NovelToon NovelToon
Menukar Takdir Untuk Bellona

Menukar Takdir Untuk Bellona

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:456
Nilai: 5
Nama Author: BUNGA LYONA

Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.

Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.

Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

01. Mimpi tentang Oma

Rentetan barang bermerek memenuhi meja panjang milik Bellona. Namun, tak satupun ia sentuh barang itu. Bellona menatapnya geli sekaligus miris.

“Ma,” panggilnya lirih membuat Sarah menoleh. “Mama serius mau nikah sama Om Rizal?”

Perempuan berambut pirang bergelombang itu menoleh sekilas. “Beneran lah! Kamu gak lihat mama udah persiapkan semuanya jauh-jauh hari? Kebaya kamu juga udah Mama beli, biar seragam sama keluarga Rizal!”

Bellona terkekeh rendah. Ia tak habis pikir dengan Sarah yang mudah saja percaya kepada orang asing yang baru ditemuinya belum lama ini.

***

Angin sore berembus pelan, membuat daun di sekitarnya sedikit bergoyang. Di bawah pohon rindang, Bellona kecil sedang duduk menatap lurus ke arah depan. Tidak ada emosi. Yang ada hanya tatapan kosong hingga seseorang menepuk bahunya dari belakang.

“Cucu Oma kenapa sendirian?” tanya wanita paruh baya yang kemudian langsung duduk di samping Bellona.

Bellona menatap Oma dengan mata bulatnya yang polos. “Ona nggak bisa ngomongnya, yang jelas Ona sedih,” tuturnya sembari memanyunkan bibirnya.

Oma mengelus pucuk kepala Bellona dengan pelan. “Sedih itu wajar. Oma nggak mau nanya kalau Ona nggak bisa jawab. Jadi, yang harus Oma pastikan sekarang, kamu bisa nanggung sendiri kesedihan itu atau perlu berbagi sama Oma?”

Bellona berpikir sejenak. “Ona bisa nanggung sendiri,” ucapnya mantap. “Lagian, Ona nggak mau dibilang lemah hanya karena sering ngadu sama Oma.”

Mendengar itu, Oma tertegun. Ia sebenarnya tahu apa yang sedang dipikirkan oleh anak kecil ini. Namun, Oma memilih untuk tidak menanyakannya, berharap suatu saat nanti Bellona perlahan akan mulai terbuka kepadanya.

“Ya sudah kalau begitu. Ona mau ditemenin Oma duduk di sini atau Oma harus pergi?” tanya Oma dengan lembut.

Bellona mengembuskan napas panjang. “Ona bingung mau jawabnya.”

Oma tersenyum. Ia paham, jika Bellona sudah mengatakan hal itu, artinya ia sudah lelah untuk diajak berbicara.

Oma menggeser duduknya sedikit, membiarkan Bellona bersandar pada lengannya. Tak ada pertanyaan lagi yang keluar dari mulut wanita paruh baya itu. Ia hanya menemani, menikmati angin sore yang sesekali menyapa mereka.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan.

“Oma,” panggil Bellona tiba-tiba.

“Hm?”

“Kalau Ona sedih terus, nanti Ona bisa lupa caranya bahagia nggak?”

Pertanyaan itu membuat Oma menoleh. Ia menatap cucunya yang masih memandang lurus ke depan, seolah pertanyaan tadi hanyalah sesuatu yang tiba-tiba terlintas di kepalanya.

Oma tersenyum tipis, lalu meraih tangan kecil Bellona dan menggenggamnya.

“Nggak, Sayang. Sedih nggak akan membuat Ona lupa caranya bahagia.”

“Beneran?”

“Iya. Tapi, kalau suatu hari Ona lupa caranya bahagia, Oma akan bantu Ona mengingatnya lagi.”

Bellona terdiam. Jari-jarinya yang mungil bergerak memainkan ujung gaunnya.

“Kalau Oma nggak ada gimana?”

