeja hitam, dengan wajah yang mirip Bramantyo di tulang pipi dan rahang, tetapi tanpa kehangatan palsu itu. Di tangan kanannya ada sebuah pemantik logam, tutupnya terbuka, ibu jarinya bertengger di roda api.

"Satu gesekan," kata Bima. "Itu saja."

Andien menelan ludah. Ia tahu apa yang mestinya terjadi bila pemantik itu menyala. Tetapi ia juga tahu sesuatu yang tidak diketahui Bima.

---

"Aku bawa suratnya." Carlo mengangkat map cokelat dengan tangan kiri, perlahan. "Seperti kamu minta. Pelimpahan saham keluargamu. Aku sudah tanda tangan di mobil."

"Letakkan di meja."

Carlo meletakkannya. Gerakannya sengaja pelan, matanya tidak lepas dari pemantik di tangan Bima.

"Sekarang Notaris Gunawan akan memeriksa dan mengesahkan." Bima tak menoleh. "Pak?"

"I-iya, Nak Bima." Gunawan melangkah ke meja, tangannya gemetar saat membuka map. Senapan di bahunya bergoyang, tak jelas apakah ia sanggup mengangkatnya bila diminta.

Dari kursinya, Laras menatap notaris itu dengan tenang yang aneh. "Pak Gunawan. Dua tahun lalu Bapak mengesahkan surat kuasa dari almarhum Pak Wiranegara. Waktu itu Bapak bilang, tanda tangannya asli."

"Itu... memang asli, Bu."

"Tapi ditandatangani dengan paksaan?"

Gunawan terdiam. Keringat menetes dari pelipisnya.

"Tidak ada yang boleh bicara kecuali aku," potong Bima, suaranya naik satu nada. "Laras, kamu dokter. Kamu tahu apa yang terjadi kalau kamu terus membuka mulut."

"Aku tahu apa yang terjadi pada seseorang yang tangannya gemetar sampai tak sanggup menahan korek api," jawab Laras tanpa berkedip. "Kamu sudah memegang pemantik itu selama dua jam, Bima. Otot ibu jarimu pasti sudah kram."

Bima menegang. Sekilas, matanya beralih ke ibu jarinya sendiri, dan di sanalah Andien melihat celah.

---

Ia mendorong pintu itu perlahan, hanya selebar tubuhnya.

Semua kepala menoleh.

"Andien!" Carlo nyaris berteriak, lalu menahan diri.

"Siapa itu?" Bima memutar, tangannya terangkat. "Jangan bergerak!"

Andien berhenti di ambang pintu dengan kedua telapak terbuka, seperti dulu ia mendekati pria asing yang tergeletak di lumpur. "Saya Andien. Saya yang mengelola dapur ini."

"Gadis desa itu." Bima menyeringai, tetapi bibirnya bergetar. "Kamu yang jadi biang semua masalah. Kamu yang menarik Carlo dari sungai, kamu yang menghancurkan rencana Ayah."

"Saya hanya menolong orang yang tergeletak."

"Dan karena itu ayahku membusuk di sel!"

"Karena ayahmu membiarkan kakaknya sendiri meninggal tanpa menelepon dokter." Suara Andien tenang, nyaris lembut, dan itu yang membuat Bima terdiam sepersekian detik. "Saya tidak menyalahkan kamu karena marah. Saya akan marah juga. Tapi bukan saya yang membuat ayahmu dipenjara."

"Diam."

"Pak Bima." Andien melangkah satu langkah pelan. "Ada yang perlu Bapak tahu."

"Jangan mendekat!"

"Gasnya sudah mati."

Hening. Lampu gantung berayun pelan.

"Bohong."

"Katup utama di halaman belakang sudah saya putar tertutup. Saya sendiri yang punya kuncinya." Andien menunjuk kompor portabel di dekat kaki Bima. "Kalau Bapak ragu, nyalakan saja kompor itu. Tidak akan ada api."

