NovelToon NovelToon
Lentera Terakhir Sang Kultivator

Lentera Terakhir Sang Kultivator

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:741
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi

Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.

Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.

Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.

Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Pondok Pengobatan

Pondok pengobatan berdiri di ujung barat kampung murid luar, terpisah dari deretan pondok lain oleh sebidang tanah kosong yang ditumbuhi rumput liar. Atapnya dari sirap yang sudah menghitam, dan di depan pintunya tergantung seikat daun kering untuk mengusir nyamuk. Bau ramuan tercium dari jarak sepuluh langkah, pahit dan hangat.

Jian Chen berhenti di ambang pintu. Ia sudah menyiapkan wajah dan suaranya sepanjang jalan, tetapi tetap saja tangannya terasa dingin.

Seorang gadis berdiri membelakanginya di depan meja panjang, sedang menumbuk sesuatu di dalam lumpang batu. Rambutnya diikat sederhana dengan tali kain, lengan bajunya digulung sampai siku, dan di jarinya ada noda hijau dari getah daun. Ia tidak menoleh.

"Kau yang disuruh pengawas?" tanya Lin Xue.

"Ya," jawab Jian Chen. "Jian Chen, pondok tujuh."

"Kau terlambat."

"Aku baru selesai apel."

"Aku tahu apel selesai kapan." Lin Xue masih menumbuk. "Peti-peti itu ada di gudang belakang. Delapan peti, semuanya harus masuk rak sebelum tengah hari. Yang berat taruh di bawah, yang ringan di atas, dan jangan menyusunnya miring."

"Baik."

Barulah ia berbalik. Wajahnya tidak berubah dari yang Jian Chen ingat: alis lurus, mata yang menatap lurus tanpa basa-basi, dan mulut yang kelihatannya sudah siap menegur siapa saja. Ia menatap Jian Chen dari atas ke bawah dengan pandangan seorang tabib yang menilai pasien, bukan seorang gadis yang menilai orang asing.

"Kau pucat," kata Lin Xue.

"Aku baru bangun."

"Kau pucat dan kurus. Kapan terakhir kali kau makan daging?"

Jian Chen berpikir sejenak. "Awal tahun."

"Pantas." Lin Xue meletakkan alu. "Duduk."

"Peti-petinya..."

"Duduk dulu. Pengawas tidak akan mati kalau petinya terlambat sepuluh menit. Kau yang mungkin pingsan kalau mengangkat peti pertama."

Jian Chen duduk di bangku kayu di samping meja. Lin Xue menarik pergelangan tangan kirinya tanpa meminta izin, menekan tiga jari di nadinya, dan memejamkan mata. Jari-jarinya dingin dan kasar karena ramuan. Jian Chen menahan napas.

Dua puluh tahun, pikirnya. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaan itu pada dirinya sendiri, jadi ia memilih diam.

"Nadimu lemah," kata Lin Xue akhirnya. "Intimu kecil sekali, hampir tidak terasa. Aliran qi-mu putus di bahu. Itu karena kurang makan, kurang tidur, dan sebagian besar karena kau memaksa melatih tubuh sebelum siap. Kau berlatih sendiri semalam?"

"Pagi tadi. Sebentar."

"Pantas dadamu berdenyut." Ia melepaskan tangan Jian Chen. "Jangan paksakan lagi. Kalau aliranmu rusak di tahap ini, kau akan terjebak selamanya di Pengumpul Napas."

"Aku mengerti."

"Orang yang bilang mengerti biasanya tidak mengerti." Lin Xue mengambil sebuah mangkuk kecil dari rak, menuang air dari kendi, dan melarutkan sejumput bubuk cokelat ke dalamnya. "Minum."

Jian Chen menerimanya. Rasanya pahit dan sedikit manis di ujung. Ia mengenali rasa itu. Ramuan penguat napas dari akar jahe gunung, sederhana dan murah, tetapi manjur kalau dipakai teratur.

"Dua poin kontribusi," kata Lin Xue.

"Aku..." Jian Chen berhenti. Murid luar baru tidak punya banyak poin, dan ia belum sempat memeriksa berapa yang tersisa di tubuh ini.

"Kau bisa membayarnya dengan mengangkat peti." Lin Xue sudah kembali ke lumpangnya. "Cepat. Gudang di belakang, pintu yang paling kiri."

Gudang itu lebih besar dari yang Jian Chen duga. Delapan peti kayu bertumpuk di sudut, masing-masing diberi tanda kapur di sisinya. Ia mengangkat yang pertama dan merasakan lengannya langsung bergetar. Peti itu tidak lebih dari lima belas kati, tetapi tubuhnya menganggap itu setara batu gunung. Ia mengangkatnya dengan dua lengan dan berjalan perlahan, sedikit demi sedikit.

Pada peti ketiga, ia berhenti di depan sebuah peti yang tutupnya terbuka sedikit. Di dalamnya ada daun-daun kering berwarna hijau tua, disusun dalam ikatan kecil. Tanda kapur di sisinya bertuliskan Daun Selaput Hitam, obat luka luar yang paling sering dipakai di kampung ini.

Jian Chen mengambil satu ikat, memeriksa tepinya, dan menahan napas.