Senyum di wajah Oma perlahan memudar. Bukan karena ia tak tahu harus menjawab apa, melainkan karena ia tak menyangka cucunya akan menanyakan sesuatu seperti itu.

“Ona takut Oma pergi?” tanyanya lembut.

Bellona menggeleng kecil. Namun, beberapa detik kemudian, ia justru mengangguk. “Ona nggak suka ditinggal sendirian.”

Oma mengusap kepala Bellona, kemudian mengecup keningnya.

“Kalau begitu, mulai sekarang, kalau Ona sedih, bilang sama Oma, ya? Nggak harus cerita semuanya. Ona juga nggak harus pura-pura kuat di depan Oma.”

Bellona mengangkat wajahnya. Sepasang mata bulat itu menatap Oma lekat-lekat.

“Berarti Ona boleh nangis?”

“Boleh.”

“Boleh manja juga?”

Oma terkekeh pelan. “Boleh banget.”

Bellona akhirnya tersenyum kecil. Senyum yang sejak tadi seolah enggan muncul di wajah mungilnya.

“Ona mau dipeluk.”

Tanpa menunggu lebih lama, Oma merengkuh tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. Bellona menyandarkan kepala di dada Oma, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan yang selama ini selalu ia cari.

***

Tring!!!

Suara alarm berbunyi nyaring, membuat Bellona langsung terbangun dari mimpinya.

Ia mendecak sembari mengelap keringatnya yang bercucuran. "Mimpi itu lagi," ujarnya merasa gelisah.

Semenjak kematian oma beberapa hari yang lalu, kualitas tidur Bellona semakin menurun. Entah karena ia sering terbangun tengah malam, perasaan was-was yang semakin jadi, ataupun karena memikirkan mamanya yang seolah tak peduli dengan ibunya yang baru saja wafat.

Tok tok!

"Belle, buka pintunya sayang!" teriak Sarah dengan suara cemprengnya.

Dengan rasa malas, Bellona turun dari tempat tidur lalu membuka pintu. "Ada apa, Ma?"

Sarah berdiri di ambang pintu dengan sebuah kotak berwarna krem di tangannya. Senyum lebar menghiasi wajahnya, seolah tak ada satu pun hal buruk yang sedang terjadi dalam hidup mereka.

“Coba lihat, Mama beliin kamu kebaya buat acara pernikahan Mama nanti!” serunya antusias sembari menyodorkan kotak tersebut.

Bellona melirik kotak itu sekilas. Bukannya menyambut dengan gembira, ia justru menghela napas panjang.

“Ma, Oma bahkan belum genap seminggu meninggal. Mama udah sibuk ngurusin pernikahan aja?”

Senyum Sarah seketika memudar. Ia menatap putrinya dengan alis terangkat, seolah tak menyukai ucapan yang baru saja didengarnya.

“Belle, Mama tahu kamu masih berduka. Mama juga kehilangan Oma, tapi hidup harus terus berjalan, dong. Mama nggak mungkin terus-terusan bersedih.”

Bellona tertawa hambar. 'Bersedih?'

Perempuan itu bahkan tak terlihat kehilangan seseorang yang selama ini menjadi bagian penting dalam hidupnya. Sejak pemakaman Oma, Sarah lebih banyak membicarakan persiapan pernikahannya ketimbang mengenang mendiang ibunya sendiri.

Sementara Bellona masih berusaha menerima kenyataan bahwa salah satu orang yang paling menyayanginya kini telah tiada.

“Ya udah, terserah Mama aja,” jawab Bellona akhirnya. Ia berbalik, hendak kembali ke tempat tidurnya.

“Eh, Belle! Kamu belum lihat kebayanya, lho!”

“Nanti aja, Ma. Aku masih ngantuk.”

Sarah mendengus kesal. “Ya ampun, Belle. Mama tuh cuma mau nunjukin kebaya. Kamu kenapa, sih, akhir-akhir ini susah banget diajak ngomong?”