Bima menatapnya lama, napasnya berat. Matanya bergerak cepat dari wajah Andien ke kompor, ke pemantik, ke Carlo, ke jendela yang kini terbuka sedikit, dengan tirai bergoyang oleh angin malam yang masuk dari luar.

Ia mencium udara. Sekali. Dua kali.

Baunya, Andien tahu, sudah sangat tipis. Cukup untuk membuat hidung berdenyut, tetapi tidak lagi cukup untuk membuat ruangan meledak.

"Kamu menyalakan ventilasi," bisik Bima.

"Pak Slamet yang membukanya dari atap."

"Tidak ada ventilasi di denah."

"Memang tidak. Hanya orang dapur yang tahu." Andien tersenyum kecil, getir. "Bapak menganggap saya hanya tukang masak. Itu kesalahan Bapak yang pertama."

Wajah Bima berubah. Rahangnya mengejang, dan Andien melihat kemarahan yang selama ini terpendam meledak ke permukaan.

"Aku akan tetap menyalakannya!" Ia mengangkat pemantik tinggi-tinggi. "Aku akan membakar semuanya! Rumah ini, kalian, seluruh..."

"Silakan."

Itu suara Laras.

Semua menoleh padanya. Perempuan itu masih duduk di kursinya, tak bergerak, tak berubah ekspresi.

"Silakan nyalakan," katanya tenang. "Aku ingin lihat apa yang terjadi."

"Laras..." bisik Carlo.

"Kamu tahu apa yang kulihat sekarang, Bima?" Laras menatap pemuda itu lurus. "Aku melihat seseorang yang selama dua jam duduk di ruangan penuh gas tanpa sekali pun menyalakan api. Kamu tidak benar-benar ingin melakukannya. Kamu hanya ingin ada yang mendengarkan."

Bima menggeleng pelan, tetapi pemantik di tangannya mulai bergetar.

"Aku sudah bekerja di bangsal gawat darurat sebelas tahun," lanjut Laras pelan. "Aku pernah melihat orang yang mengancam mengakhiri hidupnya dan orang-orang di sekitarnya. Mereka tidak pernah benar-benar ingin menekan pelatuknya. Mereka hanya ingin seseorang berkata: *aku melihat betapa sakitnya kamu.*"

"Jangan bicara seperti dokter padaku."

"Kalau begitu aku bicara sebagai orang yang juga pernah dikhianati oleh keluarga sendiri."

Hening panjang. Di luar, jauh, sirene terdengar samar, tetapi berhenti di ujung jalan, sesuai perintah.

---

Pak Gunawan yang pertama kali bergerak.

Ia menurunkan senapan dari bahunya dengan gerakan sangat pelan, meletakkannya di lantai marmer, lalu menegakkan tubuh dan menatap Bima dengan wajah yang tiba-tiba terlihat jauh lebih tua dan jauh lebih jernih.

"Nak Bima. Saya sudah tidak sanggup."

"Pak, jangan berani..."

"Dua tahun lalu, ayahmu datang ke kantor saya, membawa foto istri dan anak saya. Katanya, kalau saya tidak mengesahkan surat itu dengan cara yang dia mau, mereka akan..." Gunawan tersendat. "Sejak saat itu saya tidak tidur nyenyak satu malam pun."

"Pak Notaris," Bima mendesis.

"Maafkan saya, Pak Carlo. Bu Laras." Gunawan menunduk dalam-dalam. "Tapi saya lebih memilih dipenjara sebagai orang yang berani, daripada bebas sebagai orang yang menyerah lagi."

Bima menatap pria tua itu, dan sesuatu di wajahnya runtuh. Bukan hanya kemarahan, tetapi seluruh bangunan yang ia pasang selama bertahun-tahun, anak yang dianggap terlalu pintar, yang disembunyikan jauh dari keluarga, yang mendengar ayahnya sendiri berkata hal-hal yang kini ia tak tahu harus percaya atau tidak.

"Ayahku bilang..." suaranya pecah. "Ayahku bilang Carlo yang mengambil segalanya dari kami."

