Penugasan di medan perang adalah hal biasa. Namun, menghadapi pengkhianatan di dalam barak asrama dinasnya sendiri adalah pertempuran yang tak pernah ia duga.
Ketika ia memergoki lettingnya sendiri menelantarkan dan menyakiti seorang wanita di sudut pangkalan militer akibat hasutan keluarga, naluri pelindungnya bangkit. Dalam sebuah tindakan nekat demi menyelamatkan kehormatan sang wanita, ia mengambil alih takdir itu. Ia membawanya pergi, melindunginya di garis depan hidupnya, dan menikahinya.
Di bawah naungan seragam lorengnya, ia memulai misi paling rahasia dalam hidupnya.. Menyembuhkan luka batin gadis itu, namun, ia harus menghadapi dendam dari rekan satu lettingnya, dan mencintainya setulus hati tanpa syarat.
Sebab di garis depan hatinya, keselamatan wanita itu adalah perintah mutlak haram untuk gagal.
KONFLIK.. SKIP bagi yang tidak sanggup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Protective untuk gadisku.
"Bosan, Pitta ingin punya kegiatan."
Kemudian Bang Oscar mengeluarkan sesuatu dari tas kecil yang ia pakai untuk membawa makanan tadi.
Pitta mengambil lipatan kertas dan map tersebut lalu membacanya baik-baik.
"Kuliah???? Pitta kuliah???" Tanyanya dengan mata berbinar terang. Sepersekian detik kemudian mata itu berubah berkaca-kaca. Ia tidak menyangka pria kaku di sampingnya itu akan mengijinkannya melanjutkan kuliah.
Bang Oscar mengangguk tenang. Ia terus melihat ke arah Pitta yang seakan tidak percaya dengan keputusannya.
"Abang serius??? Kuliah mahal lho, Bang." Kata Pitta masih tidak percaya.
"Kamu nggak percaya saya kuat bayar kuliahmu??" Jawab Bang Oscar ringan.
"Percaya, tapi.. Abang benar-benar nggak ada pacar, kan??? Pitta nggak mau ada masalah di kemudian hari karena Abang selalu urus masalah Pitta."
Bang Oscar hanya mengangkat tangannya, memperlihatkan jemarinya yang tidak terikat 'benda sakral'.
"Pitta mau.. Pitta mauuuu.." Katanya sambil memeluk Bang Oscar dengan erat.
"Besok saya antar kamu ke kampus, sesuaikan jurusan yang pernah kamu pilih, tapi pastikan sesuai dengan kemampuanmu juga..!!"
Pitta mengangguk mantap, di kepalanya sudah banyak cita-cita dan angan yang tersimpan. Jika dulu ia di larang keras untuk melanjutkan kuliah, kini malah pria ini mendorongnya untuk menggapai cita-citanya.
"Jadi, besok Abang bilang apa sama pihak kampus??? Identitas Pitta masih simpang siur." Tanya Pitta.
Belum sampai Bang Oscar membuka mulut, Pitta sudah menyambarnya.
"Oohh.. Om nya Pitta. Benar kan, Bang???" Ocehnya sambil bicara apapun yang terlintas di kepalanya. "Kalau begitu Pitta minta DP uang donk, masa Pitta mau kuliah pakai daster."
"Ganti pakaian..!! Kita beli pakaian baru sekalian perlengkapan kampusmu." Ajak Bang Oscar.
Sewajarnya wanita, Pitta sangat bahagia saat akan menghirup 'udara luar'. Ia segera beranjak dan berganti pakaian.
Bang Oscar menunggunya di ruang tamu, sejenak ia membalas pesan dari ponselnya lalu memejamkan mata, karena jujur semalam tadi ia kurang tidur karena banyak pikiran.
:
"Ayoo..!!" Ajak Pitta, suaranya cukup mengagetkan Bang Oscar.
Pria itu terbangun dan melihat jam tangannya. Sekarang tepat jam sembilan lebih sepuluh menit.
"Katanya ganti baju saja, kenapa sampai satu jam???" Tanya Bang Oscar.
"Ini sudah sebentar, lagipula masa Pitta keluar seada-adanya manusia???" Jawab Pitta.
"Ya sudah, cepat ambil jaketmu..!!" Perintah Bang Oscar.
"Pitta nggak punya jaket, di ambil ibu." Kata Pitta.
"Ayo..!!!" Bang Oscar tak ingin berdebat dengan Pitta. Ia menyambar jaketnya lalu masuk ke dalam mobil.
:
Udara sekitar kota daerah pegunungan nampak berkabut, udara mulai terasa dingin. Pitta menyilangkan tangan mengusap kedua lengannya.
Dengan sigap Bang Oscar menyampirkan jaket crew pilot miliknya pada Pitta.
