Kisah cinta yang tak usia saat masih berseragam abu-abu, akankah bisa terjalin kembali? Disaat keduanya sudah tak lagi sama, namun hati tak bisa dibohongi, cinta mereka nyatanya masih ada.
Namun, disaat cinta kembali mengalahkan logika, keadaan justru menyudutkan keduanya.
Akankah SANTANA masih bisa menjadi milik SENJANA?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon little ky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sama capeknya
Tap.. tap.. tap..
Suara langkah kaki pelan nan anggun melintas di lorong-lorong sebuah rumah sakit yang sepi. Lorong ini memang jarang dilewati, karena mengarah ke ruangan pribadi para dokter yang biasa digunakan untuk mereka beristirahat.
Tok.. Tok..
Kriiiieeeeeeettttttttttt
" Selama pagi, dok.. Maaf, mengganggu waktu anda. "
" Selamat pagi, bu Rahayu. Silahkan masuk. "
Dipersilahkan masuk oleh dokter Zahra, ibu Angkara dan Miyara ini langsung masuk ke dalam ruangan pribadi dokter Zahra. Dokter yang merawat Senjana sejak gadis itu berusia 18 tahun, juga dokter yang pernah beberapa kali Rahayu datangi saat dia dalam kondisi terpuruk pasca pengkhianatan suaminya.
" Lama tidak berjumpa, bu Rahayu. Dan kalau boleh saya tahu, apa gerangan yang membawa anda datang kembali menemui saya? Apa ada keluhan? " tanya dokter Zahra tak kuasa menahan rasa penasaran atas kehadiran pasiennya dulu.
" Ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan dengan anda, dok. Tapi ini bukan tentang saya. "
Dahi dokter Zahra berkerut, " Lalu tentang... siapa? "
Bu Rahayu secara singkat menceritakan pertemuannya dengan salah satu pasien dokter Zahra, siapa lagi kalau bukan Senjana. Bu Rahayu sengaja datang kesini dengan maksud mencari informasi tentang apa yang dulu dialami oleh Senjana.
Meski tidak pernah berada di area kantor kedua anaknya, Rahayu memiliki seseorang yang selalu memantau kedua anaknya sekaligus memantau Senjana. Menurut apa yang Rahayu dengar dari Angkara dan dari orangnya, Rahayu menyimpulkan ada sesuatu yang menimpa Senjana.
Senjananya yang ceria dan selalu bisa membuat orang-orang tertawa karena kehadirannya tiba-tiba saja meredup setelah peristiwa yang dicurigai oleh Rahayu sebagai pemicu perubahan Senjana. Hingga akhirnya dia datang kemari, menemui seseorang yang tahu benar kisah seorang Senjana.
" Saya tidak bisa mengatakan apapun pada anda, ibu Rahayu. Ini merupakan privasi pasien dan saya tidak bisa membocorkan apapun tentang apa yang dialami pasien kepada orang luar. " tegas dokter Zahra menolak keinginan Rahayu.
" Saya tahu, dok.. Saya tidak meminta anda menceritakan seluruh kronologinya, hanya gambaran besarnya saja agar saya tidak salah memutuskan. " pinta Rahayu tidak mau mengalah.
" Kalau boleh tahu, ada hubungan apa anda dengan Senjana? "
Sambil menatap kedua mata dokter Zahra, " Saya adalah seseorang yang ditolong oleh Senjana hingga bisa memaknai hidup lebih baik lagi. "
Kedua mata dokter Zahra melebar, sepertinya dia tahu siapa Rahayu ini dalam hidup Senjana.
" Gambaran besarnya, Senjana patah hati, ditinggalkan oleh seseorang yang sangat dia cintai tanpa tahu apa kesalahannya. Hatinya goyah, ditambah dengan hubungan keluarga yang tidak lagi stabil, dan kenyataan yang memukul mentalnya. Kematian papanya, lalu kesalahan yang dibuat papanya, membuat Senjana makin hancur dan mentalnya tidak lagi bisa diselamatkan..... "
" Satu yang bisa saya katakan, Senjana sekarang ini memaknai hidupnya untuk menebus dosa. " ucap dokter Zahra mengakhiri sesi pertemuan mereka.
Tidak banyak yang bisa didapatkan Rahayu bahkan setelah menemui satu-satunya orang yang mengetahui cerita sebenarnya tentang Senjana. Ilmu cocoklogi coba dia gunakan, menggabungkan semua informasi. Dia pasangkan semua yang dia ketahui, dari sedikit cerita Senjana dulu, lalu informasi yang dia dapat dari Angkara, dan cerita dokter Zahra barusan.
" Pak Aman... " panggilnya ke sopir yang selalu mengantarkan kemanapun dia pergi.
" Ya, bu.. "
" Menurut kamu, kalau kita sudah hidup untuk menebus dosa itu artinya apa? " alis pak Aman berkerut.
Bingung menerpanya karena tidak tahu arah pembicaraan dari Rahayu. Mau menjawab juga bagaimana, dia belum pernah mengalami apa yang ditanyakan oleh nyonyanya ini.
" Maksudnya bagaimana ya, bu? " tanyanya daripada salah.
