Amora terjebak dalam lilitan utang dan tak punya banyak pilihan ketika Damian, seorang dokter bedah tampan, kaya, dan dingin, menawarkan pernikahan kontrak dengan bayaran yang mampu menyelesaikan semua masalahnya.
Syaratnya sederhana: menikah, tinggal serumah, dan jangan pernah jatuh cinta.
Bagi Damian, Amora hanya istri sementara. Bagi Amora, Damian hanyalah jalan keluar dari kesulitan hidupnya.
Namun tinggal bersama perlahan membuat hubungan mereka berubah. Terlebih ketika masa lalu Damian, penolakan sang ibu, dan perasaan yang semakin sulit disembunyikan mulai menguji kesepakatan mereka.
Bagaimana jika pernikahan yang awalnya hanya sebuah kontrak justru berubah menjadi cinta yang nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab-6 Gadis Ceroboh
“Oh ya, Nggi. Gue semalam di tolong sama dokter Damian.”
“Hah? Ditolong? Kenapa lo?” tanya Anggi penasaran.
“Gue kehabisan bensin, Nggi. Jadi, sekarang gue mau buatin kopi dan makanan ringan buat dokter Damian, sebagai balas budi. Lo masukin daftar hutang deh,” ucap Amora sambil menaik turunkan alisnya.
“Wah, balas budi atau pedekate nih?” goda Anggi sambil menyikut bahu Amora.
“Balas budi, Anggi. Lagian dokter setampan Damian, pasti udah punya pasangan lah. Atau mungkin juga udah punya istri. Dari auranya aja dia itu pria dewasa. Jadi, jangan aneh-aneh pikiran lo.” Amora kemudian berlalu menuju dapur, menyiapkan menu makanan ringan sederhana. Maklum, ia saja kasbon untuk membelinya.
**********
Amora kini telah berdiri di depan meja resepsionis rumah sakit, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Matanya menyapu daftar nama dokter yang tertera di papan informasi. Damian Alexio Ganendra. Itu dia!
“Tapi ruangannya di mana ya?” gumamnya, bingung.
Seorang suster yang kebetulan lewat menatap Amora curiga. “Mau cari siapa, Mbak?” tanyanya sambil menyipitkan mata.
Amora tersenyum lebar, berusaha terlihat tidak mencurigakan. “Ehem… dokter Damian. Saya mau antar makanan dan kopi untuk beliau.”
Suster itu mengernyit. “Pesanan?”
“Eh… lebih ke tanda terima kasih sih. Saya punya hutang nyawa—eh, maksudnya hutang bensin ke beliau.”
Suster itu menatap Amora dari atas ke bawah, lalu berdecak. “Oh… satu lagi korban pesona Dokter Damian.”
“Hah?”
“Denger ya, Mbak. Dokter Damian itu dingin, tidak ramah, dan tidak tertarik sama perempuan. Jadi kalau mau modus, mending mundur sebelum sakit hati,” ucap suster itu dengan nada cemburu dan tatapan tidak suka.
Amora melongo. “Saya cuma mau bayar hutang, bukan cari suami. Dan saya juga bukan wanita penggoda.”
“Bagus, kalau gitu ruangannya ada di lantai tiga, belok kanan, terus pintu ketiga dari ujung.”
“Wah, makasih, Mbak Suster! Semoga gajinya naik, ya!” Amora langsung melesat ke arah lift.
Sesampainya di depan ruangan Damian, Amora mengatur napas. Ia mengetuk pintu pelan. Tidak ada jawaban.
“Dok?” Amora mencoba lagi. Masih sunyi.
Setelah menunggu beberapa detik, Amora mengendorkan pegangan di pintu, dan… klik. Pintu terbuka.
“Eh? Kok nggak dikunci?”
Karena penasaran, ia mengintip ke dalam. Ruangan itu rapi, khas milik dokter bedah elit. Aroma antiseptik bercampur kopi samar-samar tercium. Tapi tidak ada tanda-tanda Damian di dalam.