Tepi daun itu bergerigi halus. Daun Selaput Hitam yang asli memiliki tepi rata. Yang bergerigi adalah Daun Sutra Racun, yang kalau dioleskan ke luka terbuka akan membuat kulit melepuh dan darah sulit membeku. Orang yang tidak terbiasa bisa mengira keduanya sama, apalagi setelah dikeringkan.

"Lin Xue," panggilnya.

Lin Xue muncul di pintu gudang sambil mengelap tangan. "Ada yang pecah?"

"Tidak." Jian Chen mengangkat ikatan daun itu. "Ini bukan Daun Selaput Hitam. Lihat tepinya."

Lin Xue mengerutkan dahi dan mendekat. Ia mengambil ikatan itu, memutar-mutarnya di bawah cahaya dari jendela, lalu meremas satu helai dan menciumnya. Wajahnya berubah.

"Sutra Racun," katanya pelan.

"Kalau dioleskan ke luka luar..."

"Aku tahu apa akibatnya." Lin Xue menatap Jian Chen. Tatapannya tajam. "Bagaimana kau bisa membedakannya? Pedagang yang menjualnya padaku pun tidak sadar."

"Aku sering ke kebun herbal," jawab Jian Chen. "Aku melihat tanamannya sebelum dikeringkan."

"Murid luar yang melihat tanamannya sebelum dikeringkan bisa membedakan tepinya?" Lin Xue menyipitkan mata. "Itu pengetahuan tabib, bukan pengetahuan tukang sapu."

"Aku suka mengamati."

"Hm." Ia tidak percaya, dan ia tidak menyembunyikannya. Tetapi ia juga tidak membantah. Ia menaruh ikatan daun itu ke atas peti dan berkata, "Aku akan memeriksa semua peti ini lagi. Kalau kau benar, kau menyelamatkan setidaknya sepuluh orang dari kulit melepuh. Kalau kau salah, kau menghabiskan waktuku."

"Aku tidak salah."

"Kita lihat." Lin Xue berbalik. "Taruh semua petinya. Setelah itu kembali ke meja. Aku punya satu pertanyaan lagi untukmu."

Setengah jam kemudian, delapan peti sudah tersusun di rak. Jian Chen duduk di bangku dengan lengan yang masih gemetar. Lin Xue berdiri di depannya, memegang tiga ikat daun yang sudah ia pisahkan dari yang lain.

"Kau benar," katanya. "Dua dari delapan peti bercampur. Dua puluh ikat."

"Aku bilang aku tidak salah."

"Jangan sombong." Lin Xue meletakkan daun itu di meja. "Pertanyaanku: kau murid luar yang baru dua tahun di sini, miskin poin, tidak punya guru, tetapi tahu perbedaan Sutra Racun dan Selaput Hitam. Siapa yang mengajarimu?"

Jian Chen sudah menduga pertanyaan ini. "Buku di perpustakaan luar," katanya. "Aku membacanya malam hari."

"Buku apa?"

"Catatan Tanaman Gunung. Yang sampulnya sudah robek."

Lin Xue terdiam. Buku itu memang ada, dan memang sampulnya robek. Ia sendiri pernah membacanya. "Kau aneh," katanya akhirnya.

"Banyak orang bilang begitu pagi ini."

"Mereka benar." Ia duduk di bangku seberang. "Aku akan melaporkan campuran ini ke pedagang dan ke pengawas. Kalau kau tidak keberatan namamu disebut."

"Tidak apa-apa. Tetapi ada hal lain yang ingin kuminta."

"Minta apa?"

Jian Chen menarik napas. "Hari kedua puluh bulan ini, kelompok ketiga masuk tambang batu napas, lorong empat. Aku merasa ada risiko. Kalau ada yang terluka, tempat ini akan penuh. Bisakah kau menyiapkan perban dan ramuan pengikat darah dalam jumlah lebih besar dari biasanya?"

"Kenapa aku harus menyiapkan itu hanya karena perasaanmu?"

"Karena kalau aku salah, kau hanya kehilangan beberapa gulung perban. Kalau aku benar..."

"Kalau kau benar?"

"Maka jumlah perbanmu akan menentukan berapa orang yang pulang."

Lin Xue menatapnya lama. Di luar, seseorang menumbuk beras dengan ritme malas. "Aku tidak suka orang yang menebak-nebak soal nyawa," katanya. "Tapi aku lebih tidak suka kekurangan perban."

"Jadi?"

"Aku akan menyiapkannya." Lin Xue berdiri dan mengambil kembali lumpangnya. "Bukan karena kau meminta. Karena itu memang tugasku. Sekarang pulang. Besok datang lagi. Aku akan memeriksa nadimu sampai aliranmu kembali normal."

"Dan bayarannya?"

"Peti. Selalu ada peti." Ia mulai menumbuk lagi, tetapi berhenti sebelum Jian Chen sampai di pintu. "Jian Chen."

"Ya?"

"Makan yang benar. Daging, sekali seminggu. Kalau tidak sanggup beli, bilang padaku."

Jian Chen mengangguk. Ia keluar sambil menahan sesuatu di dadanya yang terasa lebih berat daripada peti tadi. Di belakangnya, bunyi alu menumbuk lumpang kembali terdengar, pelan dan teratur.

1
Paw_chan🐾
bagus🤟
Uranenantios: Makasih 😺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!