" Kalau ada seseorang yang mendedikasikan hidupnya hanya demi menebus dosa, menurut kamu itu artinya orang itu bagaimana? " Pak Aman garuk kepalanya yang mendadak cenut-cenut.
" Saya kurang tahu ya, bu.. Coba tanya gemini aja bu? Atau Chat gpt, kata cucu saya kalau tidak ketemu jawaban soal, tanya saja gemini atau Chat gpt. " sekarang ganti Rahayu yang pusing.
Setelah lama terdiam dan merenung, Rahayu pun mengirimkan pesan pada putranya dan bertanya apa yang tidak bisa dijawab pak Aman dan dirinya sendiri. Lama tak ada balasan pesan, Rahayu pun menutup ponsel miliknya dan menyimpannya kembali dalam tas.
Perjalanan pun berlanjut, dan Rahayu masih belum menemukan apapun yang bisa dilakukan untuk membantu Senjana. Rahayu merasa gagal menolong seseorang yang dulu bahkan tanpa bermodalkan apapun bisa membuat dia dan kedua anaknya bangkit dari keterpurukan.
Sekarang, bisa dikatakan dia memiliki sumber daya yang lebih-lebih dibandingkan Senjana kala itu. Tapi tak satupun yang bisa digunakan untuk menolong Senjananya.
********
Hari ini ada jadwal promo produk parfum baru yang diusung oleh Senjana tapi dikerjakan oleh Miyara dan Jenifer karena si empunya program tiba-tiba kabur. Kesayangan pak bos, siapa yang bisa larang dan kini dua wanita ini yang kena imbasnya.
Miyara sih senang-senang saja karena jadi memiliki banyak waktu bersama dengan Santana. Tapi sayangnya apa yang terjadi tidak sesuai angannya. Santana sejak tadi terus menghindar bahkan setelah acara selesai, dia memilih langsung pergi dengan alasan kurang enak badan.
Miyara tidak tinggal diam, dia pun menyusul Santana sampai ke basement parkiran. Miyara masih kekeh untuk tetap bertahan dan memilih mengabaikan peringatan Santana beberapa hari yang lalu. Toh sampai detik ini Santana masih tunangannya.
Hanya saja....
" Mulai sekarang belajarlah untuk tidak terus menempeli saya... " ucapan Santana yang terdengar sangat tegas dan ketus langsung menusuk hati Miyara.
" Saya??? "
" Beb, kok kamu ngomongnya gitu? "
" Lalu saya harus bicara seperti apa? Kamu menolak mendengar peringatan saya, jadi ini yang bisa saya lakukan. " Santana pun langsung masuk mobil dan meninggalkan Miyara sendirian di tempat. Tak peduli kalau Miyara tengah menangis saat ini.
Lama Miyara menangis di sana, sampai kedua matanya bengkak. Telepon dari Jenifer pun enggan dia Terima. Miyara pun malas balik lagi ke tempat acara tadi, lebih memilih pulang saja daripada malu dilihat menangis di tempat ini.
Sampai di rumah milik keluarga Antasena, kedatangan Miyara yang sedang menangis dilihat oleh Haruka. Niatnya tadi menyapa Miyara dan bertanya tentang acara hari ini yang sejak kemarin membuat Miyara excited sekali.
" Sepertinya tidak berjalan lancar. Dia pulang sambil nangis. " gumam Haruka.
Dia pergi ke dapur, lalu membuat teh hangat untuk Miyara. Semoga saja minum teh hangat bisa membuat adik iparnya itu membaik suasana hatinya.
" Mbak... Capek ya ternyata berjuang sendirian, cinta sendirian... Tapi mau menyerah susah mbak, hubungan juga tinggal selangkah lagi nikah. " keluh Miyara setelah minum teh buatan Haruka.
" Nikah itu panjang lo, dek. Nggak hanya setahun dua tahun trus selesai, tapi seumur hidup. Mau selangkah lagi nikah mau seribu langkah lagi nikah pun, perjalanan terpanjang dalam hidup memangnya mau kamu sia-siakan hanya untuk cinta sendirian? " Miyara dengarkan baik-baik ucapan kakak iparnya yang selalu bersikap bijaksana ini.
" Kalau kamu bilang capek berjuang sendirian, apa kamu pikir dia nggak capek? "
Deg...
Miyara terdiam..
" Dia juga capek, dek.. Pura-pura hatinya menerima tapi ternyata tidak bisa, pura-pura seolah hubungan baik saling mencintai tapi hati dan pikirannya menolak.. Sama capeknya tahu.... "Miyara merasa seperti baru saja ditampar benda tak kasat mata.
" Coba kamu jadi Santana.. Apa kamu nggak ngerasa capek? "
" Cinta sendirian itu sakit, dek.. Tapi pura-pura cinta itu juga sakit, karena bertentangan dengan hati dan pikirannya. "
Setelah menerima banyak petuah dari Haruka, malam itu Miyara mengurung diri di kamar dan merenungkan semuanya. Langkah apa yang harus dia ambil, tetap kekeh meneruskan semuanya atau membebaskan hatinya dan hati Santana.