Amora mengangkat bahu. “Taruh aja deh, nanti dia lihat sendiri.”
Saat ia hendak meletakkan kopi dan makanan di meja, tiba-tiba suara rendah yang familiar terdengar di belakangnya.
“Kamu maling atau kurir makanan?”
Brak!
Amora yang terkejut langsung menjatuhkan kopi ke lantai. Matanya membulat saat melihat Damian berdiri di ambang pintu, masih mengenakan jas dokter, menatapnya dengan ekspresi datar.
“Sial, ini kopi mahal!” Amora menepuk dahinya.
Damian menghela napas panjang. “Aku tahu. Aku yang beli.”
Amora tersenyum canggung. “Ehehe… kejutan?”
Damian menatap Amora dengan datar, sementara gadis itu masih cengar-cengir berusaha menyelamatkan situasi. Aroma kopi mahal yang kini menggenang di lantai membuat Damian menghela napas panjang.
“Jadi, ini kejutan?” Damian menyilangkan tangan di dada.
Amora menegakkan punggungnya dan menepuk dadanya sendiri. “Iya, Dok! Saya datang dengan niat baik, mau bayar hutang bensin. Ini sebagai tanda terima kasih saya.”
Damian melirik ke arah lantai yang belepotan kopi. “Bayar hutang dengan menumpahkan kopi mahal di ruanganku?”
Amora ikut melirik tumpahan itu dan tertawa hambar. “Ehehe… anggap aja saya menandai ruangan ini dengan keberuntungan.”
Damian mengangkat satu alis. “Keberuntungan?”
Amora mengangguk mantap. “Iya, Dok! Kata orang, kalau ada yang tumpah di tempat kerja, itu tandanya rezeki bakal mengalir deras.”
Damian mendesah, berjalan ke meja, lalu mengambil tisu. “Kalau begitu, mau bantu bereskan tidak? Supaya rezeki aku tidak mampet gara-gara lantai lengket.”
Amora cepat-cepat mengangguk. “Siap, Dok!”
Ia langsung jongkok, mengeluarkan tisu dari tasnya dan mengelap lantai dengan penuh semangat. Damian hanya mengamati dengan ekspresi yang sulit ditebak.
Setelah beberapa menit sibuk membersihkan lantai, Amora akhirnya bangkit dan menatap Damian dengan senyum kemenangan. “Tadaaa! Bersih lagi, Dok! Nah, ini makanan dan kopi pengganti. Kali ini saya pastikan aman sampai ke tangan Anda.”
Damian menerima bungkusan itu tanpa banyak bicara. Lalu, tiba-tiba ia menyipitkan mata. “Jadi, kamu sengaja datang ke sini?”
Amora mengerjapkan mata. “Ya, iyalah. Saya niat baik, loh.”
Damian mencondongkan tubuhnya sedikit, suaranya rendah dan nyaris menggoda. “Kamu yakin bukan modus?”
Amora langsung mundur selangkah, refleks menutup dada dengan kedua tangan. “Dok! Saya bukan wanita murahan yang memanfaatkan bensin buat modus!”
Damian terdiam, lalu menghela napas. “Jadi, kamu cuma wanita ceroboh yang mengacau di ruanganku?”
Amora meringis. “Ya… bisa dibilang begitu.”
Damian mengusap pelipisnya. “Pergi sebelum aku berubah pikiran dan menyuruhmu ngepel lantai rumah sakit.”
Amora langsung mengambil ancang-ancang kabur. “Oke, Dok! Saya pamit, ya! Jangan lupa makan makanannya, minum kopinya, dan tolong jangan doakan saya sial!”
Damian hanya menggeleng pelan saat melihat Amora melesat keluar ruangan. Untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu, bibirnya sedikit terangkat dalam senyum samar.
"Gadis ceroboh..." gumamnya, sebelum akhirnya membuka bungkusan makanan dari Amora.