"Ayahmu berbohong, Bima," kata Carlo pelan. Ia tak maju, tak bergerak. "Padamu juga."

"Jangan bicara!"

"Dia mencuri empat ratus miliar dari perusahaan dan membiarkan Ayahku meninggal di kursinya. Itu fakta di pengadilan, bukan fitnahku." Carlo menarik napas. "Tapi kamu tidak perlu membayar dosanya. Kamu tidak harus menjadi orang yang menanggungnya."

Bima mengangkat wajah. Matanya merah, basah, dan untuk pertama kalinya Andien melihat dia bukan sebagai monster, melainkan seorang anak muda kesepian yang terlalu lama dibesarkan oleh kebencian orang lain.

"Pak Bima," kata Andien pelan.

Bima menoleh padanya.

"Waktu saya menemukan Mas Carlo di tepi sungai, saya tidak tahu siapa dia. Saya tidak tahu dia kaya atau miskin, jahat atau baik, punya musuh atau tidak." Ia mengambil satu langkah lagi. "Saya hanya tahu dia masih bernapas. Dan itu cukup."

"Aku bukan Carlo."

"Bukan." Andien menggeleng. "Tapi Bapak juga masih bernapas. Dan itu cukup, untuk sekarang."

Air mata Bima jatuh. Satu, lalu dua, lalu ia menunduk, bahunya merosot. Tangan yang memegang pemantik itu perlahan turun, ibu jarinya melepaskan roda api, dan tutup logam itu menutup dengan bunyi klik pelan.

Pemantik itu jatuh ke lantai marmer.

---

Bunyi sepatu bot memenuhi ruangan secara serentak.

Komisaris Arief dan lima anggota timnya masuk dari tiga pintu sekaligus, tapi tanpa teriakan, tanpa todongan. Mereka sudah diberitahu lewat radio bahwa situasinya telah berubah. Seorang petugas mendekati Bima dengan hati-hati, memborgolnya tanpa kekerasan. Pemuda itu tak melawan. Ia hanya berdiri dengan kepala tertunduk, seperti orang yang akhirnya diizinkan berhenti berlari.

Gunawan menyerahkan diri dengan kedua tangan terulur, dan Komisaris Arief menepuk bahunya sekilas sebelum petugas membawanya keluar.

"Dokter Laras," kata sang komisaris. "Anda tidak apa-apa?"

"Aku baik-baik saja." Laras berdiri perlahan, dan baru saat itu Andien melihat lututnya sedikit gemetar. "Hanya perlu duduk sebentar. Dan secangkir teh."

"Teh," Andien mengulang, setengah tertawa, setengah terisak. "Bu, saya buatkan."

"Nanti." Laras meraih tangannya, dan mereka berdiri berpegangan di tengah ruang makan yang berantakan, dua perempuan yang telah melewati terlalu banyak malam seperti ini. "Terima kasih, Andien. Kamu menyelamatkan seluruh rumah ini."

"Saya hanya tahu letak pintunya, Bu."

"Itu juga yang kukatakan tentang ruang gawat darurat." Laras tersenyum lelah. "Kadang yang menyelamatkan hidup orang hanyalah tahu di mana pintunya."

Di samping mereka, Carlo berdiri diam. Ia tidak memeluk, tidak berbicara. Ia hanya menatap Andien dengan mata yang basah, dan Andien tahu betul apa yang ingin ia katakan tanpa harus mendengarnya.

Ia mengangguk sekali, kecil.

*Aku di sini, Mas.*

Carlo menutup mata sejenak, lalu mengangguk balik. Dan di antara pecahan kaca, bau gas yang memudar, dan aroma sup yang belum sempat dihidangkan, empat orang berdiri di ruang makan sebuah rumah bernama *Pulang*, dan untuk pertama kalinya sejak malam badai di tepi sungai, tak seorang pun dari mereka merasa sedang menunggu bahaya berikutnya.

---

*Bersambung ke Bab 27...*

1
Renjana
menunggu😊
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya
Renjana
bagus ni
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!