Sambil membawa surat hasil pemeriksaan kehamilannya, Kinan berlari menuju ruangan suaminya. Dia tidak sabar menyampaikan pada suaminya kalau dia hamil. Tapi saat akan membuka pintu,
"Bima, istriku mengantarkan istrimu ke rumah sakit. Katanya ke dokter kandungan, mungkin Kinan hamil. Lantas bagaimana dengan Agnes?"
"Bagaimana apanya? tiga tahun ini baik-baik saja kan? tinggal 2 tahun lagi, Agnes tidak perlu lagi sembunyi di luar negeri!"
Deg
Mata Kinan memerah, wanita yang telah menabrak ibunya hingga tewas. Dan mendapatkan hukuman selama lima tahun di penjara, bagaimana bisa berada di luar negeri?
"Kamu keterlaluan, kalau sampai Kinan mengetahuinya. Dia akan sangat marah padamu! jangan bawa-bawa aku ya, Bella itu sahabat baik Kinan. Kalau dia tahu, habislah aku!"
Hati Kinan hancur mendengar suaminya malah tertawa.
"Dia tidak akan tahu, kalaupun tahu dia bisa apa? Kinan sudah tidak punya siapa-siapa selain aku. Satu kata dariku, dia akan patuh!"
'Tega kamu mas' batin Kinan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Bella yang sejak tadi berada di samping Kinan, melihat ke arah Kinan yang tampak menutup panggilan telepon itu dan buru-buru meletakkan ponsel di tangannya di atas meja.
"Nenek Ningsih membujuk mu?" tanya Bella.
Kinan menggelengkan kepalanya perlahan.
"Tidak, nenek hanya bilang. Dia sudah menghukum Bima dengan 100 cambukann. Itu hukuman keluarga di kediaman Dirgantara. Jika seseorang melakukan kesalahan yang di anggap fatal dan mempermalukan nama keluarga dan sudah sangat melanggar aturan yang ditetapkan disana" jelas Kinan.
Bella malah terkekeh pelan.
"Cuma 100? itu sih bukan hukuman!" ujarnya santai.
Kinan hanya diam. Dia pernah melihat cambuk yang biasa di pakai untuk hukuman keluarga itu. Tidak ringan, beratnya lebih dari satu kilo. Tapi, dia sama sekali enggan membayangkan Bima di cambuk. Dia bahkan enggan mengingat Bima.
"Tinggal beberapa hari lagi kasus tiga tahun yang lalu akan dibuka. Sebaiknya memang jangan terlalu banyak komunikasi dengan keluarga Dirgantara! kamu tidak berniat menjenguk pria brengsekk itu kan?" tanya Bella lagi.
Kinan menggelengkan kepalanya lagi.
"Tapi, apa dia akan datang di persidangan pertama? itu tinggal besok. Kalau dia masih berada di rumah sakit, bagaimana prosesnya akan berjalan. Apa akan di tunda?" tanya Kinan.
Sepertinya yang sedang dipikirkan oleh Kinan memang bukan tentang Bima yang pasti saat ini berada di rumah sakit. Tapi, bagaimana Bima bisa datang ke persidangan pertama mereka kalau masih ada di rumah sakit.
"Ya, pasti dia tidak akan datang. 100 cambukann mungkin tidak akan membuatnya mati. Tapi pasti akan membuatnya tengkurap selama satu mingguan, meski obat yang digunakan obat terbaik. Kalau masalah sidangnya, aku akan coba tanya pada paman. Sebentar ya...!"
Kinan mengangguk dengan cepat. Yang dia pikirkan saat ini memang hanya, bagaimana dia bisa cepat bercerai dengan Bima. Dan bagaimana dia bisa mendapatkan keadilan bagi ibunya? hanya itu saja.
Bella segera menghubungi pamannya.
[Halo Bella, ada apa?]
"Paman, aku mau bertanya. Misalnya, besok Bima dan Kinan dijadwalkan menjalani sidang pertama perceraian mereka. Namun, hari ini Bima mengalami kecelakaan dan harus dirawat di rumah sakit. Dia bahkan tidak bisa berjalan, apalagi datang ke pengadilan. Lalu, bagaimana dengan sidang besok, Paman?" tanya Bella dengan serius.
[Dalam keadaan seperti itu, sidang tidak otomatis dibatalkan hanya karena Bima mengalami kecelakaan. Pengadilan tetap bisa menyelenggarakan sidang sesuai jadwal, tetapi hakim akan mempertimbangkan keadaan dan kehadiran kedua belah pihak.]
Bella dan Kinan saling pandang.
"Jadi, Kinan tetap bisa datang ke pengadilan seperti biasa?"
[Tentu. Kinan tetap bisa hadir sebagai penggugat. Persoalannya adalah bagaimana pengadilan menyikapi ketidakhadiran Bima sebagai tergugat.]
Bella menggeser posisi duduknya.
"Kalau Bima benar-benar tidak bisa hadir karena masih dirawat di rumah sakit, apakah hakim akan langsung memutuskan perceraian mereka?"