Mendapat perhatian tersebut, Pitta tersipu. Tapi ia pun cukup tau diri akan statusnya yang masih menjadi istri orang meskipun saat ini dalam pengetahuan di kepalanya, dirinya sedang melakukan proses cerai.
"Kita mau kemana??" Tanya Pitta lirih.
"Mau ke salon dulu atau tidak?? Siapa tau penampilan barumu lebih fresh saat besok mau kuliah." Kata Bang Oscar.
Pitta mengangguk, mereka kemudian berjalan masuk ke dalam sebuah salon. Disana Bang Oscar meminta pelayanan VIP khusus untuk Pitta.
Dengan sabar Bang Oscar menemaninya di ruang tunggu, tak peduli Pitta akan memilih perawatan seperti apa untuk mengubah penampilan dirinya.
Dua jam berlalu.
"Baang..!!" Sapa Pitta saat membangunkan Bang Oscar yang tertidur di ruang tunggu.
Bang Oscar membuka matanya sembari mengumpulkan nyawa agar segera sadar. "Istri saya dimana??" Tanyanya.
Pitta kaget mendengarnya, pipinya yang pink semakin merah karena malu. "Ini Pitta."
Bang Oscar tertegun menatap Pitta dari ujung rambut hingga ujung kaki. Rambut potongan lurus sedikit di bawah bahu, rok span denim dengan belahan zipper paha tinggi di padukan dengan crop sabrina membuat Bang Oscar menelan ludah dengan kasar apalagi ia sempat melihat pus*r Pitta yang sedikit terbuka. Jantungnya berdebar kencang, denyut nadinya berdesir tak karuan.
"Yang begitu pakai di rumah saja..!! Sampai berani kamu keliaran pakai pakaian begitu, saya sobek di tempat..!!!! Gantiiii..!!!!!" Perintah Bang Oscar.
"Ini bagus."
"Bagus kalau saya yang lihat. Ganti sekarang..!!! Saya tidak mau ud*l mu yang seperti sumur bor itu di lihat laki-laki lain, bikin celaka saja." Imbuh Bang Oscar.
Pitta cemberut tapi tetap menurut. Ia masuk kembali ke dalam ruang ganti.
"Mbak.. Bungkus baju yang tadi. Tapi tolong pilihkan baggy jeans dan kemeja press body untuk istri saya. Terima kasih."
:
Pitta masih cemberut tapi Bang Oscar tidak peduli. Ia hanya ingin Pitta selamat dengan pakaiannya yang sopan. Ia mungkin bisa percaya dengan Pitta, tapi tidak pikiran bejat laki-laki di luar sana.
"Pitta bisa jaga diri."
"Kalau memang bisa, kenapa lepas dari musang pandan seperti Samuel saja tidak bisa." Balas Bang Oscar.
Pitta terdiam sejenak, tapi jujur ia ingin melakukan apapun sesuai dengan keinginan dirinya.
"Saya tidak melarang pilihanmu, tapi hanya boleh kamu pakai di rumah. Pastikan hanya saya yang melihatnya. Selain saya, haram..!!!" Ucap tegas Bang Oscar.
"Kenapa Abang tidak haram???" Rasa hatinya seakan masih belum bisa menerimanya.
"Bisa lihat..!!!! Siapa yang bertanggung jawab atas dirimu mulai detik kita bersama??? Apa yang membayar semua kebutuhanmu si musang pandan itu???"
"Iyaa.. Iyaaa Pak donatur." Pitta tidak menjawab lagi, ia kemudian memilih pakaian di area pertokoan itu dan ia hanya memilih pakaian sopan untuk hang out dan ke kampus dan memilih beberapa pakaian lagi yang ia pakai di dalam rumah, tentu dengan ACC donatur pusatnya.
:
Saat kembali pulang, Bang Oscar sempat melirik satu toko. Di saat yang sama, tak sengaja melihatnya. Pitta pun peka dengan keadaan.
"Pitta minta uang lagi donk, Bang." Pinta Pitta dengan tangan sudah menodong pria di sampingnya itu.
Bang Oscar memberikan kartu ATM nya tanpa bertanya, dengan senyum Pitta menerimanya.
"Abang ke mobil duluan saja..!!" Kata Pitta.
"Iyaa.. Sudah sana, beli yang kamu mau. Abang tunggu disini..!!"
Bang Oscar tak melihat langkah Pitta lagi, ia fokus pada ponselnya. Tak lama ia kembali dengan senyum.
"Sudah??"
Pitta pun mengangguk. Bang Oscar mengacak rambut Pitta lalu membuka pintu mobil untuk Pitta.
Keduanya tak menyangka ada sepasang mata mengawasi mereka berdua.
.
.
.
.
ditunggu lanjutanya mba
ditunggu lanjutannya mba Nara
lanjut mba Nara👍