Bellona menghentikan langkahnya.

Ia ingin tertawa mendengar pertanyaan itu. Bukan karena lucu, melainkan karena ia tak habis pikir bagaimana Sarah bisa mengatakan hal semacam itu ketika dirinya sendiri bahkan tak pernah benar-benar bertanya tentang keadaan Bellona.

'Kapan terakhir kali Mama bertanya apakah aku baik-baik saja?'

Bellona berbalik, menatap perempuan yang telah melahirkannya itu.

“Ma, boleh nggak, sih, sekali aja Mama nggak ngomongin pernikahan Mama?”

Sarah terdiam sesaat.

“Aku capek, Ma,” lanjut Bellona, kali ini dengan suara yang lebih pelan. “Aku baru kehilangan Oma. Aku masih belum terbiasa bangun pagi dan sadar kalau sekarang aku udah nggak bisa ketemu Oma lagi.”

Dadanya terasa sesak, tetapi Bellona berusaha mempertahankan ekspresi datarnya.

“Jadi, tolong, Ma. Kasih aku waktu buat berduka.”

Sarah mengembuskan napas kasar. Alih-alih menghampiri putrinya, ia justru meletakkan kotak kebaya itu di atas meja dekat pintu.

“Ya sudah. Mama nggak akan ganggu kamu lagi. Tapi ingat, Belle, pernikahan Mama tinggal beberapa hari lagi. Mama harap kamu bisa bersikap baik dan nggak merusak kebahagiaan Mama.”

Setelah mengatakan itu, Sarah berbalik dan meninggalkan kamar putrinya.

Pintu kembali tertutup.

Bellona berdiri mematung selama beberapa detik sebelum akhirnya menjatuhkan diri ke tepi tempat tidur. Ia menunduk, menatap kedua tangannya sendiri.

Dulu, setiap kali merasa sedih, ia selalu tahu harus pergi ke mana. Ia akan mencari Oma, duduk di sampingnya, lalu menceritakan apa pun yang mengganggu pikirannya.

Namun, sekarang?

Bellona bahkan tak tahu harus bercerita kepada siapa. Ia meraih bantal di sampingnya, memeluknya erat, lalu memejamkan mata.

Entah mengapa, Bellona merindukan masa kecilnya. Masa ketika ia masih memiliki seseorang yang akan memeluknya tanpa perlu diminta menjelaskan alasan kesedihannya.

"Andai Oma masih ada..." gumamnya dengan mata terpejam.

1
falea sezi
buat ini anak agak punya adab donk😒 sebel liat anak g tau aturan banyak kok anak broken home yg tau adab g kayak beloman ini sombong
falea sezi
buat belunasadar donk anak haram kok ngelunjak 😒
falea sezi
anak haram gk tau diri🤣🤣 mending usir aja emak loe aja gk mau lu ikut dia masih ada yg mau nampung loe aja alhamdulillah😒 sebel liat anak g tau Adab
falea sezi
q dpet anak g sopan uda guaa usir🤣
falea sezi
q kirim hadiah 🤭 up banyak ya moga makin bagus buat bocah nya jelas stts nya anak devan apa bukan
BUNGA LYONA: siap kak, makasih udah baca😇🌸
total 1 replies
falea sezi
moga ajaa bneran anak devan ya😓 kasian uda di buang emak nya tp lona jangan sok ya
falea sezi
ini numpang 😒 gk ada baik baiknya kayaknya belom. tentu lo anak devan🤣🤣 bisa aja emak lo🤣jalang gk tau anak siapa😒
falea sezi
ini bapak bneran kan🤣
Lisa Kusmiran07
semangat kak
BUNGA LYONA: makasihh😍
total 1 replies
Lisa Kusmiran07
semangat thorr,ceritanya seru lain dari yg lain
Lisa Kusmiran07
menunggu lanjutannya,
BUNGA LYONA: siapp🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!