[Tidak semudah itu. Pada sidang pertama, hakim akan memeriksa kehadiran para pihak dan mengupayakan perdamaian. Jika Bima tidak hadir, hakim bisa menunda sidang untuk memanggilnya kembali, terutama apabila ada alasan yang patut dan dapat dibuktikan. Keluarga atau kuasa hukumnya sebaiknya segera menyampaikan pemberitahuan kepada pengadilan, disertai surat keterangan dari rumah sakit.]
Bella dan Kinan sama-sama tidak terlihat senang dengan jawaban paman Bella itu.
"Jadi, besok Kinan tetap bisa datang ke pengadilan, sementara Bima bisa meminta penundaan karena kecelakaan?"
[Benar. Itulah salah satu kemungkinan yang masuk akal]
"Baiklah paman, aku mengerti!"
[Jangan khawatir, biasanya proses paling lama juga hanya 3 bulan. Dan lagi, ada masalah lain yang mereka hadapi. Sebenarnya itu bisa menekan Bima untuk segera menyetujui perceraian]
Mata Bella melebar, ucapan pamannya membuatnya berpikir sedikit licik.
"Paman benar, kenapa aku tidak memikirkan ini sebelumnya"
[Tapi jangan gegabah, biarkan prosesnya berjalan dulu]
"Iya paman, aku paham. Terima kasih"
Bella menutup panggilan itu.
"Kamu tetap harus datang besok Kinan. Tapi tidak masalah, paman sudah menyiapkan rencana cadangan. Pria brengsekk itu pasti tidak akan bisa lama menunda perceraian denganmu!"
Kinan mengangguk, dia terdengar lega mendengarnya. Dia pikir, karena sakit, Bima malah akan menggunakan hal itu sebagai alasan penundaan sidang.
Dan di rumah sakit, Galih sungguh terlihat panik. Begitu pakaian Bima di buka, luka di punggungnya bahkan membuat Galih secar otomatis meringis sakit.
Luka lecet, yang bukan sekedar lecet. Tapi luka itu terbuka, bukan hanya memperlihatkan kulitnya yang terkoyak. Bahkan dagingnya pun terlihat. Galih sampai mengeluarkan air mata. Karena bagaimana pun, sebagian besar luka itu juga karena dia.
"Apa yang terjadi?" Fandy buru-buru datang sambil menggunakan sarung tangan steril.
"Dia dicambuk..."
Fandy sempat tercengang beberapa saat. Bahkan dia belum pernah melihat luka yang begitu parah seperti di punggung Bima itu.
Tapi rahang pria yang beda usia beberapa bulan dengan Bima itu mengeras.
"Dia seperti ini untuk melindungi wanita bernama Agnes itu?" tanya Fandy pada Galih.
Galih hanya diam. Tapi diamnya Galih, membuat Fandy tahu jawaban sebenarnya.
"Bawa masuk, kamu tunggu disini kak!"
Galih hanya mengangguk. Tangannya masih merah, banyak noda darahh juga. Dia yang mengangkat tubuh Bima tadi.
Fandy yang berada di dalam ruangan penanganan gawat darurat, matanya sampai berkaca-kaca.
'Dasar bodohh! kamu itu pengusaha paling berpengaruh di kota ini. Kamu terkenal sangat pintar berbisnis, tapi kenapa masalah perempuan kamu bisa sebodohh ini, Bima!'
Fandy rasanya mau memekik kesal. Bagaimana pun mereka berteman lebih dari 20 tahunan. Meski tidak sedekat Zayn, dia juga menjadi teman Bima bertahun-tahun. Rasanya tidak senang saja, tidak ikhlas kalau Bima sampai terluka separah ini demi melindungi seorang wanita yang bahkan tidak berani mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri.
Satu jam berlalu, beberapa perawat sudah keluar masuk ke ruangan itu dengan membawa kantong darahh, atau wadah yang berisi cairan merah. Bahkan ada beberapa wadah yang isinya kain kasa bersih, lalu keluar dengan warna yang sudah berbeda.
Galih berkali-kali membenarkan kacamatanya yang berembun. Matanya terus berkaca-kaca, meski tidak sampai menangis, tapi dia juga tak bisa menghentikan matanya yang terus basah.
Zayn yang mendengar kabar itu segera datang bersama dengan Leo.
"Bagaimana dia?" tanya Zayn khawatir.
"Sudah satu jam lebih, sudah 3 kantong darahh yang dibawa masuk!" jawab Galih.
Tangan Zayn terkepal.
"Dasar bodohh! ini pasti untuk wanita bernama Agnes itu kan? Bima benar-benar buta!" kesal Zayn.
Galih terduduk lemas di bangku.
"Nenek marah padanya, Kinan bersikeras bercerai" ucap Galih pelan.
"Apa nenek tahu dia hamil...eh!" Zayn menutup mulutnya, kenapa dia keceplosan menyebutkan Kinan hamil.
'Mampus aku! kenapa aku mengatakan ini? Bella pasti menghabisiku!' sesalnya.
Galih yang mendengar itu segera berdiri dari duduknya.
"Apa kamu bilang? Kinan hamil?" tanyanya antusias
***
Bersambung...